
Wira dan Dennis duduk di bangku panjang tepat di depan ruang ICU. Keduanya tidak bicara, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dennis bersandar dengan mata terpejam. Sebaliknya, Wira duduk dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapan sendunya terlihat menerawang jauh.
Luka di wajah dan sekujur tubuh tampak hanya hiasan semata, adik kakak itu melupakan rasa sakit saat mendengar ucapan dokter yang menangani Mama mereka.
Nyonya Wirayudha mengalami serangan jantung dan dinyatakan koma. Tim medis sedang berjuang untuk menyadarkan perempuan paruh baya yang saat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Mas ...." Naina yang baru saja kembali dari Guardian, merek ritel yang bergerak dalam bidang kesehatan dan kecantikan Asia Tenggara. Ibu hamil muda itu terlihat menenteng bungkusan plastik berisi obat merah, alkohol, dan kapas.
Wira menoleh, tersenyum tipis pada Naina. "Kamu dari mana?" tanya Wira pelan.
"Aku membeli obat untuk kalian, Mas." Naina menunjukan bungkusan di tangannya.
Tanpa banyak bicara, Naina sudah memposisikan diri di depan Wira. "Mas, bersandar. Aku akan mengobati lukamu." Naina mendorong pelan tubuh Wira agar bersandar di sandaran kursi.
Dengan cekatan mengusap luka di sekitar wajah Wira dengan alkohol. "Sedikit sakit, perih."
"Ya ...." Wira menjawab pelan.
"Sssshhh ...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Wira mendesah pelan saat kapas basah itu mengenai kulitnya yang terluka. "Sakit, Nai." Wira mengernyit.
"Tahan. Kalau tahu sakit ... harusnya tidak berkelahi, Mas," omel Naina, ikut mengernyit seakan ikut merasakan perih.
Wira tersenyum. Setelah sekian lama, ia melihat sisi Naina terdahulu. Naina yang sering protes dan mengomelinya.
"Jangan senyum, Mas! Besok ... aku tidak akan peduli lagi," gerutu Naina, mengusap pelipis dan sudut bibir Wira dengan obat merah.
Wira tergelak sembari menatap lekat ke area perut rata Naina. "Hamil berapa minggu?" tanya Wira, seolah lupa bagaimana kehamilan itu terjadi. Bahkan, sakitnya lenyap saat mengingat kehamilan Naina.
"Tujuh minggu, Mas."
"Apa anak kita rewel?" tanya Wira lagi. Perasaan bahagianya sudah tidak terbendung. Di tengah duka akan kabar mamanya, kehamilan Naina sanggup mengalihkan dunia Wira.
Naina menggeleng. Ada sekelebat kesedihan di wajah Naina.
"Maafkan aku, Nai," ucap Wira berbisik. Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri mengusap perut Naina. Ini bukan kehamilan pertama Naina, dan bayi di kandungan Naina bukanlah bayi pertama mereka. Namun, semuanya terasa baru untuk Wira.
Naina hanya diam, tidak bicara sama sekali. Ia membiarkan tangan Wira menyentuh perut ratanya.
"Tunggu Mama bisa ditinggal, kita ke dokter kandungan." Wira berkata pelan. Kepalanya tertunduk, menatap perut Naina dengan binar kebahagiaan.
Kamu sudah melakukan pemeriksaan?" tanya Wira lagi.
Naina bungkam, ekor matanya melirik ke arah Dennis. Pria itu masih bersandar dengan mata terpejam. Seakan tidak peduli dengan obrolan keduanya. Naina sangat yakin, Dennis mendengar semuanya. Jarak duduk kedua pria bersaudara itu hanya terpaut satu kursi kosong.
"Belum, Mas." Naina berdusta, tidak ingin Wira kecewa.
Senyum terukir di bibir Wira. Ia bahagia, teramat sangat bahagia. Ingin rasanya berteriak, dan membagi kabar gembira ini pada dunia. Namun, ketika teringat dengan caranya yang hina, ia menyesal. Wajah itu meredup, bahagia itu tertahan. Wira merengkuh pinggang ramping Naina, kemudian memeluk wanita itu dengan erat.
"Maafkan aku, Nai." Wira dihantam rasa bersalah yang coba disembunyikannya selama ini.
"Berhentilah bekerja dan fokus pada kehamilanmu," pinta Wira.
"Ya, nanti aku lihat dulu bagaimana ke depannya, Mas. Aku belum berpikir sejauh itu."
Terdengar helaan napas berat, kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Wira sudah sering kali diucapkan pria itu.
"Kembalilah bersamaku, Nai. Aku berjanji akan membahagiakan kalian," bisik Wira, berganti menggenggam kedua tangan Naina. Wira berharap kehamilan ini membuat Naina sedikit mencair.
Naina tidak menjawab, tetapi tidak ada penolakan seperti biasa. Dan Wira tahu, selangkah lagi Naina akan kembali ke dalam pelukannya.
***
Netra Dennis membuka, menatap wajah perempuan yang sedang duduk di sampingnya dengan ujung jari menjepit sebuah kapas yang dibasahi alkohol.
"Pulang saja, Nai. Ini sudah malam. Jaga kandunganmu, kamu juga butuh istirahat." Dennis mengambil alih kapas dari tangan Naina.
