
“Ma ....” sapa Naina. Ia buru-buru berdiri dan mencium punggung tangan Mama Wira yang baru saja keluar dari dalam rumah. Sedikit membungkuk, Naina seperti ditampar bayangan masa lalu. Kebiasaannya dulu sewaktu masih menjadi menantu di rumah ini.
“Apa kabar, Ma?” lanjut Naina, bertanya dengan lembut seperti biasanya. Ia memilih membuka pembicaraan setelah melihat Mama Wira tidak bereaksi.
“Baik ....” Wanita paruh baya dengan daster batik itu menjawab singkat sambil meneliti Naina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandangannya beralih pada Wina dan Rima, kemudian mengerutkan dahi menyimpan penasarannya. Ada banyak pertanyaan melintas di pikiran Mama Wira. Segala macam pikiran buruk menari-nari, berputar di otaknya. Apalagi saat sorot matanya tertuju pada gadis kecil bergaun merah muda, memeluk boneka lusuh.
“Win, ayo cium tangan Oma.” Naina meminta putrinya melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Gadis kecil itu menurut. Dengan dituntun sang bunda, Wina menggapai tangan Mama Wira.
“Ini Wina, Ma. Putriku dan Mas Wira.” Naina mengenalkan Wina sambil meraih tubuh mungil Wina agar berdiri di dekatnya. Tanpa basa basi, ia mengenalkan Wina dengan sejujur-jujurnya.
Mama Wira tersentak, demikian juga Papa Wira. Pria tua yang juga mendapatkan perlakuan yang sama dari Wina, tetapi Papa Wira memilih berpikiran positif dan tidak mau menduga-duga. Walau dalam hati sudah mengira saat melihat Naina datang bersama Wina. Bukannya selama ini ia tidak tahu bagaimana Wira mencari keduanya.
“Apa? Bagaimana maksudmu, Nai?” Mama Wira menjatuhkan bokongnya dengan kasar di sofa tepat di seberang Naina dan Wina. Netra hitam pekatnya menguliti Wina lebih detail lagi.
“Ini Wina Pelangie Wirayudha. Putriku dan Mas Wira.” Naina memperjelas identitas putrinya.
Lama terdiam, Mama Wira mengamati gadis kecil yang penampilannya begitu sederhana. Walaupun pakaian keduanya bersih dan rapi, terlihat sekali kalau kehidupan Naina jauh berbeda dibandingkan saat masih berstatus istri Wira.
“Naik apa ke sini, Nai?” tanya Mama Wira menjulurkan kepala, menatap ke halaman rumah. Ia sedang mencari tahu lebih banyak lagi tentang mantan menantunya ini.
“Naik taksi, Ma.” Naina menjawab tanpa sedikit pun menaruh curiga.
“Oh ....”
“Lama sekali tidak kelihatan. Ke mana saja selama ini?” tanya Mama Wira menyelidik.
“Aku kerja di Austria.”
“Wah, kerja apa di sana? Bukankah kamu hanya tamatan SMA, apa bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus?” tanya Mama Wira setengah mengejek. Sejak tadi sikap Mama Wira terlihat berbeda. Naina hampir tidak mengenali wanita di depannya. Seperti bertemu dengan orang asing. Bahkan Mama Wira tidak membahas tentang Wina sama sekali.
“Majikanku lumpuh, Ma. Aku mengurusinya selama di Austria,” sahut Naina tertunduk. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Wina yang mulai tidak nyaman, sesekali merengek pada Naina dan Rima, pengasuhnya. Gadis kecil itu sudah tidak betah di dalam rumah.
“Bahkan tidak sebanding dengan Nola,” batin Mama Wira mengamati Wina tak berkedip. Rengekan Wina sedikit mengganggu wanita tua itu.
“Maaf, bagaimana tadi?” Mama Wira tersentak. Baru menyadari telah mengabaikan tamunya.
“Aku ....” Naina terlihat ragu-ragu untuk menceritakan maksud kedatangannya. Sikap Mama Wira yang bersahabat membuatnya menyesal mendatangi kediaman orang tua Wira. Terlihat mereka tidak diterima dengan baik.
“Ngomong-ngomong ... ada keperluan apa datang ke sini?” tanya Mama Wira ketus.
“Em ... aku tadi ke rumah lama kami untuk mencari Mas Wira.” Naina menjawab ragu-ragu.
