
Istri mana yang tidak cemburu apabila suaminya dikabarkan sedang dekat dengan wanita lain. Sebesar apapun kepercayaan, tetap saja akan terselip curiga dan tanda tanya. Apalagi untuk Naina, ia yang merasa pernah dikhianati di masa lalu, pernah merasakan sakit dan perihnya saat rumah tangga disusupi orang ketiga. Pasti tidak mudah memberi kepercayaan seratus persen pada Wira.
Otaknya ingin percaya, tetapi hatinya masih belum bisa sejalan. Cemburu itu terkadang menghancurkan akal sehat dan logika, tetapi itulah faktanya.
Naina tertunduk. “Ya, Mas.” Pengakuan yang tidak terdengar jelas, Naina malu mengakui pikirannya yang mulai tidak sehat. Dulu, ia bisa memercayai Wira melebihi apa pun, sekarang terasa sulit untuknya. Semua yang dilakukan Wira, tetap saja ia menemukan celah untuk berburuk sangka.
Wira tersenyum. “Baguslah kalau masih cemburu. Artinya cinta itu mungkin sudah menyapa tanpa kamu sadari,” ungkap Wira.
Naina kian tertunduk. Baginya cemburu itu memalukan. Bukankah sebagai istri, harusnya ia memupuk kepercayaan lebih, bukan sebaliknya cemburu berlebih.
“Tidak apa-apa kalau cemburu. Setelah kembali ke Jakarta, aku akan mempertemukanmu dengan Sheilla. Dia akan menjelaskan apa yang terjadi.” Wira menenangkan.
***
Dari Malioboro, keluarga kecil itu mengunjungi makam kedua orang tua Naina. Ayah dan ibu mertuanya itu dimakamkan terpisah. Ayahnya dimakamkan bersama istri pertamanya dan Ibu Naina sendirian di pemakaman umum lainnya.
Setelah mengunjungi makam ayahnya, di sinilah Naina. Bersimpuh di makam ibunya bersama Wina, putrinya. Sekian tahun meninggalkan Yogyakarta, Naina baru kembali lagi sekarang. Makam ibunya tidak terurus, berantakan dan tidak pernah dikunjungi.
“Ibu, maafkan, Nai.” Ibu hamil itu mengelus batu nisan, tertunduk dan menyimpan tangisnya.
“Aku datang bersama putriku dan Mas Wira, Bu,” bisik Naina pelan. Wina terlihat berjongkok di sebelahnya, memainkan setangkai bunga mawar merah.
Wira tampak berdiri di ujung makam, memberi tempat untuk Naina berkeluh kesah, berbagi cerita dan melepas rindu. Pria itu sadar kalau Naina pasti butuh waktu berdua dengan ibunya.
“Nai, biarkan Wina bersamaku. Aku akan membawanya ke mobil.” Tiba-tiba Wira berkata. Pria itu berjalan mendekat dan bersiap menggendong putrinya.
“Ayo, Sayang. Biarkan Bunda mengobrol dengan Oma, kita menunggu di mobil saja.” Wira membungkuk dan meraih tubuh putrinya. “Sudah berpamitan dengan Oma?” tanya Wira sembari berjalan ke mobil.
“Beyum, Yah. Oma tidak ada,” ucap Wina dengan polosnya.
“Ya sudah, kita tunggu Bunda di mobil saja. Di luar panas,” ungkap Wira.
Hampir setengah jam bermain dengan Wina di dalam mobil, Wira akhirnya menyusul turun saat memastikan putrinya tertidur. Ia tidak tenang, mengkhawatirkan Naina yang tak kunjung kembali.
Saat langkah kaki bergerak mendekat, Wira melihat Naina menangis sembari memeluk batu nisan ibunya.
“Bu, terkadang aku berpikir ....” Naina terisak.
Wira bisa mendengar jelas saat langkah kakinya kian dekat.
“Aku merindukanmu, Bu. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa, terkadang aku ingin menyerah saja dan pergi bersamamu. Tapi, aku sadar ....” Isak tangis Naina terdengar kembali. Ibu hamil itu menangis sesenggukan, menumpahkan isi hati yang selama ini disembunyikannya.
“Aku memiliki Wina yang masih membutuhkanku,” lanjut Naina. Ia terduduk di tanah, menikmati detik-detik di mana bebas mengeluarkan isi hatinya tanpa harus menjaga perasaan orang lain, tanpa harus memikirkan orang lain. “Aku lelah dengan hidupku sendiri.”
