Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 29


Naina dan Wina tampak mengobrol di pinggir kolam renang menikmati semilir angin yang berembus di ruang terbuka apartemennya yang terletak di salah satu puncak tertinggi gedung pencakar langit di ibu kota. Melewati siangnya, ibu dan anak itu lebih banyak mengobrol dan bermain bersama untuk menghabiskan waktu sembari menunggu sang kepala keluarga pulang kerja.


"Bunda ...." seru Wina sembari memeluk boneka Cinderella kesukaannya.


"Ya, Sayang." Naina mengalihkan pandangannya dari ponsel sekejap, dan memusatkan perhatian pada putri kecilnya.


"Bunda, kapan a ... adik bayinya lahil?" Wina bertanya dengan tangan mungil mengelus perut Naina.


"Masih sebulan lagi, Sayang. Kenapa?" Naina merapikan beberapa helai anak rambut yang berantakan dan menutupi wajah cantik Wina, menyelipkan di belakang daun telinga.


"A ... aku tidak sabal lagi, Bunda." Wina kembali mengelus perut Naina, kemudian menempelkan wajahnya di perut buncit ibunya.


"Nanti, kalau adik sudah lahir, Wina jadi Kakak. Tidak boleh sering menangis, tidak boleh sering mengambek. Harus mengalah sama adiknya," ucap Naina.


"Ya, Bunda." Wina mengangguk. Gadis itu tampak menggemaskan dengan wajah polos berhias senyum ceria.


Wina kembali fokus dengan bonekanya dan Naina pun melanjutkan kembali tontonannya di ponsel pintar yang jadi teman melewati hari-hari membosankan tanpa aktivitas. Selain Wina, benda pipih dengan kecanggihan menjelajah dunia itu membuat hari Naina lebih berwarna. Setidaknya, ia bisa menonton konten-konten berisi hiburan dan edukasi yang bermanfaat.


Jemari lentik Naina yang berkutek merah delima tampak lancar mengusap layar ponsel ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Ibu hamil itu tersentak saat melihat judul berita dari sebuah channel tidak terkenal yang biasanya memposting berita-berita yang sedang viral di media.


Deg--


Ada nama yang begitu familiar menghiasai judul, disandingkan dengan seorang wanita cantik yang juga Naina kenali setelah memperhatikan visualnya dengan seksama.


"Ini ... bukannya ini artis yang beberapa kali aku temui bersama Mas Wira?" Naina bermonolog.


Jiwa penasarannya terusik, Naina menatap video yang menampilkan foto-foto sang artis dengan pria tampan yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Ada beberapa foto saat Wira sedang bersama sang artis. Duduk berduaan di sebuah restoran dan tertangkap sedang bersama di dalam mobil sport Wira. Ya, Naina mengenalinya. Mobil merah dengan harga fantastis itu adalah salah satu koleksi mobil suaminya, terlihat dari plat mobil istimewa yang selalu menggunakan inisial nama Wira.


Naina berusaha meredam gejolak perasaannya. Ia tidak mau terpancing dengan berita miring yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Namun, semua ketenangan itu lenyap saat melihat foto terakhir di sebuah motor Harley. Kali ini, Naina sangat mengenalinya. Setelan hitam Wira di dalam foto itu masih di tempat laundry.


"Mas Wira ...." Naina menggigit bibir. Mata ibu hamil itu tiba-tiba memanas, cairan bening mengumpul dan mendesak keluar.


Seolah tak puas, Naina kembali mencari kebenarannya dari berita online. Dan di sana ia bisa mendapatkan berita lebih akurat. Begitu nama suaminya atau sang artis diketik di papan pencarian, berita-berita keduanya akan muncul.


"Artis FTV, Sheilla kembali tertangkap jalan berdua dengan seorang pengusaha muda, Pratama Wirayudha. Meskipun keduanya menyangkal, tetapi jejak digital tidak akan berbohong. Hubungan diam-diam keduanya sudah terendus sejak dua tahun silam." Naina membaca pelan salah satu berita di media online.


