Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 32


Pagi itu, Naina berangkat ke kantor dengan berat hati. Sejak semalam,Wina rewel dan tidak mau lepas dari gendongan. Ingin rasanya tidak pergi ke kantor hari ini, tetapi ia tidak mau bersikap tidak profesional. Ia seorang karyawan yang baru bekerja bahkan masih dalam masa training. Kualitas diri dan kemampuan bekerjanya sedang dalam masa pengawasan perusahaan.


“Rima, aku titip Wina. Kalau ada apa-apa, segera menghubungiku. Aku usahakan pulang secepatnya,” pamit Naina sembari mengeluarkan selembaran uang seratus ribu rupiah kepada Rima.


“Untuk hari ini tidak perlu memasak. Beli makanan di luar. Kamu fokus pada Wina saja, Rim,” ucap Naina berpesan. Dikecupnya dalam dan perlahan kening putrinya. Rasanya berat meninggalkan Wina yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.


"Harus kuat, Nai," ucapnya menyemangati diri sendiri.


***


RD Group.


"Mas Wira ... mantan suamiku, Pak.” Naina menjelaskan dengan wajah tertunduk. Ia memutuskan berterus terang setelah, Wira juga melakukan hal yang sama.


Deg—


Pieter terkejut. “Maksudnya, Wina adalah putri Pratama Wirayudha?” tanya Pieter memastikan apa yang sudah jelas di depan mata.


“Ya, Pak.”


Pieter terdiam, mengamati asisten yang tidak berani menatap ke arahnya. Kepala Pieter berdenyut seketika. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu saat mendapati Naina dan Wira jalan bersama menuju lift kantor.


"Baiklah. Kamu boleh keluar sekarang!" Pieter tidak bisa berkata-kata. Ia masih shock dengan semua kenyataan yang menamparnya.


"Baik, Pak. Aku permisi makan siang dulu."


Pieter mengangguk tanpa menatap ke arah Naina sama sekali. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.


Naina baru saja keluar dari ruangan Pieter, saat ponsel di tangannya berdering.


“Rima? Apa ada masalah dengan Wina lagi?” Perasaan Naina tidak enak. Terbayang tadi pagi saat berangkat kerja, ia meninggalkan Wina yang rewel dan menangis.


“Ya, Rim. Ada apa?”


“Bu, Badan Wina panas sekali. Menangis terus sejak tadi.” Rima memberitahu.


“Hah! Kenapa tidak mengabariku. Aku pulang sekarang. Apa kamu ... bisa membawanya ke rumah sakit. Kalau menungguku pasti lebih lama lagi.”


“Aku sudah menghubungi Pak Wira, Bu. Bapak sudah jalan menuju ke sini,” ungkap Rima.


“Ya sudah. Kirimkan aku alamat rumah sakitnya nanti. Aku langsung ke sana.” Naina panik, berlari ke dalam ruangan Pieter tanpa mengetuk lagi.


Pieter terkejut saat melihat Naina masuk ke dalam ruangan. Tampak ia menutup layar laptopnya dan memilih mendengar apa yang ingin disampaikan oleh asistennya.


“Pak ... aku izin. Putriku sakit, aku harus ke rumah sakit sekarang,” jelas Naina terbata.


“Hah! Aku akan mengantarmu ke rumah sakit kalau begitu. Sebentar ... aku kabari Pram dulu.” Pieter berdiri dan meraih ponselnya. Tak lupa menyambar kruk yang bersandar di dekat meja kerja dan berjalan keluar ruangan. Ia ikutan panik saat mendengar gadis kecil yang menghabiskan waktu bersamanya di Bandung sedang sakit.


Tanpa berpikir panjang, Naina mengangguk. Setidaknya akan lebih cepat menemui Wina menumpang mobil Pieter dibandingkan naik taksi atau angkutan umum.


***


Jalanan tersendat di jam-jam makan siang membuat mobil yang ditumpangi Naina dan Pieter baru tiba di rumah sakit satu jam kemudian. Berlari menuju kamar perawatan, Naina menumpahkan tangisnya sepanjang koridor. Menyesal, tentu saja dirasakannya. Harusnya ia tidak memaksa meninggalkan Wina tadi pagi. Otaknya kacau, tidak bisa bisa berpikir lagi. Bahkan ia meninggalkan Pieter yang berjalan tertatih-tatih dengan kruk di tangan kanan.


Begitu pintu kamar perawatan dibuka, Naina mendapati Wira yang duduk di sisi brankar. Terlihat mama Wira dan papa Wira duduk menunggu di sofa bersama Rima.


“Mas, maafkan aku.” Naina buru-buru mendekati Wina yang tertidur pulas di atas brankar. Selang infus menancap di punggung tangan gadis kecilnya. Terbayang jerit tangis Wina saat jarum itu menancap di kulit putrinya. Jantung Naina terasa diremas-remas.


