Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 61


Mengurung diri di dalam kamar, Naina memutuskan tidak masuk kerja hari ini. Ia terlalu terguncang saat mengetahui dirinya hamil. Bahkan sepanjang hari, ia tidak mau keluar kamar sama sekali. Wina yang bisa merasakan perubahan sikap bundanya, tampak merengek di depan pintu kamar saat menjelang sore. Gadis kecil itu menggedor dan menangis kecil di depan kamar sembari berseru.


"Bunda ... Bunda ... Bunda ...." teriaknya dengan berlinang air mata.


Hampir setengah jam, akhirnya Naina mengalah dan mempersilakan batita itu masuk ke dalam kamar. Wajah cantik itu terlihat pucat dan sembab, menyembul dari celah pintu saat menyapa Wina.


"Masuk, Sayang," pinta Naina, menggandeng tangan putrinya masuk.


"Bunda ... jangan angis ...." hibur Wina berdiri di atas tempat tidur. Tangan mungilnya mengusap pelan pipi Naina yang basah air mata.


"Ya, Sayang. Bunda tidak nangis." Naina mencoba tersenyum.


Dengan manjanya, Wina mendekap Naina yang duduk di sisi tempat tidur. Kedua tangan gadis kecil itu memeluk erat leher Naina. Wina terlihat menggemaskan saat menjatuhkan kepalanya di pundak Naina.


"Bunda ... jangan angis ...." celoteh gadis kecil itu seakan paham dengan kesedihan yang dirasakan Naina.


"Wina sudah mamam?" tanya Naina.


Wina mengangguk dan tersenyum. "Wina antuk, mau bobok, Bunda." Berbaring di atas ranjang dan memeluk guling besar Naina.


"Kalau mengantuk, tidur." Naina mengusap pelan punggung kecil putrinya, berusaha menidurkan Wina yang mulai memejamkan mata.


Dinyanyikannya lagu Nina Bobo dengan berurai air mata, Naina teringat kembali dengan kehamilannya dulu. Seorang Wina saja, ia harus bekerja keras untuk menghidupinya. Apalagi kalau harus bertambah satu anak lagi. Memilih hidup sendiri itu tidaklah semudah bayangannya. Selain memikirkan masalah kebutuhan dan masa depan putrinya, ia juga harus menebalkan telinga dari semua omongan orang. Belum lagi pandangan orang-orang yang terkadang merendahkan.


Bukan hal yang mudah dan Naina sudah melewatinya selama tiga tahun ini. Bahkan hampir diusir di kampung karena hamil dan tidak memiliki suami tetapi saat itu ia memiliki orang-orang yang melindunginya. Dan sekarang, ia merasa sendirian. Wira memang ada di sampingnya beberapa bulan belakangan tetapi pria itu bagai tidak terjamah. Entah apa yang dipikirkan Wira dan keluarganya andai mengetahui kehamilannya. Bisa saja pria itu akan membuangnya dan mengusirnya ke jalanan karena sudah melakukan hal memalukan. Atau merebut Wina dari tangannya karena aibnya.


***


Seharian mengurung diri di kamar, Naina berusaha menguatkan diri keesokan harinya. Bagaimana pun, hidup terus berjalan. Ia tidak bisa terpuruk dan menangis sepanjang waktu.


"Bu, sudah merasa lebih baik?" tanya Rima saat melihat Naina keluar dari kamar dengan setelan kerja.


Naina mengangguk. Wajahnya masih pucat, berhias sembab dan kantong mata.


"Pak Wira membelikan Ibu vitamin. Di kulkas juga ada buah-buahan dari Bapak." Rima memberitahu.


Kemarin malam, Wira berkunjung selepas pulang kerja. Namun, Naina menolak untuk bertemu. Ia tetap mengurung diri di dalam kamar, tidak mau bertemu siapa-siapa.


"Ya."


"Tadi ... Bapak juga mengirimkan bubur ayam untuk Ibu. Mau dimakan, Bu? Biar aku siapkan."


Naina menggeleng. "Aku bisa menyiapkannya sendiri. Tolong urus Wina. Aku harus ke kantor hari ini, Rim." Naina berkata lirih. Suaranya menyiratkan beban dan luka.


"Ibu yakin baik-baik saja? Apa tidak sebaiknya ke dokter saja." Rima memberi ide.


"Tidak, terima kasih, Rim. Aku pamit dulu. Wina masih tidur?" tanya Naina pelan.


"Ya."


Terlihat ibu muda itu bergegas menuju kamar tidur putrinya, melabuhkan kecupan dan berpamitan pada Wina yang masih terlelap.


***


Dua hari kemudian.


