
Wira kembali sibuk dengan tumpukan dokumen di atas meja setelah obrolan santainya dengan Erka selesai. Tamunya baru saja keluar dari ruangan, saat Naina mengetuk sekilas dan mendorong pelan pintu ruangan Wira. Tampak ibu hamil muda itu tampil cantik dengan setelan kerja sederhananya. Dress kerja cokelat muda yang dipadankan dengan ikat pinggang berwarna cokelat tua.
"Nai ...."
Wira mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, tersenyum menyambut Naina.
"Mari kita menikah!" ajak Naina tiba-tiba. Wanita itu bahkan belum sempat duduk. Napasnya masih naik turun, rambut sedikit berantakan.
Wira mengerutkan dahi. Heran? Tentu saja, setelah beberapa bulan terakhir mengajak mantan istrinya itu rujuk, tetapi selalu mendapat jawaban yang tidak pasti. Namun, kali ini Naina yang datang dan menawarinya pernikahan.
Bibir tersenyum itu menyeringai, Wira tergelak saat menangkap pipi bersemu merah. Naina tertunduk, menyembunyikan malu.
"Kamu melamarku, Nai?" tanya Wira, berjalan mendekat. Ia berdiri, bersandar di meja kerjanya dengan angkuh. Kedua tangan pria itu terlipat di dada, meneliti Naina sampai wanita itu merasa jengah.
Hening, tidak ada jawaban. Naina dengan tampilan kacaunya masih menunduk. Kedua tangan Naina saling meremas.
"Kamu melamarku, kira-kira ... aku boleh meminta mas kawin?" tanya Wira melempar candaan. Merasa di atas angin, pria itu mencoba menggoda Naina. Wira berusaha mencairkan suasana canggung, di tengah hatinya yang sedang berpesta pora.
Deg-- Naina mengangkat pandangannya. Sorot matanya sedang beradu dengan mata hitam pekat Wira. Pria itu berdiri tepat di hadapannya.
"Aku tidak punya apa-apa, Mas." Naina berbicara pelan. Candaan Wira dianggapnya serius.
Terdengar tawa kecil Wira, pria tampan itu maju beberapa langkah dan memangkas jarak di antara keduanya.
"Aku bercanda, Nai." Wira tersentak. Naina yang dulu dikenalnya tidak seperti ini. Ia menemukan sesuatu yang berbeda dari Naina.
"Aku cuma minta hati dan hidupmu, Nai. Aku tahu tidak mudah untukmu memulai kembali denganku. Mungkin lebih mudah untukmu memulai dengan yang lain." Wira berkata lembut sambil meraih kedua tangan Naina. Diremasnya pelan, seakan menunjukan keseriusan dan janjinya.
"Ya, Mas." Naina menjawab yakin.
"Aku menerimamu, bukan karena kehamilanku. Aku serius ingin berjuang dan memulai kembali denganmu. Sudah sejak sebulan yang lalu aku memantapkan hati dan menerimamu di dalam hidupku. Tapi ... baru sekarang, aku berani bicara padamu."
Wira tertegun, mengingat Naina yang pernah meminta waktu sebulan untuk memberinya jawaban. Ia sudah tidak peduli dengan berapa banyak pengorbanan dan waktu yang terbuang selama ini. Yang ia tahu, Naina sudah bersedia kembali padanya. Itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya, biarkan hubungan mereka mengalir apa adanya.
"Terima kasih, Nai." Wira menghambur, memeluk erat Naina. Wanita di hadapannya hanya diam. Reaksi berbeda saat masih menjadi istrinya.
Deg-- Wira mengurai pelukannya dan meneliti wajah yang yang menyimpan kesedihan. Tidak ada lagi senyuman bahagia Naina seperti dulu. Tidak ada lagi wajah ceria menyambut pelukannya. Waktu membuat semuanya hilang dan tak bisa seperti semula.
"Cium aku, Nai. Bukankah kita harus merayakannya." Wira berkata pelan. Hatinya tercubit mendapati Naina seperti ini. Bahkan reaksi dan sorot Naina berbeda dibanding pertama kali berkenalan.
Di tengah kebingungan Wira, Naina memberanikan diri mencium pria di hadapannya itu. Kedua tangannya bergetar, mendekap pinggang Wira. Dengan mata terpejam, ia melabuhkan bibirnya pada bibir Wira. Aroma bibir itu masih sama, tetapi rasanya sudah berbeda. Tidak semanis dulu lagi.
Naina sudah tidak merasakan jantungnya berpacu saat memeluk Wira. Apa waktu sudah menyeret semua masa lalu dan rasa yang tertinggal. Atau, ia mengubur rasa itu terlalu dalam dan hilang. Sampai saat ia menggalinya kembali, rasa itu sudah lenyap.
