
Deg— Wira menelan saliva. Berat rasanya membuka aibnya sendiri.
“Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.” Wira tersenyum datar, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mas ....” Nada suara Naina terdengar memohon. Ia penasaran dengan kebenarannya.
“Janji tidak marah?” Lagi-lagi Wira menelan ludah.
Naina diam, menatap lekat Wira. Sejurus kemudian, ia merendahkan pandangannya. Ada kecewa tersimpan di dalam relung hatinya. Apa pun alasan Wira, tentu saja ini tidak dibenarkan. Namun, ia mencoba membuka hatinya, menghempas semua kecewa dan berdamai dengan kehidupan yang mungkin tidak sejalan dan bersahabat dengannya.
“Aku tahu, apa yang aku lakukan itu salah. Aku tahu ... aku tidak termaafkan. Aku tahu, tidak seharusnya aku memilih jalan ini. Aku tahu, aku sudah merendahkanmu dengan alasan cinta dan Wina.” Wira memulai.
Naina menggigit bibir, mencerna kalimat yang keluar dari bibir Wira. Ia tidak memiliki kekuatan untuk mendengar cerita selanjutnya, tetapi ia juga harus tahu seperti apa malam-malam yang dilewatinya sampai bisa hamil.
Berbalik, Naina berbaring membelakangi Wira. Ia butuh kekuatan untuk mendengarkan cerita yang mungkin bisa saja melukai hatinya. Tertegun, ia bisa merasakan belitan tangan Wira di perutnya semakin kencang. Pria itu mengecup pundak tertutup gaun tidurnya dengan penuh kelembutan.
“Malam itu ... di mana kita menghadiri perayaan RD Group. Itu pertama kalinya ....” Suara Wira terdengar bergetar, berbisik pelan tepat di telinga Naina. Ini bukan hanya berat untuk Naina, tetapi berat untuknya. Ia butuh meyakinkan dirinya berulang kali demi melangkah masuk ke kamar hotel dan melakukannya bagai pencuri dan pecundang. Ia adalah laki-laki pengecut yang memilih jalan salah untuk mendapatkan miliknya kembali.
Deg —
“Ma-malam itu ... kamu, Mas.” Dua bulir air mata luruh, berjejak di pipi Naina. Ia menggigit bibir bawah, tidak mau isaknya terdengar keluar. Ia tidak mau Wira mendengar tangisannya. Ia ikhlas kembali pada Wira, apa pun alasannya. Sebejat apa pun yang dilakukan Wira, ia mencoba untuk mengenyahkan dari kepalanya. Ia hanya perlu tahu, apa yang terjadi padanya di tengah dirinya yang tidak sadar dan tidak berdaya.
Lama Wira terdiam sampai akhirnya suara pria itu terdengar. “Ya. Itu aku, Nai.”
“Bagaimana bisa, Mas?”
“Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku. Bahkan, aku tidak percaya aku setega itu. Beberapa hari sebelumnya, Pieter mengancamku. Lebih tepatnya, dia datang padaku dan berterus terang menginginkanmu. Dia meminta restu, ingin menjadi ayah kedua dari Wina. Tentu saja, aku tidak bisa menerima semuanya.” Wira memejamkan mata, menyingkap tabir yang tertutup rapat selama ini.
“Dia menceritakan semuanya padaku. Sepak terjangnya, kehidupannya, masa lalu dan para wanita yang bergantian setiap malam menghangatkan tempat tidurnya ....” Wira terdiam sejenak.
“Mas ....” Naina mulai paham.
“Sstt! Aku belum menyelesaikan bagian terpentingnya, Nai.” Wira berbisik pelan, menjatuhkan dagunya di pundak Naina.
“Malam itu, Pieter datang padaku dengan segelas jus jeruk. Seringainya mengandung sesuatu. Dan saat itu ... aku tahu, dia tidak pernah main-main. Dia berbisik padaku, kalau malam itu, dia akan menjadikanmu miliknya. Dia hanya perlu membuatmu hamil dan Naina Pelangie akan datang padanya setelah itu.”
“Ya Tuhan ....” Naina menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kamu tahu, aku hampir gila. Aku tidak mungkin berterus terang padamu. Kamu tidak akan percaya padaku. Aku juga tidak mungkin memintamu berhenti bekerja, aku mengenalmu, Nai.”
“Dia katakan, dia menginginkan tempatku. Dia berjanji akan menjagamu dan Wina.”
“Tapi, aku sudah menolaknya, Mas.” Naina berkata lirih.
Wira memejamkan mata. “Andai kamu benar-benar sampai hamil, pasti kamu akan menerimanya juga. Itu yang aku takutkan. Aku tidak bisa menjagamu setiap saat dari Pieter. Dan yang membuat aku benar-benar kehilangan akal sehat, saat dia mengatakan padaku ... kalau kamu sebentar lagi akan ambruk dan tidak sadarkan diri. Aku pikir dia bercanda. Aku meminta Bellinda pergi melihatmu, dan ternyata Pieter tidak pernah main-main dengan ancamannya. Dia membuatmu tidak sadarkan diri dengan segelas jus.” Wira bercerita.
