Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 37


Kembali ke Jakarta, Wira dan Naina memulainya dari awal lagi. Membangun keluarga kecil dan menghempaskan sebagian kisah masa lalu yang tidak pantas untuk diingat dan dibawa saat merajut masa depan.


Sebentar lagi akan hadir buah hati mereka yang kedua, berbagai persiapan pun mulai dilakukan Mungkin sedikit terlambat di saat usia kandungan Naina hampir masuk bulan ke sembilan. Namun, lebih baik terlambat dibandingkan tidak sama sekali.


Rima, gadis muda itu tetap bekerja menjaga Wina seperti dulu. Kini ditambah dua babysitter baru yang juga mulai dipekerjakan Wira untuk membantu Naina merawat jagoannya saat lahir nanti.


Pagi itu, Wira yang mulai mengurangi pekerjaannya terlihat bangun lebih pagi dari biasanya. Ia harus ke Banjarmasin, mengurusi proyek baru yang tidak bisa diserahkannya pada Kevin yang kini tengah berada di Lombok, mengurusi proyek pembangunan hotel di sana.


"Mas, berangkat jam berapa?" tanya Naina, mengekor pergerakan Wira yang mondar-mandir di kamar, mempersiapkan pakaian dan perlengkapannya ke dalam koper.


"Jam sembilan, Nai." Wira menatap jam yang tergantung di dinding. Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 pagi.


"Mau aku bantu siapkan, Mas?" tawar Naina, berjalan pelan dengan perut besarnya.


"Tidak perlu, Nai. Aku bisa sendiri." Wira menyusun beberapa potong pakaian dan meletakkannya di dalam koper. Tak lama, terlihat ia menutup kembali kopernya dan berbalik menatap istri yang sedang duduk, memamerkan wajah sendu dan tidak rela.


"Aku juga terpaksa, Nai. Kalau ada yang bisa aku tugaskan, lebih baik aku tetap di sini. Menunggu detik-detik kelahiran jagoan kita." Wira berjalan mendekat. Pria itu membungkuk dan mengusap perut buncit istrinya.


Terlihat Wira berbisik, mencoba mengajak anaknya bicara. "Sayang, jangan nakal di perut Bunda. Ayah hanya pergi dua hari, setelah itu Ayah bisa mengusapmu sepuasnya," ungkap Wira, menghadiahkan kecupan di perut Naina.


Naina cemberut. "Tidak lebih dari dua hari, kan?" tanya ibu hamil itu memastikan.


"Ya, Sayang. Aku juga tidak tenang meninggalkanmu sendirian di sini." Wira berjongkok dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya. Tangannya tetap mengelus, mengusap lembut sembari menikmati gelombang di perut Naina yang menandakan bayinya tengah bereaksi.


Hening menyapa, Naina sedang menikmati sentuhan lembut tangan suaminya. Ia benar-benar tidak rela melepas kepergian Wira kali ini. Ada sesuatu di dalam hati yang sulit diungkapkannya, tetapi perasaan itu membuat mood memburuk.


"Nai, masih dua minggu lagi, kan?" tanya Wira memastikan. Berulang kali ia bertanya sejak semalam, takut istrinya salah perhitungan.


"Ya, Mas. Dua minggu lagi masuk HPL." Naina kembali meyakinkan.


Wira terdiam sesaat. "Apa selama aku di Banjarmasin, kamu menginap di tempat Mama saja. Di sana ada Papa yang selalu siaga dan bisa diandalkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan."


Naina tersenyum, mengusap rambut Wira. "Tidak perlu, Mas."


"Tapi, aku tidak bisa tenang," potong Wira.


Naina tersenyum. "Aku baik-baik saja. Hanya saja ...." Naina ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hanya saja ... aku ... aku." Lidah Naina kelu, malu untuk mengungkapkan perasaan cemburunya.


Wira duduk di lantai, menegakkan pinggangnya yang sejak tadi membungkuk. "Hanya apa? Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Wira, penasaran.


"Sheilla tidak ikut denganmu, kan?" tanya Naina memastikan. Ibu hamil itu menggigit bibir, tertangkap basah mencemburui suaminya.


