Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 43


“Mas, nanti aku mampir ke tempat mama dulu, sebelum ke kantor.” Naina bercerita sambil menyiapkan sarapan pagi. Secentong nasi putih mendarat mulus di atas piring keramik putih polos. Sebagai seorang istri, Naina benar-benar melayani Wira dengan baik.


Hampir dua puluh empat jam, Naina mengetahui kebenarannya. Perlahan hatinya mulai tegar dan kuat kembali. Naina mulai berdamai dengan air mata dan tangisannya. Bukan tidak mau mengambil tindakan, tetapi dia butuh bukti dan tidak mau gegabah. Setidaknya saat harus mengambil sikap, Naina yakin keputusannya bukan karena emosi sesaat tetapi benar-benar sikap yang dilandasi kedewasaan dan pemikiran yang matang.


“Mama menghubungimu, Nai?” Wira baru saja menjatuhkan tubuh kekarnya di atas kursi kayu berlapis vernis mengkilap. Menatap sepiring nasi putih yang sudah disajikan Naina untuknya.


“Tidak, Mas. Nai hanya ingin mengunjungi mama saja,” jelasnya. Meraih sepotong ayam kecap dan potongan kentang, meletakannya di samping tumpukan nasi.


“Terima kasih, Sayang.” Wira sudah memainkan sendok dan garpu dengan kedua tangannya, sebelum melempar senyuman hangat memulai paginya.


“Kenapa tidak sarapan bersama, Nai?” Wira menyuapkan sesendok penuh. Ayam kecap dan kentang adalah menu kesukaan laki-laki itu. Menjadi favourite saat dibuat oleh sentuhan tangan dan cinta Naina.


“Aku masih kenyang, Mas. Lambungku tidak bersahabat beberapa hari ini. Sering mual setiap pagi.” Naina menjelaskan, mengusap perutnya.


Sudah hampir tiga hari, Naina harus bergelut dengan mualnya setiap mandi pagi. Beruntungnya keadaan itu hanya bertahan di pagi hari, selanjutnya dia sudah merasa baik-baik saja.


“Perlu ke dokter?” tawar Wira, menegakan duduknya saat mendengar keluhan istrinya. Terselip khawatir, tentu saja. Suami mana yang tidak panik saat tahu istri yang dicintainya mengeluh sakit.


“Tidak, Mas. Nai baik-baik saja.” Naina menggeleng.


“Kalau Nai mau ke dokter, Mas akan menemani. Jangan pergi sendirian, Nai.”


“Ya, Mas. Sepertinya hanya perubahan cuaca, mualnya juga tidak terlalu parah. Hanya sesekali, itu pun tidak terlalu pengaruh hanya nafsu makanku jadi berkurang.”


Hening sejenak, keduanya mengatupkan bibir dengan pikiran masing-masing. Denting sendok dan garpu bersentuhan dengan piring terdengar jelas sesekali. Wira sedang menikmati sarapannya dan Naina sedang tenggelam dengan pikirannya. Menimbang, harus jujur atau berdusta. Lama berkutat dengan pertimbangan, akhirnya wanita dengan celemek melekat di tubuh itu membuka suara.


“Mas ....” Terdengar ragu, Naina masih menenangkan degup jantungnya untuk untaian kalimat selanjutnya.


“Ya, Nai.” Wira mengangkat pandangannya.


“Nai, mau mampir ke tempat Stevi. Kemarin, di samping butik Nai, ada toko boneka yang baru dibuka. Nai sempat membeli, tetapi bingung untuk siapa. Terpikir, gadis mungilnya Stevi, Nai akan memberinya untuk Nola.”


“Ya ....” Wira menjawab singkat.


Aneh? Setiap gerak-gerik Wira saat ini menjadi perhatian Naina. Tidak terlihat ada yang mencurigakan, Wira tampak biasa. Tidak terkejut, tidak gugup atau pun panik. Dan pastinya tidak berusaha mencegah.


*“Apa yang ada dipikirkanmu, ya? Apa kamu tidak takut kalau semua kebohonganmu terbongkar?” *Naina bermonolog.


“Hati-hati bawa mobilnya, Nai. Selalu kabari Mas.” Wira menutup pembahasan ini dengan senyuman, sambil menyuapkan nasi terakhir ke dalam mulutnya.


“Ya, Mas. Mau berangkat sekarang?” Naina balik bertanya, setelah melihat Wira meneguk segelas air putih hingga tandas.


“Ya, Nai. Mas ada meeting pagi. Ada proyek besar, doakan semuanya lancar.” Berdiri sembari mengucap bibir Naina sekilas. Usapan hangat di pucuk kepala, sebagai penutup acara pagi mereka.


“Mas berangkat sekarang, Nai.” Menyodorkan tangannya seperti biasa.


“Ya, Mas. Hati-hati di jalan,” sahut Naina, mengecup lembut punggung tangan Wira.


“Sampai jumpa nanti siang, Nai.” Rengkuhan di pinggang ramping, keduanya berjalan beriringan ke teras luar.


