
“Maaf, Ma. Aku tidak tidur dengan Mas Wira.” Naina tertunduk dengan kedua tangan saling menggenggam. Rasa bersalah dan ketakutan itu melebur dalam waktu bersamaan.
“Aku hanya merawat Mas Wira yang sedang sakit ... dan aku ketiduran,” lanjut Naina bersikap tenang.
“Aku tahu. Makanya aku ke sini pagi-pagi untuk merawat Wira,” potong perempuan paruh baya dengan emosi meletup. Sorot mata itu seakan hendak menelan mangsa lemah di depannya.
“Kalian sudah tidak terikat hubungan apa-apa. Tidak sepantasnya berada di kamar yang sama, di ranjang yang sama,” cerocos Mama Wira. Tampak ia menghela napas berulang kali untuk meredam emosinya.
“Aku sebenarnya tidak pernah menyetujui keputusan Wira untuk membawamu dan Wina tinggal di sini. Sejak awal ... aku menawarkan rumahku untukmu dan Wina, tetapi Wira memaksa.” Suara Mama Wira terdengar sedikit melunak.
“Maaf, Ma. Aku tahu ... aku salah. Tidak seharusnya aku seranjang dengan Mas Wira.”
“Syukurlah kalau kamu tahu batasanmu. Aku pribadi sebenarnya cukup paham. Wira duda, pasti membutuhkan pelampiasan. Tidak tidur denganmu, dia juga membutuhkan wanita lain. Aku hanya tidak mau ada wanita yang datang kepadaku dan meminta pertanggungjawaban. Selama ini, aku selalu memastikan dengan wanita mana saja putraku. Aku tidak mau lagi, ada wanita datang dan mengaku hamil. Itu saja!” Mama Wira menjelaskan. Terlihat ia mengeluarkan ponselnya, mengusap dengan ujung jari tengah dan melemparnya ke atas tempat tidur.
“Itu kehidupan Wira sekarang! Aku berharap kamu paham kenapa sampai hari ini ... aku menentangmu kembali ke kehidupan Wira.”
Naina meraih ponsel hitam milik Mama Wira, melihat semua yang ingin ditunjukan sang mantan mama mertua kepadanya. Ada nama Pratama Wirayudha tertulis di kolom pencarian. Dan di bawahnya, berderet cerita tentang Wira yang diberitakan sedang dekat dengan beberapa orang gadis. Dari putri konglomerat, sosialita kelas atas sampai model ternama.
Deg—
Naina terlalu naif selama ini, tidak mencari tahu bagaimana kehidupan Wira. Meskipun begitu, Naina tidak terkejut lagi. Beberapa hari berada di dekat Wira, ia mulai bisa menebak bagaimana Wira setelah bercerai darinya. Jemari Naina mulai berselancar di sisi lainnya. Puluhan foto Wira bersama para gadis cantik muncul di berita online.
“Crazy Rich Jakarta, Pratama Wirayudha tertangkap basah menghabiskan malam di sebuah hotel dengan putri pemilik Central Mall.” Naina membaca salah satu headline di laman berita online.
Di bagian lain, Naina bisa melihat foto Wira sedang memeluk seorang model kenamaan ibu kota di sebuah pesta.
“Itu kehidupan Wira pasca bercerai denganmu. Aku mohon kamu bisa mengerti, di mana posisimu sekarang, Nai. Wira bukanlah Wira yang dulu lagi. Dia sudah memiliki kehidupan sendiri. Pencapaiannya hari ini, tidak ada sangkut pautnya denganmu, Nai. Bahkan semua harta kalian saat masih bersama, tersimpan utuh di tempat yang seharusnya. Wira menyerahkan semua padamu. Aku rasa itu sudah cukup untukmu, jangan berharap lebih. Ia memulai dari nol lagi, hanya berbekal satu perusahaan milik keluarga Wirayudha.”
“Aku mengerti, Ma.” Naina menggigit bibir.
“Aku berharap kamu tidak menjelma menjadi jalang. Silakan menggoda pria lain, tetapi bukan putraku. Cukup menjadi janda dari Pratama Wirayudha, tetapi jangan bermimpi untuk bersamanya lagi. Aku pikir lima tahun ... cukup sudah Wira menyia-nyiakan waktunya bersamamu.” Kalimat yang meluncur deras dari bibir Mama Wira itu terdengar menyesakan.
“Ya, Ma. Aku mengerti.” Naina menahan air mata dan sakitnya seorang diri. Kata-kata itu begitu menusuk. Mungkin ini adalah harga yang pantas dibayarnya untuk kesalahan saat memutuskan menceraikan Wira di tengah ketidakberdayaan mantan suaminya itu.