“Dan malam itu, aku memutuskan, menggunakan cara kejam ini untuk mendapatkanmu kembali. Aku tidak bisa membiarkanmu dan Wina jatuh ke tangannya. Aku tidak rela, Naina dan Wina adalah milikku. Bukan milik pria mana pun. Aku mencintaimu, Nai.” Wira menegaskan.
“Kamu tahu, Nai. Aku setiap hari dilanda ketakutan. Aku takut, saat aku lengah, Pieter mengerjaimu. Aku mengirim orang mengawasimu dan Pieter. Bellinda adalah orang yang aku tugaskan untuk menjagamu setiap hari. Sejak hari pertama Pieter melontarkan ancaman, Bellinda sudah berada di sampingmu. Mungkin, kamu tidak menyadarinya. Ia selalu ada di mana pun kamu berada.”
“Pria bertato itu?” Naina bertanya saat teringat dengan sosok bertato yang tertangkap kamera cctv.
“Dia Jack, suami Bellinda. Dia bertugas mengawasi Pieter sampai hari ini. Jack juga yang selama tiga tahun ini mencari keberadaanmu.”
Naina diam.
“Jangan marah padaku, Nai. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku tahu, kalau aku bersalah padamu. Tidak seharusnya aku merendahkanmu.” Sesal itu begitu terasa di setiap ucapan Wira.
“Sudahlah, Mas. Apa yang harus aku lakukan? Mau marah pun, tidak bisa mengubah keadaan. Sekarang aku hamil. Tapi, jujur aku kecewa padamu, Mas. Kamu banyak berubah, tidak seperti Mas Wira yang aku kenal dulu.”
Naina memejamkan matanya. Cairan bening itu kembali mendesak keluar dari kedua netranya.
“Apa yang diceritakan Rima itu juga benar, Mas?” tanya Naina.
“Hmm.” Wira bergumam bingung.
“Bukan hanya di hotel, tetapi di rumah juga ....” Suara Naina bergetar, tidak sanggup melanjutkannya sampai selesai.
“Maafkan aku, Nai. Maafkan aku.” Wira berbisik pelan, memohon pengampunan untuk kesalahannya yang mungkin saja tidak termaafkan.
***
"Nai, tidak perlu ke kantor lagi hari ini. Aku yang akan mengurusnya dengan Pieter." Wira menghempaskan tubuhnya di kursi, bersiap menikmati sarapan pagi.
Wina tampak sibuk dengan sepotong roti cokelat yang mengotori bibirnya. Gadis kecil itu tidak mau disuapi, memaksa untuk menyelesaikan sarapannya sendirian.
"Tapi ... bagaimana dengan kontrak kerjaku." Naina ragu, berdiri di samping putrinya dengan setelan kerja.
"Aku akan menghubungi Pieter, kalau dia tidak bisa terima ... aku akan membahasnya dengan Pram." Wira menegaskan.
"Setelah sarapan, temani aku menemui Papa. Aku harus memberitahunya mengenai hubungan kita. Setidaknya aku harus meminta restunya lagi."
Deg--
"Apa harus, Mas?" tanya Naina ragu. Ia ingat jelas kalau Mama Wira tidak menyetujuinya, bagaimana dengan Papa Wira.
"Ya, jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya." Wira meyakinkan, menggenggam tangan Naina dengan erat. Ia berusaha menguatkan. Ia paham sekali dengan apa yang dirasakan Naina saat ini. Selama ini, ia tahu jelas bagaimana perlakuan Mamanya pada Naina.
***
Menempuh 45 menit perjalanan, mobil Wira akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran Jakarta. Halaman rumah satu lantai itu begitu asri, dengan tanaman hias dan tabulapot berjajar di pekarangan rumah. Ada buah jambu, belimbing dan jeruk yang sedang berbuah. Pohon-pohon rindang tumbuh di sisi kiri dan kanan halaman, membuat suasana sejuk makin terasa.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Naina bingung. Ia baru saja melangkah turun dari mobil sambil menuntun Wina.
"Papa." Wira menjawab santai.
Tampak gadis kecil berlari keluar dari dalam rumah, menyambut kehadiran mereka.
"Kak Wira!" Gadis yang diperkirakan berusia 8 tahun itu menghambur, memeluk Wira dengan erat. Sepertinya, Wira bukanlah orang asing untuknya. Melihat keakraban yang terjalin, bisa dipastikan Wira sudah sering berkunjung ke sini.
"Nonik, Papa mana?" tanya Wira.
"Di dalam. Ayo masuk, Mama sudah memasak banyak untukmu, Kak." Gadis kecil itu menuntun tangan Wira. Ia sempat heran melihat keberadaan Naina dan Wina.
"Kak Wira, mereka siapa?" tanyanya lagi.
"Istri dan anak Kak Wira."
Naina makin dibuat heran. Jawaban pertama Wira saja, sudah cukup membuat penasaran. Ditambah kehadiran gadis kecil yang dipanggil Nonik. Naina makin bingung.
"Ini Kak Naina, istri Kak Wira. Yang ini Wina, anak Kak Wira."
"Oh ya?" Nonik meneliti Naina dan Wina bergantian.
***
Tbc