Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 22


Sempat tertegun beberapa detik, Naina tersadar setelah Wira berdeham pelan. Pandangan keduanya terkunci, saling menatap dalam diam. Terkejut itu bukan hanya milik Naina, jantung Wira tidak kalah bergemuruhnya.


"Mas ... Wira ...." Bibir Naina berbisik pelan menyerukan nama si pemilik sepatu kets mahal. Lidahnya keluh, otaknya pun ikut buntu. Ia tidak sanggup mengucapkan kalimat lain di pertemuan pertama mereka setelah tiga tahun berpisah.


Masih dengan posisi yang sama, Naina membeku tanpa sempat berpikir untuk buru-buru berdiri. Pikiran Naina kacau karena pertemuan tanpa sengaja, yang juga tidak terencana sebelumnya.


"Ehmm." Wira berdeham untuk kesekian kalinya, berusaha menyadarkan Naina. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada Bara. Berusaha menutupi kegugupan yang menguasai dirinya. Ia tidak mau perasaannya terbaca siapa pun.


"Bro, apa kabarmu?" tanya Wira pada Bara. Ia menyingkir ke samping, melewati Naina yang masih berjongkok dengan setumpuk berkas. Tidak mau berlama-lama menjadi tontonan semua mata di dalam ruang rapat.


"Baik. Ke mana saja? Aku pikir kamu masih di Hong Kong." Bara berdiri menyambut Wira dengan pelukan dan tepukan di punggung. Ia berusaha menetralkan situasi canggung yang sempat berlangsung beberapa detik yang lalu. Sebagai sepupu, ia mengetahui kisah rumah tangga Wira yang berantakan dan tentu saja ia ingin semua terlihat profesional tanpa terganggu masalah pribadi.


"Baik." Wira menarik kursi tepat di sebelah Bara. Membuka kacamata hitam yang menghiasi wajahnya sejak tadi, Wira mengerutkan dahi saat menatap Pieter. Pria itu duduk tepat di seberang meja.


"Kenalkan ... ini wakil Pram yang baru. Pieter." Bara memperkenalkan. Ia sudah berkenalan lebih dulu, tepatnya beberapa menit yang lalu.


Wira menyodorkan tangannya. "Pratama Wirayudha dari PW Group. Panggil saja Wira seperti yang lainnya." Wira memperkenalkan dirinya sendiri.


"Pieter Adrian, wakil Pram. Panggil Pieter saja." Pieter menyambut uluran tangan Wira sambil menyunggingkan senyuman.


"Pram tidak hadir?" tanya Wira heran. Tampak pria dengan outfit beda sendiri dibandingkan peserta rapat yang lain itu mengedar pandangan ke sekeliling ruangan. Lagi-lagi, tatapannya tertuju pada Naina.


"Tidak perlu dicari. Pram sedang ada urusan di luar. Dia sudah menghubungiku tadi pagi." Bara menjelaskan.


Naina yang mulai menguasai keadaan, berjalan menunduk menghampiri Pieter. Ia bahkan tidak berani mengangkat pandangannya.


"Kenalkan ini asistenku, Naina Pelangie. Panggil saja Naina atau Nai." Pieter mengenalkan Naina pada Bara dan Wira. Tentu saja, panggilan Angel hanya miliknya. Ia tidak akan mengizinkan pria lain memanggil Naina seperti dirinya.


"Bara ...." Bara mencoba berbasa-basi. Melihat gelagat Naina, tampak wanita itu tidak mau membuka masalah pribadinya di sini.


"Naina." Naina menyambut uluran tangan Bara dengan canggung.


Jantung Naina berdetak kencang saat giliran Wira. Telapak tangan wanita itu terasa dingin dan basah oleh keringat.


"Pratama Wirayudha. Panggil PAK WIRA." Wira menyodorkan tangannya, berusaha terlihat biasa.


"Naina ...." Dengan gemetar menyambut tangan Wira. Sentuhan tangan itu tidak berlangsung lama, keduanya buru-buru melepas dalam waktu bersamaan. Kaku dan canggung menguasai seketika.


Bara segera menyenggol siku Wira untuk membuat suasana mencair. "Bagaimana perusahaan barumu?"


"Em ...." Wira tergagap, menatap Bara dan tersenyum. "Baik. Baru mulai berjalan."


Obrolan keduanya terhenti saat Stella masuk ke dalam ruang rapat. Seketika kedua sudut bibir Bara tertarik ke atas saat melihat Stella yang tampil anggun berjalan mendekat dan menyapa mereka berdua.


"Mas Bara, Mas Wira ... maaf Pak Pram tidak bisa hadir." Stella menyerahkan beberapa berkas yang tertinggal pada Pieter.