“Baguslah kalau kamu mengerti. Aku datang ke sini bersama Adelia. Dia adalah calon istri Wira ... seorang model dan putri pemilik salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Tolong perlakukan dia dengan baik. Izinkan dia mengenal Wina. Cepat atau lambat, dia akan menjadi ibu sambung untuk Wina. Kamu mengerti, Nai?” tanya Mama Wira.
“Ya, Ma.”
Mengusap dada dengan tangan kiri, Mama Wira terlihat duduk di sisi ranjang. Ia berusaha menenangkan diri sebelum menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya.
“Aku tidak membencimu, Nai. Hanya saja ... aku ingin Wira mendapatkan jodoh yang bisa menyesuaikan diri dengannya. Kalian sudah pernah menikah dan bercerai setelah lima tahun berumah tangga. Kamu ingat ... bukan Wira yang menceraikanmu, tetapi kamu yang meminta berpisah.”
“Ya, Ma.”
“Mohon jangan mempersulit Wira. Kamu lihat foto-foto itu. Semua itu gambaran kehidupan Wira sekarang. Pergaulan dia sekarang. Gadis-gadis yang bersama Wira itu bukan gadis sembarangan. Mereka adalah gadis-gadis terhormat dan terpandang. Mereka semua teman Wira.” Mama Wira menjelaskan.
“Ya, Ma. Aku mengerti.”
“Baiklah, kalau kamu mengerti. Jangan sampai aku melihatmu terlalu dekat dengan Wira lagi. Aku tidak mau Adel atau wanita mana pun yang memiliki maksud lebih pada Wira jadi salah paham.” Mama Wira meraih kembali ponselnya dan berjalan keluar dari kamar.
***
“Bangun!” Mama Wira menarik selimut yang menutupi tubuh putranya. Masuk kembali ke dalam kamar Wira, emosinya kembali terpancing.
“Ma, ada apa?” tanya Wira mengusap kasar wajahnya. Berusaha bangkit dan duduk bersandar di ranjang.
“Apa maksudmu membawa Naina ke atas tempat tidurmu? Apa kamu kekurangan wanita sampai membawa janda miskin itu menemanimu tidur?” tuding Mama Wira.
“Ma, jangan begitu. Dia Bunda dari anakku. Aku mencintainya ....”
Mama Wira tergelak. “Cinta dari mana? Bukannya aku tidak tahu ... kamu berpesta dengan banyak gadis setiap malam sampai pagi di sela-sela pekerjaanmu. Jangan mengelak!”
“Aku tidak membawa mereka ke atas tempat tidurku!” tolak Wira. “Hatiku masih setia dengan Naina sampai hari ini,” lanjut Wira.
“Mama tidak peduli. Saat ini Naina sedang menemani Adelia di ruang tamu.” Mama Wira berjalan mendekat dan mengusap dahi Wira dengan punggung tangannya. Ia harus memastikan kalau putra kesayangannya baik-baik saja.
Mendengar nama Adelia, Wira segera berlari turun. Ia tidak mau sampai Naina salah paham. Semua ini bukan rencananya, bahkan ia tidak mengenal Adelia.
“Kamu bersikap baik pada Adelia, Mama pun akan bersikap baik pada Naina!” Mama Wira mengancam balik.
“Kamu tahu bagaimana karakter Naina. Di saat kita saling mengancam seperti ini, pasti kamu yang akan kalah. Sifat Naina yang terlalu penurut dan mengalah adalah sesuatu yang membuatmu tergila-gila tetapi itu juga yang menjatuhkanmu,” ucap Mama Wira tergelak.
“Lagipula, Mama memberimu seorang gadis perawan, mana bisa dibandingkan dengan janda beranak satu. Jandamu sendiri lagi. Sudah pernah merasakan bagaimana nikmat dan sulitnya berumah tangga dengannya. Hidup itu harus maju dan lebih baik, Wir. Bercerai dari Naina, kamu memiliki kesempatan mendapatkan gadis yang lebih dari mantan istrimu. Mengenai Wina, bisa diurus bersama-sama. Banyak juga pasangan di luar sana, bercerai dan bisa saling akur layaknya saudara. Sama-sama mengurus anak dengan pasangan masing-masing. Kebahagiaan Wina itu bukan hanya karena kalian bisa hidup bersama.” Mama Wira menasehati.
“Jangan sentuh, Naina. Maka aku akan sedikit berbaik hati pada gadis-gadismu!” tegas Wira.
“Baik. Asal Naina mengikuti aturan main, Mama tidak akan mempersulitnya. Bagaimana pun, Naina pernah menjadi bagian dari keluarga kita. Mama menyayanginya, tetapi bukan sebagai menantu. Mama menganggap Naina putri Mama sendiri, ibu dari cucu Mama.”
“Aku tidur dengan siapa, menikah dengan siapa ... itu urusanku. Bukan urusan Mama. Jangan sentuh Naina!”
“Tergantung Naina menyentuh Mama atau tidak.” Mama Wira tersenyum licik.