Bunyi dering ponsel di meja kerja, menghentikan langkah Naina yang hendak menuju ke kantin perusahaan. Ia mulai menata hidupnya kembali, tidak mungkin terlalu tenggelam di dalam karut-marut masalahnya yang belum menemukan titik terang. Ia masih memiliki Wina, gadis kecil yang membutuhkan perhatiannya.


"Mas Wira ...." Naina menatap layar ponselnya.


"Ya, Mas ... ada apa?" sapa Naina, berusaha bersikap biasa. Sudah dua hari, ia tidak menemui Wira. Setiap Ayah dari Wina itu datang ke rumah, Naina memilih bersembunyi di dalam kamar.


"Kamu sudah baikan? Perlu aku antar ke dokter?" tawar Wira.


"Kamu yakin, Nai?" tanya Wira lagi, memastikan.


"Yakin, Mas."


"Mau makan siang bersama? Aku bisa menjemputmu sekarang, Nai." Wira menggigit bibir. Ia sekarang berada di parkiran RD Group. Dua hari ini, ia merindukan Naina. Mantan istrinya menolak untuk bertemu dengannya, ia hanya bisa bertukar kabar melalui telepon.


"Tidak. Terima kasih, Mas."


"Baiklah, kalau terjadi sesuatu ... jangan lupa mengabariku." Wira tersenyum kecut, melajukan mobilnya keluar dari parkiran RD Group.


"Ya, Mas." Naina bernapas lega. Ada rasa bersalah pada Wira saat harus menolak pria itu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi andaikan Wira tahu kalau ia hamil. Naina belum siap mengungkapkannya. Ia tidak mau melihat Wira kecewa padanya.


Tepat saat meletakan ponselnya ke atas meja, benda pipih itu kembali berdering. Kali ini Dennis yang menghubunginya. Naina tersenyum.


"Ya, Mas."


"Turun dan temui aku di parkiran, Nai." Dennis memerintah.


"Hah! Mas sudah di Jakarta?" tanya Naina tidak percaya. Dua hari yang lalu saat ia mengadu, Dennis masih di Amerika.


"Ya, baru sampai Jakarta. Masih jet lag, Nai. Aku menghubungimu tadi, tetapi kamu tidak menjawab. Jadi aku menghubungi Rima."


"Ya, Mas. Aku rapat bersama Pak Pieter. Ponselnya disenyapkan. Ini baru sempat melihatnya." Naina menjelaskan.


"Turun dan minta izin atasanmu. Hari ini tidak perlu melanjutkan pekerjaanmu. Kita ke rumah sakit untuk memastikannya," titah Dennis.


"Hah!"


"Aku menunggumu di parkiran, Nai," lanjut Dennis memutuskan sambungan teleponnya.


***


Dari kejauhan, Dennis sudah melihat wanita yang dicintainya keluar dari pintu utama perusahaan. Naina terlihat lebih kurus, wajahnya pucat dan tidak bersemangat. Menenteng tas tangan cokelat, Naina menghampiri mobilnya yang terparkir.


"Apa kabarmu?" Dennis tersenyum menatap Naina saat ibu muda itu menjatuhkan bokongnya di kursi mobil, tepat di sebelah Dennis.


Naina menggeleng.


"Jangan dipikirkan, pasti akan baik-baik saja. Orangku sedang mencari pelakunya." Dennis tersenyum.


"Mas, bagaimana kalau pelakunya ...." Naina terdiam.


"Apa aku harus menikah dengan ayah dari bayiku?" tanya Naina lirih.


"Aku tidak tahu, Nai. Kita belum tahu siapa. Apapun hasilnya, aku tetap mendukung apa pun keputusanmu. Sama seperti dulu saat kamu hamil Wina, aku tidak bisa mendesakmu. Kamu tidak ingin kembali dengan Wira, dan aku hanya bisa mendukung semua keputusanmu."


"Aku bingung, Mas."


"Tidak perlu dipikirkan. Kalau kamu bersikeras sendirian dengan kehamilanmu, aku akan selalu berada di sampingmu untuk mendukungmu. Tapi, kalau kamu ingin meminta pertanggung jawaban si Breng'sek yang belum aku ketahui siapa orangnya itu, aku juga akan mendukungmu." Dennis tersenyum.


"Tenang saja. Pastikan dulu kalau kamu benar-benar hamil, dan setelah itu aku akan mencari pelakunya dan membuat perhitungan. Ia harus diberi pelajaran."


"Mas ...." Sapaan Naina mengambang.


"Keputusan ada di tanganmu, Nai. Kamu ingin memintanya bertanggung jawab atau ingin aku mencincangnya sampai tak bersisa." Dennis mencengkeram kemudi mobilnya, menahan amarah. Perasaannya campur aduk saat ini. Ia pikir setelah menyingkir dari hidup Naina, semuanya berjalan sempurna. Namun, berhari-hari tak bertukar kabar, ia mendapati Naina terluka.


***


Tbc