
Wina, Austria.
Malam ini terasa panjang, Naina sejak tadi hanya bolak balik di atas tempat tidur singlenya menatap langit-langit kamar. Sebentar lagi akan memasuki musim semi, suhu pun mulai menghangat kembali. Akan ada perubahan waktu tanpa disadari, seperti tahun sebelumnya. Austria akan memajukan satu jam waktu mereka setiap masuk musim semi.
Ada banyak cerita berputar ulang di otak Naina, mengingat kisah sedihnya selama di Austria. Meskipun sampai sejauh ini ia tetap bersyukur. Tanpa terasa, tangisannya di awal kedatangan di negara ini perlahan berganti senyuman. Ia mulai terbiasa dengan pekerjaan dan kerinduannya pada tanah air.
Akhir kisah, ia pun melewati dua belas purnama di Austria. Artinya kontrak kerja akan segera berakhir. Dan ia bisa kembali ke tanah air, memeluk putri kecilnya kembali. Membawa segenggam asa, untuk kehidupan mereka yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Berdiri di kaki sendiri, bukan menumpang di pundak orang lain.
“Angel, kamu belum tidur?” tiba-tiba suara maskulin memecah lamunan. Pria terbujur kaku di atas tempat tidur itu hanya menggerakan kepala dan sesekali menggeser tangannya.
“Ya, Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya Naina menoleh ke samping. Memandang ke arah Pieter yang tidur sekamar dengannya. Selalu ada saja yang diinginkan Pieter setiap malam. Kehausan, ingin ke toilet, punggungnya panas dan ada banyak lagi, yang akhirnya membuat Naina paham kenapa ia harus sekamar dengan majikannya itu.
Sekarang tuntutan itu jauh lebih berkurang di saat Pieter sudah bisa ke toilet sendiri. Tadinya ia harus memperhatikan kelembaban kulit bokong dan punggung Pieter yang sepanjang hari mengenakan popok celana dan berbaring di ranjang. Ia harus sering-sering mengganti posisi dan memeriksa agar kulit pria itu tidak luka dan makin memperburuk keadaan.
“Aku mau minum. Tolong ambilkan untukku!” pinta Pieter tersenyum.
“Baik, tunggu sebentar.” Naina bangkit dari posisi berbaringnya, buru-buru menuangkan segelas air putih dari botol air mineral dan menyerahkannya pada Pieter.
“Ini Pak.”
Bahkan untuk sekedar minum air putih saja, Naina harus mengeluarkan tenaga lebih. Terlihat wanita itu membantu Pieter bangun dan duduk untuk menyesap habis segelas air putih di tangannya.
“Sudah. Ada lagi, Pak?” tanya Naina setelah merebahkan tubuh majikannya ke posisi semula.
“Tidak ada lagi, Angel. Kamu bisa tidur sekarang,” ungkap Pieter, tersenyum. Menoleh ke samping, memandang pergerakan Naina yang bersiap kembali ke peraduan.
Ada rasa tidak rela melepas Naina yang beberapa hari lagi akan kembali ke tanah air. Hampir 365 hari bersama, berbagi suka dan duka, tentu saja tidak semudah itu merelakannya. Ingin membuatnya bertahan di sini, tetapi tidak mungkin. Naina wanita pintar, Pieter juga tidak ingin Naina menghabiskan waktunya untuk pekerjaan ini.
“Bagaimana perasaanmu, Angel? Beberapa hari lagi bisa bertemu dengan putrimu,” tanya Pieter tiba-tiba.
“Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu, Pak.” Naina memejamkan mata, menyembunyikan sedihnya setiap membicarakan Wina, putrinya.
“Apakah kamu akan merindukanku, Angel?” tanya Pieter tersenyum tipis. Pria itu beralih menatap langit-langit kamar.
Terdengar helaan napas, sebelum suara feminim dan lemah lembut ith keluar dari bibir Naina.
“Awal datang ke Austria, aku ingin pulang. Bapak ingat saat Pak David mengajakku menemui Bapak di rumah sakit. Aku benar-benar ingin pulang saat itu juga,” jelas Naina menggigit bibir, menceritakan kembali pengalaman pertamanya.
“Pekerjaan mengurus Bapak yang saat itu lumpuh total akibat kecelakaan, membuat aku down.” Naina melanjutkan.
Pieter menyimak. Selama ini Naina tidak pernah mencurahkan isi hatinya. Tidak pernah protes atau mengungkapkan keberatannya. Ia sadar, mengurusnya waktu itu benar-benar pekerjaan berat. Ia tidak bisa bergerak. Dari pinggangnya ke atas juga tidak bisa bergerak, tangan dan tubuhnya kaku tak bertenaga.
