
"Wira!" Dennis menggedor pintu rumah setelah menerobos masuk dari pintu kecil di samping gerbang. Ia membiarkan mobilnya terparkir di tepi jalan.
"Buka pintunya, Breng'sek!" teriak Dennis.
"Siapa, Wir?" tanya sang mama, sedang menikmati sepotong marmer cake yang dibawakan Wira untuknya. Mata wanita paruh baya itu masih fokus pada layar televisi.
"Dennis, Ma. Tadi dia minta bertemu." Wira berjalan menuju ke pintu dan membukakan pintu rumah untuk tamunya.
"Ada apa?" tanya Wira saat daun pintu terbuka lebar. Wira bisa melihat kilat amarah di mata Dennis.
Tanpa menjawab, Dennis langsung melabuhkan kepalan tangannya tepat di rahang Wira.
"Pukulan itu untuk semua air mata Naina. PENGECUT!" teriak Dennis. Tidak sampai di situ, Dennis kembali menendang perut Wira yang terhuyung karena pukulan pertamanya.
Tanpa persiapan, Wira tersungkur ke lantai, membentur guci mahal salah satu koleksi keramik mamanya. Benda antik itu terjatuh ke lantai dan pecah berantakan.
"Astaga!" Apa yang terjadi?" Mama Wira yang terlampau serius dengan tontonannya baru menyadari saat mendengar suara berisik saat benda kesayangannya hancur.
"Apa-apaan ini. Ya Tuhan ...." ucapnya lirih, menatap sedih pada guci antik dan Wira yang tergeletak tak berdaya di lantai marmer rumahnya.
"Wir, kamu baik-baik saja?" tanya wanita dengan daster rumahan itu. Berlari menghampiri Wira, ia hampir menangis menatap luka di sudut bibir putra kesayangannya.
"Apa-apaan ini, Dennis?" tanya Mama Wira menatap tajam putra tertua yang ditinggalkannya saat berusia tiga tahun.
"Tanyakan pada putramu. Dosa apa yang dilakukannya pada Naina? Pengecut! Pencundang!" umpat Dennis dengan tangan terkepal, masih belum puas melampiaskan kemarahannya.
Ini bukan masalah tanggung jawab atau yang lainnya. Ia yakin Wira melakukannya karena menginginkan Naina kembali ke pelukannya, tetapi tindakan Wira itu secara terang-terangan sudah me'lecehkan, merendahkan dan mempermalukan Naina.
"Sejak awal aku di pihakmu, tetapi bukan dengan jalan seperti ini!" tuding Dennis.
"Apa maksudmu?" tanya Wira, mengernyit berusaha menahan sakit. Tampak pria itu membungkuk, menahan nyeri di perutnya karena tendangan Dennis yang begitu kencang.
"Tanyakan pada dirimu, apa yang kamu lakukan sampai membuat Naina menangis." Nada suara Dennis sedikit melunak.
"Sudah-sudah ... ayo kita bicarakan baik-baik. Tidak perlu bertengkar seperti anak kecil. Apa lagi kalau ini urusannya dengan Naina. Mama bosan mendengar namanya. Tiap hari Naina, Naina, Naina. Apa tidak ada perempuan lain." Mama Wira mendekap lengan Wira, membantu putranya berdiri.
"Tutup mulutmu! Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya tidak perlu ikut campur, Nyonya!" Dennis kembali meninggikan suaranya. Jari telunjuknya mengarah tegas ke arah mamanya. Sorot mata Dennis begitu mengerikan, seakan hendak menelan bulat-bulat mangsanya.
"Jangan menghina Naina, selama tiga tahun ini aku berjuang keras untuk mengangkatnya supaya dia tidak merasa rendah diri setelah menjadi janda dari putra kesayanganmu ini. Dan sekarang, setelah bertemu kalian, Nyonya menjatuhkannya lagi tepat di depannya!" Tangan Dennis mengepal. Kalau tidak ingat perempuan tua banyak bicara itu adalah mamanya, sudah dipastikan Dennis akan menyumpal mulut Mama Wira.
"Jangan meninggikan suaramu di depan Mama." Wira mulai terpancing saat Dennis melibatkan orang tuanya.
Dengan sekali tendang, ia berhasil membuat Dennis tersungkur. Mengumpulkan sisa kekuatan sembari menahan nyeri di perut, Wira berhasil menyeret sang kakak dan menghajarnya di tengah halaman rumah yang luas. Pukulan mendarat di dada dan sekujur tubuh Dennis, bahkan Wira membuat Dennis terkapar di atas tanah berumput. Pria yang berusia lebih tua dari Wira itu tidak sanggup melawan, hanya bisa pasrah menerima pukulan demi pukulan.
"Wira! Wira!" pekik sang mama sembari menarik lengan putranya itu supaya menjauh. Ia tidak bisa membiarkan Wira memukul Dennis seperti itu. Dennis juga putranya, ia tidak bisa membiarkan perang saudara ini terjadi di depan mata.
"Wira, dia kakakmu. Kalau kamu memukulnya seperti itu, dia bisa mati." Mama Wira berteriak. Kepalanya berdenyut saat.
"Pergi, Ma. Kami memang harus bertarung sampai salah satu di antara kami mati. Ia harus membayar dosa masa lalunya padaku. Karena pria ini ... aku bercerai dari Naina!" ungkap Wira, menumpahkan isi hatinya.
Kesempatan ini digunakan Dennis untuk membalikan keadaan. Ia yang tadinya terkapar tidak berdaya di atas rumput dan dikuasai Wira sekarang berganti memegang kendali. Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah dan tubuh Wira. Dennis tidak memberi kesempatan Wira melawan.
