
Terbangun di sebuah kamar asing, kepala Naina berdenyut hebat. Pusing masih menyapa, dunia serasa berputar, pandangannya berkunang-kunang. Semburat cahaya matahari menerobos masuk dari celah jendala kamar. Naina bisa merasakan terik pagi menyerang sebagian wajahnya.
“Kepalaku ....” Naina memijat kepalanya. Ia belum sepenuhnya sadar dengan keadaannya saat ini.
Butuh beberapa menit untuk mengumpulkan ingatan yang terburai. Mata indah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Pandangan berbayang itu semakin lama semakin jelas, seiring dengan memori yang sempat hilang perlahan mengumpul.
Naina tersentak. Ingatan terakhirnya saat berada di toilet, tempat acara perusahaannya digelar.
Deg—
Memaksa tubuh lemahnya bangun dan duduk, jantung Naina semakin tak karuan. Bergemuruh saat menyadari kondisinya saat ini. Tidak ada selembar benang pun melekat di tubuhnya. Tubuh telanjangnya hanya tertutup selimut tebal.
“Apa ini?” tanya Naina panik. Dadanya bergemuruh hebat, mendekap selimut yang melorot menampilkan bongkahan dadanya membulat sempurna.
Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, ibu muda itu sedikit bernapas lega saat memastikan tidak ada yang bersamanya. Ia sendirian.
“Bagaimana aku bisa sampai di sini? Siapa yang membawaku ke sini?” Naina bermonolog. Bola matanya menyiratkan tanda tanya besar, berputar dari satu sudut ke sudut kamar untuk mencari tahu. Tanya itu semakin menyesak di dada saat melihat gaun hitamnya terlipat rapi di atas sofa, tidak jauh dari tempat tidur.
“Siapa yang melakukan semua ini?” tanya Naina. Paniknya belum hilang, sebaliknya ia semakin ketakutan saat merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Badannya terasa remuk. Ia memang tidak ingat apa-apa, tetapi ia merasa sesuatu telah terjadi padanya. Sebagai wanita yang pernah bersuami, walau tidak tahu apa yang telah dilewatinya semalam. Nalurinya mengatakan kalau semalam telah terjadi sesuatu padanya.
“Apa aku ....” Naina terngaga, netranya membola. Berlari ke kamar mandi, ia harus mencari tahu dan memastikannya sendiri.
Setengah jam kemudian, ia keluar dengan tubuh melemas berbalut handuk. Sakit kepala dan pusingnya menghilang seketika. Dadanya sesak, tidak tahu harus bagaimana. Ia yakin telah terjadi sesuatu semalam, tetapi ia tidak tahu siapa. Bagaimana ia harus mencari tahu pelakunya.
Terduduk di sisi ranjang, matanya mengembun. Berusaha untuk kuat dan tidak menangis, tetapi cairan bening di netranya mendesak keluar. Tidak bisa ditahan.
“Aku harus bagaimana? Siapa dia?” Naina berkata lirih di tengah isaknya. Tangannya mengepal, menahan rasa yang mengumpul di dada. Teringat putrinya, perasaan Naina semakin kacau. Pasti Rima dan Wina mencarinya semalaman.
Meraih tas tangan yang ditumpuk di atas gaunnya yang terlipat rapi , Naina memastikan barang-barang di dalam tas mungilnya. Semuanya masih lengkap, ponsel dan dompetnya masih ada, tidak ada barang yang hilang, kecuali tanda pengenal. Ibu muda itu tampak berpikir, langkah apa yang harus dilakukannya.
***
“Mbak ... maaf. Saya tidak tahu jelas apa yang terjadi. Tiba-tiba terbangun sudah ada di kamar 205 hotel ini. Kamar 205 dipesan atas nama siapa, ya?” tanya Naina mencari tahu ke bagian reservasi.
“Tunggu sebentar, Bu,” sahut staff hotel yang bertugas.
“Atas nama Ibu Naina Pelangie. Kartu pengenalnya masih di titipkan di sini, tetapi administrasinya sudah diselesaikan. Ibu bisa keluar kapan saja,” jelas gadis berseragam biru muda dengan nama hotel tersulam di saku atasannya.
“Kira-kira, saya bisa mendapatkan informasi lebih di mana ya, Mbak. Saya butuh mengetahui siapa yang mengantar saya di sini.”
“Di sini hanya terdata nama Belinda, dari RD Group.” Sang gadis menambahi.
Pundak Naina melorot. Ia tidak mengenal nama itu sama sekali. “Mbak, apa saya bisa mengecek cctv? Saya butuh mengetahui siapa yang membawa ke sini. Ada beberapa barang pribadi yang hilang. Saya harus mencari tahu dari orang yang mengantar saya ke sini,” ujar Naina berdusta.
