
Kantor PW Group.
Ruang rapat perusahaan properti developer dan real estate itu tampak mencekam. Seorang pria dengan setelan hitam, terlihat mengetuk meja dengan kelima ujung jarinya. Iramanya begitu mengintimidasi. Duduk di posisi sentral, ia sedang mengamati semua bawahannya dengan mata elangnya.
Di sisi kiri, terlihat asistennya Kevin sibuk mencatat beberapa poin penting di tabletnya. Sedangkan di sisi lainnya tampak William sedang menyimak, sesekali membisikan sesuatu di telinga pimpinan PW Group, Pratama Wirayudha atau biasa dipanggil Wira.
Setengah jam memasang wajah serius, tiba-tiba sang pimpinan menghentikan rapat sepihak. Tanpa kompromi, tanpa alasan dan tanpa basa basi. Bahkan tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Berjalan meninggalkan ruang rapat begitu saja. Tanpa sepatah kata pun.
“Pak, apa ada yang tidak sesuai dengan keinginan bapak?” tanya William, salah satu asisten Wira. Mengekor atasannya, ikut keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Minta Kevin melanjutkannya. Kepalaku pusing.” Wira melangkah tanpa menoleh sedikit pun. Ia sedang menunggu informasi dari orangnya mengenai keberadaan wanita yang hampir tiga tahun ini menghilang begitu saja dalam hidupnya.
“Baik Pak.” William menurut, berbalik kembali ke ruang rapat.
Berjalan tergesa-gesa menuju ruangannya, Wira bisa bernapas lega saat menghempaskan tubuh di atas kursi empuk miliknya.
Menatap nanar ke seluruh sudut ruangan, hati Wira terasa hampa. Sudah tiga tahun, jiwanya kosong. Bagai raga tak bertuan. Tidak ada yang sanggup mengisinya. Bertemu dengan banyak orang, menangani proyek siang malam. Dari Sabang sampai Merauke, bahkan setahun belakangan Wira melebarkan sayapnya sampai ke Asia Tenggara.
Pencapaian luar biasa untuk perusahaan, tetapi tidak untuk dirinya. Keberhasilannya di pekerjaan, tidak sanggup mengembalikan dirinya yang dulu. Wira menghilang bersama dengan perceraiannya dengan sang mantan istri. Dirinya seakan mati saat Naina juga menghilang bak ditelan bumi. Ya, Naina Pelangie, wanita yang masih enggan pergi dari hatinya meskipun musim sudah berulang kali berganti.
Bersandar sembari memejamkan mata, Wira mengenang kembali masa-masa indah bersama wanita pertama dan terakhirnya.
“Kamu masih belum mau berdamai denganku, Nai?” ucap Wira pelan. Ada nada kehilangan setengah putus asa di setiap helaan napasnya.
Tidak ada yang tersisa, semuanya ikut pergi. Ia hanya ditinggalkan sepucuk surat, goresan tangan Naina yang semakin hari semakin lusuh karena berulang kali dibacanya. Tampak Wira menarik laci meja kerjanya, kembali mengeluarkan kotak kecil yang begitu berharga untuknya. Tempat di mana ia menyimpan peninggalan mantan istrinya.
Dikeluarkannya lagi secarik kertas yang tulisannya hampir luntur oleh air mata. Dibacanya kembali. Berulang kali membaca, tetap saja ia menangis. Puas meratapi pesan terakhir Naina, Wira kembali mengeluarkan surat yang lain, beserta test pack dengan dua garis merah.
Membukanya perlahan, seakan takut lipatan itu akan sobek.
Pak Wira,
Maafkan segala kesalahan Mbok selama ini. Mbok banyak berbuat salah dan curang selama tinggal bersama Pak Wira dan Ibu Naina.
Selamat, Pak. Ibu Naina hamil. Maaf, lagi-lagi Mbok mencurangi Bapak dan Ibu. Mbok janji akan menjaga Ibu Naina dan kandungannya dengan baik.
Salam,
Mbok Sumi.
Ditatapnya test pack itu dengan berlinang air mata, Wira masih berharap suatu saat akan melihat Naina bersama anak mereka. Asa dan harap itu selalu diselipkannya di setiap doa malamnya.
“Kamu di mana Nai? Apa kalian baik-baik saja?” bisik Wira pelan.
“Anakku sudah tumbuh besar? Aku harap kamu menjaganya dengan baik. Tidak kehilangan seperti yang sudah -sudah. Hanya itu yang tersisa dari hubungan kita,” lanjut Wira.
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Baru saja akan turun, tetapi terhenti dengan dering ponsel yang mengejutkan.
“Mama ....” ucap Wira, tersenyum kecut.
Dengan berat hati, menerima panggilan mamanya setelah sepanjang hari ini menolak.
“Wir, hari ini kamu pulang ke rumah, kan?” Terdengar suara nyaring dari seberang, bahkan di saat Wira belum sempat membuka suara.
“Tergantung.” Wira menjawab singkat.
“Apa maksudmu tergantung, Wir?” todong sang mama.
“Tergantung apa Mama mengundang seseorang ke rumah atau tidak.”
“Wir, kamu sudah 30 tahun. Sudah seharusnya memulai lagi. Yang sudah pergi, biarkan saja pergi. Sudah cukup kamu meratapinya. Anggap saja jodoh kalian sudah selesai. Mulailah membuka hati dengan yang baru lagi. Kesuksesan yang kamu kejar sekarang akan jadi sia-sia tanpa ada keluarga. Anak istri yang menemanimu, Wir.” Nasehat sang Mama Wira panjang lebar.
