Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 2


Wina, Austria.


Naina meletakan ponselnya ke atas tempat tidur. Dihapusnya pelan air mata yang sempat menghiasi wajah ayunya. Saat ini masih pukul tujuh pagi waktu Wina. Menyembunyikan kesedihan, Naina meratapi takdirnya yang mengenaskan. Bercerai dan harus menjadi orang tua tunggal untuk putri semata wayangnya.


Ditambah lagi, sekarang ia harus berpisah dari putrinya. Hampir sebelas bulan meninggalkan Indonesia, bahkan saat ia terbang ke Austria, Wina masih berusia satu setengah tahun. Putri mungilnya belum bisa berjalan dan berbicara lancar.


Ia berpikir, tidak bisa selamanya bergantung pada Dennis dan menyusahkan Mbok Sumi. Selama ini, pria itu sudah terlampau baik padanya dan Wina. Dennis, putra angkat Mbok Sumi itu bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan di dalam hidupnya dan Wina.


Selama hamil dan melahirkan, Dennis yang mendampingi dan membiayai mereka. Menempuh perjalanan Jakarta - Bandung setiap kali ia dirundung masalah. Bahkan Dennis menempuh penerbangan dua puluhan jam dari Amerika ke Indonesia, demi menemaninya melahirkan dan menunjukan ke warga kampung, kalau ia benar-benar memiliki seorang suami meski tidak setiap saat mereka bisa bersama-sama.


Ada banyak pengorbanan Dennis dan itu menjadi salah satu pertimbangan Naina kenapa memilih bekerja sejauh mungkin. Sejak ia bekerja di Austria, Dennis tidak perlu terlalu sering mengunjungi kota Bandung. Ia juga tidak perlu mendengar gunjingan warga kampung karena statusnya yang tidak ada kejelasan, meskipun Dennis sudah mengakui di depan banyak orang, kalau ia suami Naina dan mengenalkan diri sebagai sebagai Dennis Joseph dan Naina Joseph.


Dengan bekerja di luar, ia juga bisa mengumpulkan uang lebih cepat dan membuka usaha sendiri. Tinggal bersama putrinya dengan gaji yang dikumpulkannya dari bekerja di luar negri. Dan alasan yang tidak bisa disebutkannya secara terang-terangan, dia ingin melupakan Wira, mantan suami yang sampai saat ini masih enggan menghilang dari hati dan pikirannya.


“Suamimu?” tiba-tiba terdengar suara maskulin, menarik Naina kembali ke dunia nyata. Penghuni tempat tidur di sebelahnya, pria matang yang tergolek tidak berdaya.


Kamar yang ditempati Naina tidak terlalu luas. Ada dua tempat tidur berjajar dan sebuah kamar mandi sederhana. Sebuah televisi terpasang di dinding sebagai hiburan di saat kebosanan melanda.


“Ya ....” sahut Naina tertunduk. Ia terpaksa berbohong selama ini pada semua orang. Dennis tidak mengizinkannya mengumbar status janda di depan umum. Dennis tidak mau ada pria asing yang mengambil kesempatan dengan statusnya.


“Tolong aku, Angel.” pinta pria matang yang berbaring di atas tempat tidur itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, ia adalah Pieter, majikan sekaligus orang yang selama ini djaga Naina selama bekerja di Austria.


“Bapak mau apa?” tanya Naina dengan lembut.


“Aku mau mandi. Tolong aku.” Pieter meminta dengan manjanya seperti biasa.


“Mandi sendiri, Pak!” Naina tersenyum saat melihat ekpresi majikannya berubah.


Hampir setahun mengurus Pieter, mereka berbagi banyak hal. Menghabiskan hari-hari bersama, makan sepiring berdua, tidur di kamar yang sama bahkan Naina sudah hafal luar dalam Pieter. Mereka tinggal berdua di apartemen. Pria lumpuh yang awalnya harus dimandikan, harus disuapi dan harus ditemani sepanjang waktu.


Namun, sekarang kondisi Pieter jauh lebih baik. Sudah bisa mandi sendiri meski harus disiapkan. Sudah bisa makan sendiri, meski tidak jarang lebih sering minta disuapi.


“Sebentar.”


Naina mengambil setagen untuk mengikat perutnya. Dia butuh itu setiap kali harus membopong Pieter duduk di kursi roda. Berat Pieter yang jauh di atasnya, membuat pekerjaan ini terasa luar biasa untuknya.