Setelah membujuk dengan berbagai alasan, akhirnya Naina diizinkan untuk masuk ke ruangan cctv dan memastikan sendiri. Dengan ditemani staff hotel yang bertugas, Naina mengindentifikasi wajah gadis dan seorang pria yang membawanya ke hotel.
“Itu gadis ... yang aku temui di toilet sebelum jatuh tidak sadarkan diri. Ya, aku masih mengingat wajahnya. Tidak salah lagi,” cicit Naina, kedua tangannya saling meremas saat melihat rekaman cctv di lobi hotel.
“Tapi siapa pria itu?” Naina bermonolog. Menatap pergerakan pria berbadan tegap dengan postur tinggi tegap, menemani sang gadis. Tampak tato menyembul dari lengan kaosnya. Mengenakan masker untuk menutupi separuh wajahnya, pria itu juga menutup kepalanya dengan topi hitam.
Naina menggeleng. “Tidak, Pak. Em ... apa ada cctv di koridor kamar 205. Saya mau melihat yang di sana juga. Aku ingin memastikan apa ada yang masuk dan keluar dari kamar itu.” Naina meminta dengan sopan.
“Baik. Tunggu sebentar, Bu.” Terlihat ia memutar ulang rekaman cctv di koridor kamar tempat Naina bermalam.
Naina hanya bisa menatap tanpa berkedip. Tidak ingin melewatkan sedikitpun. Jantungnya berdetak tak karuan, kedua tangannya meremas ujung gaun hitam yang dikenakannya kembali pagi ini. Ia bisa bernapas lega dan menghempaskan curiganya saat mendapati tidak ada siapa-siapa yang masuk ke dalam kamar hingga pagi tiba, hanya sang gadis yang memapahnya masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar. Pria berbadan besar itu hanya menunggu di luar kamar.
“Terima kasih, Pak.” Raut ketenangan terlihat nyata di garis wajah Naina. Seulas senyuman merekah di wajahnya. Sejak tadi berkeyakinan telah terjadi sesuatu padanya, tetapi ia sudah memastikan tidak ada yang masuk ke dalam kamarnya, kecuali gadis yang ditemuinya saat di toilet.
“Mungkin perasaanku saja. Semoga tidak terjadi apa-apa semalam. Mungkin gadis itu yang melepas pakaianku.” Napasnya terasa ringan, berjalan keluar ruangan dengan langkah pasti. Ia harus segera pulang ke rumah. Putrinya pasti sudah sangat merindukannya. Ponselnya mati entah sejak kapan, ia tidak bisa mengabari Rima.
Setelah kepergian Naina, pria yang tadi menemani di ruang cctv tampak menghubungi seseorang.
“Ya, Pak. Semuanya beres.” Suara berat pekerja hotel itu terdengar melapor pada seseorang dengan ponselnya.
“Baiklah. Terima kasih bantuannya. Aku akan mengirimkan uangnya ke rekeningmu.” Terdengar suara maskulin seorang pria dari seberang.
“Baik, Pak.”
“Sudah dipastikan wanita itu tidak curiga sama sekali, kan?”
“Sudah Pak. Aman. Saya pastikan tidak akan terjadi masalah.”
***
Naina turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Perasaannya jauh lebih ringan, bebannya hilang. Ia hanya perlu mencari alasan untuk Rima. Gadis itu pasti heran.
Begitu melangkah masuk ke pekarang rumah, Wina yang sedang bermain di halaman depan segera berlari menyambutnya.
“Bundaaaa ....” pekiknya. Wina hampir terjatuh saat tanpa sengaja kaki kecilnya tersandung puing bekas pengerjaan renovasi rumah yang belum sempat dibuang.
“Sayang. Maafkan Bunda, semalam tidak pulang.” Naina meraih tubuh mungil putrinya dan melabuhkan kecupan bertubi-tubi. Dihantam rasa bersalah, sudah membuat Wina tidur sendirian tanpa pelukannya.
Tampak Rima berjalan mendekat. “Ibu dari mana saja?”
“Maaf. Ada sedikit masalah, Rim. Jadi semalam aku tidak pulang.” Naina menjawab seadanya. Ia belum mencari alasan yang tepat.
“Bu... maaf. Aku semalam menghubungi Pak Wira, karena Ibu tidak pulang-pulang,” tutur Wina terbata.
“Hah?” Naina tersentak.
“Bapak sepertinya sedang mencari Ibu. Maaf, aku menghubungi nomor ponsel Ibu tetapi tidak diangkat, terakhir ponsel Ibu sudah tidak aktif. Jadi aku putuskan meminta bantuan Pak Wira.” Rima merasa bersalah.
“Ya Tuhan,” ucap Naina, menurunkan putrinya dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia harus segera mengisi baterai ponsel dan mengabari Wira kalau ia baik-baik saja.
***
Tbc