
“Nai, kamu baik-baik saja?” tanya Wira. Pria itu menyusul dengan raut kepanikan tercetak di wajah tampannya. Berdiri di tengah pintu kamar mandi, menatap tubuh membungkuk yang sedang menguras habis isi lambung. Hanya cairan bening terlihat tumpah dari bibir mungil itu.
“Ya, Mas. Sepertinya aku salah makan lagi.” Naina menyalakan kran air dari wastafel oval, membasahi mulutnya dengan kucuran air dingin.
“Yakin, Nai?” tanya Wira lagi, berjalan mendekat. Memberi usapan lembut di punggung, berusaha menenangkan Naina.
“Hmmm.”
“Apa kita ke dokter saja, Nai. Mas khawatir.” Wira menawarkan.
“Ya, kalau masih belum membaik, nanti aku mampir ke rumah sakit setelah dari pengadilan.” Naina berkata pelan. Mengangkat pandangan, menatap pantulan kesedihan melalui cermin di hadapannya. Sorot mata Wira begitu menyedihkan, binar itu meredup dan suram saat kata pengadilan terucap lancar dari bibir Naina.
“Nai, Mas masih belum ikhlas.”
Dua tangan itu menyusup, menelusuri lekuk pinggang dan mengunci erat di perut Naina. Begitu posesif dan hangat. “Mas ... masih belum bisa ikhlas melepasmu, Nai.”
Netra bening itu tertunduk, tidak sanggup harus beradu tatap meski hanya lewat pantulan cermin. Naina menyimpan luka di sisi terdalam hatinya.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Namun jujur saja, Mas ... untuk menerima kehadiran Nola yang menjadi bagian dari dirimu itu berat sekali untukku, Mas. Berat dan menyakitkan. Aku belum sanggup ikhlas, Mas. Tadinya aku berharap, akulah wanita yang memberi kebahagiaan itu untukmu, tetapi aku salah, Mas. Aku tidak ditakdirkan untuk itu. Membayangkan bagaimana Nola datang di dalam kehidupanmu saja sudah menyakitkan, aku tidak sanggup memikirkan lebih jauh. Aku takut aku tidak kuat. Maafkan aku Mas, aku tidak sesempurna itu. Aku tidak bisa menerima Nola.”
Mengusap pelan cairan bening yang memaksa datang meski tidak diundang, Naina mencoba tersenyum di tengah tangisannya. Isak tangis yang berusaha disembunyikan.
***
Mentari menyingsing, perlahan naik ke atas singgasana. Deru mobil beriringan membelah jalanan ibukota. Naina dengan mini coopernya, menyusul di belakang mobil hitam Wira. Tujuan mereka sama, gedung megah di pusat kota yang disebut pengadilan negeri.
Masuk beriringan, bahkan parkir bersebelahan, gedung itu masih terlihat lenggang. Hanya beberapa mobil terparkir berjarak. Wira turun lebih dulu, merapikan pakaiannya. Kemeja putih dengan celana kain berwarna hitam. Sepatu kulit mengkilap dengan warna senada. Dasi hitam bergaris digulung kecil, menjuntai dari saku kemeja yang lengannya dilipat sebatas siku.
“Nai, ayo!” Pria tampan dengan kacamata hitam itu membantu Naina membuka pintu mobil. Mengulurkan tangannya, bersiap menggenggam tangan Naina
“Terima kasih, Mas.” Naina memaksa tersenyum. Langkah itu berat, rasanya hampir tidak sanggup berjalan masuk. Kaki jenjang dengan heels lima sentimeter itu gemetar saat melangkah.
“Hati-hati Nai,” ucap Wira pelan, menggandeng Naina masuk ke dalam. Dari kejauhan, tampak Johan, pengacara Wira menyambut keduanya.
“Sudah siap?” tanyanya.
“Tidak akan pernah siap,” ucap Wira tersenyum getir, menatap Naina yang tertunduk menyembunyikan kesedihan yang sama.
“Setengah jam lagi sidang dimulai.” Johan berkata pelan.
Tangan itu masih saling menggengam, saling bertautan di sela-sela jemari. Keduanya seakan tidak rela melepas. Bahkan sampai berjalan masuk ke dalam ruang persidangan pun, masih menggengam.
“Mas, aku di sana,” ucap Naina, menunjuk tempat di mana biasanya ia duduk di setiap persidangan. Seorang diri duduk di sana. Berpisah arah, Wira duduk di sisi lain bersama Johan, pengacaranya.