"Tidak apa-apa." Bara mengulum senyuman, menatap Wira dan Stella bergantian.


Pria yang berencana mendekatkan sepupunya dengan sang mantan ipar itu bahkan lupa saat ini ada mantan istri Wira bersama mereka.


"Bagaimana? Kamu sudah coba mengobrol dan mencari tahu tentang Stella?" tanya Bara berbisik pelan di telinga Wira.


"Aku sedang tidak ada waktu untuk mengurus hal pribadi. Otakku sudah penuh dengan kontrak kerja." Wira menjelaskan.


"Kamu belum mengenal Stella. Kalau kamu mau membuka sedikit saja perasaanmu, aku yakin kamu tidak akan melepaskannya."


"Lihat saja nanti." Wira mencoba fokus kembali. Pria itu sempat menoleh sekilas ke arah Stella yang berjalan keluar ruang rapat. Tampilan gadis itu anggun. Pakaiannya sopan dan melihat bahasa tubuhnya, Stella adalah gadis baik-baik.


***


"Angel, kamu baik-baik saja?" tanya Pieter di tengah rapat.


"Hah?" Naina tersentak dan mengangkat pandangannya.


"Aku baik-baik saja." Naina memberanikan diri mencuri pandang pada Wira yang duduk tepat di hadapannya.


"Dia bahkan tidak menatapku sama sekali. Aku harus bicara padanya. Ini kesempatanku mengenalkan Wina padanya sekaligus meminta maaf." Naina membatin. Buru-buru mengalihkan pandangannya.


Naina benar-benar harus menguatkan diri untuk bisa berbicara dengan Wira. Melihat sikap dingin Wira padanya, ia sebenarnya tidak yakin. Tiga tahun ini membawa banyak perubahan pada manta suaminya itu. Naina nyarins tidak mengenali, pria hangat yang selalu megumbar cinta dan sayang setiap saat itu berubah jadi dingin dan tak tersentuh.


Satu setengah jam terkurung di ruang rapat dengan berbagai pembahasan yang masih sangat baru untuk Naina. Wanita itu bisa bernapas lega saat Pieter menyudahi rapat dan menyalami Wira, Bara dan salah satu perwakilan dari perusahaan lain yang ikut di dalam rapat.


"Pak, apa aku bisa permisi ke toilet sebentar. Nanti aku akan kembali ke sini, merapikan semua berkas itu." Naina menunjuk ke arah dokumen yang menumpuk di hadapan Pieter. Ujung matanya mengikuti pergerakan Wira yang sedang mendorong pintu ruangan dan bersiap melangkah keluar.


"Ya sudah." Pieter tanpa menaruh curiga sama sekali, mempersilakan asistennya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Naina mengikuti pergerakan langkah Wira yang berjalan beriringan bersama sepupunya. Sedikit kesal saat pria itu didekati Stella yang tiba-tiba muncul dari arah lift.


“Mas, sudah selesai rapatnya?” tanya Stella pada Bara.


“Bertanya padaku atau bertanya padanya?” goda Bara melihat Stella yang malu-malu.


“Aku serius Mas. Aku ingin minta izin mengajak Rania mengunjungi makam Mbak Brenda." Stella berterus terang.


"Kapan?" tanya Bara.


"Minggu ini ...."


Melihat obrolan Bara dan Stella, Naina tidak membuang kesempatan. Mengesampingkan rasa malunya, ia mencoba mengajak Wira bicara.


"Mas ... eh maksudku Pak Wira. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Naina, tiba-tiba sudah berdiri menghadang langkah Wira. Ia tertunduk dengan tangan saling meremas. Jujur saja, ia tidak sanggup menatap pria tampan yang tak lain mantan suaminya.


Hening sejenak. Bara yang belum sempat menjawab pertanyaan Stella mengalihkan pandangannya pada mantan pasangan suami istri di depannya.


"Baiklah. Mau bicara di mana, Mbak Naina Pelangie?" tanya Wira.


"Aku tidak memiliki banyak waktu. Aku harus menemui putriku, WINA," tegas Wira.


Naina terkejut. Seketika mengangkat pandangannya.


"Mas Wira sudah mengetahui semuanya?" Wajah Naina penuh tanya.


"Bro, aku permisi dulu. Ada yang harus aku bicarakan pada Mbak Naina." Tanpa menunggu jawaban, Wira menarik pergelangan tangan Naina untuk mengikuti langkahnya.


"Aku permisi dulu, Ste." Wira setengah menyeret Naina masuk ke dalam lift bersamanya.


Pieter yang melihat dari kejauhan hanya bisa menyimpan tanya di dalam hati. Baru saja ia keluar dari ruang rapat. Berjalan tertatih-tatih dengan kruk di tangan kanannya.


***


To be continue