
Seminggu berlalu.
Siang itu, sebuah mobil pajero sport hitam tiba-tiba berhenti di kediaman Stevi. Wanita yang sudah tidak bekerja lagi sejak diceraikan Wira, memilih menghabiskan waktunya di rumah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menjalani harinya dengan menikmati kemewahan yang diberikan Wira padanya.
Turun dari mobil dengan setelan hitam lengkap kacamata hitam menutupi manik mata birunya, Dennis melangkah menuju ke rumah. Pria itu tidak sendirian, ada tiga pria berbadan besar ikut mengekor di belakangnya.
“STEV! Buka pintunya!” teriak Dennis, menggedor pintu rumah dengan kencang.
“STEV!” teriaknya lagi.
Hening—
“STEV! Aku akan meminta orangku mendobraknya!” teriak Dennis.
Tangannya sudah terkepal, bersiap memukul pintu papan untuk kesekian kalinya, tetapi muncul wajah cantik Stevi dari dalam rumah. Terkejut dan kebingungan.
“Mau apa lagi? Apa yang kamu inginkan?” Stevi berdiri di pintu, menghalangi Dennis. Ia tidak bisa membiarkan Dennis masuk ke rumahnya begitu saja.
“Minggir! Aku mau menemui Nola!” ucapnya, menerobos masuk. Sengaja menabrak Stevi, sehingga wanita itu mundur beberapa langkah.
“Apa maumu?” tanya Stevi, masih berusaha menahan.
Aku mau Nola. Dia putriku. Tentu saja aku mau mengambilnya setelah Wira menceraikanmu.” Dennis menjawab dengan santai.
“Tidak bisa! Nola putriku, kamu tidak bisa mengambilnya begitu saja,” cegah Stevi.
“Nola juga putriku. Ingat itu, apa perlu kutunjukan hasil tesnya kalau Nola Pelangie Wirayudha adalah putri biologisku!” Dennis berkata dengan lantangnya.
Pria itu terlihat berjalan menuju kamar Nola. Baru saja akan meraih gagang pintu kamar, Stevi sudah mencegahnya terlebih dulu.
“Tidak bisa. Kamu tidak bisa mengambil Nola dariku. Aku ibunya, Dennis.”
Dennis terbahak. “Ibu macam apa dirimu. Bahkan putriku lebih banyak bersama Dewi, pengasuhnya.”
“Jangan katakan kamu menyayangi Nola. Kamu menahannya supaya Wira tetap memberimu semua kemewahan ini, kan? Jangan pikir aku tidak tahu otak licikmu, Stev!” ungkap Dennis.
“Dewi! Bawa keluar Nola sekarang. Kita akan pergi dari rumah ini, siapkan semuanya,” teriak Dennis, menggedor pintu kamar putrinya.
“Tidak bisa! Kamu tidak bisa mengambil Nola dariku. Dia putriku,” tegas Stevi.
Terlihat Dennis memanggil salah satu bodyguardnya. Meminta mereka menahan Stevi agar tidak mengganggu semua rencana yang sudah disusun sebelumnya.
“Kalau bukan karenaku, tidak akan ada Nola, Stev. Kamu pikir hanya mengandalkan dirimu saja, kamu bisa membuat Nola sendirian.” Dennis tertawa kejam.
“Kamu yang menjebakku. Aku tidak tahu apa-apa. Semua ini adalah permainanmu sejak awal.” Stevi menjerit kesal, saat kedua tangannya dicekal. Ia tidak bisa melawan Dennis.
“Ya, dan kamu menikmati permainan ini. Kamu ikut terlibat, Stev. Aku hanya mengikuti arah angin bertiup. Melihatmu begitu terobsesi dengan adikku Wira, aku pikir tidak ada salahnya mengabulkannya sejenak. Biarkan kamu berpikir kalau Wira yang melakukannya.” Dennis terbahak.
“Namun, setelah mengetahui semuanya, bukankah kamu juga tidak bersedia melepas Wira. Aku hanya mengikuti permainanmu, Stev.” Dennis tersenyum licik.
“Aku tidak tahu apa-apa. Kamu yang mengatur semuanya. Aku bahkan tidak tahu dengan siapa aku tidur, aku hanya tahu ketika terbangun Wira di sampingku. Tentu saja aku menuntut Wira!” jelas Stevi.
“Wira bisa memberiku semuanya, berbeda dengan lelaki miskin sepertimu!” ejek Stevi.
“Hahahaha ... ya, aku miskin. Aku tidak mau berdebat denganmu, Stev.” Dennis memutuskan perdebatannya, memilih masuk ke dalam kamar putrinya. Membiarkan Stevi yang meronta dalam cekalan bodyguardnya.
