Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3 Tas 13


...--- Percayalah, akan indah pada waktunya ---...


***


Wira menggendong Wina masuk ke dalam apartemen, menyusul di belakang Naina dan Rima yang berjalan berdampingan.


"Mau bobok cama Ayah ...." Wina berguman setengah sadar, bersandar di pundak Wira. Gadis kecil itu sudah sangat mengantuk, seharian di rumah sakit bersama Angie.


"Mas ...." Naina heran saat melihat Wira membawa putrinya ke kamar pria itu. Biasanya ia akan berbagi tempat tidur dengan Wina, tetapi malam ini tampaknya sedikit berbeda.


Wira mengabaikan Naina, sebaliknya pria itu melenggang masuk ke dalam kamar dan berpesan pada Rima.


"Rim, tolong bawakan pakaian tidur Wina. Malam ini aku akan tidur bersama putriku." Wira tidak tega, permintaan Wina di saat tidur membuatnya tersentuh. Selama ini pasti Wina menahan rindu padanya.


Naina menghela napas kasar. Tanpa protes masuk ke dalam kamar putrinya dan harus rela tidur sendirian malam ini. Mereka sudah di apartemen, tidak ada alasan untuk Wira bermanis-manis padanya.


Jujur, rasanya berat sekali menjalani hidup seperti ini. Naina hanya bisa memupuk sabar sampai batas kemampuannya. Ia lelah, tetapi ia paham sekali apa yang dirasakan Wira saat ini. Suaminya tengah kecewa.


Menghempaskan tubuh lelahnya di atas tempat tidur bernuansa Cinderella, Naina berbaring memandang langit-langit kamar. Tas tangan yang tadi ditentengnya, tergeletak di atas tempat tidur tepat di sampingnya.


Ting.


Tiba-tiba terdengar dentingan ponsel dari tas tangan Naina. Sebuah pesan masuk dari nomor asing. Naina mengerutkan dahi, wajahnya penuh tanya.


"Nomor siapa ini?" Naina sudah akan mengabaikannya. Biasanya kalau pesan masuk, bisa saja salah alamat atau kejutan berhadiah ratusan juta. Ibu hamil itu sudah kebal dan berniat mengabaikannya. Namun, kali ini ada rasa yang berbeda.


Dear Naina,


Aku bahagia bisa melihatmu walau kita tidak bisa bicara banyak. Aku tidak lama di Indonesia. Setelah menjenguk Mama dan Stevi, aku harus kembali ke Amerika. Maaf, aku lancang menyelipkan sesuatu di dalam tasmu. Mudah-mudahan, di kehamilan kali ini, kamu masih menyukai dan menginginkan hal yang sama. Jangan terlalu banyak, tidak baik untuk kehamilanmu.


Jaga dirimu, Nai.


Dennis Joseph.


Naina membaca untaian kata yang dikirimkan Dennis. Ada haru menyapa. Kalimat-kalimat sederhana, tetapi cukup menyejukan dan menguatkan semangatnya yang hampir punah menghadapi sikap dingin Wira.


Naina makin tertegun saat mengeluarkan sekotak cokelat dari dalam tasnya. Kelopak mata itu bergetar, memanas dan akhirnya cairan bening mendesak keluar tanpa sanggup dibendung.


"Kamu masih mengingatnya, Mas." Naina terpaku, memandang cokelat yang mengingatkannya pada masa lalu. Masa-masa sulit selama kehamilan, tetapi ia beruntung masih memiliki Dennis dan Mbok Sumi. Keduanya akan dengan senang hati memenuhi semua keinginannya. Dari yang sederhana sampai tersulit sekali pun, Dennis akan mencarikannya sampai ke ujung dunia dan Mbok Sumi akan menyiapkan untuknya.


***


Siang berganti malam, malam pun bergerak menuju pagi. Hari-hari berlalu, semuanya masih sama. Sikap Wira? Tetap sedingin biasanya walau kadang-kadang melunak. Pria itu masih jarang bicara dan selalu menghindar.


Kalau kecewa ada obatnya, Naina berharap Wira segera menemukannya. Walau berusaha kuat, ada masa-masa di mana ibu hamil itu merasa berat untuk menjalani semua. Ia tidak bisa berbuat banyak, Wira menutup akses untuknya mendekat, membujuk bahkan ia tidak bisa menunjukan keseriusannya memulai dari awal, mau belajar mencintai dan menerima Wira lagi.


Namun, sejauh ini Naina tak mau ambil pusing. Di tengah kehamilannya yang makin membesar, ia fokus dengan bayi dan usahanya. Setiap hari bolak-balik dari apartemen ke toko. Sesekali mengantarkan makan siang untuk Wira walau ia tidak tahu ke mana kotak bekal itu berakhir. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri.


Setiap akhir pekan, keluarga kecil itu menghabiskan waktu bersama, mengunjungi Mama Wira yang kini sudah pulang ke rumah. Perempuan paruh baya itu sekarang menghabiskan separuh harinya di atas kursi roda.


