
Masih menggenggam tangan Naina, Wira berjalan masuk ke dalam kamar mamanya yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Di dalam, tampak Papa Wira tengah duduk di sofa ditemani Nonik dan Ratih yang tengah menemani Mama Wira di samping brankar. Terlihat mantan asisten rumah tangga yang menjelma menjadi nyonya kedua Wirayudha itu tengah mengusap sudut bibir Mama Wira yang tertumpah air minum saat menyedot cairan bening itu dari dalam gelas kaca.
Mungkin, ini pertama kalinya Ratih menemui Mama Wira lagi setelah perselingkuhan yang ia lakukan dengan suami majikannya itu terbongkar. Apapun alasan di balik perselingkuhannya dulu, tetap saja apa yang dilakukannya salah. Ratih menyadari dosa besarnya. Merebut suami orang lain tidak akan ada pembenaran di dalamnya, posisinya tetap salah di mata hukum dan kehidupan bermasyarakat.
Naina yang berjalan mengekor di belakang suaminya terlihat menyapa Papa Wira, mencium punggung tangan mertua laki-lakinya dan melakukan hal yang sama pada Mama Wira. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Mama Wira lakukan saat mengetahui pernikahan keduanya dengan Wira.
"Ma, bagaimana keadaanmu?" tanya Wira, menatap Ratih sekilas.
Mama Wira tersenyum. Setelah kemarin sore sadar dari komanya, wanita itu masih harus melakukan serangkaian tes dan akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya stabil.
"Kenapa kemarin tidak memberitahuku kalau Mama sudah sadar?" Wira menoleh ke arah Papanya, meminta jawaban.
Selama ini, Wira disibukan dengan urusan perusahaan dan keluarga kecilnya, sehingga Papa Wira tidak mau membebani putranya dengan hal-hal seperti ini. Walau bagaimana pun, Mama Wira masih menjadi istrinya dan sebagai suami, ia harus bertanggung jawab.
"Papa pikir tunggu kondisi Mama stabil baru menghubungimu. Sementara, Papa masih bisa menangani semuanya." Papa Wira menjawab santai. Pria paruh baya itu tampak memberi kode pada istri mudanya menyingkir, memberi kesempatan pada Wira dan Naina menyapa.
Wira mengangguk.
Pandangan Mama Wira beralih pada Naina. Ia masih mengingat jelas kejadian sebelum ia jatuh tidak sadarkan diri beberapa bulan yang lalu.
"Sudah hamil berapa bulan, Nai?" tanya Mama Wira dengan suara lemah. Pandangannya tertuju pada perut Naina yang mulai muncul dan tercetak jelas di gaun berbahan chiffon.
"Masuk empat bulan, Ma." Naina menjawab pelan. Ia berusaha bersikap biasa, menyembunyikan kekhawatirannya.
Pandangan wanita itu beralih pada putranya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Cukup memandang cincin yang tersemat di jari manis Wira dan Naina, ia yakin telah terjadi pernikahan di antara keduanya. Wira tidak mungkin melepaskan tanggung jawab andai Naina memang mengandung bayi keturunan Wirayudha. Apalagi, kemarin Papa Wira sempat bercerita sekilas tentang Wira yang jarang mengunjunginya akhir-akhir ini.
"Wina ... di mana cucuku Wina? Mama ingin bertemu dengannya," pinta Mama Wira terbata. Begitu membuka mata dan tersadar dari tidur panjang, yang diingatnya pertama kali adalah Wina dan Nola, kemudian Dennis dan Wira.
Di masa tuanya yang kini sudah tidak berdaya, kehadiran anak cucu adalah penyemangatnya.
"Mama mau bertemu Wina, Wir. Mama sudah sangat merindukannya."
"Ya, Wina masih di rumah ... sebentar lagi aku akan meminta asistenku membawanya menemuimu, Ma." Wira meraih tangan keriput mamanya dan menggenggam erat. Ia tengah menyemangati mamanya agar segera pulih kembali seperti sedia kala.
Tatapan Mama Wira beralih pada Naina. "Di mana Dennis? Apa dia tidak mengunjungiku selama aku dirawat di rumah sakit?" tanyanya lagi, sembari menatap Naina dan Wira bergantian.
"Dennis kembali ke Amerika. Ada apa mencari Dennis?" Wira balik bertanya. Ia tidak bisa membiarkan Naina menyebut nama pria itu. Setiap mengingat Dennis, sakit hatinya kembali terasa. Bayangan istrinya yang memeluk Dennis dan menyatakan cinta itu kembali mengiris-iris perasaannya.
"Apa ... dia tidak menjenguk Mama sama sekali?" Ada raut kecewa tercetak di wajah Mama Wira.
