
“Nai, jangan pergi,” pinta Wira dengan suara lemah. Belitan tangan di pinggang ramping itu semakin erat, tubuh kekar yang biasanya gagah sekarang tampan lemas bersandar pada tubuh Naina.
“Ya, punggungmu basah, Mas. Sebaiknya ganti atasanmu.” Naina membantu Wira meloloskan kaos yang melekat di tubuh Wira, kemudian meletakannya di atas nakas.
“Di mana pakainmu, Mas? Aku akan mengambil gantinya.” Naina tersenyum saat melihat Wira tumbang, kembali memeluk gulingnya dengan nyaman. Kebiasaan Wira tetap sama. Harus tidur dengan memeluk guling. Pria itu tidak peduli dengan bantal kepala, tetapi guling merupakan barang terpenting untuk tidurnya.
“Di sana,” sahut Wira lemah, menunjuk ke arah ruangan di sisi kanan kamar.
Ragi-ragu, Naina berjalan menuju ke kamar yang masih terasa asing olehnya. Kamar Wira begitu luas, dengan sentuhan maskulin yang sangat terasa di setiap sisi. Melangkah masuk ke ruangan yang dimaksud Wira, Naina tersentak. Kaki gemetar, tidak sanggup melangkah lebih jauh lagi. Ruangan dengan lemari kaca tinggi di empat sisi. Tergantung rapi semua pakaian Wira. Tampak sebuah lemari besar, tersimpan sepatu-sepatu mahal Wira dan beberapa koleksi tas tangan brand ternama khusus pria.
Sisi Wira yang belum disibaknya selama ini. Meskipun ia tahu Wira sekarang sudah jauh meninggalkannya yang hanya berjalan di tempat dan tidak menjadi apa-apa. Terbukti, belasan mobil mewah Wira yang terparkir di basement, bukan mobil biasa.
Mencoba menjelajah ruangan yang layaknya sebuah butik khusus pria, Naina semakin dibuat terperangah saat mendekat ke lemari kaca yang berdiri di tengah ruangan. Puluhan jam tangan mewah tersusun rapi bersama dengan ikat pinggang dan perhiasan khusus pria, seperti cincin, gelang dan kalung.
“Seperti bukan Mas Wira saja,” ucap Naina. Terlalu terpesona dengan semua isi ruangan, ia melupakan tujuan awal masuk ke dalamnya.
Mengabsen satu persatu brand yang terukir di setiap produk mahal itu, Mata Naina membulat. Wira berubah jauh. Kalau dulu, Wira tidak peduli dengan penampilan. Hari-hari Wira hanya disibukan dengan pekerjaan dan dirinya. Sekarang Wira seperti manusia baru. Tampak puluhan botol parfum berjajar rapi di salah satu sudut lemari.
Menyadari sesuatu, Naina berjalan keluar. Ia tidak mau terlalu lama di dalam ruangan itu. Harga barang-barang Wira lebih mahal dari harga dirinya. Kalau sampai hilang, ia tidak akan sanggup menggantinya. Naina tersenyum, dan bergegas keluar.
“Mas, aku tidak tahu di mana kamu menyimpan pakaianmu.” Naina sudah berdiri di samping tempat tidur.
“Di dalam sana, Nai. Ambil saja! Terserah yang mana.” Wira berkata dengan suara serak. Menarik selimut tebal dan menutupi dada telanjangnya yang mulai kedinginan.
“Mas saja!” Naina menarik tangan Wira agar segera bangun dari tidurnya.
“Kepalaku sakit, Nai Sayang,” ucap Wira.
“Ayo, Mas. Bangun!”
“Kepalaku berdenyut, Sayang.” Wira terpaksa bangun.
Tanpa ragu-ragu, pria itu memeluk Naina dari belakang. Menjatuhkan kepalanya di pundak bunda dari anaknya. “Kepalaku sakit, Nai. Rasanya gempa bumi. Kalau tidak begini, aku bisa jatuh.” Wira beralasan. Berjalan dengan posisi memeluk dan menempel erat, berjalan berdua menuju walk in closet.
Menunggu Naina mencari pakaiannya, Wira berbaring telentang di sofa dengan satu kaki bertekuk. Tangan kanan menahan kepala, lengan kiri Wira menutup matanya dari silaunya penerangan di ruang pakaian.
“Mas, pakai kaos ini saja, ya?” tanya Naina membentangkan kaos hitam di depan Wira.
“Ya.” Wira tak banyak protes. Segera bangkit dan membiarkan Naina membantunya mengenakan pakaian.
“Aku akan membuatkan bubur untukmu. Setelah itu minum obat dan istirahat, Mas.”
***
Naina masuk kembali ke kamar Wira dengan semangkok bubur panas. Beruntung ada sebagian stok bahan makanan di kulkas. Sejak Naina dan putrinya tinggal di apartemen Wira, pria itu mulai mengisi kulkasnya dengan daging, sayuran dan buah-buahan.
“Mas, aku buatkan bubur dengan ayam suwir. Tadi asistenmu juga datang membawakan obat. Ayo makan sekarang,” bisik Naina.
“William datang?” tanya Wira.
“Bukan, yang satunya. Aku tidak mengenal yang ini.”
“Kevin.” Wira berkata pelan sambil berusaha bangun dan bersandar di tempat tidur.
“Sebentar ... ini masih panas, Mas.” Tampak Naina meniup pelan bubur di dalam sendok sebelum menyuapkannya ke dalam mulut Wira.