Menumpahkan perasaan, Naina tidak sadar Wira sudah berdiri di dekatnya dan ikut mendengar semua keluh kesah yang dipendam selama ini. Sendirian dan tak pernah mau dibagi pada orang lain.
“Nai, sudah?” tanya Wira, mengejutkan Naina.
“Mas." Naina tersentak. Tanpa sadar mengangkat pandangannya dan buru-buru mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.
“Wina sudah ketiduran menunggumu di mobil.”
“Oh. Kalau begitu, kita pulang saja.” Naina segera berdiri, kedua kakinya kesemutan karena terlalu lama bertekuk.
Setelah memastikan Naina masuk ke dalam mobil, barulah Wira bersuara.
“Bu, jangan khawatir. Aku akan menjaga dan membahagiakan Naina seperti janjiku dulu. Aku tidak akan membuatnya terluka dan menangis lagi.” Wira menghela napas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Aku pernah menyakiti Naina, aku minta maaf padamu. Aku bersumpah, tidak akan mengulanginya lagi.” Mata Wira berkaca-kaca, teringat kembali dengan kata-kata Naina yang baru saja didengarnya.
Terdiam sejenak, akhirnya Wira pun berpamitan pulang. Entah kapan lagi ia bisa membawa Naina dan anak-anaknya mengunjungi makam mertuanya. Terselip sesal di hati Wira saat memandang makam-makam lain yang terurus dan rapi. Jauh berbeda dengan makam ibu mertuanya yang tidak terawat. Ia merasa menjadi menantu yang tidak berguna, hartanya di dunia yang selalu dibangga-banggakan jadi tidak ada artinya. Jujur saja, Wira merasa malu. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sampai mengabaikan hal yang begitu penting untuk istrinya.
***
“Nai ....” Wira membuka suara sesaat setelah menghempaskan tubuhnya di atas kursi mobil.
“Ya, Mas.” Naina sedang merapikan sabuk pengaman yang mengikat tubuh besarnya.
“Maafkan aku.” Wira tampak sedih, menggenggam erat kemudi.
“Kenapa, Mas?” Naina heran.
“Aku minta maaf, selama ini melupakan kedua orang tuamu. Aku terlalu sibuk dengan banyak hal, sampai-sampai tidak ada waktu mengingat mereka.”
“Mas, kamu kenapa?” tanya Naina bingung.
“Coba cari orang yang bisa merawat makam ibumu di saat kita tidak bisa berkunjung ke sini. Jarak Jakarta – Yogyakarta itu memang tidak terlalu jauh, tetapi dengan kesibukanku, akan sulit sekali berkunjung setiap saat.”
Naina tertegun.
“Maafkan aku. Aku sudah gagal sebagai menantu. Aku harap Ibu masih memberiku kesempatan,” lanjut Wira.
Naina terdiam beberapa detik dan membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Tanpa ragu-ragu, Naina menghempaskan malunya. Ibu hamil itu menghambur, menyeberangkan tubuh dengan perut besarnya dan memeluk erat suaminya.
“Terima kasih, Mas.” Naina menatap Wira dan memberi kecupan hangat di bibir suaminya.
“Jadwalkan saja kapan kita harus mengunjungi ibu. Aku tidak masalah dan akan meluangkan waktu,” bisik Wira, menikmati pelukan erat sang istri.
“Terima kasih, Mas. Kamu masih mengingat ibuku.”
“Selama ini kita melupakannya. Bukankah tanpa ibu, tidak ada dirimu. Tidak ada wanita yang aku cintai,” ungkap Wira. Ia benar-benar tertampar. Ibu mertuanya tidak memiliki keluarga selain Naina, berbeda dengan ayah mertuanya masih ada kerabat jauh yang sering mengunjungi dan mengirim doa.
Naina benar-benar terharu. Ibu hamil itu masih belum bisa menerima kebahagiaan yang tiba-tiba datang menghampirinya tanpa diduga sebelumnya. “Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu, Mas.”
Pelukan Naina semakin erat, ia bahkan menghadiahkan kecupan lagi di bibir Wira.
"Aku juga mencintaimu, Nai." Keduanya saling menatap dan melempar senyuman, tanpa sadar akan keberadaan gadis mungil di kursi belakang yang merasa terabaikan.
“Sudah beyum? Aku lapal.” Tiba-tiba terdengar suara Wina dari kursi belakang. Gadis itu terbangun sejak tadi dan melihat ayah dan bundanya berpelukan.
***
Tertinggal beberapa bab lagi dan kisah ini akan berakhir.