
“Nai, ada yang ingin Mas sampaikan.” Wira menatap Naina yang sedang merapikan kembali meja makan selepas makan malam dengan dibantu Mbok Sumi.
“Ya, Mas.” Jawaban singkat. Naina menatap suaminya sebentar, kemudian melanjutkan mengangkat piring kotor dan meletakannya ke dalam bak cuci piring. Mbok Sumi tampak sibuk di depan kran, serius mencuci piring-piring kotor dengan spon.
“Bu, biarkan saja aku mengurus semuanya. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Bapak. Sejak tadi menunggu Ibu di meja makan,” ungkap Mbok Sumi. Asisten rumah tangga itu sudah membaca semua gelagat majikannya yang terlihat tidak nyaman dan gelisah. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
“Baiklah, Mbok. Aku tinggal.”
Kembali ke meja makan, Naina terenyuh melihat raut sedih yang terus bergelayut di wajah tampan suaminya. Sejak kemarin mata sendu dengan tatapan teduh itu seakan memohon, memelas ampunan padanya.
“Mas, kita bicara di kamar saja,” ucap Naina pelan. Melihat ekspresi Wira, Naina berinisiatif menggengam tangan Wira.
Tentu saja Wira terkejut mendapatkan perlakuan semanis itu dari Naina. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, ikut mengencangkan genggaman tangannya pada Naina. Sejak semalam, istrinya menolak semua kemanjaan, kemesraan darinya, tetapi sekarang tiba-tiba memulai semuanya duluan. Asa itu kembali mengembang di dalam hati. Harap itu membuncah kembali.
“Terima kasih, Nai,” bisik Wira, sembari berjalan menuju kamar dengan tangan terus menggenggam.
Naina hanya melempar senyuman tipis, tanpa membuka suara.
*“Maafkan Nai, Mas. Ini pasti berat, untukmu. Nai tahu bagaimana perasaanmu. Itu juga yang Nai rasakan saat melewati dua minggu ini. Mas tahu sekarang, bagaimana hancurnya hati Nai saat mengetahui Mas menikahi Stevi dan memiliki anak dari rahim wanita lain selain Nai. Sakit, Mas! Sesakit yang Mas rasakan sekarang.” *Naina bermonolog.
***
“Nai, Mas sudah menceraikan Stevi!” Wira berkata, sesaat menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur. Duduk di tepi ranjang dan memulai pembicaraan serius dengan istrinya. Berjuang untuk meluluhkan hati Naina agar menghentikan niat berpisah.
“Bagaimana dengan Nola, Mas?” Tertegun sesaat, Naina akhirnya membuka suara.
“Mas akan tetap bertanggung jawab pada Nola. Mas akan membiayai Nola, juga Stevi. Untuk Stevi, paling tidak sampai dia menemukan laki-laki lain.”
“Maksudmu, Mas?” tanya Naina bingung.
“Mas ... berencana memecat Stevi,” jelas Wira.
Naina mengangguk. “Nai tidak mau ikut campur untuk masalah ini. Nai merasa sudah tidak berhak lagi. Nai hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mas.” Naina yang tadinya berdiri, ikut menjatuhkan bokongnya di samping Wira.
“Nai, bisakah kita tidak bercerai?” tanya Wira pelan. Tiba-tiba, merengkuh tubuh wanita yang masih berstatus istrinya itu, memeluknya erat.
Naina diam, Naina bungkam, Naina tidak bersuara. Bahkan dia tidak membalas pelukan Wira. Hanya menggigit bibir menahan air matanya tidak tumpah. Menahan kelopak mata yang memanas itu tidak berair dan mengeluarkan tangis.
“Nai sudah tidak mencintai Mas lagi?” tanya Wira lagi. Lama menunggu jawaban, Naina masih menutup ratap mulutnya.
“Masih ....” sahut Naina dengan suara bergetar.
“Sangat, Mas. Nai tidak tahu setelah berpisah denganmu, apa masih bisa jatuh cinta lagi,” ucapnya di sela pelukan Wira yang begitu erat.
“Nai, apa kita sudah benar-benar tidak memiliki kesempatan? Lima tahun ini apa tidak bisa diselamatkan?” tanya Wira, setelah mengurai pelukannya.
Naina menggeleng.