Kemesraan itu masih sama, kemanjaan Naina juga masih , semuanya masih sama. Hanya hatinya mulai berubah, luka itu masih membekas meskipun berusaha ditutupi dengan susah payah.


***


Ada tangis tersimpan di setiap jalinan kalimat yang keluar dari bibir pengasuh Nola. Melihat gadis manis itu, seperti melihat dirinya sendiri. Menyedihkan dan haus kasih sayang papanya. Hanya saja Nola belum bisa protes. Naina yakin, beberapa tahun ke depan, Nola akan menjelma seperti dirinya, menikmati sakitnya.


Mengorek kisah demi kisah dari pengasuh Nola, pandangan Naina tak lepas dari gadis mungil tak berdosa yang tersenyum bahagia memeluk boneka hadiahnya. Duduk di lantai kamar berlapis play mat, Nola dengan rambut kuncir kudanya tampak sangat bahagia.


Tidak ada Stevi bersama mereka, mami Nola sedang bekerja siang ini.


“Nola tidak merindukan mami?” tanya Naina, merengkuh tubuh gadis kecil itu agar mau duduk di pangkuannya. Bersama keduanya duduk di lantai.


Penolakan di awal, bagi Nola tentu saja Naina hanya orang asing. Namun, boneka di tangan gadis itu terlalu mencuri perhatian, membuatnya melupakan semua kecanggungan.


“Nola belum terlalu lancar bicara, Nyonya. Hanya bisa menyebut mami, papi, sus ....” Pengasuh menjelaskan.


Sejak tadi obrolaan keduanya lebih banyak didominasi kisah Nola, dari lahir sampai sekarang. Tak sedetik pun pengasuh itu meninggalkan Nola berduaan dengan tamunya.


“Ya, kah? Anak pintar.” Naina melabuhkan kecupan manis di pipi gadis mungil itu sembari menyisir rambut Nola yang tergerai berantakan dengan ujung jemarinya.


Semua gerak-gerik Naina tak pernah lepas dari sepasang mata yang selalu mengawasinya dengan lekat. Dan Naina tahu, dia sedang dimata-matai saat ini. Wajar saja! Tentu saja akan jadi keanehan saat tiba-tiba dia datang berkunjung hanya berbekal sebuah boneka. Berharap Wira sudah menyampaikan informasi ini sebelumnya pada Stevi, dan sang pengasuh tak menaruh curiga berlebih untuk kunjungan pertamanya karena sebelumnya sudah dikabari.


*“Tante bisa apa, Sayang. Tante butuh sehelai saja rambutmu, anak cantik. Ini untukmu, juga untuk Tante,” *Naina berguman dalam hati.


***


Melangkah keluar dari rumah Stevi, Naina bisa tersenyum lega. Semua persyaratan sudah dipenuhinya. Beberapa helai rambut gadis kecil itu, akan digabung dengan milik suaminya. Dia butuh kepastian, meski pun hasilnya nanti menyakitkan.


Sebelum melangkah menuju rumah sakit, Naina masih menyempatkan mampir ke tempat mama mertuanya. Sekedar menyapa dan bertukar kisah sederhana, menikmati teh hangat sambil membicarakan gosip selebritis tanah air. Terkadang mengisahkan ulah pembantu rumah atau berbagi kisah istri tetangga sebelah. Begitulah Naina dan mertuanya setiap bertemu muka, layak ibu dan anak sesungguhnya.


Tak jarang keduanya menceritakan kelakuan Wira, laki-laki penting di dalam hidup keduanya. Bahasan mama mertua dan menantu itu sanggup menggeser keberadaan sang papa mertua. Laki-laki paruh baya itu memilih bermain-main dengan ikan hiasnya atau menikmati kicau burung peliharaannya.


Hampir sejam, Naina akhirnya berpamitan. “Ma, Nai pamit dulu.”


“Nai mau kemana? Langsung pulang?”


“Tidak, Ma. Mau membeli makan siang untuk Mas Wira, setelah itu mampir kantor. Kebetulan Nai tidak masak hari ini,” jelas Naina. Membungkuk untuk mencium punggung tangan mama mertuanya.


“Besok mama ke tempatmu. Mau mengobrak-abrik butikmu, Nai,” ucapnya setelah mengetahui butik menantunya yang akan segera ditutup.


“Ya, Ma. Masih banyak stok. Mama pilih saja. “Nai ke belakang dulu, pamitan dengan papa.”


Sedikit lega, Naina sudah hampir merampungkan kisahnya. Berjalan ke mobil dengan sedikit kelegaan yang tadiny menyesak di dada.


Dua rumah sakit besar di pusat kota menjadi tujuannya. Menitipkan sampel, sembari berdoa menunggu hasilnya. Tentu saja, bukan perjalanan mudah untuk Naina, ada banyak ketakutan di setiap langkahnya untuk menguak fakta yang mungkin berbeda dengan harapnya.


“Semoga Nola bukan putrimu, Mas.”


***


TBC