"Awal-awal ... Dennis sempat menjaga Mama di sini. Tapi sekarang, Dennis sudah kembali ke Amerika. Nola sudah mulai masuk sekolah, Dennis ingin fokus pada putrinya." Wira menjawab sambil menatap tajam Naina. Sedangkan Naina sendiri memilih menunduk sambil meremas tangannya.
Dua bulir air mata jatuh di pelipis, Mama Wira terharu saat teringat putra sulungnnya. "Tidak bisakah memintanya kembali. Mama merindukannya dan Nola," pinta Mama Wira lagi.
Lagi-lagi pandangan Wira tertuju pada Naina. Ia mengetahui jelas alasan Dennis meninggalkan Indonesia karena permintaan Naina. Wanita yang sekarang menjadi istrinya itu memilih mencintai kakaknya sendiri dibandingkan setia padanya. Naina melabuhkan cintanya pada pria yang telah menghancurkan rumah tangga mereka sebelumnya. Mengingat itu, emosi Wira kembali terpancing. Ia harus bersusah payah meredamnya agar cemburu itu tidak terbaca oleh orang lain.
"Nai, apa kamu bisa membantu Mama? Tolong bujuk Dennis ... dan minta dia membawa Nola. Mama merindukan Nola, Nai. Gadis kecil itu pasti sudah besar sekarang. Dulu saat masih kecil, Nola paling dekat dengan Mama." Tatapan Mama Wira menerawang. Kabut kesedihan menyapu mata mata cekungnya.
Sejak koma panjang, tubuh Mama Wira bertambah kurus. Tulang-tulang berbalut kulit itu terlihat menyedihkan. Bahkan, tidak tampak sisa-sisa kecantikan masa lalunya. Sakit bisa membuat semuanya hilang seketika. Tubuh yang cantik, wajah yang menarik hilang dalam sekejap pandangan.
"Mas ...." Naina bingung sendiri saat tangan keriput Mama Wira yang berhias jarum infus itu menggenggamnya. Wanita dengan balutan seragam pasien rumah sakit itu tampak memohon dan memelas.
"Nai, Mama tahu ... kamu dekat dengan Dennis. Anak itu hanya mau mendengarmu. Tolong bujuk Dennis untuk datang dan menemui Mama."
Naina diam, tidak bisa menjawab. Semua keputusan ada di tangan Wira. Ia tidak bisa melukai pria yang kini telah menjadi suaminya dengan tetap berhubungan dengan Dennis. Sebelum memutuskan kembali pada Wira, ia sudah menghempas jauh-jauh perasaannya pada Dennis. Sudah memantapkan hatinya untuk kembali pada Wira.
Hening.
Naina menunduk dan Wira menatap tajam istrinya. Lima belas menit keduanya terdiam, tiba-tiba Wira menyodorkan ponselnya pada Naina.
"Kamu boleh menghubunginya sekarang." Wira bersuara. Wajahnya tampak kaku.
"Mas ...." Naina mengangkat pandangannya, beradu dengan tatapan datar Wira yang berdiri di seberang.
"Hubungi Dennis dan minta dia kembali ke Indonesia. Percuma kalau aku menghubunginya ... Dennis sudah terikat janji dengan seseorang." Wira menyindir. Kedua tangannya terkepal, berusaha agar nada bicaranya terdengar biasa.
Naina menurut. Setelah memastikan nomor kontak Dennis, ia menempelkan gawai hitam itu di telinganya. Tidak butuh waktu lama, suara familiar yang mengisi hari-harinya tiga tahun terakhir terdengar dari ponsel.
"Ya, Wir ... ada apa? Apa Mama baik-baik saja?"
"Mas ... ini Naina."
Deg--
Dennis terdiam sesaat, menikmati suara yang dirindukannya beberapa bulan belakangan. Ia tidak menyangka masih memiliki kesempatan mendengar suara Naina menyapanya.
"Mas ... kamu masih di sana?" tanya Naina ragu-ragu. Pandangannya tanpa sengaja beradu dengan Wira. Suaminya tengah mengirim ancaman. Sorot mata itu teduh, tetapi mengintimidasi.
"Ya, ada apa, Nai? Apa semua baik-baik saja? Dia tidak menyakitimu, kan? tanya Dennis. Pikiran buruk tiba-tiba menguasi Dennis. Entah kenapa, ia mengkhawatirkan Naina.
"Aku baik-baik saja, Mas. Hanya saja Mama ingin bertemu denganmu. Bisakah pulang ke Indonesia dan membawa Nola untuk menemui Mama. Mama sudah bangun dari koma, Mas." Naina menjelaskan.
Dennis diam sesaat. "Aku tahu kamu tidak baik-baik saja, Nai. Berikan ponselnya pada Wira. Aku butuh bicara pada suamimu itu!" titah Dennis.
***
Tbc