Tawa Wira pecah seketika. Ia bisa menangkap api cemburu sedang dilempar istrinya.


Wira berdiri, menangkup pipi gembul sang istri dengan kedua tangannya. "Nai, kamu sudah mengetahui jelas apa yang terjadi. Kamu sudah mendengar sendiri klarifikasi dari Sheilla dan manajernya. Sudah menerima permintaan maafnya secara langsung. Masih tidak percaya?" tanya Wira memastikan.


Wajah ibu hamil itu kian cemberut. "Bukan begitu ... aku hanya tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Aku hanya menjaga suamiku, Mas."


"Sstt, aku janji akan hati-hati dan tidak akan terulang, Nai. Sudah, bersiap-siap. Aku akan menitipkanmu ke tempat Mama selama aku di Banjarmasin," putus Wira, mengecup dahi Naina sekilas.


***


Naina dan Wina melambaikan tangan di teras rumah mertuanya, mengantar Wira yang hendak menuju ke bandara. Tak jauh dari ibu dan anak itu, tampak Mama Wira tengah duduk di kursi roda ikut menatap ke titik yang sama.


"Kamu menginap di sini, Nai?" tanya perempuan paruh baya itu membuka obrolan.


"Tidak, Ma. Nanti malam aku pulang."


Kenapa tidak menginap saja, Nai. Lagi pula tidak ada siapa-siap di sini. Papa menginap di tempat Ratih, besok baru pulang ke sini. Mama hanya ditemani pembantu." Tatapan Mama Wira menerawang. Ia mulai terbiasa dengan kehidupannya sekarang, keadaannya yang duduk di kursi roda membuatnya belajar ikhlas menerima takdir yang digariskan Tuhan untuknya.


Bahagia itu bukan hanya seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga seberapa banyak yang bisa kita ikhlaskan. Perempuan tua itu tersenyum menatap perut buncit Naina.


"Kapan melahirkan, Nai?" tanyanya.


"Dua minggu lagi masuk HPL, Ma." Naina menjawab sembari menuntun putrinya mendekat pada Oma yang tampak bahagia menyambut kedatangan mereka.


"Mama minta maaf, Nai. Mama tidak bisa membantumu nanti melahirkan." Tampak sesal di wajah renta Mama Wira.


"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula, Mas Wira sudah memperkerjakan dua orang babysitter untuk membantuku nanti."


Mama Wira menghela napas panjang, jemari tangannya menggenggam jari-jari mungil Wina dan tersenyum.


"Mama sudah bicara pada Ratih dan papamu. Nanti, saat kamu melahirkan, Ratih akan membantumu. Walaupun usianya lebih muda, tetapi dia sudah berpengalaman mengurus bayi. Paling tidak dia bisa memasak khusus untukmu." Mama Wira menerangkan. Teringat saat ia hamil dulu, mertuanya tidak mengizikan ia sembarangan makan. Makanan untuknya dimasak khusus, sesuai dengan kebutuhan ibu habis melahirkan dan menyusui.


"Ya, Ma. Tidak perlu khawatir. Sebenarnya Mas Wira sudah mempersiapkan semua untukku." Naina menjelaskan. Namun, ia tidak membantah. Andai mama mertuanya tetap memaksa, ia juga tidak bisa apa-apa.


***


Hari mulai petang saat Naina kembali ke apartemen bersama Wina dan Rima. Beberapa jam belakangan, ia merasa perutnya sedikit aneh. Mengeras dan bayinya lebih aktif dari biasanya.


"Rim, tolong mandikan Wina dan suapi dia makan. Aku mau istirahat sebentar, perutku rasanya tidak enak." Naina mengusap perut besarnya sembari berjalan ke kamar.


Perasaannya waswas, keberadaan Wira yang jauh di seberang pulau membuat ibu hamil itu tidak bisa tenang. Memutuskan membersihkan diri sebelum beristirahat, Naina terkejut saat melihat bercak darah di pakaian dalamnya.


Deg--