Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 27


Setelah mendapati mobil yang dimaksud, Naina sempat terkejut. Mobil Wira terparkir tepat di depan mobil Pieter. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menguasai dirinya saat menyadari bisa saja Wira melihat apa yang dilakukan Pieter.


*“Mudah-mudahan dia tidak berpikiran buruk.” *Naina tidak enak hati saat teringat dengan kecupan Pieter di pipinya. Wira pasti melihat semuanya.


Deg—


Di saat seperti ini, ia teringat pada Dennis. Selama tiga tahun belakangan, pria itu selalu menjaganya, senantiasa mengingatkannya. Dennis selalu memintanya menjaga diri dan tidak mengumbar status single parent-nya. Bahkan, Dennis tidak akan segan-segan mendatangi pria yang sudah berani berniat tidak baik padanya.


“Nai, menjadi single parent itu berat. Bukan karena kamu harus menjadi ayah dan ibu untuk Wina, tetapi akan ada gelombang dan gangguan yang lebih besar dibanding saat kamu masih gadis. Di antara sekian banyak pria yang mendekatimu, akan sulit sekali menemukan pria yang benar-benar tulus karena statusmu. Sebagian besar hanya ingin bersenang-senang dan menganggapmu mudah untuk didekati atau dipermainkan.”


Naina tersenyum, mengingat bagaimana Dennis yang sudah menghancurkan hidupnya tetapi menjaganya dan Wina dengan sepenuh hati. Selalu mengingatkannya akan hal-hal yang tidak disadarinya.


Mengetuk pelan kaca jendela mobil dengan plat W 1 RA, Naina menyesali kebodohannya karena begitu tidak jeli dengan keadaan di sekitarnya.


“Mas, sudah lama?” tanya Naina berusaha bersikap biasa saat pintu mobil terbuka, didorong dari dalam. Wira bergeming, masih setia duduk di depan setir.


“Sudah setengah jam yang lalu.” Wira menjawab tanpa ekspresi. Tatapannya lurus ke depan, bahkan ia tidak menatap Naina yang sudah duduk di sampingnya.


“Kenapa tidak menghubungku, Mas?” tanya Naina mencoba menetralkan suasana yang tidak mengenakan. Wira terlihat dingin, tidak seperti biasanya.


“Aku tidak mau mengganggu kesibukanmu, Nai. Kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku tidak berhak mencampuri masalah pribadimu. Hubungan kita ada karena Wina. Aku ayahnya dan kamu bundanya.” Wira menjelaskan sambil mencengkeram erat kemudi.


“Maaf Mas.” Naina tertunduk, menelan saliva. Kedua tangannya meremas di atas pangkuan.


“Aku tidak suka melihat Dennis mendekati Wina!” Wira langsung bicara ke inti pembicaraan.


“Hah! Maksudmu bagaimana, Mas?” tanya Naina bingung. Mengangkat pandangannya dan menatap Wira penuh tanya.


“Aku menemui Wina tadi siang dan bertemu Dennis.”


“Hah? Kamu serius, Mas? Aku tidak tahu menahu mengenai ini.”


“Dia dan Mbok Sumi sering menemui Wina. Aku tidak menyukainya!” Wira berterus terang.


“Rima tidak pernah menceritakan apa pun padaku, Mas. Aku baru tahu sekarang.” Naina menjelaskan di dalam kebingungannya.


“Aku ayah Wina, aku rasa aku berhak untuk masalah ini, Nai,” ucap Wira. Kali ini ia memilih menatap Naina. Sejak tadi berusaha membenahi perasaannya yang sempat berantakan.


“Ya, Mas. Aku tidak tahu sama sekali. Aku akan bicara dengan Mas Dennis.” Naina tertunduk.


Mendengar mantan istrinya memanggil Dennis dengan begitu mesranya, Wira semakin muak. Baru saja membenahi hati karena ulah Pieter sekarang bertambah lagi dengan Dennis.


“Hubungi dia sekarang! Aku ingin mendengarnya sendiri!” pinta Wira.


“Hah!” Naina terperanjat.


“Hubungi dia sekarang. Tolong nyalakan speakernya, aku juga ingin bicara dengannya!” perintah Wira.


