Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 17


Wira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota yang masih ramai dipenuhi kendaraan walau rembulan mulai meninggi. Suara klakson berteriak sepanjang perjalanan, Wira tidak bisa tenang. Ia hampir kehilangan akal sehatnya, membayangkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi pada Naina dan bayi mereka saat ini.


Enam purnama sudah bayi mereka meringkuk di rahim Naina, Wira tidak siap kalau harus kehilangan bayi laki-lakinya.


Mencengkeram erat kemudi, umpatan keluar dari bibir Wira saat mobilnya tersendat dan harus ikut merayap. Entahlah, ia tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri apa yang terjadi pada istrinya.


Hampir empat puluh lima menit menghabiskan waktu di jalanan, Wira bisa bernapas lega saat mobilnya berhenti di parkiran rumah sakit. Tak lama, pria itu berlari ke bagian informasi di lobi utama dan menanyakan keberadaan istrinya.


"Ibu Naina Pelangie di ruang mawar 2 di lantai 3, Pak. Keluar lift ke kanan." Gadis muda dengan kerudung senada dengan seragamnya itu menjelaskan pada Wira sembari mengatupkan kedua tangan di dada.


"Terima kasih." Wira bergegas.


Kesabarannya kian menipis, ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Naina dan memastikan istri dan anaknya baik-baik saja. Sesuai dengan petunjuk petugas di bagian informasi, Wira akhirnya menemukan kamar perawatan yang dimaksud.


Namun, begitu pintu kamar terbuka, keyakinan Wira tergerus. Ia mundur dan berjalan keluar untuk memastikan kalau tidak salah masuk kamar.


"Benar. Ini kamar mawar 2." Wira heran saat mendapati penghuni kamar bukan Naina, tetapi wanita lain yang tengah ditunggui suami dan keluarganya.


"Maaf, Pak. Saya mencari pasien yang bernama Naina Pelangie. Petugas memberi nomor kamar ini." Wira melangkah masuk kembali dan bertanya pada orang-orang di dalam kamar.


"Oh, Ibu Naina. Ada di sebelah." Salah satu penghuni kamar menjawab sembari menunjuk ke arah tirai putih.


Wira tertegun, belum sepenuhnya paham. Tatapannya tertuju pada tirai yang ada di sisi kanan tempat tidur pasien.


Walau bingung, Wira mencoba mencari tahu. "Terima kasih, Pak." Wira tersenyum ramah dan mencari tahu apa yang ada di balik tirai. Ia tidak bisa melihat jelas dari pintu masuk.


Jantung Wira berhenti berdetak, ia bagai tertampar saat melihat area sempit di balik tirai. Ada tempat tidur dan sebuah nakas. Tidak lebih dari 2,5 meter, dilengkapi sofa dan jendela lebar.


Deg--


Pandangan Wira tertuju pada wanita hamil yang tengah meringkuk di atas tempat tidur, berbaring menyamping dan membelakanginya.


"Nai."


"Nai."


"Nai, kamu tidur?" sapa Wira berjalan mendekat.


Berdiri di samping tempat tidur, Wira bisa melihat Naina yang tengah terlelap. Mata istrinya terpejam rapat, tertutup helaian rambut yang jatuh berantakan menutupi sebagian wajah.


Bibir pria itu menyunggingkan senyuman saat memastikan perut Naina masih besar, terlihat naik turun dengan teratur ketika Naina bernapas.


"Sayang, ini Ayah. Kamu baik-baik saja, kan?" Wira berbisik pelan sembari mengusap pelan perut besar istrinya.


Tangan Wira bergetar hebat, saat menyentuh perut Naina yang membulat dan sedikit keras. Ia ingat, beberapa waktu lalu Naina pernah menuntun tangannya untuk mengusap calon bayinya, tetapi kali ini rasanya sedikit berbeda.


"Maafkan Ayah, Nak. Baru menyapamu sekarang? Kamu baik-baik saja, kan?" Wira membungkuk dan mengecup pelan perut Naina.


Setelah sekian bulan, pria itu baru bisa melakukannya sekarang. Bukannya ia tidak rindu, selama ini Wira terlalu mempertahankan egonya sampai lupa kalau bayi kecilnya juga membutuhkan sentuhan seorang ayah. Selama ini ia terlalu larut dalam lukanya, hingga tanpa sadar ia juga melukai calon anaknya.