Tanpa banyak bicara, Wira mematikan ponselnya tiba-tiba. Bukan hanya mematikan, ia juga menonaktifkannya. Lelah dengan rencana-rencana mamanya yang tidak kenal putus asa. Letih dengan segala ocehan mama dan kalimat bijaknya yang memotivasi. Muak melihat puluhan gadis dibawa mamanya pulang hanya untuk dijodohkan padanya.
***
Bandung.
Sebuah pajero sport hitam terlihat berhenti tepat di halaman rumah yang masih asri. Dengan deretan pot plastik bercampur kaleng bekas susu yang dijadikan wadah tanam. Ada banyak bunga dan dedaunan menjadi penghias teras rumah.
Seorang pria tampan bermata biru yang tertutup kacamata hitam, tampak turun dengan boneka teddy bear berukuran raksasa di tangan kirinya. Melangkah masuk ke teras rumah perlahan, bersiap memberi kejutan.
“Wina!” teriaknya tiba-tiba. Sudah berjongkok di depan pintu rumah. Bersiap menyambut putri kecilnya yang berusia dua setengah tahun.
“Daddy!” pekik anak perempuan, berlari dari dalam rumah menghambur ke dalam pelukan sang pria.
“Kamu merindukan daddy?” tanya sang pria yang tak lain adalah Dennis Wijaya, membawa putri kecilnya duduk di pangkuan.
“Emmm.” Wina mengangguk. Membelitkan kedua tangan mungilnya di leher Dennis. Begitu posesif, seakan takut sang pria yang dipanggilnya daddy itu akan menghilang. Menghujami kecupan basah di sekujur wajah sang pria dewasa.
“Bonekamu, Sayang.” Dennis menyerahkan teddy bear raksasa yang bahkan ukurannya melebih sang gadis kecil.
“Maacih daddy,” ucap Wina, dengan gaya khas anak-anaknya. Menggoyangkan kedua kakinya yang tak menyentuh lantai saat duduk di paha kanan Dennis yang masih setia berjongkok.
“Rindu daddy?” tanya Dennis lagi.
“Lindu.”
“Kamu merindukan Bunda?” tanya Dennis lagi.
Wina terlihat berpikir, tidak paham dengan kata bunda. Sejak usia setahun lebih, dia sudah ditinggal ibunya bekerja ke luar negri. Gadis kecil itu tidak begitu mengenal sosok ibu selain, Mbok Sumi yang merawatnya selama ini.
“Kita video call dengan Bunda sekarang.” Dennis mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian menggendong Wina menuju bangku kayu di bawah pohon mangga.
Nada sambung itu hanya terdengar beberapa kali sebelum akhirnya muncul wajah wanita cantik memenuhi layar ponsel Dennis.
“Nai, apa kabarmu?” tanya Dennis sesaat melihat wajah bangun tidur Naina. Masih dengan piyama tidurnya.
“Baik. Di mana putriku, Mas?” Naina buru-buru bertanya. Hampir seminggu tidak bisa menghubungi Mbok Sumi, rindunya pada sang putri sudah menumpuk.
“Ini, silakan kalian berbincang.” Dennis mengarahkan layar ponselnya pada Wina.
Tidak ada percakapan apa pun, hanya terdengar suara Naina memanggil nama putrinya berulang kali. Suara wanita itu bergetar menahan tangis. Namun Wina tidak merespon. Gadis kecil itu sibuk dengan boneka di tangannya.
Hampir lima menit Naina bicara sendiri, Dennis pun mengarahkan layar ponsel padanya.
“Kapan kembali ke Indonesia, Nai?” tanya Dennis, mengambil alih pembicaraan.
“Kamu tidak merindukan putrimu?” lanjut Dennis lagi.
Naina terdiam, mengusap pelan air mata yang menetes di pipinya. Diingatkan tentang putrinya, dia langsung ambruk. Ibu mana yang bisa tahan berpisah jauh dari buah hatinya kalau bukan karena keadaan.
“Kontrak kerjaku masih sebulan, Mas. Setelah itu, aku pulang,” sahut Naina.
“Pulang dan tinggal di sini. Rawat putrimu baik-baik. Tidak perlu memikirkan apa pun. Aku akan mengurusi kalian,” pinta Dennis.
“Kapan Mas ke Bandung? Menginap berapa lama?” tanya Naina, mengalihkan pembicaraan.
“Barusan sampai. Aku segera menghubungimu, Nai. Seminggu lagi, aku harus ke Amerika. Mungkin dua minggu baru kembali. Mau aku jemput di Austria? Aku akan mengurus kepulanganmu.” Dennis memberi ide.
Naina menggeleng. “Tidak perlu, Mas. Aku bisa pulang sendiri. Kapan Mas kembali ke Jakarta?”
“Besok atau lusa, tergantung Wina. Putrimu ini tidak mau lepas dariku. Setiap kali aku ke Bandung, dia bahkan tidak mengizinkanku pulang.”
“Karena kamu selalu memanjakannya, Mas,” gerutu Naina.
“Kalau bukan aku yang memanjakan putriku, lalu siapa lagi. Pulang ke Indonesia secepatnya, aku merindukanmu, Nai!” ucap Dennis tersenyum usil.
***
TBC