Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 45


Sebuah boneka beruang berukuran sedang terbungkus plastik bening diserahkan Dennis saat berada di parkiran mobil.


“Aku tidak membelikanmu apa-apa, Nai. Karena kamu sudah bekerja dan tidak membutuhkan apa-apa lagi dariku. Aku malah sedang menunggu hadiah darimu, Nai. Gaji pertamamu, tidak perlu ditransfer padaku. Cukup belikan sesuatu untukku.” Dennis tersenyum.


“Ya, Mas.”


“Jangan katakan ini dariku. Biarkan Wina melupakanku perlahan. Kalau aku menghilang dari hidupnya, Wina akan lebih mudah menerima Wira.” Dennis berkata dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Bagaimana pun, Wina sudah seperti putrinya sendiri. Ia yang mengurusnya sejak bayi.


“Mau kuantar sampai ke kantor?” tawar Dennis.


“Tidak, Mas. Aku naik taksi saja. Tidak terlalu jauh.” Naina menjawab sambil memeluk boneka beruang di dalam dekapannya.


“Yakin?”


Naina mengangguk.


“Baiklah.” Menepuk lengan Naina dengan lembut, Dennis masih sempat mengusap pelan pucuk kepala sebelum masuk ke dalam mobil.


“Keep contact, Nai. Aku akan menghubungimu saat membawa Angie ke Indonesia. Temani aku menemui ....”


Ya, Mas.”


“Aku membutuhkan dukunganmu untuk itu,” lanjut Dennis tersenyum.


“Ya, Mas.” Naina mengangguk.


“Salam untuk Wira dan Wina.” Kalimat terakhir Dennis sebelum menutup pintu mobilnya. Pria itu memutuskan menuntaskan semua dendam masa lalunya. Memaafkan semua kesalahan mamanya, walaupun ia masih berjuang untuk melupakannya. Tiga puluh tahun hidup dalam dendam, kesedihan, air mata, tanpa kasih sayang mamanya, tidak mudah untuk Dennis menghempaskan semuanya. Namun, Naina mengajarkannya banyak hal. Termasuk senyum Naina hari ini, adalah cemeti untuknya. Naina dan Wira saja berani memaafkan kesalahannya, kenapa ia harus takut memaafkan mamanya.


***


Naina tersenyum menatap boneka di pangkuannya. Ia sedang duduk nyaman di taksi biru yang mengantarnya kembali ke kantor. Sesekali ia menatap ke jendela belakang. Mobil pajero sport hitam itu masih mengikutinya.


“Kamu selalu begitu, Mas. Tidak sekalipun kamu membantah semua ucapanku. Apapun itu, walau kamu tidak menyetujuinya, kamu tetap mendukungku dengan caramu sendiri.” Naina berkata pelan.


Ingatan Naina kembali menerawang. Teringat bagaimana Dennis menjaganya saat ia memilih tinggal di kontrakan sempit. Selama ini Naina tahu kalau Dennis diam-diam mengontrak di sebelah kontrakannya hanya untuk menjaganya dan Wina setiap malam.


“Jangan seperti ini, Mas. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Aku takut semakin jatuh cinta padamu. Aku tidak mau melukai Mas Wira. Dia adalah ayah dari anakku, aku juga harus menjaga perasaannya.”


“Kalau aku bisa meminta, aku tidak mau mencintaimu. Aku ingin bisa membencimu seumur hidupku, Mas.” Naina meneteskan air matanya. Jujur, ia kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus jatuh cinta lagi? Kenapa harus Dennis Wijaya?


***


Naina kembali ke kantor, berjalan dengan memeluk boneka beruang menyusuri koridor. Beberapa pasang mata, menatap heran saat perempuan muda itu membawa hadiah besar yang tidak biasa.


“Angel, kamu sudah kembali?” tanya Pieter tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu ruang kerja Naina. Pandangannya tertuju pada boneka beruang di dalam dekapan Naina.


“Dari penggemar Wina? Calon anakku itu sudah banyak penggemarnya, padahal belum genap berusia tiga tahun.” Pieter terkekeh.


“Aku harus segera berlatih berjalan secepatnya. Supaya saat Wina tumbuh dewasa, aku bisa mengejar dan menghajar pria-pria yang mengganggu putri kita. Bukankah begitu, Angel?” Pieter memulai lagi.


Naina menggeleng sembari meminta jalan pada Pieter agar ia bisa masuk ke dalam ruangannya. Langkah kaki Naina terhenti saat melihat sebuah kota persegi terikat dengan pita merah muda lebar. Ada dua kuntum bunga mawar artificial yang menempel di bagian atas kotak.


“Itu apa, Pak?” tanya Naina heran.


“Dari pengagum rahasiamu.” Pieter menjawab asal. Masuk kembali ke ruangan, berjalan pincang. Kakinya belum sembuh benar, ia masih harus menjalani terapi untuk waktu lama dan terus berlatih agar bisa berjalan kembali seperti sedia kala.


“Maksudnya apa, Pak?” tanya Naina. Diletakannya boneka beruang itu di atas lemari besi di samping meja kerjanya.


“Mungkin terlalu cepat, tetapi aku takut tidak cocok atau muat denganmu. Jadi lebih baik sekarang saja. Kalau memang ternyata ukurannya tidak sesuai, aku masih punya waktu menggantinya.” Pieter menjelaskan.


