Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 10


Sepanjang perjalanan, obrolan keduanya didominasi oleh cerita tentang Wina. Sesekali Dennis bertanya mengenai kehidupan Naina di Austria. Pria tampan yang sedang fokus dengan kemudi itu tampak melirik penumpang cantik yang duduk manis di sebelahnya.


Rambut hitam sebahu tergerai indah, hidung mancung dengan wajah ayu itu masih sama seperti setahun yang lalu. Hanya saja Naina terlihat lebih kurus dari biasanya.


"Mas, bagaimana kabarmu?" tanya Naina mengalihkan pembicaraan. Hampir tiga tahun mengenal Dennis, tidak banyak yang diketahuinya. Naina tidak pernah memiliki keberanian bertanya terlalu jauh mengenai kehidupan pribadi pria itu.


"Baik, Nai." Dennis melempar senyuman. Naina pun melakukan hal yang sama, melirik sang sopir pajero sport hitam dengan penuh kekaguman. Setelah Wira dan Tria, Dennis adalah pria ketiga di dalam hidupnya. Naina merasa memiliki seorang kakak setiap bersama Dennis.


Perkenalan mereka berawal saat Mbok Sumi sakit beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Wira. Dennis, sang putra angkat Mbok Sumi terbang dari Amerika untuk mengurus ibu angkatnya. Sejak saat itu, hubungan mereka mulai tak berjarak. Apalagi belakangan Dennis mulai mengunjungi Mbok Sumi secara berkala. Dari sana awal mula kedekatan mereka yang seperti keluarga.


Dan saat itu juga, Naina mengetahui kalau rumah yang ditempatinya dan Mbok Sumi tak lain adalah milik Dennis. Ingin rasanya pergi kala itu, tetapi Dennis menahannya. Mengingat kehamilannya yang mulai membesar. Ia terpaksa menerima semua bantuan Dennis.


Apalagi saat memasuki trimester kedua, kehamilannya mengalami masalah. Sempat terjadi pendarahan hebat, sampai Dennis yang kebetulan saat itu sedang berkunjung ke Bandung tidak mengizinkannya bekerja lagi.


Ya, kehamilan Wina dijalaninya dengan berat. Berawal dari ketidaktahuannya. Ia baru mengetahui kehamilannya saat memasuki usia kandungan 12 minggu. Dua minggu pasca perceraian, barulah ia mengetahui kalau ia hamil. Itu pun berkat bantuan Mbok Sumi yang memaksanya memeriksakan diri ke bidan kampung.


Proses perceraian membuatnya mengabaikan siklus bulanannya yang tak kunjung datang. Beratnya perceraian bahkan membuatnya susah untuk bangkit dari keterpurukan. Satu-satunya yang membuatnya kuat adalah kehadiran Wina yang masih ada di dalam kandungan. Janin yang tumbuh di rahimnya adalah alasan ia menata kembali hidupnya setelah berpisah dari Wira.


Tadinya, ia sempat bekerja di salah satu toko kue. Meski pun gajinya tidak seberapa, tetapi masih cukup untuk menghidupinya dan Mbok Sumi meskipun hanya hidup sederhana. Ia tidak mau menggantung hidup dengan Dennis, sebisa mungkin ia juga ingin bekerja. Namun takdir berkata lain, akhirnya ia tetap harus menyusahkan Dennis meskipun di luar keinginannya.


Karena ia bermasalah dengan kandungannya, akhirnya Dennis memutuskan untuk menanggung semua biaya hidup Naina dan Mbok Sumi. Keadaan itu terus berlanjut sampai Wina lahir dan berusia satu tahun. Di saat itulah Naina merasa sungkan kalau harus terus-menerus menggantungkan hidupnya pada Dennis.


Dengan membulatkan tekad, akhirnya Naina mendapatkan kesempatan bekerja mengurus Pieter di Austria. Itu pun dengan perjuangan yang tidak mudah, Dennis tidak mengizinkannya. Pria itu merasa masih mampu untuk membiayai Naina dan putrinya.


"Nai, aku belum mengabarimu. Seminggu yang lalu ... aku sudah membawa Mbok Sumi dan Wina pindah ke Jakarta." Dennis membuka suara.


"Hah? Kenapa bisa begitu?" tanya Naina heran.


"Aku mengkhawatirkan kalian. Kalau kalian di Jakarta, aku lebih mudah mengawasinya." Dennis beralasan.


"Apa ada masalah?" tanya Naina semakin heran.


