Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 39


“Nai, bagaimana kamu ke kantor?” tanya Wira begitu keluar dari kamar dengan setelan kerja rapi. Kemeja hitam dengan celana kain dan dasi panjang berwarna senada. Berjalan dengan gagah menenteng jas hitam yang diletakannya di sandaran kursi, di ruang makan.


“Aku naik taksi saja, Mas. Kalau tidak ... bisa pesan ojek online.” Naina menjawab singkat. Ia sedang menyuapi Wina sarapan dengan bubur ayam yang dipesannya melalui aplikasi online. Tampak Rima duduk tak jauh dari pasangan ibu dan anak itu, sedang mengoles roti dengan selai untuk sarapan paginya.


“Sebentar lagi Mama akan ke sini untuk menemani Wina dan Rima. Oh ya, mobilmu sudah dibawa ke bengkel. Sepertinya butuh dilakukan pengecekan. Sudah hampir tiga tahun tersimpan di garasi. Kalau kamu mau ....” Wira menggantungkan kalimatnya. Ragu untuk menyampaikan kata-kata selanjutnya. Naina bukanlah perempuan yang sulit didekati, tetapi sulit untuk disentuh hatinya.


“Kalau ... kamu mau ... aku bisa membelikan mobil baru sebagai gantinya.” Kalimat itu lolos juga setelah sekian lama hanya sampai di bibir. Wira tidak mau terlalu berlebihan dan memaksa, karena Naina tidak menyukainya.


“Tidak perlu, Mas. Lagi pula ... aku sudah lama tidak membawa mobil sendiri. Entah masih memiliki keberanian untuk itu atau tidak. Kalau bisa dijual, aku tidak keberatan. Uangnya kirim ke tabungan Wina. Aku tidak akan menggunakannya,” tegas Naina.


“Nanti kita bicarakan lagi. Aku harus ke kantor pagi ini. Ada beberapa pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari Wina dirawat di rumah sakit.” Wira berpamitan sembari mengeluarkan dompet dari saku celana. Ia menyerahkan kunci pintu cadangan yang berbentuk kartu ke atas meja makan.


“Ini kunci pintu apartemen dan akses ke lift. Tanpa ini, kamu bisa turun ke lobi tetapi tidak bisa kembali ke unit kita.”


“Baik, Mas.”


“Aku juga meninggalkan kartu ini di laci dekat pintu, Rim.” Wira memberitahu pengasuh putrinya.


“Ya, Pak.”


Terlihat Wira membungkuk dan mencium pipi gembul Wina sebelum berangkat. “Ayah berangkat ke kantor. Jangan nakal di rumah. I love you,” ucap Wira pelan, melirik ke arah Naina.


“Ya ... Ayah.” Wina menjawab dengan mulut penuh dengan bubur ayam.


“I love you,” ulang Wira, sembari menepuk pucuk kepala putrinya.


“Tak ada reaksi apa-apa. Apakah perceraian sudah membuat Naina mati rasa?” Wira membatin.


Baru saja kaki terbungkus pantofel hitam memgkilap itu melangkah menuju ke pintu, tiba-tiba Wira berbalik.


“Nai, aku dan Bara ada meeting di kantormu sebelum makan siang. Jangan kaget saat melihatku ada di sana,” pamit Wira, tersenyum dan melambaikan tangan.


“Ya, Mas.”


Naina bisa bernapas lega begitu pintu apartemen itu tertutup sempurna. Tinggal seatap dengan mantan suaminya, bukan hal yang mudah walau hanya sementara. Ia ingin menolak, tetapi rasanya egois dan tidak adil untuk Wina. Namun, ia juga tidak bisa berpisah lagi dengan putrinya.


Menurunkan ego dan harga dirinya, ia memilih menerima semua tanpa banyak protes. Kondisinya memang tidak sekaya Wira, yang bisa memenuhi semua kebutuhan Wina dengan mudah. Sebenarnya akan lebih baik kalau Wina tinggal bersama Wira, tetapi ia tidak bisa melepas putri yang diperjuangkannya sejak di dalam kandungan begitu saja.


Bersama Wira, kehidupan Wina jauh lebih terjamin, disayangi banyak orang. Mama dan Papa Wira begitu menyayangi Wina. Terlihat jelas dari perlakuan dua orang tua itu terhadap Wina selama dirawat di rumah sakit.


Bunyi bel pintu mengejutkan Naina yang sedang menyodorkan sesendok penuh bubur ayam ke bibir mungil putrinya. Tak lama terdengar suara Papa dan Mama Wira, berseru menyapa cucunya.


“Wina, kamu sudah sehat, Sayang?” sapa Mama Wira dengan wajah berseri-seri.


“Oma ....” Wina tersenyum begitu melihat Mama Wira datang dengan sebuah boneka beruang besar. Wina mulai mengenali orang-orang terdekatnya.


“Kamu belum berangkat kerja, Nai?” tanya Mama Wira terlihat biasa. Belakangan sikap Mama Wira berubah drastis, mulai kembali seperti dulu lagi.


“Belum, Ma. Setelah menyuapi Wina dulu.”


“Wira sudah ke kantor?” tanya perempuan dengan gaun selutut bermotif monstera itu, berdiri di samping cucunya.


“Sudah, Ma.”


“Kamu nanti berangkat naik apa? Atau ikut Papa saja, sekalian mau ke bengkel untuk melihat mobilmu.” Mama Wira mengusulkan.