Begitu pintu kamar itu dibuka, tampak pengasuh Nola sedang menyiapkan semua perlengkapan gadis kecil yang tertidur pulas di ranjang empuknya.
“Kak Dennis ....” sapa pengasuh Nola, tersenyum.
“Kemasi barang-barangmu, Dew. Kita pulang. Tugasmu sudah selesai. Ibu sudah pulang ke Bandung seminggu yang lalu,” jelas Dennis, dengan nada lembut. Jauh berbeda saat berbicara dengan Stevi.
“Ya, Kak Dennis.” Pengasuh Nola menjawab.
“Bawa seperlunya saja, Dew. Aku bisa membelikan semua yang Nola inginkan.” Dennis berjalan mendekati putrinya. Membawa gadis kecil yang masih terlelap itu ke dalam gendongannya.
“DENNIS! Kamu tidak bisa membawa Nola begitu saja. Dia putriku!” teriak Stevi sembari menangis.
“Sssstt, jangan berisik. Nola sedang tidur. Dia juga putriku. Sudah cukup dia bersama wanita sepertimu. Putriku tidak butuh ibu sepertimu. Kalau kamu menginginkan putrimu, mari kita bertemu di pengadilan. Aku punya bukti seberapa kasar kamu memperlakukan Nola selama ini,” jelas Dennis tertawa, menatap sekeliling rumah.
“Dua tahun ini, aku tahu semua apa yang kamu lakukan, Stev. Bahkan aku melihat bagaimana kamu menggoda Wira dan harus berakhir dengan ditinggalkan. Begitu menyedihkan sekaligus menjijikan. Kami memiliki darah yang sama, tentu saja kami memiliki selera yang sama. Adikku tidak akan tertarik dengan wanita murahan sepertimu, Stev.” Dennis berjalan keluar rumah, diikuti Dewi sang pengasuh.
Mobil hitam Dennis berlari kencang, bersama dengan Stevi yang menangis sambil berlari mengejar. Wanita itu terduduk lemas di halaman rumahnya. Beberapa minggu yang lalu saat Wira menceraikannya, dia masih memiliki Nola. Bagaimana pun, Nola akan tetap membuatnya aman dan tenteram. Wira tidak akan melepaskan tanggung jawabnya. Namun sekarang, semuanya hancur berantakan karena Dennis.
***
Dari rumah Stevi, mobil Dennis melaju menuju rumah keluarga Wirayudha. Ya, destinasi selanjutnya adalah kediaman yang menjadi pangkal masalah semuanya. Kehancuran, luka dan tangis yang selama ini ditanggunganya.
Begitu mobilnya berhenti di halaman rumah, Dennis disambut oleh Wira yang baru saja turun dari mobilnya. Pria tampan itu terlihat menyeret koper masuk ke dalam rumah.
“Maaf ... apa aku bisa bertemu dengan Nyonya Wirayudha?” tanya Dennis, terlihat turun ditemani seorang bodiguard yang menenteng koper dan sebuah map.
“Ada perlu apa menemui mamaku” tanya Wira, menghentikan langkah kakinya. Beralih menatap Dennis dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja Wira mengenali siapa tamu yang berkunjung ke rumah orang tuanya siang ini. Dennis Wijaya, pria yang belakangan ini menjadi targetnya karena kedekatannya dengan Stevi.
“Ada sedikit keperluan pribadi dengan Nyonya Wirayudha,” sahut Dennis terlihat santai. Berusaha tersenyum ramah pada Wira, agar diizinkan masuk.
Masih menggenggam erat kopernya, Wira tampak ragu. Namun, akhirnya tetap mengizinkan Dennis masuk ke dalam rumah.
Dan di sinilah Dennis, duduk menunggu di sofa ruang tamu keluarga Wirayudha. Ada banyak kata yang sudah dirangkainya selama 28 tahun ini. Ada banyak keluh kesah yang ingin ditumpahkannya pada sang Nyonya rumah.
“Tunggu sebentar, aku akan memanggil mamaku,” pamit Wira, menyeret kopernya masuk. Dia baru saja kembali dari Kalimantan. Belum juga beristirahat, tetapi sudah kedatangan tamu misterius yang membuatnya penasaran.
Tak lama, Wira muncul bersama mamanya. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat menyambut tamu asing yang wajahnya sangat familiar. Seperti pernah mengenalnya. Di mana dan siapa, dia belum bisa menebak.
“Selamat siang, Nyonya. Perkenalkan saya Dennis Wijaya, putra tunggal Andi Wijaya,” ucap Dennis menyodorkan tangannya, tersenyum manis menatap mama Wira. Sengaja memberi penekanan saat menyebut nama Andi Wijaya.
***
TBC