Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 8


"Ya ... itu Naina Pelangie." Pak Lurah menatap foto pernikahan yang ditujukan Wira padanya.


Wira mengangkat pandangannya, menatap Pak Lurah yang baru saja menyebutkan indentitas asli mantan istrinya. Padahal sejak tadi, Wira hanya menyebut Naina Joseph bukan Naina Pelangie.


Setelah berbincang dengan sekretaris kelurahan, pemuda itu mengajak Wira menemui Pak Lurah secara langsung. Menganggap atasannya itu lebih berhak membagi informasi yang dibutuhkan tamunya. Apalagi hubungan Pak Lurah dengan kakak Naina yang bukan hanya sekedar perangkat desa dan warga melainkan layaknya teman dekat.


Ya, sejak Naina tinggal di daerah ini, Dennis pun ikut melebur dengan perangkat desa. Dari Pak Lurah, RW maupun RT. Semuanya dirangkul Dennis, tanpa terkecuali. Dengan pertimbangan ia yang jarang berkunjung ke Bandung, maka pria 34 tahun itu menitipkan Naina dan putrinya pada mereka.


"Bapak tahu namanya Naina Pelangie? Itu memang nama asli mantan istriku." tanya Wira heran. Tadinya ia mengira Naina mengganti indentitas dirinya.


"Ya, memang namanya Naina Pelangie, statusnya janda dengan seorang putri. Informasi yang disampaikan kakaknya seperti itu." Pak Lurah memberi informasi. Pria paruh baya dengan setelan kecokelatan itu tersenyum menatap tamunya.


Wira tersentak sekali lagi. Perasaannya campur aduk, perempuan yang dicarinya hampir bisa ditemuinya. Bahkan gadis kecil yang fotonya masih tersimpan rapi di galeri ponsel, kemungkinan adalah putrinya dan Naina. Ya, Wina pasti putrinya. Begitulah yang ada di benak Wira saat ini.


"Saya cukup mengerti kekagetan Bapak. Warga kampung memang tidak tahu jelas identitas Naina. Karena warga sini tahunya kalau Naina itu bernama Naina Joseph. Kakaknya sendiri mengaku di depan warga kalau dialah suami dan ayah dari putri Naina." Pak Lurah berkata sambil tersenyum.


"Semua dilakukannya karena tidak ingin menimbulkan isu negatif, apalagi Naina hanya tinggal bersama seorang ibunya sudah tua, putrinya dan seorang pengasuh. Status jandanya bisa saja menimbulkan isu tidak sedap di tengah warga," lanjut Pak Lurah.


Wira tersenyum dan mengangguk. Sampai sejauh ini ia cukup mengerti. Meraih segelas air mineral dari atas meja, Wira menyeruput cairan bening itu melalui sedotan.


"Hubungan saya dengan kakaknya Naina cukup dekat, apalagi beliau sering membantu untuk kemajuan daerah ini selama tiga tahun Naina tinggal di sini."


Wira sejak tadi hanya bisa menyimak, mendengar dengan jeli segala informasi yang disampaikan Pak Lurah. Cukup heran dengan orangnya yang tidak sanggup mengeruk informasi penting ini. Namun, ia bisa melakukannya dengan mudah.


"Sebenarnya, saya juga tidak mau terlalu terbuka, mengingat selama ini Pak Dennis selalu meminta saya untuk berhati-hati setiap ada yang meminta informasi tentang adiknya." Pak Lurah kembali bercerita.


"Maksudnya bagaimana, Pak?" Wira mengerutkan dahi.


"Sebelum Bapak, sudah beberapa orang yang datang ke kampung ini menanyakan informasi tentang Naina. Dan selama ini saya menolak, karena mereka tidak bisa menunjukan identitas dan tujuan mereka dengan jelas. Berbeda dengan Pak ...." Pak Lurah terlihat berpikir. Bibirnya mengatup mengingat nama tamu yang sempat mengenalkan diri di awal perjumpaan mereka tadi.


"Wira, Pak. Bisa panggil saya Wira saja." Wira mengenalkan dirinya kembali, seakan membaca apa yang dipikirkan lawan bicaranya.


"Oh ya, Pak Wira." Pak Lurah tersenyum.


"Dan belakangan saya paham ... kenapa Pak Dennis meminta saya untuk tidak terlalu membuka identitas adik dan keluarganya yang lain. Ada banyak yang mencari tahu tentang mantan istri Bapak.”