“Mas, istirahat saja. Kalau ada apa-apa, Mas bisa menghubungiku,” ucap Naina menunjuk ke arah ponsel Wira di atas nakas. Ia bisa lega saat memastika Wira sudah mengisi perut dan minum obat.
“Mau ke mana, Nai?” tanya Wira. Berbaring menyamping, pria itu membuka mata dan menatap Naina dengan tatapan sendunya.
“Mas istirahat saja supaya cepat sembuh.” Naina berpamitan, sembari merapikan selimut yang menutup tubuh Wira.
“Nai, temani aku di sini,” pinta Wira. Tiba-tiba, menahan pergelangan tangan Naina.
“Hah?” Naina terkejut. Pandangannya tertuju pada pergelangan tangannya yang digenggam erat Wira saat ini.
“Aku mohon temani aku malam ini, Sayang. Aku susah menghubungimu kalau membutuhkan sesuatu,” pinta Wira dengan manjanya.
“Please,” lanjut Wira dengan mata setengah terpejam.
Melihat kondisi Wira, Naina mengalah. Memilih duduk di atas karpet lantai, menemani di samping tempat tidur. Wira sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Tidak mengizinkannya pergi sepanjang malam. Ia hanya bisa duduk menunggu sampai tertidur dengan kepala tertelungkup di sisi ranjang.
***
“Maafkan aku, Nai. Aku terpaksa menahanmu di sini. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mencairkan kerasnya hatimu.” Wira berkata pelan, sorot matanya meredup saat melihat Naina tertidur karena kelelahan menjaganya sepanjang malam.
Jam di dinding menunjukan pukul tiga dini hari. Wira merasa sudah jauh lebih baik dibandingkan semalam. Kepalanya tidak sakit lagi, meskipun masih sedikit pusing. Bibir Wira terbelah lebar, senyum terukir di wajah pria tampannya saat netranya kembali terkunci pada Naina.
Bunda dari anaknya sedang duduk di lantai menelungkup di atas tempat tidur tepat di sampingnya. Wira bisa mendengarkan napas teratur yang menandakan seberapa lelapnya Naina saat ini. Rambut panjang itu tergerai berantakan di atas seprai putih, tangan Naina pun masih tetap menggengam tangannya di dalam tidur.
“Aku mencintaimu, Nai. Sangat mencintaimu. Cintaku masih sama seperti pertama kali kita bertemu, masih sebesar saat pertama kali menciummu. Masih sesempurna ketika pertama kali memilikimu. Dan tidak berkurang sedikit pun walau perceraian mengakhiri semuanya,” ucap Wira pelan, mengusap rambut panjang Naina dan menciumnya dengan lembut.
***
Naina terjaga dari tidurnya saat merasakan ada tangan kekar yang membelit tubuhnya. Mata indah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka sempurna. Jantungnya berdetak kencang dengan wajah kebingungan saat mendapati dirinya tidur di pelukan Wira. Jarak begitu dekat, deru napas saling beradu. Bahkan ujung hidung hampir bersentuhan. Memori beberapa tahun lalu, yang di kuburnya mulai tergali lagi. Kenangan indah yang ditanamnya dalam-dalam setelah palu hakim membentur meja dan mengesahkan gugatan perceraian itu mulai terbuka. Simpulan yang diikat dengan begitu kencang, mulai terurai perlahan.
Deg—
“Bagaimana bisa aku pindah ke atas tempat tidur. Seingatku, semalam aku duduk di lantai dan ....” Naina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya saat melihat dua mata yang sedang menatapnya penuh amarah.
Kebingungan belum terjawab, berganti ketakutan yang menyerangnya. Mantan mama mertuanya tampak berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Wajah perempuan tua itu hampir meledak, memerah menahan kemarahan.
Mama Wira menyentak tangan Naina. “Keluar dari kamar putraku!” perintah Mama Wira dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Setengah menyeret Naina, ia bahkan tidak peduli saat ini Naina belum sepenuhnya terjaga. Masih sempoyongan dan sedikit pusing saat dipaksa bangun tiba-tiba.
“Tunggu sebentar, Ma.” Naina berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki sang mantan ibu mertua. Cekalan tangan Mama Wira semakin mengeras dan mulai menyakiti pergelangan tangan.
Begitu keluar dari kamar Wira, Naina masih sempat melihat perempuan cantik duduk di sofa ruang tamu menyunggingkan senyum manis padanya. Begitu sempurna untuk gambaran seorang wanita. Sekilas layaknya seorang bidadari.
“Ikut aku! Kita harus selesaikan masalah ini sampai tuntas. Aku tidak mau pembicaraan kita terdengar anak bodoh itu!” Mama Wira mulai berani bersuara saat mereka berada di luar kamar.
“Apa yang kamu lakukan di kamar putraku! Jangan katakan kamu menjebak Wira dan tidur dengannya selama menumpang di sini!” tuding Mama Wira dengan suara menggelegar saat sudah berada di kamar Naina. Ia sengaja mengunci pintu agar pembicaraannya tidak terdengar siapa pun.
“Aku berharap kamu tidak sejalang Stevi! Jangan ganggu putraku. Dia sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku mengizinkanmu masuk ke rumah putraku hanya karena kamu adalah ibunya Wina. Ingat batasanmu, Nai. Kamu bukan siapa-siapa di sini. Kamu hanya menumpang di tempat Wira. Itu pun karena Wina. Kalau bukan karena Wina, aku sudah melemparmu ke jalanan saat ini!”
***
Tbc