Memang tidak ada pekerjaan yang mudah, mau mengeluh pun ia tidak bisa. Hanya bisa berdoa setiap malam, menguatkan hatinya supaya bisa bertahan di negri orang. Terkadang ia juga merindukan kampung halaman, terlebih putrinya. Namun ini garis hidup yang dipilihnya, dan ia harus ikhlas sampai hari di mana kebahagiaan menyapa.


“Jangan menangis lagi. Kamu bisa membawa putrimu ke sini, tinggal bersama kita,” bisik Pieter, di tengah pelukan Naina yang hendak memindahkannya ke atas kursi roda. Kelumpuhan yang dialami Pieter membuat pria itu tidak bisa melakukan banyak hal.


“Jangan berisik. Nanti aku akan menjatuhkanmu, Pak!” Naina berkomentar.


“Aku serius, Angel. Kamu bisa membawa putrimu ke Austria. Aku tidak keberatan,” ungkap Pieter.


“Tidak perlu, aku hanya tinggal sebulan lagi di sini. Setelah itu aku bisa kembali berkumpul bersama putriku,” ucap Naina, menghela napas setelah berhasil memindahkan Pieter ke kursi roda.


“Kalau kamu pulang, aku bagaimana?” tanya Pieter dengan wajah memelas.


Pieter memamerkan wajah nelangsa, menatap Naina dengan raut sulit dijelaskan.


“Hari ini ... aku harus ke kantor,” ucap Pieter tiba-tiba.


“Ya, Pak. Ada berkas yang harus dibawa?” tanya Naina.


“Tidak, aku hanya menghadiri rapat. Selebihnya David yang mengurusnya,” jelas Pieter.


***


Pieter yang sudah berpakaian rapi tampak duduk di atas kursi rodanya sembari menatap layar laptop.


"Angel tolong aku." Pieter kembali memanggil.


"Ada apa, Pak?" tanya Naina, berjalan mendekat dengan sepiring nasi goreng panas.


"Tolong sambungkan dengan Pram. Aku perlu membahas sesuatu dengannya." Pieter memberi perintah.


"Baik, tunggu sebentar. Sarapannya bagaimana?" tanya Naina.


"Nanti saja, aku harus membahas pekerjaan sebelum berangkat ke kantor pagi ini "


Tak lama, panggilan video itu tersambung. Tampak Pram menyapa Pieter dengan senyum khasnya. Seperti biasa, Naina sudah menarik kursi, duduk di dekat majikannya Saat-saat seperti ini Pieter tidak mengizinkannya menjauh. Terkadang pria lumpuh itu membutuhkan sesuatu.


Lima belas menit membahas pekerjaan, tiba-tiba Pieter mengalihkan topik.


"Pram, gadis di sampingku ini akan segera kembali ke Indonesia. Bisakah membujuknya tetap di sini. Aku akan membayarnya berapa pun, asal dia mau memperpanjang kontrak kerjanya," cerita Pieter.


"Harusnya kamu mengontraknya seumur hidup, Pram. Jadi dia tidak bisa pergi lagi dariku." Pieter terbahak sembari menatap Naina.


"Aku tidak berani memberi kontrak terlalu lama. Kamu tahu, sudah berapa orang yang menyerah. Hanya dia yang bertahan selama ini," sahut Pram, memamerkan wajah tampannya di layar laptop.


Pieter menggangguk dan tersenyum menatap Naina. Diantara beberapa pekerja yang dikirim Pram, hanya Naina yang bertahan selama ini. Bahkan Naina sangat lembut memperlakukannya.


Pieter ingat, awal mula kedatangan Naina di rumah sakit. Wanita itu sempat kaget melihat kondisinya, tetapi akhirnya Naina tetap menerima tanpa mengeluh.


Di pertemuan pertama itu, Pieter mendapatkan kebahagiaan pertama pasca kecelakaan parah yang menimpanya. Mimpi pun ia tidak menyangka kalau Pram mengirimkannya seorang malaikat. Wanita yang mengisi mimpinya sejak pertemuan tanpa sengaja beberapa tahun silam di Jerman.


Wanita yang dipanggilnya Angel, yang ditemui di salah satu restoran di Jerman. Sayangnya sampai saat ini, Naina masih tidak mengenalinya. Pertemuan tanpa sengaja itu begitu berkesan untuk Pieter, tetapi tidak untuk Naina.


***


TBC