Memasrahkan diri, Naina hanya berusaha larut dalam pelukan dan ciuman hangat Wira. Ia hanya bisa membalas perlakuan manis Wira dengan tidak kalah manisnya. Hanya sebatas perlakuan, tidak ada rasa lagi.
"Senyum!" pinta Wira setelah melepaskan pelukannya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari diri Naina, tetapi kebahagiaan membuatnya mengabaikan semuanya.
"Mungkin dia butuh waktu, Wir. Ini pasti tidak mudah untuknya." Wira mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Naina menyunggingkan senyuman meskipun terlihat kaku.
"Mulai malam ini, kalian tinggal di tempatku. Aku khawatir kalau kalian tinggal jauh dariku," pinta Wira, menarik Naina untuk duduk di kursi kerjanya.
"Menikah lagi pasti membutuhkan persiapan, aku akan meminta William dan Kevin menyiapkannya." Tubuh membungkuk, kedua tangan Wira bertumpu di sandaran kursi dan mengunci Naina yang duduk bersandar di kursi empuknya. Kursi pimpinan tertinggi PW Group.
"Ya, Mas. Aku tidak mau dirayakan. Cukup diresmikan saja." Naina membuka suara.
"Tidak mau pesta di hotel berbintang seperti dulu?" tanya Wira memastikan.
Naina menggeleng. "Tidak mau, Mas. Itu memalukan." Wajah Naina bersemu merah, membayangkannya saja ia sudah tidak sanggup. Apa lagi, ia akan bertemu dengan teman-teman Wira yang berbeda kelas dengannya. Ia tertampar setiap mengingat kondisinya yang jauh di bawah Wira. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat bertemu dengan rekan-rekan Wira. Pantas saja kalau Mama Wira tidak menyukainya bahkan menghinanya. Karena memang Wira bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih layak darinya. Ia yang dulunya hanya gadis miskin yang bermutasi menjadi janda miskin. Sejak dulu pun, ia sudah tidak pantas berdiri sejajar dengan Wira, apa lagi sekarang. Di saat Wira makin jauh darinya.
"Mulai sekarang, tidak perlu bekerja lagi. Cukup tinggal di rumah dan mengurus Wina. Jaga baik-baik kandunganmu. Jangan sampai keguguran lagi." Wira tersenyum sembari mengusap perut rata Naina.
"Aku masih harus bekerja sampai akhir bulan, Mas." Naina menolak.
Wira tersenyum. "Masalah Pieter, aku akan mengurusnya. Tidak perlu dipikirkan. Kalau tetap memaksa bekerja, mulai besok bekerja di sini saja." Wira tergelak.
"Mas." Pukulan mendarat di bahu Wira. Protes Naina dengan bibir cemberut itu terlihat menggemaskan.
Untuk pertama kali sejak pertemuan mereka kembali, Naina bersikap seperti ini. Ia lebih suka Naina yang ini. Yang tidak sungkan padanya dan bisa bermanja-manja padanya seperti dulu.
"Tunggu aku di sini. Kita pulang sama-sama. Aku akan meminta Wiliam mengurus kepindahan kalian. Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Wira.
"Tidak ada, Mas."
"Serius?" goda Wira, berbisik di telinga Naina.
"Tidak ada."
"Malam ini tidur di kamarku, ya," pinta Wira usil.
Plak! Pukulan kedua mendarat lagi di pundak Wira, bola mata Naina melebar.
"Bukannya kita akan menikah secepatnya? Apa kamu tidak mau mencobanya dulu. Jangan sampai membeli kucing dalam karung." Wira tergelak.
"Aku sudah mengenalmu. Tidak perlu mencobanya," gerutu Naina.
"Selama tiga tahun ini, keahlianku bertambah. Kamu yakin tidak mau memastikan dulu? Sudah membayar mas kawin semahal itu, kalau tidak sesuai harapan, nanti kamu kecewa."
"Mas!" protes Naina, wajahnya benar-benar memerah sekarang.
"Kalau di pernikahan kita yang pertama aku mengizinkanmu menceraikanku, kali ini tidak akan terjadi lagi. Gaun pengantin saja mesti dicoba dulu, apalagi pengantinnya. Aku tidak masalah kalau kamu mau mencoba dulu," Wira tergelak.
"Tidak! Sudahlah, jangan membahas ini lagi." Naina mengalihkan pembicaraan, dan mendorong pelan tubuh Wira yang sejak tadi menempel padanya.
"Aku mencintaimu, Nai." Wira mengecup pelan bibir Naina sebelum menegakan tubuhnya dan kembali fokus pada pekerjaannya. Terlihat tangannya dengan cekatan merapikan kertas di atas meja dan menarik kursi di depan Naina.
***