Dan Dennis, pria gagah itu sudah terbang kembali ke Amerika. Ia hanya sejenak menghirup udara tropis Indonesia. Tanpa pesan dan berpamitan, tiba-tiba Dennis menghilang. Naina sendiri mengetahui kabar Dennis dari mama mertuanya.


Suatu siang, memasuki musim kemarau, Naina baru saja kembali dari rumah sakit mengambil hasil tes DNA yang dilakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan Wira tiga pekan lalu. Ia bahagia, hasil tes tidak jauh beda dengan doanya. Bayi di dalam kandungannya benar-benar bayi Wira berdasarkan sampel yang didapatkanya dengan diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar Wira.


Kebahagiaan Naina makin berlipat ganda saat mengetahui jenis kelamin bayi yang dikandungnya adalah laki-laki. Dan ia berharap, Wira merasakan hal yang sama.


"Mas ...."


"Aku sudah melakukan tes DNA. Dan ini hasilnya." Naina menyodorkan amplop cokelat itu ke atas meja Wira.


Deg--


Wira yang sejak tadi menunduk, bagai tersambar petir. Ia tidak menyangka kalau Naina melakukan tes diam-diam. Ia tidak penasaran dengan hasilnya, ia hanya mengkhawatirkan kehamilan Naina pasca melakukan tes DNA yang konon katanya bisa membahayakan kandungan.


Nasi sudah menjadi bubur, ia berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Naina dan kandungannya baik-baik saja. Ia masih kecewa pada Naina, tetapi cinta dan rasa sayangnya tetap sama.


"Mas ...." Naina mencoba mengajak bicara lagi. Ia sedikit kecewa melihat Wira yang tak bereaksi. Tetap fokus pada setumpuk dokumen.


"Beberapa hari yang lalu ... aku sudah memeriksa kandungan. Bayi kita sehat. Laki-laki." Naina menyodorkan hasil usg ke atas meja, meletakan di atas amplop.


Ini sudah yang ke sekian kalinya. Naina harus menerima kenyataan kalau dirinya berbeda dengan ibu-ibu hamil lainnya. Kalau ibu hamil di luar sana diantar keluarga dan suami melakukan pemeriksaan, Naina hanya diantar sopir pribadi.


Wira melirik sekilas, menatap foto hitam putih yang diletakan Naina di meja kerjanya. Tertunduk, pria itu menyimpan senyumannya. Tentu saja Wira bahagia menyambut bayi laki-lakinya.


"Kamu boleh pulang sekarang, Nai." Wira meraih amplop dan foto usg itu dan menyimpannya ke dalam laci meja kerjanya.


"Mas, tidak mau melihat hasil tes-nya?" tanya Naina bingung.


"Tidak, aku sudah tahu hasilnya. Pulanglah," usir Wira. Wajah tampan itu tetap datar, tidak tampak senyuman sama sekali.


Pundak Naina melemas, usahanya ternyata sia-sia. Ia pikir, Wira akan melunak dan memaafkannya begitu melihat hasil tes DNA. Ternyata sama saja, Wira tetap sedingin biasanya.


Berjalan keluar ruangan, Naina hanya bisa menunduk dan menyimpan air matanya. Terlampau sering menahan air mata, ia bahkan sudah lupa caranya menangis.


"Bu, apa yang terjadi?" William yang baru keluar dari lift tampak berjalan dari arah berlawanan. Ia bisa melihat jelas raut wajah Naina yang menyembunyikan kesedihan.


"Tidak ada, Wil. Aku baik-baik saja." Naina memaksa untuk tersenyum, terus melangkah dan tidak mau banyak bicara. Makin membahas lukanya, ia makin menikmati kecewa dan kesedihan. Ia tidak mau situasi ini memengaruhi kehamilannya.


***


"Pak Bos, kalau tidak menginginkannya lagi, sebaiknya dibuang saja. Aku biasanya seperti itu. Kalau sudah tidak menyukai sesuatu, aku akan menyumbangkannya pada yang membutuhkan atau membuangnya ke tempat sampah." William yang baru saja masuk ke ruangan Wira, tiba-tiba menyindir atasannya.


Wira menaikan pandangannya. Ia menyadari ada yang tidak beres dengan asistennya. Baru saja masuk ke dalam ruangan, William sudah berbicara di luar masalah pekerjaan.


"Apa maksudmu?" tanya Wira mengerutkan dahi.


"Itu, Ibu Bos ... kalau memang sudah tidak mau, sebaiknya dibuang saja." William tergelak setelah menyelesaikan kalimatnya. Entahlah, ia mulai lelah melihat hubungan rumah tangga atasan. Sebagai asisten, ia mengetahui semuanya.


Sebuah pena melayang, membentur dada bidang William.


"Kurang ajar, kamu pikir istriku sampah!" Emosi Wira tiba-tiba meledak saat istrinya direndahkan.


"Dia sendiri tidak sadar!" William tersenyum sembari menggaruk kepalanya.


-


-


-