Wira tampak berpikir, meskipun di dalam hati ia mengetahui dengan jelas. Orang-orang tidak jelas yang dimaksud Pak Lurah adalah orang-orang yang dibayarnya. Yang dimintanya mencari tahu keberadaan Naina.


"Dan untuk alasan itu juga akhirnya Pak Dennis memutuskan pindah dari sini. Dia khawatir dengan adik dan keponakannya. Seminggu yang lalu, mereka sudah pindah kembali ke Jakarta setelah saya mengabari beliau tentang banyaknya pria asing yang mencari tahu tentang Naina.” Pak Lurah mengakhiri kisahnya.


Wira masih merangkai cerita demi cerita yang disampaikan Pak Lurah. Sejak tadi, ia sangat tertarik dengan kakak Naina yang bernama Dennis. Entah kenapa, nama itu begitu familiar di pendengarannya. Apa karena ia juga sebenarnya memiliki kakak dengan nama yang sama. Atau apakah Dennis ini orang yang sama. Wira sama sekali tidak bisa menebak.


"Maaf Pak, sejak tadi bapak membahas kakak Naina. Dennis itu siapa, ya? Setahu saya, Naina itu yatim piatu" tanya Wira. Tidak sanggup lagi menyimpan penasarannya.


"Tinggal di sini juga, Pak?" tanya Wira lagi.


"Tidak. Pak Dennis tidak tinggal di sini. Hanya sesekali saja datang mengunjungi Naina dan putrinya."


"Bagaimana orangnya, Pak?" tanya Wira.


Pak Lurah terlihat mengamati Wira dari ujung rambut sampai ke kaki. Agak ragu membagi informasi tentang Dennis pada tamunya. Apalagi ia sendiri tidak tahu jelas, siapa Dennis yang sebenarnya. Dennis tidak tinggal di wilayahnya. Lebih banyak tinggal di Jakarta dan Amerika.


"Saya juga tidak mengenal jelas tentang Pak Dennis, Pak. Karena dia bukan warga saya." Pak Lurah memberi alasan.


Wira mengangguk dan tersenyum. Merasa cukup puas dengan segala informasi yang didapatkannya.


"Terima kasih, Pak untuk informasinya." Wira berdiri dan menyalami Pak Lurah.


"Maaf mengganggu waktu makan siang Bapak," lanjut Wira lagi.


"Tidak masalah, Pak. Semoga informasi saya bisa membantu. Dan Bapak bisa segera menemui mantan istri dan putri bapak," sahut Pak Lurah.


Baru saja hendak melangkah keluar, tiba-tiba Wira berbalik. "Pak, wanita tua yang tinggal dengan mantan istriku. Bisakah membocorkan padaku siapa namanya. Bisa saja saya mengenalnya atau mencari tahu dari identitasnya." Wira bertanya.


"Oh, yang terdata di tempat kami ... namanya Sumiyati." Pak Lurah menjawab.


Deg--


Wira kembali merangkai, kepingan puzzle yang kocar-kacir hingga menemukan satu jawaban. Mungkin nanti saat ia duduk tenang bisa memikirkannya pelan-pelan.


***


Wina, Austria.


Naina menarik koper mungilnya keluar dari kamar diiringi tatapan nanar Pieter yang tertegun di kursi roda. Sejak seminggu ini, keduanya memilih diam dan jarang bicara. Pieter begitu terpukul saat Naina tetap pada pendiriannya, bahkan sedikit pun tidak mempertimbangkan tawarannya.


Mata elang pria itu mengekor pergerakan langkah Naina. Di ruang tamu, terlihat David sudah berdiri menunggu. Rencananya David yang akan mengantar Naina ke bandara, menemani Pieter yang sampai detik ini belum mendapatkan pengganti yang akan mengurusinya. Pria itu bersikeras tidak mau mencari pengganti Naina. Ia masih berharap perempuan itu masih mau bertahan untuknya. Bahkan tawaran untuk bekerja di perusahaan RD Group di Indonesia pun ditolak Naina mentah-mentah. Termasuk tawaran untuk kuliah.


"Nai, apa kita masih bisa bertemu lagi setelah ini?" tanya Pieter tiba-tiba. Tidak sanggup lagi berpura-pura kuat.


"Kalau kita berjodoh untuk bertemu, pasti akan bertemu lagi, Pak." Naina mengalihkan pandangannya dari koper. Menatap Pieter dengan pandangan yang sulit dilukiskan. Selama setahun berbagi banyak hal. Meskipun berat, setidaknya ada hal indah yang dilewatinya bersama.


***


TBC