Naina menoleh ke samping, mengamati Wira. Pria yang sekarang bersamanya memang mantan suaminya, tetapi sikap Wira berubah jauh dibanding saat masih menjadi suaminya. Wira sekarang begitu mendominasi, suka memerintah. Berbeda dengan Wira yang dulu, begitu pengertian dan lemah lembut. Memberi kesempatan untuknya berpendapat.


Meskipun begitu, Naina menurut. Mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Dennis. Nada sambung itu hanya terdengar beberapa kali sebelum suara Dennis keluar dari ponsel putihnya.


“Ya, Nai. Ada apa?” sapa Dennis. Suaranya yang terdengar lembut sanggup memancing tawa Wira. Pria itu tersenyum sinis sembari menghembuskan napas kasar dari hidungnya.


“Mas ... selama ini Mas menemui Wina tanpa sepengetahuanku?” tanya Naina ragu. Pandangannya tertuju pada Wira.


“Maafkan aku, Nai. Aku sudah lancang. Aku memang sering menemui Wina bersama Mbok Sumi. Kamu tidak menyukainya?” tanya Dennis, masih bersikap tenang.


“Bu-bukan begitu, Mas. Aku ... aku ... bisakah tidak menemui Wina lagi,” ucap Naina terbata. Perasaannya tidak enak saat harus mengucapkan permintaannya. Lagi-lagi, ia menatap Wira. Pria itu tampak tersenyum.


Jujur saja, dalam hati kecil Naina ia sama sekali tidak keberatan. Terbukanya semua tabir masa lalu, membuat Naina banyak belajar. Ia tidak bisa bersikap egois dan mendendam lagi. Ia sudah mencoba berdamai dan memaafkan, karena ia juga terlibat dalam kehancuran rumah tangganya. Dan ia tidak mau menyalahkan siapa-siapa lagi. Cukup melihat masa depan dan kebahagiaan putrinya.


Kalau Wina ingin berada di dekat Dennis, ia tidak keberatan mengizinkan pria itu sering menemui putrinya. Dan kalau Wira memiliki pendapat lain, ia juga tidak bisa menolak. Bagaimana pun, Wira ayah dari putrinya.


“Bisa kita bicara langsung. Aku akan menemuimu sekarang? Kamu di mana, Nai?” tanya Dennis.


“Dia sedang bersamaku!” potong Wira. Tiba-tiba pria itu angkat suara setelah sejak tadi hanya diam dan menyimak.


“Ya, aku sudah mendengar permintaan MANTAN ISTRIMU yang terdesak karena ulah MANTAN SUAMINYA.” Dennis tidak mau kalah.


“Mas, maafkan aku,” ucap Naina lirih, ikut bicara.


“Ya, aku mengerti Nai.” Dennis tetap terdengar tenang.


“Oh ya, izinkan aku tetap bisa menghubungi Wina melalui telepon. Aku janji tidak akan menemuinya lagi tanpa seizinmu. Ibu pasti akan sangat merindukan Wina, Nai.”


“Ya, Mas.”


Panggilan itu terputus, Naina beralih menatap Wira yang tersenyum puas. Setelah sekian lama berpisah, baru kali ini Naina bisa memperhatikan wajah tampan Wira yang bersinar disorot matahari senja. Mantan suaminya banyak berubah. Jauh lebih menawan dibandingkan saat mereka berpisah.


“Kenapa? Kamu menyesal menceraikanku?” todong Wira setelah melihat Naina tertegun menatapnya. Netra indah itu bahkan tidak berkedip sedikit pun memandangnya, sehingga ia jengah sendiri.


“Ti-tidak, Mas.” Naina tersadar. Buru-buru membuang pandangannya.


“Nai, tolong pertimbangkan lagi tawaranku. Apa kamu mau tinggal di tempat lain? Aku akan membeli rumah untuk kalian. Jangan tinggal di kontrakan lagi, aku mengkhawatirkan kalian,” tawar Wira lagi.


“Selain lebih aman, aku lebih leluasa menemui Wina. Tidak jadi bahan gosip tetanggamu. Aku tidak mau dipanggil Pak RT karena hampir setiap hari bertandang ke rumah janda,” lanjut Wira setengah bercanda sembari melirik Naina sekilas. Ia ragu untuk melontarkan kalimat candaan selanjutnya.