“Itu gaun pesta. Aku tidak tahu kamu menyukainya atau tidak. Sebentar lagi akan ada perayaan ulang tahun RD Group. Aku menghadiahkannya untukmu, supaya kamu bisa mengenakannya nanti.”


“Hah!” Naina terkejut. Belum sempat memberi jawaban, Pieter sudah menambahi.


“Itu atas saran Kailla.” Pieter tersenyum. Dan memang semua rencana Kailla, pria itu sangat bersyukur saat istri pemilik perusahaan begitu mendukung hubungannya dengan Naina.


“Bahkan Kailla yang memilihkannya untukmu. Aku harap kamu tidak menolak lagi, tidak enak dengan Kailla. Aku ingin kamu mau mengenakannya di perayaan RD Group nanti, Angel.”


Tanpa menunggu jawaban, Pieter bergegas keluar. “Sebentar lagi ada rapat. Aku harap kamu tepat waktu, Angel.”


“Ya, Pak.”


***


Masuk ke dalam apartemen, Naina sudah disambut oleh Wina. Gadis kecil itu berteriak kegirangan saat melihat boneka beruang di tangan Naina.


“Bunda ....” jeritnya, berlari menghampiri Naina.


“Wina menyukainya, Sayang?” tanya Naina. Membungkuk dan menghadiahkan kecupan di pucuk kepala putrinya.


“Sukaaa ....” pekik Wina merebut boneka beruang dan berlari meneriaki Wira.


“Ayah ....”


“Ayah ....” Gadis kecil itu mengetuk pintu kamar Wira dengan kencang, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.


“Ayah!” jeritnya dari luar kamar.


“Rim, Mas Wira sudah pulang kantor?” tanya Naina.


“Sejak siang, Bu. Pak Wira sakit, jadi pulang lebih cepat dari biasanya.” Rima menjelaskan.


“Hah! Mas Wira sakit apa?” tanya Naina khawatir.


Rima menggeleng. “Dari tadi Bapak di kamar. Hanya keluar minum obat. Tidak makan juga,” jelas Rima.


Mata Naina membulat. “Rim, tolong letakan di kamar,” pinta Naina sembari menyerahkan tas dan kotak gaun hadiah dari Pieter.


Setengah berlari mendekati putrinya yang hampir menangis, Naina ikut memanggil dari luar kamar.


“Mas, ini aku. Apa Mas baik-baik saja?” tanya Naina, mengetuk pelan. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Wira.


“Mas ....”


“Mas ....”


Setelah panggilan berulang kali itu tak kunjung mendapat jawaban, Naina memberanikan diri masuk ke dalam kamar Wira. Selama tinggal di apartemen, Naina tidak pernah sekali pun melangkah masuk ke kamar mantan suaminya itu.


“Mas, maaf aku masuk.” Naina berkata sambil mengayunkan gagang pintu ke arah bawah. Hanya dengan sedikit dorongan, pintu bercat putih itu terbuka. Wina menyerobot masuk lebih dulu. Gadis kecil itu sudah terbiasa masuk ke kamar ayahnya.


“Ayah!” seru Wina, berusaha memanjat tempat tidur dan mengguncang tubuh Wira yang meringkuk memeluk guling.


“Mas ... maaf. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Naina. Berjalan pelan, ia ragu untuk masuk lebih dalam ke kamar mewah Wira. Kamar luas dengan sentuhan warna hitam dan kaca lebar itu membuatnya merasa asing.


“Mas ....”


“Ya, Nai.” Wira terusik saat merasakan tangan mungil memukul dadanya berulang kali.


“Ayah ... oneka.” Wina berceloteh sambil menunjukan bonekanya. Tanpa malu-malu, gadis kecil itu merebahkan tubuhnya dan berbaring di samping Wira.


“Mas baik-baik saja? Apa yang terjadi?” tanya Naina berjalan mendekat.


“Kepalaku sakit, Nai.” Wira berusaha bangkit duduk. Kepalanya berdenyut sejak siang, pandangannya mengabur. Hampir ambruk saat di kantor, Wira akhirnya memutuskan beristirahat di rumah.


“Mas sudah minum obat?” tanya Naina, menempelkan punggung tangannya di dahi Wira.


“Sudah.”


“Mas sudah makan? Mau aku masakan bubur untukmu?” tawar Naina.


Wira tidak menjawab, sebagai gantinya ia mencekal tangan Naina dan menarik perempuan itu mendekat padanya. “Kepalaku sakit, Nai.” Wira berkata dengan manja. Kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Naina. Merebahkan kepalanya, menikmati kehangatan Naina yang sangat dirindukannya selama ini.


“Ayah ... Bunda!” pekik Wina saat melihat Wira memeluk Naina.


“Ssttt, jangan berisik, Sayang. Ayah sedang sakit.” Naina menempelkan telunjuknya di bibir dan meminta Wina berhenti menjerit.


“Pergi ke tempat Mbak Rima, main bonekanya dengan Mbak Rima, Sayang. Bunda harus merawat Ayah dulu,” titah Naina pada putrinya dengan kedua tangan mengusap lembut punggung Wira yang berkeringat.


***


Tbc.