“Di saat seperti ini, kamu masih sama keras kepalanya.” Wira tersenyum kecut.
“Mas tetap tidak mau bercerai. Mas berjanji akan melakukan apa pun yang Nai minta asal, kita tidak perlu berhadapan di pengadilan. Mas harus bagaimana supaya Nai bisa memaafkan semuanya?”
“Takdir itu sudah ditulis, Nai hanya mengikuti ke mana garis hidup itu akan membawa Nai pada akhirnya. Mungkin kalau perempuan lain akan bersikap berbeda, tetapi Nai tetap Nai, tidak bisa disamakan, Mas. Bahkan dari awal Mas sudah tahu semuanya.”
“Nai tidak marah padamu, Mas. Tidak juga benci. Hanya meratapi nasib Nai sendiri. Andai Nai di posisi Mas, mungkin juga akan menikahi Stevi.” Naina melanjutkan.
“Nai sudah memaafkanmu, Mas. Terlebih setelah membuktikan sendiri Nola adalah putrimu. Nai tahu, yang Mas lakukan sudah benar. Malah seharusnya Mas menikahi Stevi secara resmi, supaya bisa mengakui putrimu secara hukum, bukan malah menceraikannya ... tetapi pilihan itu ada di tanganmu, Mas. Dan Nai tidak mau terlibat di dalamnya.” Naina menahan gejolak rasa yang menghantam di dadanya.
Bukan hal mudah mengeluarkan kata-kata indah, layaknya sang motivator di tengah hatinya yang hancur berkeping-keping. Dia hanya terlihat kuat, tetapi sebenarnya dia tak jauh beda dengan Wira. Sama sakitnya, sama terpuruknya, sama menangisnya. Hanya saja dia adalah Naina Pelangie. Hujan akan berhenti dan akan ada pelangi indah menghiasai cakrawala setelahnya. Sama seperti keadaannya saat ini, tangisannya akan berhenti suatu saat dan dia pasti bisa tersenyum lagi setelahnya.
“Terima kasih, Nai. Sampai detik ini kamu tetap dewasa menghadapi semuanya. Meskipun selalu keras kepala.” Wira tersenyum kecut. Meraih tubuh Naina kembali dan memeluknya erat.
“Tidur sekarang, Mas. Ini sudah malam. Besok, Mas harus kerja,” ucap Naina berusaha tersenyum. Diraihnya tangan kekar Wira yang tergeletak melemas. Ditautkannya dengan jemari tangannya.
“Aku mencintaimu, Mas. Kalau memang kita ditakdirkan bersama ... akan ada jalan menuju ke sana. Saat ini, aku tetap memilih berpisah. Sebut saja aku egois, Mas. Karena bersembunyi di balik alasan demi untukmu dan Nola.”
Deg—
Kalimat-kalimat Naina barusan menyadarkan Wira, kalau istrinya sudah sangat yakin untuk berpisah. Cara bicara Naina sudah berubah. Tidak ada lagi gaya bicara khas manja wanita 22 tahun itu. Naina sudah menyebutkan dirinya dengan aku, sama seperti saat berbicara dengan orang lain.
***
Dua minggu setelah pembicaraan malam itu, sepucuk surat dari pengadilan menyapa Wira di kantor. Sekretarisnya yang baru terlihat masuk dan menyerahkan langsung ke atasannya. Harusnya surat itu di alamatkan ke rumah, tetapi Naina meminta bantuan kurir menyampaikan langsung ke kantor Wira.
“Pak, ada surat untuk Bapak,” ucapnya tersenyum. Baru seminggu naik jabatan setelah sekretaris lama Wira mengundurkan diri. Gadis manis yang tadinya hanya seorang staff biasa naik posisi menjadi sekretaris direktur.
“Letakan di meja saja.” Wira menjawab, tanpa mengalihkan perhatian dari tumpukan berkas di depannya. Membaca sekilas dan mencoret data-data yang dianggapnya janggal.
Setengah jam fokusnya belum teralihkan. Pria tampan itu baru memindahkan pandangannya saat tenggorokannya kering butuh cairan untuk melegakan. Saat itulah, netra beningnya menangkap surat dari pengadilan yang tercetak jelas di amplop.
Tersenyum kecut sebelum meraih dan membukanya. “Akhirnya kita sampai di episode ini, Nai.”
***
TBC