"Ini Ayah, Nak. Ayah mencintaimu.. Sehat-sehat di dalam ya, Nak." Suara Wira terdengar bergetar, mengajak bayinya bicara. Tangannya pun tak berhenti mengelus pelan perut Naina. Wira tengah membayar rindu yang ditahannya berbulan-bulan.


Naina yang sejak tadi sudah terjaga dari tidurnya, hanya bisa diam dan memejamkan mata. Ia memilih berpura-pura lelap agar suaminya bisa leluasa menyentuh bayi mereka. Ia mulai mengenal Wira lagi. Pria itu banyak berubah, tetapi beberapa bulan terakhir, Naina mencoba belajar menyelami suaminya.


"Terima kasih, Mas. Kamu masih peduli padaku dan bayi kita." Naina bicara dalam hati.


Air mata ibu hamil itu menetes turun ke pelipis dan berlabuh di bantal. Ia harus menggigit bibir agar isaknya tidak terdengar keluar. Naina tidak mau menganggu quality time antara Wira dan calon bayi mereka. Ia tahu ketika membuka mata, Wira akan kembali bersikap dingin lagi padanya, berpura-pura kuat dan tidak peduli.


***


Puas mengusap perut Naina, Wira menjatuhkan bokongnya di sofa. Namun, baru saja pria itu menikmati posisi nyaman sembari mengukur ruangan sempit yang menjadi tempat peristirahatan istrinya, Wira mendengar suara Naina memanggilnya.


"Mas ...."


"Hmm. Ya, Nai?" Wira bangkit dan buru-buru mendekat. "Kamu membutuhkan sesuatu?" Wira bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada mereka.


Naina menggeleng. "Kapan Mas datang?" tanyanya mencoba mengajak bicara. Jujur saja, Naina sangat bahagia. Ia tidak menyangka Wira akan datang menemaninya.


"Belum lama. Kenapa tidak memberitahu kalau harus dirawat? Apa yang terjadi? Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Wira, melempar pertanyaan bertubi-tubi.


"Tadi sore ... saat mau tutup toko, aku ke toilet dan menemukan flek. Jadi aku buru-buru ke rumah sakit," jelas Naina.


"Aku kecapean beberapa hari ini. Banyak barang masuk ke toko. Aku pikir ... kerjanya tidak terlalu berat, hanya duduk dan mengecek satu persatu barang masuk. Ternyata, adek bayinya protes, Mas."


"Ya sudah. Sementara, jangan pikirkan masalah toko. Fokus pada kehamilanmu saja. Dokter mengatakan sesuatu? Apa bayinya baik-baik saja?" tanya Wira, penasaran.


"Bayinya baik-baik saja, Mas. Aku diminta bed rest beberapa hari." Naina menjelaskan.


"Ya sudah. Jangan ke toko lagi sampai kamu melahirkan. Biarkan William mengurusnya untukmu," putus Wira tanpa meminta pendapat Naina.


Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Pindah kamar. Di sini tidak nyaman. Aku ke administrasi dulu untuk mengurusnya." Wira baru saja berbalik, tetapi Naina meraih lengannya.


"Mas, aku mau di sini saja. Aku sengaja memilih kamar ini. Bukan karena aku tidak mampu memilih kamar yang luas dan nyaman. Aku punya pertimbangan sendiri, Mas," cegah Naina.


"Tidak. Di sini tidak nyaman. Apa pun alasannya, aku tidak bisa terima." Wira bersikeras.


"Mas, aku mohon. Kalau di sini, aku ada temannya. Tidak sendirian. Kalau bosan menonton televisi, aku bisa mengobrol dengan tetangga sebelah. Kamar mandi juga tidak jauh, masih di dalam kamar walau harus berbagi. Lagi pula, kalau terjadi sesuatu padaku ... aku bisa meminta bantuan mereka. Kalau di kamar yang sendirian, aku khawatir ...."


"Aku akan menjagamu selama dirawat di sini. Jangan khawatir. Apa kamu tidak mau Wina ikut ke sini menjengukmu? Aku hanya memastikan kenyamanan untukmu dan anak-anak kita," putus Wira.


-


-


-