Jangankan makan atau mandi, untuk sekedar menggaruk pun, ia butuh Naina melakukannya. Pieter ingat, sebelum Naina ada banyak pekerja yang mendampinginya. Silih berganti, pria dan wanita, tetapi semuanya berhenti karena tidak sanggup dengan pekerjaan ini.
“Kalau bapak down dengan keadaan bapak saat itu, aku juga sedang berjuang menguatkan hati untuk pekerjaan ini. Pekerjaan ini berat, bukan karena harus membopong bapak tetapi ... bayangkan saja aku yang bukan lulusan perawat harus siap denga semua tugas bahkan mengganti popok dan membuang kotoran,” Naina berkata lirih.
“Yang membuat aku kuat hanya putriku, Wina. Setiap aku merasa tidak kuat lagi, aku mengingat tujuanku datang ke Austria demi putriku. Aku tidak bisa sembarangan pulang, karena Indonesia itu jauh. Dengan apa aku pulang, bahkan saat itu aku tidak punya pegangan. Apa yang harus aku lakukan, sedangkan aku sudah menandatangani kontrak kerja selama setahun.” Naina bercerita.
Pieter tersenyum kecut.
“Aku menguatkan hatiku, memang tidak ada pekerjaan yang mudah. Apalagi aku yang hanya tamatan SMA. Bekerja dan mendapatkan gaji setinggi ini sudah luar biasa. Andai aku tetap di Indonesia, aku juga tidak akan jadi apa-apa.” Naina menitikan air mata.
“Kapan kamu merasa pekerjaan ini berat?” tanya Pieter, menoleh ke samping. Ia bisa melihat bulir air mata Naina jatuh membekas di pelipis.
“Sebulan pertama, sewaktu Bapak dirawat di rumah sakit aku masih merasa sedikit nyaman karena sebagian tugasku dibantu perawat. Masalah baru muncul saat Bapak sudah diperbolehkan pulang. Aku harus mengurus bapak sendirian. Belum lagi emosi Bapak yang tidak stabil. Sering mengamuk. Kalau membutuhkan sesuatu, harus cepat. Tidak mau menunggu.” Naina bercerita dan mengulang kembali kisahnya.
“Ya, emosiku belum stabil waktu itu. Dari manusia yang bisa melakukan apapun sendiri tiba-tiba tidak bisa melakukan apapun. Bisa kamu bayangkan? Hanya untuk menggaruk atau menghapus keringat saja, aku butuh seseorang.” Pieter yang sekarang bercerita.
“Ya, itu menyebalkan sekali. Butuh beberapa bulan untuk membuat diriku nyaman, Pak.” Naina menjelaskan.
“Kalau sekarang?” tanya Pieter.
“Aku merasa merawat Bapak seperti merawat anakku sendiri, seperti ayahku sendiri. Sudah tidak ada kesungkanan lagi. Karena banyak waktu yang kita habiskan berdua, berbagi banyak hal. Bapak memposisikan diriku bagian diri Bapak. Kita memakai parfum yang sama, makan dari tempat yang sama, tidur di kamar yang sama. Bahkan aku tahu semua tentang Bapak, yang tidak orang lain tahu. Terkadang ada kondisi di mana kita harus berbagi makanan dan minuman. Awalnya aku risih, semakin ke sini aku mulai terbiasa.”
“Terima kasih, Angel. Kalau kamu bahagia dengan kepulanganmu ke Indonesia. Aku sebaliknya, aku berharap kamu tetap mau memperpanjang kontrak kerja kita.”
“Maaf, Pak.” Naina berkata sedih.
“Andai ... aku menawarimu pekerjaan di Indonesia. Apa kamu mau menerimanya?” tanya Pieter ragu.
“Mengurus bapak lagi? Seperti sekarang?” tanya Naina cepat.
“Tidak. Bekerja di perusahaan. Membantuku di perusahaan,” jelas Pieter.
Naina tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab. “Di Jakarta? Di perusahaan Pak Pram?” tanya Naina memastikan.
“Ya, di perusahaan itu. Kamu bisa belajar banyak hal. Kalau kamu mau, aku tidak keberatan membiayaimu kuliah lagi.” Pieter masih berusaha membujuk.
Deg—
Naina teringat Dennis. Tawaran yang sama pernah dilontarkan anak angkat Mbok Sumi itu saat ia mengutarakan niatnya bekerja di luar negri dan memilih menerima pekerjaan ini. Dennis menolak dengan tegas, tetapi pria itu tidak bisa melakukan apapun karena keputusan ada di tangannya. Pada akhirnya, Dennis hanya bisa mendukung apa pun yang menjadi pilihan hidupnya.
***
TBC