“Aku naik taksi saja, Ma,” tolak Naina.


“Oh ya, Mama meminta asisten di rumah membuatkan udang asam manis kesukaanmu, Nai. Dimakan, ya.” Mama Wira tersenyum sembari menunjuk kotak mika transparan di atas meja.


“Ya, Ma.”


Perempuan paruh baya itu tampak ragu-ragu. Ia menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di samping Wina. Bibir berlapis lipstik cokelat muda itu terlihat bergetar.


Naina tersentak. Baru kali ini Mama Wira membahas anak itu lagi setelah sekian lama Nola seperti terlupakan.


“Tidak, Ma. Mas Dennis tidak pernah membahas putrinya, tetapi kemarin sempat video call di rumah sakit. Nola sudah besar, sekarang dipanggilnya Angie.” Naina bercerita.


“Mama merindukan anak itu selama ini. Mama salah dan sadar diri, tidak pantas mengucapkan ini. Mama benar-benar merindukan Nola,” cerita Mama Wira menangis.


“Nai ... apa bisa menolong Mama? Tolong sampaikan pada Dennis, Mama ingin bertemu Nola. Mama tahu ... hubunganmu dan Dennis cukup dekat. Anak itu belum sepenuhnya memaafkan Mama, Dennis tidak akan mau mendengarkan Mama. Tolong Mama, Nai ....” pinta Mama Wira, meraih tangan Naina dengan menggenggamnya seraya memohon.


Naina tersentuh saat wajah keriput mantan mertuanya itu basah oleh air mata. Ia tahu rasanya memendam rindu. Itu menyesakan.


“Ya, nanti ... aku coba bicarakan pada Mas Dennis.”


“Terima kasih, Nai.” Mama Wira merengkuh tubuh Naina dan mendekapnya erat. Air mata tumpah dengan tubuh bergetar, mengeluarkan perasaan yang berusaha disimpannya rapat selama ini.


“Ya. Kalau Mama mau ... aku bisa memberikan nomor ponsel Mas Dennis padamu, Ma.”


Mama Wira mengangguk. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Selangkah lebih dekat dengan pintu maaf putranya. Ia ingin membenahi hubungannya dengan Dennis yang berantakan selama ini.


***


RD Group.


Tampak Pieter sedang memimpin rapat yang juga dihadiri oleh Bara dan Wira, sekaligus beberapa petinggi perusahaan lain yang dirangkul RD Group untuk menyelesaikan mega proyek Halim Group. Sebelum rapat dimulai, Pram sebagai pemimpin tertinggi RD Group memang memutuskan tidak hadir. Ia meminta Stella ikut rapat dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan di rapat, yang akan dipelajarinya nanti.


“Ste, Pak Pram ke mana? Absen lagi hari ini,” tanya Naina, berbisik pada Stella yang duduk di sebelahnya.


“Hmm ... ada urusan di luar lagi. Lama-lama ... aku curiga dengan Pak Pram.” Stella menjawab pelan, ikut berbisik.


“Hush! Kelihatannya dia pria baik-baik,” ucap Naina tanpa sengaja beradu pandang dengan Wira. Pria itu duduk bersebelahan dengan sepupunya, Bara.


Naina mencoba melempar senyuman, tetapi Wira tidak membalasnya. Bibir tipis Wira baru melengkung ke atas beberapa menit kemudian. Anehnya, Naina merasa senyum itu bukan untuknya.


Deg—


Naina menoleh ke samping dan baru menyadari kalau senyum Wira memang bukan untuknya, tetapi untuk Stella. Keduanya saling berbalas senyuman, berbicara lewat tatapan mata penuh arti. Meremas pena hitam, Naina jadi malu hati dan buru-buru menurunkan pandangannya.


“Memalukan, Nai! Untung Mas Wira tidak menyadarinya.” Naina mengumpat kebodohannya di dalam hati.


Satu jam terlewati, Pieter menyudahi rapat saat jam di dinding menunjukan pukul 12.10 siang. Terlewat sepuluh menit dari jam istirahat siang. Beberapa staf tampak berjalan keluar ruangan.


"Aku akan mentraktir makan siang hari ini!" Wira tiba-tiba berdiri dan menyampaikannya dengan lantang. Ucapannya ditujukan untuk semua orang.


"Ste, apakah bisa menolongku?" tanya Wira berjalan mendekat. Ia bisa melihat dua orang perempuan yang sedang memberesi dokumen di atas meja rapat.


"Ya, Mas. Ada apa?" tanya Stella.


"Tolong atur restoran seperti biasa. Aku yang mentraktir hari ini." Wira berkata sembari melirik Naina sekilas. Naina terlihat biasa saja, tidak ada reaksi berlebih.


"Ya, Mas."


"Ok. Ikut mobilku saja, Ste. Aku menunggumu di luar." Wira berjalan mengikuti langkah Pieter dan Bara yang sudah keluar terlebih dulu. Masih sempat melihat raut wajah Naina, tetapi Wira tidak bisa menangkap apa pun dari wajah datar mantan istrinya itu.


"Nai, kamu ikut Pak Pieter, kan?" tanya Stella memasukan sebagian dokumen ke dalam map hitam.


Naina menggeleng. "Aku tidak ikut, Ste. Omanya Wina membuatkanku udang asam manis. Aku makan siang di kantor saja. Have fun, ya!" Naina tersenyum menepuk pelan lengan Stella.


"Nanti aku akan mengabari Pak Pieter," lanjut Naina.


***


Tbc