Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
Bonus Chapter


Oek ... oek ... oek.


Tangis kencang London di tengah malam buta mengejutkan Wira yang baru saja memejamkan mata. Ia memang sudah menjadi ayah dari Wina Pelangie Wirayudha, tetapi ini menjadi pengalaman pertama untuknya. Dikejutkan suara tangis bayi tengah malam dan tidak bisa tidur nyenyak seperti biasa.


"Apa lagi ini?" Wira membuka mata saat merasakan pergerakan di sampingnya. Terlihat Naina bangkit dan menyeret kakinya mendekat ke arah tempat tidur bayi.


"Bangun lagi?" tanya Wira, memijat pelipisnya. Kepalanya pusing. Sejak kehadiran London, tidurnya tidak pernah lelap. Setiap dua jam sekali ia akan ikut terbangun saat mendengar tangis kelaparan putranya.


"Ya, adik lapar, Mas." Naina berkata pelan sambil menahan kantuk duduk di sofa dan mulai menyusui putranya. Dalam hitungan detik, jeritan kelaparan London hilang bersamaan dengan suara decapan yang terdengar tidak sabar.


"Tidur saja, Mas." Naina merasa iba pada suaminya. Selama beberapa hari ini suaminya tidak bisa tidur nyenyak, terkadang tidak bisa tidur sepanjang malam karena suara putra mereka yang menangis.


"Bagaimana aku bisa tidur, Nai." Wira menegakkan duduknya, meremas kepalanya yang pusing.


"Mas pindah tidur di kamar sebelah saja." Naina mengusulkan. Sesekali ia mendesah saat sedotan kencang baby London pada puncak dadanya.


"Aku tidak mau. Kita sudah lama pisah ranjang, masa sekarang harus pisah lagi." Wira berkata sembari merebahkan diri dan memeluk guling.


"Atau aku dan baby saja yang pindah. Jadi kamu bisa tidur, Mas," usul Naina.


Wira membuka mata. "Tidak. Tak boleh seorang pun melangkah keluar dari kamar ini. Kita tetap tidur bersama, Nai."


"Aku kasihan padamu, Mas. Bukannya apa-apa. William kemarin bercerita padaku ... kalau atasannya tidur di ruang rapat." Suara Naina terdengar pelan. Ia merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Nai. Aku atasannya, tidak masalah untukku mau tidur di mana saja. Bahkan aku bebas tidur di atas meja rapat. Siapa yang berani mengomeliku." Wira tergelak, menatap Naina dari kejauhan. Tak lama, matanya meredup dan akhirnya jatuh tertidur dalam keheningan malam.


***


Melukis Senja


Dua tahun berlalu, Wira dan Naina merangkai kembali perasaan mereka yang tercerai berai karena masa lalu.


Rembulan sudah meninggi saat Wira melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Ia baru saja menghubungi Dennis setelah sebelumnya sempat membahas dengan mamanya yang hampir setiap hari menyerukan nama sang kakak di setiap obrolan. 


Naina baru keluar dari kamar mandi dengan bathrobe melilit di pinggang, ia kehilangan gaun tidur merah muda yang disiapkannya sebelum masuk dan berendam di bathtub.


“Mas, apa tidak melihat gaun tidurku?” tanya Naina bingung. Mondar-mandir mengitari kamar untuk mencari keberadaan gaun tidur barunya.


“Aku tidak tahu, Nai. Sejak tadi aku tidak melihat gaun sama sekali.” Wira menjawab, duduk di sofa.


“Ini pasti ulahmu, kan?. Sudah bisa ditebak," tebak Naina.


“Sudah, jangan mengomel. Kamu tidak butuh gaun tidur. Yang melekat di kulitmu saja harus segera dilepaskan agar tidak mengganggu proses pembuatan Orlando dan Sydney.” Wira tergelak. 


Bruk!


Tubuh Naina terjatuh, mendarat manis di atas sofa kamar. Wira benar-benar memanfaatkan keadaan, naik ke atas dan menindih tubuh istrinya.


“Apa-apan, Mas?” protes Naina.


“Mumpung dua pengganggu itu tertidur, kita manfaatkan waktu untuk membuat pengacau ketiga, melengkapi keluarga kecil kita.” Wira memainkan kedua alisnya, tersenyum menggoda.


Sejak kehadiran London, kediaman Wira dan Naina selalu ramai. Dari suara tangis, jeritan sampai pertengkaran mengisi hari-hari. Tak ada sekali pun rumah mereka sepi, kecuali dua anaknya tertidur.


Selisih umur tidak menghalangi pertikaian itu terjadi. London yang belum terlalu pintar bicara dan mengerti banyak hal, tetapi maju pesat di dalam hal berteriak setiap merasa dipermainkan, jago menangis dan mengamuk setiap menginginkan sesuatu. 


Tadinya, Wira pikir saat memiliki sepasang anak, semuanya akan berjalan lancar. Berbeda gender, tentu saja tidak akan membuat Wina dan London terlibat perselisihan. Tidak ada drama berebut mainan. Namun dugaannya salah, keduanya baku hantam dari membuka mata sampai tertutup mata. Tak jarang Wira mengungsi ke ruang kerjanya yang kedap suara saat pertikaian itu terjadi.


“Dua belum cukup, Mas?” tanya Naina dengan wajah kesalnya. Apalagi saat ia bisa merasakan tangan Wira sudah berkeliaran ke mana-mana.


“Belum, mungkin harus dua pasang, baru tenang dunia ini. Tidak ada lagi drama London dikucir kakaknya atau Wina dipaksa main pedang-pedangan. Mereka sudah menemukan partner sejenis.” Wira tersenyum usil.


“Aku sudah tidak mau lagi, Mas. Setiap hamil ada saja drama di dalam hidupku. Kalau Mas mau, aku izinkan Mas yang hamil anak ketiga kita. Jadi Mas bisa menikmati rasanya,” cerocos Naina.


Wira terlihat berpikir. “Masa untuk mendapatkan anak ketiga ... aku harus menikah lagi?” ujarnya, memancing.


Naina terbelalak. Setiap membahas perempuan lain, ibu dari Wina dan London itu selalu sensitif. “Ayolah, kalau begitu,” ajak Naina dengan wajah cemberut.


“Nah, begitu. Kamu terlihat manis kalau menurut Nai.” Wira menghadiahkan kecupan di dahi Naina sebelum memulai. “Di sofa atau di ....” Suara Wira menghilang, berganti teriakan putrinya.


“BUN ... DA ....” teriak Wina dari seberang pintu kamar, memecahkan keheningan malam, mengusik kesenangan kedua orang tuanya.


THE END


Jadwal rilis dan lain-lain, bisa follow ig casanova_wetyhartanto.


Sampai jumpa di karyaku berikutnya yang akan terbit setelah The Love Story of Pram and Kailla tamat.



Love you all,


Wety. S. Hartanto