Dada keduanya bergemuruh, saat beberapa orang bejubah hitam berjalan masuk, mengambil tempat di mimbar. Jantung berdetak semakin kencang saat pukulan palu hakim sebanyak tiga kali menghantam meja, artinya sidang dengan agenda pembacaan putusan antara penggugat Naina Pelangie melawan tergugat Pratama Wirayudha dibuka.
Naina sudah tidak bisa berpikir jernih. Bahkan kalimat pembuka yang diucapkan hakim ketua tidak ada satu pun yang didengarnya. Matanya memanas, kelopak itu berkedip-kedip menahan awan mendung yang bergelayut. Gambaran-gambaran perjalanan kisah cintanya dan Wira berputar lewat di depan matanya.
Hal yang sama juga dirasakan Wira. Sejak tadi duduk gelisah, menatap tak berkedip istrinya dari kejauhan. Ya, istri yang mungkin saja sebentar lagi akan menjadi mantan istri dalam hitungan menit.
Di tengah konsentrasinya, tiba-tiba ada getaran dari saku celananya. Seseorang menghubungi ponselnya yang sudah dimode senyap. Menatap Johan, sembari merogoh ponsel pintarnya.
“Maaf,” bisik Wira, menatap layar ponselnya berkedip. Panggilan masuk dari sekretrisnya beserta pesan. Menggeser perlahan, memilih membaca pesan masuk di tengah tatapan penasaran Johan.
Pak, ada kecelakaan di proyek Jatinegara. Ada korban jiwa dari tim kita.
Mengulang pesan itu sekali lagi, Wira terkejut setelah memastikan sendiri kalau dia tidak salah baca.
“Pak Johan, apa sidang bisa ditunda? Atau bisa saya serahkan dengan Pak Johan saja?” Panik itu tampak jelas, mengganti gurat-gurat kesedihan yang sebelumnya mendominasi.
“Ada apa?” tanya Johan, sang pengacara mengerutkan dahi.
“Ini!” bisik Wira, menunjukan pesan dari bawahan yang baru saja diterimanya.
Johan mengangguk.
“Tolong, bantu aku sebisanya. Aku masih belum mau pernikahanku selesai di sini. Tolong perjuangkan untukku, Pak,” ucap Wira, menepuk pundak Johan sebelum meninggalkan ruangan.
Gaduh terlihat di meja hakim saat Wira bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan ruang sidang tanpa permisi. Meninggalkan sopannya, Wira melangkah keluar menuju pintu. Namun, langkah kaki pria itu terhenti saat menyadari sesuatu. Berbalik arah menghampiri istrinya.
“Nai, aku harus ke proyek, tidak bisa menyelesaikan sidang hari ini,” jelas Wira, saat mata beradu pandang dengan sorot mata penuh tanya.
“Ada apa, Mas?” tanya Naina pelan, mengerutkan dahi.
“Ada kecelakan di proyek, Mas harus ke sana.” Wira membungkuk saat menjelaskan. Menyejajarkan tingginya dengan Naina.
Ya, Mas,” sahut Naina lagi. Ada rasa tidak rela saat melepaskan Wira. Ini detik-detik terakhirnya, mungkin saja beberapa menit ke depan hubungannya dan Wira selesai.
“Mas hati-hati,” ucapnya lagi dengan lembut dan pengertian seperti biasa.
“Ya, nanti Mas akan mengabarimu,” ucap Wira, memaksa tersenyum. Membingkai wajah Naina dengan telapak tangannya, sebelum menghadiahkan kecupan di kening wanita yang masih berstatus istrinya. Ciuman hangat dan dalam, begitu penuh perasaan.
“Mas, pergi sekarang,” pamit Wira.
Naina mengangguk.
Langkah kaki Wira terasa berat, saat matanya menangkap raut ketidakrelaan Naina. Mengenal Naina bukan sehari dua hari, tentu saja dia sangat mengerti arti tatapan dalam istrinya.
“Mas ....”
“Emmm.” Wira menoleh, saat suara Naina terdengar lagi, menyapanya lembut.
“Tidak, Mas hati-hati di jalan. Jangan panik, pasti baik-baik saja.”
Wira mengangguk. Tersenyum sebelum berlari menuju pintu keluar diiringi tatapan sedih Naina.
“Mas ....” Wanita itu berbalik badan, menoleh ke belakang mengikuti pergerakan Wira. Tidak ingin kehilangan detik-detik terakhirnya, saat punggung kekar itu semakin menjauh.
“Tolong tatap aku lagi, Suamiku,” bisiknya penuh harap. Memohon di dalam asa, Wira mau berbalik dan menatapnya sekali lagi. Mungkin saja ini akan jadi yang terakhir.
***
TBC