
"Apa yang terjadi?" Wira buru-buru menghubungi Rima kembali setelah membaca pesan dari pengasuh putrinya itu. Ia perlu memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu dan Wina pulang ke Yogya, Pak. Tadi pagi berpamitan dan ...." Gadis muda itu terisak.
"Dan gajiku juga sudah dibayar Ibu." Tangis Rima pecah. Baru beberapa jam berpisah dari Wina, ia sudah merindukan gadis kecil yang terkadang menyusahkannya.
"Ibu berangkat dengan apa?" Wira tidak sabar. Pria itu meraih jas hitam yang digantung di sandaran kursi dan segera keluar ruangan. Ia harus secepatnya menemui Naina dan Wina, tidak mau kejadian lalu terulang kembali
"Kereta api, Pak. Tadi diantar sopir ke stasiun." Rima menjelaskan apa yang diketahuinya.
"Ya Tuhan, Nai. Apa yang kamu pikirkan sampai pergi dengan perut besar seperti itu. Apa tidak khawatir melahirkan di jalan." Wira berkata pelan sebelum memutuskan panggilan. Ia masih bisa mendengarkan suara tangisan tertahan dari seberang
Berlari keluar, bahkan Wira mengabaikan William yang sedang membutuhkannya. Pria itu hanya menempelkan telunjuk di bibir dan meminta asistennya tutup mulut.
"Aku ada urusan. Tolong urus semua masalah di kantor," titah Wira, melangkah masuk ke dalam lift dengan ponsel menempel di telinga.
Sedetik kemudian, pemilik perusahaan itu mengeluarkan kepalanya dari pintu lift. "Carikan aku tiket pesawat ke Yogyakarta!"
William yang masih mematung di tempat dibuat terperanjat. "Hah?"
"Tiket pesawat ke Yogyakarta. Penerbangan secepatnya. Kalau tidak mendapatkan tiket pesawat, sewa jet pribadi," pinta Wira serius.
William bengong. Asisten itu masih merangkai semuanya dan belum menemukan titik terang. Dari atasan yang berlari keluar ruangan dengan buru-buru, ditambah Wira yang memintanya mengurus perusahaan kemudian disuruh membeli tiket pesawat tujuan Yogyakarta.
"Will!" teriak Wira.
"Y-ya, Bos. Ada lagi?"
"Carikan hotel yang di dekat bandara, yang kamarnya luas dan nyaman dengan fasilitas lengkap. Aku bersama istri dan anakku," lanjut Wira lagi.
"Apa lagi, Bos?"
"Cari dokter kandungan terbaik di sana. Tolong buatkan janji untuk besok atau lusa." Wira memerintah sembari menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Ba-baik, Bos." William bertambah bingung.
"Apa Bos menikah lagi dan ... istri mudanya melahirkan di Yogyakarta. Pantas saja dia bersikap dingin pada Ibu Naina. Atau jangan-jangan ... yang di Jakarta ini istri muda. Bukannya sebelum menikah dengan Ibu Naina, Bos sering terbang ke Yogyakarta sendirian. Jangan-jangan ...."
"Jangan berpikir macam-macam," teriak Wira. "Kabari aku secepatnya. Aku ingin segera menyusul istriku sekarang!" omel Wira.
"Ya, Bos." Asisten itu menatap Wira menghilang di balik pintu lift.
William menghela napas panjang. "Sudah aku katakan padanya, sebaiknya kalau memang butuh ... beli jet pribadi saja. Kalau sudah seperti ini, menyusahkan sekali. Kalau sampai tidak mendapatkan penerbangan yang diinginkan, pasti dia mengomel." William menggerutu. Asisten itu teringat dengan Matt, temannya yang juga bekerja sebagai asisten. Tidak pernah pusing mengurus masalah penerbangan.
Wira menghubungi Jack, orang kepercayaannya yang selalu memberikan informasi apa pun yang dibutuhkannya. Cepat, tepat dan dapat dipercaya.
Pemilik PW Group itu sudah tidak sabar untuk mengetahui kabar terbaru tentang istri dan anaknya. Ia khawatir, Naina dan Wina pergi berdua dengan kereta api. Wira takut, perjalanan panjang berjam-jam itu akan mempengaruhi kandungan Naina yang sudah masuk bulan ke delapan.