Mama Wira dan beberapa security tidak berani melerai, kakak adik yang sedang bertarung itu mengancam mereka. Keduanya berguling di tanah, saling menindih dan memukul. Saling mengumpat dan menguasai. Saling bertukar tinju dan tendangan. Keduanya babak belur dengan darah mengucur dari hidung, sudut bibir dan pelipis.
Hampir dua puluh menit bergumul diiringi teriakan sang mama yang menonton dengan berurai air mata. "Sudah, Mama mohon hentikan!" jerit tangis Mama Wira terduduk di tanah berumput.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat menyaksikan kedua buah hatinya bertarung layaknya binatang buas. Mama Wira hanya sanggup menangis, berteriak dan meremas dadanya yang sesak bercampur nyeri. Sakit di tubuhnya, tidak sebanding dibandingkan sakit melihat kedua putranya berkelahi karena seorang wanita.
"Aku akan membunuhmu!" ancam Wira. “Nyawamu itu pun tidak sanggup menebus dosamu. Sudah berapa banyak luka yang kamu toreh di dalam hidupku!" ungkap Wira, tersenyum sinis sembari meludahi wajah Dennis saat kakaknya itu berhasil menguasai.
"Aku yang akan membunuhmu, Breng'sek! Sudah cukup Naina menangisi laki-laki pengecut sepertimu!" ujar Dennis, melabuhkan pukulan bertubi-tubi di wajah Wira.
"Ini untuk tindakan tidak bermoralmu, ini untuk semua luka Naina!"
"Kamu yang tidak bermoral, bukan aku!" Wira tidak mau kalah.
Pertengkaran keduanya terhenti, kepalan Dennis yang siap dilabuhkan di pelipis Wira masih melayang di udara saat terdengar derap langkah dan suara feminin berteriak dari kejauhan.
"Mas, jangan. Kasihan Mas Wira ...." Naina menarik Dennis yang sedang menduduki tubuh tak berdaya Wira.
"Mas, sudah. Jangan begini. Mas Wira bisa mati."
"Biarkan dia mati!" seru Dennis. Ia terpaksa melepas kuncian pada tubuh Wira demi Naina.
"Aku belum mau berhenti sampai dia mati," teriak Dennis dengan tangan terkepal.
"Jangan, aku mohon, Mas." Naina menggengam tangan Dennis yang sudah terkepal ke udara.
"Bagaimana pun, Mas Wira ... Ayah dari anakku. Aku mohon jangan begini. Aku tidak apa-apa."
Dennis tertegun, menatap Naina yang berurai air mata.
"Perempuan ini mudah sekali menangis!" ungkap Dennis dalam hati.
Dennis menghela napas berulang kali, berusaha menenangkan diri. "Nai, Pratama Wirayudha yang menghamilimu dengan cara kotor" ucap Dennis dengan suara lantang "Terserah padamu, kalau kamu meminta aku membunuhnya, akan aku lakukan sekarang," lanjut Dennis, menatap Naina dan juga Wira yang berdiri di belakang Naina bergantian.
Naina terlihat biasa, tetapi sebaliknya Wira dan mamanya terkejut. Wira segera merengkuh lengan Naina dan membuat mantan istrinya itu berbalik menghadapnya.
"Kamu hamil, Nai?" tanya Wira memastikan.
Lama terdiam, Naina memandang sekeliling. Ia tidak memiliki keberanian mengakui kehamilannya di hadapan banyak orang, terutama Mama Wira. Ucapan dan ancaman Mama Wira terngiang di telinganya. Namun, ia tidak boleh egois. Meskipun ia kecewa pada Wira, pria itu harus tahu mengenai kehamilannya.
"Ya, Mas." Naina tertunduk menutupi malunya. Bukan hanya ada Wira dan Dennis. Ada security berdiri di dekat mereka. Naina juga bisa melihat mantan mama mertunya terduduk lemas di rumput kotor. Ia yakin, Mama Wira bisa mendengar ucapannya.
Baru saja Wira hendak memeluk Naina. Ia bahagia mendengar kehamilan Naina. Tentu saja ini yang dinanti-nantikannya. Namun, niatnya belum terselesaikan, teriakan security mengejutkan semuanya.
"Bu ... Bu ... Bu ...." seru penjaga gerbang rumah itu ketakutan saat melihat tubuh majikannya ambruk. Mama Wira tiba-tiba terbaring tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat membiru.
Wira dan Dennis berlari bersamaan. Keduanya melupakan pertengkarang mereka, bersimpuh tepat di depan tubuh sang mama yang sudah tidak berdaya.
"Bawa ke rumah sakit! Pakai mobilku saja!" titah Dennis, panik saat melihat mamanya terkulai lemah di dalam dekapan Wira.
Wira yang sudah tidak bisa berpikir apa-apa hanya bisa menurut. Begitu Dennis melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah, Wira pun segera menggendong tubuh mamanya masuk ke dalam mobil.
"Tolong diperiksa, Wir. Mama masih ada, kan?" tanya Dennis dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mencengkeram kemudi mobil, berusaha menyembunyikan ketakutannya. Naina yang memilih duduk di sampingnya hanya bisa menggengam tangan Dennis sekilas dan menguatkan.
"Pasti baik-baik saja, Mas." Naina berbalik menatap ke kursi belakang. Wira sedang mendekap mamanya dengan wajah menyedihkan.
***
Tbc