***
Wira keluar dari kamar dan mendapati Naina sedang duduk di ujung sofa menatap putri mereka yang sudah mandi dengan tampilan bedak tebalnya. Di sisi sofa lainnya, terlihat Wina sedang bermain dengan boneka baru, ditemani gadis cantik yang berusaha menarik perhatian.
“Sudah berkenalan?” tanya Mama Wira, berjalan mendahului putranya. Pertanyaan yang ditujukannya pada Adelia. Gadis cantik yang meluangkan waktunya di sela jadwal fashion show yang padat.
“Sudah, Tante.”
“Itu Wina, putrinya Wira. Dan ini Naina, mantan istrinya Wira. Mereka menumpang sementara di sini. Rumah mereka sedang direnovasi. Kalau rumah tinggal mereka sudah siap, keduanya akan pindah dari kediaman Wira.” Mama Wira menjelaskan tanpa diminta.
“MA!” teriak Wira mulai dibuat kesal. Ia tidak suka dengan kata menumpang yang disematkan di dalam kalimat mamanya.
“Nai, yang aku katakan tidak salah, kan?” tanya Mama Wira mencari pembelaan.
“Ya, Ma.” Naina tertunduk. Malu, sungkan, marah dan terasing, ada banyak rasa mengumpul dan menyesak di dalam hati Naina.
“Mbak, anaknya sulit didekati, ya?” tanya Adelia pada Naina, mencairkan suasana. Sejak tadi berusaha mengajak Wina bicara, gadis itu harus rela semua ucapan dan bujukannya diabaikan Wina begitu saja. Semua kata-katanya bagaikan angin lalu.
“Ya.”
“Kamu tidak ke kantor, Nai?” tanya Wira.
“Nanti, Mas. Agak siang baru ke kantor. Aku sudah minta izin pada Pak Pieter.”
“Wah, Mbak kerja? Bisa mengurus anak sambil bekerja?” tanya Adelia penuh kagum.
“Ya, ada pengasuh yang menjaga Wina selama saya bekerja, Mbak ....”
“Panggil Adel saja, Mbak,” pinta Adelia tersenyum ramah.
Naina sempat tersentak. Penampilan gadis di depannya sempat mencuri perhatiannya. Adelia sangat cantik dan modis. Dengan bentuk tubuh bak gitar Spanyol tanpa dawai, Adelia terlihat menawan. Fashion mahal yang menempel di tubuh indahnya, membuat Adelia tampak sempurna. Satu hal yang membuat Naina kagum, Adelia sangat sopan, berpendidikan dan menghargainya. Itu kesan awal Naina pada gadis yang Naina yakini bukan dari keluarga sembarangan.
“Mungkin Adel yang terbaik untuk Mas Wira. Sepertinya, dia menyayangi Wina dengan tulus.” Naina berusaha untuk menguatkan hati. Ia tidak masalah sedikit pun dengan Wira, tetapi ia tidak siap membagi Wina untuk mama yang lain. Dan itu adalah kenyataan yang harus diterimanya saat Wira menikah lagi.
Basa-basi di ruang tamu, berakhir dengan acara sarapan pagi bersama. Bunyi denting sendok, garpu dan piring meramaikan meja makan yang biasanya sepi. Ada banyak menu, Mama Wira datang membawa banyak makanan, baik kesukaan Wira, Naina dan tentunya Wina.
“Ayo makan, Sayang,” bisik Naina, menyuapi Wina. Ia benar-benar merasa sungkan saat ini. Ucapan Mama Wira telah menamparnya, hingga tak sanggup untuk sekedar menelan makanan. Piringnya terlihat bersih, bahkan tak ada sebutir nasi pun di atas piringnya, menemani sendok dan garpu yang tersusun rapi.
Sejak tadi, Naina hanya sibuk menata perasaannya sambil membujuk Wina untuk makan. Berusaha untuk tetap bertahan demi terlihat baik-baik saja. Naina mempertimbangkan banyak hal saat ini, terutama perasaan Wira dan Wina.
Kalau menuruti emosinya, sudah pasti ia akan menampar Mama Wira dengan kata-kata pedas, merapikan barang-barangnya dan Wina lalu angkat kaki. Ia masih sanggup menghidupi Wina dengan kedua tangannya, tanpa bantuan Wira.
Hanya saja, ia tidak bisa egois lagi. Wira membutuhkan Wina dan sebaliknya. Entah seperti apa hubungan mereka ke depan, tetapi ia tidak bisa egois dengan membuat ayah dan anak itu terpisah. Kalau dulu, ia masih memiliki alasan yang kuat, tetapi sekarang, sejak kebenaran itu terungkap akan menjadi tidak adil untuk Wira dan Wina.
“Nai, kenapa tidak makan?” tanya Wira. Sejak tadi memperhatikan Naina, ia tahu ada sesuatu yang sudah terjadi di belakangnya.
***
Tbc