"Sudah tinggal bersama, Sheilla tertangkap keluar dari apartemen pengusaha muda dengan inisial PW dengan mengendarai salah satu mobil mewah. Setelah ditelusuri tim kami, mobil mahal yang ditunggangi Sheilla adalah milik sang pengusaha." Dua bulir air mata Naina jatuh, ibu hamil itu tidak sanggup menahan sesak yang kini mengumpul di dadanya.


"Berita ini sudah ada sejak dua tahun yang lalu. Bahkan sebelum kami menikah." Naina bagai dihantam godam besar, hatinya terasa ditusuk belati. Berdenyut dan nyeri saat media lain memberitakan pernikahan siri suaminya dengan sang artis FTV.


Naina terdiam sesaat. Ibu hamil itu mengusap wajah basahnya saat Wina menegur dan bertanya padanya.


"Bunda, napa nangis?" tanya gadis kecil memeluk erat bonekanya.


"Tidak, Sayang. Mata Bunda terkena debu. Anginnya kencang di sini, kita masuk ke dalam, ya?" ajak Naina.


Wina menggeleng. "Masih mau main, Bunda," tolaknya.


"Ya sudah. Main dengan Mbak Rima saja, ya. Bunda lelah. Ingin istirahat sebentar, tidur di kamar."


"Ya, Bunda." Gadis kecil itu mengangguk.


"Ya, Bunda."


Tak lama, terdengar Naina menyerukan nama pengasuh putrinya dari pinggir kolam.


"Rim ...."


"Rima ...."


"Rim."


Berlari sambil menguncir rambutnya, Rima menghampiri dengan napas naik turun.


"Ya, Bu." Rima tersenyum ramah.


"Aku titip Wina sebentar. Kepalaku pusing, Rim. Aku mau istirahat." Naina berpamitan ke kamar. Ia ingin menumpahkan perasaannya tanpa ada seorang pun yang tahu.


***


Naina masih berselancar di dunia maya, mencari tahu semua berita tentang suaminya. Dari yang terlama sampai berita terbaru. Sampai akhirnya, ia sampai pada satu kesimpulan yang membuatnya patah hati, kecewa dan terluka.


"Mungkin ini alasannya Mas Wira tetap mau menceraikanku dan tetap membuat jarak di antara kami meski sudah berbaikan" Naina berkata dengan air mata bercucuran. Rasanya sakit mengetahui suaminya dengan wanita lain. Di saat ia sudah memantapkan hatinya untuk bersama Wira menata masa depan.


"Kalau ingin membalas rasa sakit hatimu padaku, kamu berhasil, Mas. Rasa sakitnya masih sama seperti dulu," ucap Naina lirih. Potongan berita yang dibacanya muncul kembali satu persatu. Air mata Naina tumpah, menangisi Wira untuk kedua kalinya.


Tiga tahun yang lalu, ia merasakan sakit karena kisah Wira dengan Stevi. Dan kini, semuanya terulang lagi. Kisah Wira dengan wanita lain. Rasa sakit itu masih sama, luka itu masih di tempat yang sama.


Bunyi dering ponsel mengusik kesedihan Naina. Ibu hamil itu melirik sekilas dan mendapati Wira yang sedang menghubunginya. Pandangannya berembun, menatap foto Wira yang sedang tersenyum di layar yang menyala terang. Ia sedang tidak ingin berbincang dengan Wira saat ini dan memilih mengabaikannya begitu saja.


Belasan panggilan Wira berakhir begitu saja. Tak lama, Naina bisa mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya.


"Bu ...."


"Bu ...."


"Bu, ada telepon dari Bapak."


"Bu ...."


"Bu ...."


Ketukan di pintu kamar itu makin nyaring dan Naina memilih mengabaikannya begitu. Ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Saat ini Naina tengah menikmati kesedihannya, memeluk nyeri dan sakit dari luka yang menganga kembali, menampung air matanya sendiri.


Di saat ia membuka hati dan mulai mencintai Wira lagi, pria itu memberinya luka yang sama. Kata pernikahan siri yang muncul berulang di pikirannya membuat pertahanan dirinya ambruk. Didiamkan Wira, diabaikan Wira, dicaci maki Wira bahkan dihina Wira pun ia masih bisa bertahan. Namun, saat ada wanita lain di dalam rumah tangga mereka, Naina memilih menyerah.


-


-


-