"Biar aku sendiri saja." Dennis menyunggingkan senyuman di bibir bengkaknya.
"Mas yakin?"
Dennis mengangguk.
"Sudah malam, kasihan Wina. Lagi pula, di sini juga tidak bisa berbuat banyak. Hanya menunggu kabar dari dokter." Dennis menjelaskan.
"Nai, pulanglah dengan William. Dia sedang dalam perjalanan." Wira menyela pembicaraan keduanya.
"Ya, Mas." Naina beralih menatap Wira, yang duduk di sebelah kirinya.
"Pulang dan istirahat." Wira tersenyum.
***
Malam semakin larut saat dua saudara seibu itu duduk berdampingan tanpa bicara. Sejak Naina berpamitan pulang, hanya hening yang tercipta di antara adik kakak yang berhias resah di wajah.
"Maafkan aku ...." Tiba-tiba Dennis bersuara sembari mengusap dahinya yang bengkak dan mulai berdenyut.
"Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat melihat Naina menangis," lanjut Dennis berterus terang. Pandangannya menerawang ke depan.
Wira menoleh, sejak tadi memilih memberi jarak, ia mencoba berdamai setelah Dennis melakukan hal yang sama.
"Untuk masa lalu, aku akui itu kesalahanku. Tapi hari ini ... aku tidak menyangka pria baik-baik sepertimu bisa menggunakan cara kejam untuk mendapatkannya kembali." Dennis berkata pelan.
Wira tertunduk saat diingatkan kesalahannya.
"Bercerai darimu ... bukanlah sesuatu yang mudah untuknya. Apapun alasan perceraian itu, aku tahu ... aku yang harus disalahkan. Walau sebenarnya ... kamu juga tidak sepenuhnya benar" Dennis menggigit bibir.
"Aku memanfaatkan cinta Stevi padamu. Dan Stevi benar-benar membuat semuanya lancar. Aku hanya perlu sedikit bekerja dan akhirnya tinggal menonton di pinggir lapangan. Mama dan kamu sendiri bekerja sama dalam hal ini. Mama ikut mendesakmu dan kamu menentukan jalanmu dengan setuju mengikuti permainan ini. Tanpa kerja sama yang apik antara kita berempat, semua ini tidak akan terjadi," lanjut Dennis.
Wira lagi-lagi hanya menyimak, mencerna untaian kalimat yang keluar dari bibir sang kakak.
"Satu-satunya korban adalah Naina, karena dia berdiri di luar dan terkena imbas paling luar biasa. Sampai bercerai pun, ia masih harus ...." Dennis tidak melanjutkan kalimatnya, beralih menatap nanar ke arah Wira.
"Menjadi janda dari Pratama Wirayudha, kehidupan Naina berbanding terbalik denganmu. Saat menduda, mungkin kamu tidak merasakan perceraian itu begitu berat. Hidupmu bergelimang harta, didukung oleh orang-orang yang mencintaimu. Dan kamu dikejar-kejar banyak wanita. Ada berapa banyak wanita yang menginginkanmu menjadi suami mereka. Dan Naina kebalikannya ...."
"Dia hamil dalam kondisi mencemaskan. Kandungannya lemah seringkali pendarahan. Dia berjuang keras untuk bisa mendapatkan Wina. Kehidupannya menyedihkan, janda hamil tanpa suami. Kamu bisa bayangkan bagaimana orang-orang di sekitar memandangnya. Menjadi seorang duda, kamu dielu-elukan semua orang, menjadi janda, hamil tanpa suami ... Naina harus rela dipermalukan. Bahkan jadi bahan guncingan orang-orang."
"Kenapa menyembunyikannya dariku?" Wira bertanya pelan. Kali ini tidak ada amarah di dalam nada bicaranya.
"Aku tidak pernah menyembunyikannya. Berulang kali, aku menawarinya untuk kembali padamu. Aku melihat sendiri betapa beratnya dia hamil seorang diri. Tentu kamu tahu apa jawaban Naina pada saat itu ... Dia menolak."
"Dia belum tahu yang sebenarnya." Wira menatap tajam pada Dennis.
"Andai dia tahu, apa kamu yakin ... Naina masih mau kembali padamu. Bukankah malah akan memperburuk keadaan, Naina bisa saja bersembunyi dariku. Dan kita akan kehilangan dia. Aku menyakiti kalian, tetapi kamu yang menyakitinya. Mau pura-pura atau nyata, tidak akan ada yang mau diduakan."
"Tapi, Naina memaafkanmu. Sudah lama sekali ... dia memaafkanmu. Mungkin kesalahan ini berawal dariku, tetapi kamu yang mengambil peran paling penting. Kamu yang secara langsung menyakitinya. Kamu yang membuat semuanya menjadi ada. Kamu yang memutuskan menduakannya dengan menikahi Stevi. Tidak ada yang bisa memaksamu, kalau kamu tidak menginginkan pernikahan itu, kan?" todong Dennis.
"Semua dendamku, niat busuk Stevi tidak akan berjalan mulus tanpa dirimu, Wir. Belajarlah memahami Naina. Dia banyak berubah sekarang. Tiga tahun ini membuatnya memandang hidup dari kacamata yang berbeda."
***
Tbc