“Cih! Pasti mau menyusahkan Wira. Licik sekali! Sengaja menggunakan anak ini untuk meluluhkan hati Wira. Dulu saat bercerai, dia lupa bagaimana sikapnya pada Wira. Dan sekarang di saat Wira sudah sukses, sudah memiliki segalanya, ia datang membawa putrinya meminta pertanggungjawaban. Kelewatan sekali. Pasti hidupnya susah, jadi berharap belas kasihan Wira." Mama Wira berbicara dalam hati. Ekpresi wajahnya benar-benar tidak menyenangkan.
Papa Wira sejak tadi memilih diam, tidak mau ikut terlibat obrolan. Pria tua itu lebih banyak memperhatikan Wina. Hatinya terenyuh menatap gadis mungil itu. Meskipun 70% Wina menuruni wajah ibunya, tetapi mata dan hidung mancung itu adalah turunan dari Wira.
"Mas Wira kapan kembali, Ma?" tanya Naina berusaha bersikap biasa meskipun bisa menangkap gelagat Mama Wira yang tidak menyukai kedatangannya.
"Wira masih lama di sana. Dia ada pekerjaan di Hong Kong. Memang ada keperluan apa dengan Wira, Nai? Aku harap kamu tidak mengganggu Wira lagi. Putraku sudah bahagia. Sudah memiliki kehidupan sendiri. Bahkan sebentar lagi mau menikah," tegas Mama Wira berdusta.
"Jangan harap ingin kembali ke Wira. Tidak akan semudah itu. Setelah kamu mencampakannya, sekarang tiba-tiba mau kembali dengan membawa anak kecil yang tidak jelas asal usulnya. Kamu pikir, kami akan semudah itu mempercayaimu. Bisa saja kamu berguru dengan Stevi hanya untuk mengincar kehidupan mewah bersama Wira."
Naina bungkam. Rasa bersalah menyerangnya seketika.
"Ma, Pa, maafkan sikap keras kepalaku dulu. Aku sudah mengetahui semuanya, aku tahu aku bersalah pada Mas Wira, pada Mama dan Papa. Aku egois." Naina tertunduk.
"Sudah, kami sekeluarga sudah memaafkanmu. Kamu boleh pergi sekarang. Kalau Wira pulang ke Indonesia, aku akan mengabari kedatanganmu, Nai," ucap Mama Wira mengusir.
Deg--
Ucapan Mama Wira cukup jelas, bahkan Naina tidak diberi kesempatan sama sekali.
"Maaf Ma, Pa, kalau kedatanganku dan putriku sudah menganggu ketenangan di rumah ini. Aku tidak bermaksud menganggu Mas Wira. Hanya ingin mengenalkan Wina pada keluarganya, pada ayahnya."
"Baiklah, nanti aku akan menyampaikannya pada Wira. Mudah-mudahan dia masih mengingatmu dan ... siapa nama putrimu tadi?" tanya Mama Wira, bersikap dingin. Netranya menatap tajam pada Wina yang mulai mengantuk di dalam dekapan Naina.
"Wina."
"Masalahnya dulu kamu susah hamil. Setiap hamil selalu keguguran. Dan sekarang setelah bercerai, tiba-tiba kamu datang membawa seorang anak kecil. Terasa aneh saja untukku, Nai." Mama Wira berkomentar.
"Baiklah Ma, aku pamit dulu kalau begitu." Naina berpamitan pulang. Ia tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Kehadirannya sangat tidak diharapkan. Bahkan Mama Wira menerimanya dengan terpaksa.
Berjalan keluar dari kediaman orang tua Wira, Naina menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur. Tidak cukup dipermalukan di dalam, saat akan melangkah keluar ia masih sempat mendengar ucapan Mama Wira yang ditujukan padanya.
"Pa, aku tidak yakin itu putri Wira. Bisa saja dia hamil di luar sana dan mengaku itu anak Wira supaya bisa kembali lagi seperti dulu. Sekarang, putra kita sudah berbeda. Sukses dan terpandang. Wanita mana pun pasti akan berebutan menjadi pendampingnya. Termasuk mantan istrinya itu," ucap Mama Wira.
"Aku tidak bisa mempercayai ucapannya. Jangan-jangan, dia tidak jauh berbeda dengan Stevi. Aku akan meminta Wira tes DNA pada anak itu. Tes yang jelas untuk memastikan kalau anak itu benar anak Wira. Tiga tahun berkeliaran di luar sana, bisa saja itu putri orang lain dan dia melimpahkannya dengan Wira," cerocos Mama Wira dengan suara kencang. Wanita itu sengaja melakukannya. Ia berharap Naina bisa mendengarnya.
"Setelah mereka bercerai, aku baru menyadari kalau Naina tidak ada apa-apanya. Putra kita bisa mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari Naina," tegas Mama Wira lagi.
***
To be continue