Rima berjalan mendekati Naina, berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“Sejak ibu berangkat ke kantor, badannya panas. Tidak mau makan, tidak mau minum, Bu. Sudah diberikan obat, tetapi Wina tidak mau dan memuntahkannya lagi. Hanya menangis sepanjang hari. Mencari ... Pak ... Dennis.” Rima menjelaskan sambil berbisik saat menyebut nama Dennis. Tidak mau Wira mendengar. Lama tinggal dengan keluarga ini, ia tahu jelas bagaimana hubungan majikannya.


“Lalu apa kata dokter?” tanya Naina, mengusap air matanya yang berlinang.


“Hasil tes darahnya belum keluar. Mudah-mudahan tidak ada masalah serius dan hanya demam biasa.” Wira berusaha menenangkan.


Berdiri tepat di depan Naina, hatinya tercubit saat melihat sorot mata sendu sarat akan rasa bersalah. Wira tahu, ini bukan salah siapa-siapa dan bukan salah Naina juga. Tangan kekarnya merengkuh pundak Naina yang berguncang menahan perasaannya. Kemudian dipeluknya sembari menenangkan.


"Sudahlah, Nai. Wina pasti baik-baik saja. Putri kita sudah ditangani dokter." Wira berbisik pelan sembari mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjaga Wina dengan baik." Naina berkata lirih.


"Sstt ... sudah. Jangan menangis lagi. Sebentar lagi, Wina pasti sembuh." Wira menguatkan sembari membelai lembut punggung Naina. Perasaannya sedang meledak saat ini. Ingin rasanya mengecup pucuk kepala Naina seperti biasa. Namun, diurungkannya saat merasakan Naina tidak membalas pelukannya. Mantan istrinya hanya menggigit kuku-kuku tangan sambil menangis.


Pelukan itu terurai saat pintu kamar perawatan terbuka. Muncul Pieter yang tersenyum getir melihat Naina dan Wira sedang bersama.


"Pak Pieter ...." Naina berbisik lirih, menyadari sudah meninggalkan Pieter.


Belum sempat Naina menghampiri atasannya, Wira menahan pergelangan tangan Naina sembari membisikan sesuatu.


"Temani mama dan papa, aku akan mengurusi Pieter dulu." Wira memerintah.


Pria itu tidak mau kehadiran Pieter mengacaukan segalanya. Tanpa kehadiran Pieter pun, sang mama sudah tidak mengizinkannya rujuk kembali dengan Naina, apalagi saat tahu Pieter memiliki perasaan pada mantan istrinya. Semua akan semakin berantakan.


***


Naina tampak berjalan menuju sofa dan menyapa kedua orang tua Wira, sedangkan Wira sendiri sibuk meladeni Pieter di dekat brankar. Pria itu bahkan tidak membiarkan sang casanova mendekat pada mantan istrinya. Kalau bisa, ia sudah ingin mengusir.


"Nai, maafkan Mama." Mama Wira berkata pelan pada Naina duduk di sampingnya.


Perempuan paruh baya itu merasa terpukul saat mengetahui kalau Wina benar cucunya. Melihat Wina, ia jadi teringat kembali pada Nola. Cucunya yang lain, yang dirawatnya sejak lahir tetapi dibawa pergi Dennis dan sekarang menghilang.


Sejak mengetahui kebenaran tentang Wina, kerinduannya pada Nola pun ikut terusik. Penampakan dan umur Wina kurang lebih hampir sama dengan Nola saat dibawa kabur Dennis. Dan sampai sekarang, ia tidak bisa menemui Nola lagi. Gadis kecil yang menggemaskan, yang selalu mengisi hari-harinya tiga tahun yang lalu.


"Ya, Ma."


"Kalau rumahmu sudah selesai direnovasi, kembalilah tinggal di sana. Aku akan meminta sopir mengantarkan mobilmu." Mama Wira berkata pelan. Tersimpan penyesalan dan rasa bersalah di dalam setiap katanya.


Naina terperanjat. Buru-buru mengalihkan pandangannya pada sang mantan mertua.


"Mama serius, Nai. Kembalilah ke rumah itu bersama Wina. Jangan tinggal di kontrakan lagi. Untuk masa lalu, Mama yang bersalah. Mama minta maaf." Mama Wira terdengar menyesal.


"Wina butuh kedua orang tuanya dan keluarga. Setidaknya izinkan cucuku merasakan keluarga yang utuh, walaupun orang tuanya berpisah. Sejak dulu, aku menganggapmu putriku. Mungkin aku kecewa dengan perceraian kalian dan sedikit keras padamu selama ini, tetapi semakin ke sini aku menyadari."


Terdengar helaan napas berat sebelum mama Wira melanjutkan kalimatnya.


"Menjadi keluarga tidak harus menikah, kalian bisa menjadi saudara dan bersama-sama merawat Wina. Wira akan menemukan perempuan lain dan ... kamu juga akan menemukan pria lain suatu saat nanti. Setidaknya itu lebih baik," lanjut Mama Wira.


***


TBC