“Apa kamu tidak takut digerebek warga ... lalu dipaksa menikah di balai desa. Kontrakan itu tidak seperti di rumah tinggal kita dulu. Para tetangga tidak peduli dengan yang kita lakukan.”


“Hah?” Naina terkejut.


“Aku sih tidak keberatan kalau dipaksa menikah lagi.” Wira berkata pelan, nyaris tidak terdengar. Ia sudah ingin tertawa saat membayangkan kata-katanya menjadi kenyataan.


“Aku akan memikirkannya lagi. Nanti aku akan mengabarimu, Mas. Wina sudah nyaman tinggal di sini. Sudah memiliki banyak teman.”


“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekalian menemui Wina. Kita mampir ke supermaket dulu untuk membeli semua kebutuhan kalian,” ucap Wira, menjalankan mobilnya sembari melirik ke arah mobil Pieter yang masih belum bergerak sejak tadi.


***


Hampir satu jam berkeliling supermaket, Wira dan Naina pulang ke kontrakan. Berjalan berdua terasa seperti mengulang kembali cerita masa lalu mereka. Wira yang setia mendorong stroller belanjaan dan Naina sibuk mengisinya dengan semua kebutuhan rumah.


“Nai, kalau waktu bisa diulang kembali, apa yang ingin kamu ubah dari jalan hidupmu?” pancing Wira saat keduanya berjalan menuju ke parkiran. Wira yang berjalan di belakang Naina, sibuk menenteng kantong belanjaan.


Deg— Naina berhenti sejenak sebelum menjawab pertanyaan Wira.


“Tidak ada, Mas. Hidup itu pilihan. Bisa saja pilihanku salah, tetapi aku berusaha untuk tidak menyesal. Akan ada sesuatu yang indah dibalik keputusan yang salah sekali pun.” Naina menjawab dengan tenang.


Wira hanya bisa tersenyum. Naina tidak berubah walaupun sudah tidak sekeras dulu lagi. Wanita itu tetap kuat di saat menangis dan bercucuran air mata. Wanita itu tetap tegar dan tidak mengeluh di saat sakit dan terluka.


***


Perjalanan menuju ke kontrakan terasa begitu cepat. Tidak sampai setengah jam, Tesla hitam dengan nomor polisi khusus pesanan Wira itu sudah terparkir di tepi jalan. Seperti biasa, tukang parkir langganannya berlari mendekat. Sejak tiga minggu ini, pemuda dengan pakaian berantakan itu tertimpa rezeki melimpah. Bukan hanya Wira, Dennis diperlakukan sama.


“Nai ....”


“Ya, Mas.” Keduanya sudah berjalan masuk ke dalam gang sembari menenteng barang belanjaan.


“Minggu ini ... aku akan membawa Wina bersamaku. Aku akan membawanya menemui mama dan papaku,” ungkap Wira.


Sejak mendapatkan hasil tes DNA yang menyatakan kalau Wina memang benar putrinya, Wira sudah tidak sabar untuk mempertemukan Wina dengan kedua orang tuanya. Ia tahu sebelumnya Naina dan Wina pernah ditolak, dan untuk itu ia tidak mau gegabah. Hasil tes itu sanggup membungkam mamanya. Mamanya mungkin bisa menolak Naina, tetapi mamanya tidak punya alasan untuk menolak Wina.


Ia sudah tidak bodoh lagi. Belajar dari pengalamannya dulu, ia memilih melakukan tes dengan sampel darah dan usapan selaput lendir pipi untuk Wina. Meskipun ia harus membungkam pengasuh Wina demi bisa membawa putrinya ke rumah sakit. Setidaknya hasil ini lebih akurat dan tidak bisa disabotase lagi. Hanya saja, ia terpaksa menyembunyikannya dari Naina. Ia tidak mau Naina tersinggung karena dianggap meragukan Wina.


“Bagaimana, Nai?” tanya Wira.


“Apa Mas yakin?” tanya Naina, mengingat kembali bagaimana perlakuan Mama Wira padanya dan Wina beberapa waktu lalu.


“Yakin ... aku akan membawa Rima bersamaku. Aku tidak mau, Wina rewel.”


***


TBC