***
Naina sempat waswas saat memutuskan membawa Wina tanpa pengasuhnya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak selain nekat. Ini pengalaman pertamanya menumpang kereta pulang ke tanah kelahirannya. Ibu hamil itu merasa beruntung, Wina sangat kooperatif di perjalanan.
Gadis kecil itu menikmati perjalanannya sambil berceloteh. Berbagai camilan dan susu membuat mulutnya tidak berhenti mengunyah. Terkadang, ia bosan dan memilih menonton layar hiburan di kursi depannya. Ada-ada saja yang dilakukan Wina, sampai akhirnya menjelang sore, gadis mungil dengan rambut dikepang dua itu tertidur di kursinya.
"Maafkan Bunda, Sayang. Karena ikut Bunda, Wina jadi harus seperti ini." Diusapnya pelan rambut berantakan putrinya.
Naina ingin menangis setiap mengingat nasib rumah tangganya. Ini bukan pertama kalinya, ia lari dari kenyataan. Beberapa tahun silam, ia sudah pernah melakukannya. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Naina membawa buah hatinya ikut pergi dan menghilang dari Wira.
"Maafkan aku, Mas. Aku tahu, aku salah karena pergi tanpa pamit," ucap Naina pelan. Ia berusaha tegar dan tidak menangis. Ini jalan yang dipilihnya.
Naina hampir tertidur, saat kereta api berhenti di stasiun tujuan. Pandangannya beralih pada Wina, putrinya masih terlelap, meringkuk di kursi sambil memeluk boneka.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai." Naina mengguncang tubuh mungil itu agar segera membuka mata.
Guncangan kedua di pundak Wina, sedikit lebih kencang. "Wina ... bangun, Sayang." Naina kembali memanggil.
Gadis kecil itu merengek saat membuka mata dan menyadari kalau ia sedang tidak berada di kamarnya. Keadaan sekitarnya tampak asing. Tak ada kamar Cinderella yang menyambutnya setiap membuka mata.
"Bunda!"
"Bunda ...." isaknya, mencari keberadaan Naina. Matanya masih mengantuk, rambut acak-acakan.
"Ya, Sayang. Bunda di sini." Naina mengusap lembut punggung putrinya.
"Endong, Bunda," pinta Wina, menegakkan duduknya dan mengulurkan kedua tangannya. Kebiasaan Wina setiap bangun tidur, Rima akan mendekap sampai kantuknya hilang.
"Endong, Bunda," rengek Wina lagi.
"Bunda tidak bisa gendong Wina. Ada adik bayi di perut Bunda, Sayang." Naina menjelaskan.
Gadis kecil itu masih merengek, butuh beberapa menit untuknya membiasakan diri dan menerima kenyataan.
Ibu dan anak itu saling berpegangan tangan, turun dari kereta dan bersiap mencari taksi di luar stasiun. Rencananya, Naina akan menuju ke tempat tinggal lamanya. Di sana ia masih memiliki kenalan dan teman SMA yang akan membantunya mencari tempat tinggal.
Matahari sudah mulai merayap turun ke ufuk barat, saat Naina menggenggam tangan mungil putrinya dan menenteng tas kecil berisi perlengkapan mereka, keluar dari stasiun. Bergabung dengan para penumpang lain, Naina tidak menyadari seseorang mengawasinya sejak berjalan dari pintu keluar.
Naina berhenti sejenak, menghirup udara Yogyakarta yang sudah lama tidak dirasakannya. Ibu hamil itu memejamkan mata, menikmati hawa panas yang menyengat kulitnya. Kerinduan akan kampung halamannya terbayar sudah, sekarang ia di sini, di Yogyakarta.
"Ayah!" pekik Wina tiba-tiba. Mata mengantuk gadis kecil itu terbuka sempurna saat mengenali seseorang yang berdiri tak jauh darinya.
Naina tersentak saat mendengar jeritan kencang putrinya. Ia bisa merasakan Wina yang melepaskan diri dari genggaman tangannya.
"Mau ke mana, Sayang?" Naina panik saat Wina berlari menjauh darinya.
"Ayah, Bun. Ayah." Wina berlari ke depan mengabaikan Naina. Ibu hamil itu mematung saat pandangannya menangkap sosok familier yang kini sedang berjongkok menyambut Wina.
"Mas Wira ...."