"Entahlah, aku mendapat kabar dari Pak Lurah kalau banyak yang mencari tahu tentangmu selama kalian tinggal di Bandung. Aku khawatir mereka berniat jahat," lanjut Dennis.


"Apalagi mulai sekarang aku akan lebih sering tinggal di Amerika. Putriku semakin bertambah besar, pasti membutuhkan kehadiranku di sampingnya. Aku tidak bisa terus-terusan meninggalkannya bersama pengasuh," cerita Dennis.


Naina mengalihkan pandangannya. Ini kali pertama Dennis menceritakan kehidupan pribadinya.


"Mas sudah berkeluarga? Mbok Sumi kenapa tidak pernah mau bicara setiap aku menanyakan tentangmu, Mas." tanya Naina.


Dennis tergelak. "Sebaiknya tidak perlu tahu banyak tentangku. Nanti kamu jatuh cinta padaku," canda Dennis, melirik Naina.


"Aku serius, Mas."


"Aku daddy dari dua orang putri. Pelangie Wijaya dan Wina Pelangie Wirayudha." Dennis menjawab.


"Putrimu ...." Naina menggantungkan kalimatnya. Benar-benar kejutan. Ia tidak pernah tahu tentang kehidupan Dennis selama ini. Pria itu begitu misterius.


"Aku serius, Mas. Lalu istrimu?" tanya Naina, mulai terpancing penasarannya.


"Aku tidak memiliki istri. Angie sudah cukup melengkapi hidupku. Apalagi sekarang aku memiliki Wina juga." Dennis berkata.


"Kenapa tidak pernah membawa Angie bersamamu?" tanya Naina lagi.


"Dulu dia masih terlalu kecil." Dennis menjawab singkat.


"Kalau sekarang?" Naina tidak henti-hentinya bertanya.


"Sekarang berusia lima tahun lebih. Sejak setahun yang lalu Angie tinggal bersama opanya di Amerika."


"Hah? Kenapa jauh sekali, Mas. Apa kamu tidak merindukannya?" tanya Naina.


"Kapan saja aku bisa terbang ke sana kalau merindukannya. Sejak kamu memutuskan bekerja di Austria, aku harus bolak balik Jakarta - Bandung lebih sering dari biasanya. Apalagi Wina sudah mulai dekat denganku. Terkadang aku harus meninggalkan Angie berhari-hari bersama pengasuhnya saat aku menemani Wina. Jadi aku putuskan menitipkan Angie bersama opanya. Saat aku tidak ada, setidaknya ada Opanya menemani." Dennis menjelaskan.


"Maafkan aku, Mas. Karena aku dan Wina jadi kamu harus berpisah dengan putrimu." Naina merasa bersalah.


"Sudahlah. Aku tidak masalah." Dennis tersenyum.


"Tinggallah di Jakarta, tidak perlu bekerja. Aku akan membiayaimu dan Wina. Kasihan putrimu, dia membutuhkanmu, Nai," pinta Dennis.


"Wina sudah tidak memiliki ayah. Apa kamu tega membuatnya tidak memiliki ibu juga." Dennis mengingatkan. Sorot mata pria itu meredup, mengingat kembali masa kecilnya dulu. Ia hanya memiliki papa, tanpa ada mama. Mungkin kalau dulu ia ikut dengan mamanya, ceritanya akan sedikit berbeda.


Kalimat Dennis cukup menyentak Naina. Wanita itu tertunduk, menyembunyikan kesedihannya. Dua bulir air mata jatuh tiba-tiba.


"Tidak berniat mengenalkan Wina pada mantan suamimu, Nai?" tanya Dennis. Ia menghentikan laju mobilnya. Perlahan mengeluarkan sekotak tisu dari laci dashboard dan menyerahkannya pada Naina.


"Bukankah Wina juga berhak mengenal ayahnya. Ayah yang sebenarnya." lanjut Dennis. Pria itu bicara begitu mudahnya, bahkan seperti tidak ada beban apa- apa.


“Aku tidak tahu, Mas.” Naina berkata lirih. Meraih selembar tisu dan mengusap air matanya.


“Terlepas kamu akan kembali atau tidak padanya, bukankah dia berhak mengenal putrinya.” Dennis berkata.


Kalau ditanya apa Dennis menyesal? Tentu saja dia akan mengatakan menyesal. Apalagi setelah melihat Wina, dia benar-benar merasa bersalah.


***


To be continue


Love you all


Terima kasih