
Naina tersenyum menatap sepiring sate Padang yang tersaji di atas meja. Bahagia, perasaan Naina begitu gembira mendapati sang suami membelikan untuknya makanan yang telah mengisi pikiran hingga membuat mata indahnya enggan merapat sepanjang malam.
Aroma asap dari daging bakar dengan kuah kuning itu menggelitik lambung. Padahal Naina baru saja menggosok gigi dan bersiap tidur. Namun, semua diabaikan, sajian di depannya sangat istimewa.
"Nak, ini Ayah yang membelikannya untuk kita," ucap Naina sembari mengusap perut besarnya.
Duduk menatap sepiring sate Padang dengan mata berkaca-kaca. Naina benar-benar terharu. Selama beberapa bulan terakhir memendam perasaan terlukanya akan sikap Wira, hari ini Tuhan menjawabnya. Secercah perhatian Wira sudah cukup membasuh dahaganya selama ini.
Sekuat apa pun Naina bertahan, tetap saja ia terlahir sebagai seorang wanita. Makhluk feminin yang diciptakan dari tulang rusuk pria. Mungkin Naina bisa berdiri tegar menatap dunia, tetapi Tuhan tetap menghadiahkannya sebuah hati yang mudah menangis dan tergores.
***
Semenjak malam di mana Wira membelikan sate Padang, sikap pemilik PW Group itu mulai melunak. Walau belum sepenuhnya membaik, tetapi pria tampan itu sudah membuka diri. Tidak lagi alergi setiap berdekatan dan berada satu meja makan dengan Naina.
Biasanya, sepulang kerja Wira hanya akan menemani Wina sebentar dan masuk ke kamar untuk beristirahat. Sekarang kebiasaan itu perlahan berubah. Wira mulai sedikit ramah, tidak mempermasalahkan lagi keberadaan Naina yang terkadang ikut menemani Wina bersamanya.
Seminggu berlalu, pagi hari di apartemen Wira terasa sedikit berbeda. Tidak seperti biasa, pagi itu Wira keluar lebih cepat dari kamarnya. Menghempaskan tubuh di kursi, pria tampan dengan setelan kerja itu menatap Wina yang sedang mengaduk susu dan sereal di mangkuk.
"Morning, Anak Ayah." Wira menjulurkan kepalanya, mendekat pada Wina. Kecupan selamat pagi berlabuh di pipi gembul putrinya yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
Tampak Naina berjalan dari dapur dengan sepiring nasi goreng dan telur dadar. Seperti biasa, ia memilih menyingkir ketika melihat keberadaan Wira di meja makan.
"Nai, tolong ambilkan sarapan untukku?" Wira tiba-tiba bersuara, netranya mengikuti pergerakan Naina yang berjalan menuju sofa.
Deg--
Naina menghentikan langkah, nyaris tidak percaya dengan apa yang ditangkap indra pendengarannya.
"Mas, mau?" Naina berbalik dan memastikan.
"Ya ...."
Wanita dengan perut besar tercetak nyata di gaun hamilnya itu menyunggingkan senyuman. Tanpa banyak berpikir, Naina menyerahkan piring nasi goreng miliknya pada sang suami.
Berbulan-bulan Wira menolak masakannya, bahkan sampai membuangnya. Namun, Tuhan menjawab semua kesabarannya. Ia sudah tiba di titik ini, Wira mulai membuka hati dan diri untuk menerimanya.
"Ini untukmu saja, Mas. Aku akan mengambil yang baru." Bibir Naina merekah, memamerkan deretan gigi putih yang berbaris rapi.
"Kamu tidak makan?" Wira mengangkat pandangan pada Naina yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku akan memasak lagi. Nikmati saja, Mas." Naina berlalu pergi, buru-buru menyembunyikan rona kebahagiaan yang membuat pipinya bersemu merah. Setelah sekian lama, hal kecil seperti ini sanggup membuat hatinya berbunga-bunga.
Wira tertegun, menatap punggung Naina tak berkedip. Istrinya berjalan dengan langkah pelan membawa muatan besar di perut. Sudah lama pria itu tidak memperhatikan perubahan fisik istrinya yang kini bertambah bulat dan lebar.
***
Naina tengah duduk di lantai dua ruko yang disulapnya menjadi toko. Bersama tumpukan pakaian bayi menggunung di lantai, Naina tengah mengecek satu persatu barang yang dikirim pihak supplier ke tokonya. Duduk bersila sembari menggenggam salinan surat jalan, ibu hamil itu dibantu karyawannya mendata dan memastikan barang yang dikirim tidak salah.
"Jam berapa sekarang?" tanya Naina, pinggang dan kakinya mulai bereaksi. Penat dan kesemutan berkolaborasi, menciptakan harmoni tersendiri. Kenikmatan menjadi seorang ibu dimulai saat menjalani masa kehamilan.
"Setengah empat, Bu."
"Hah?" Pegawai terkejut.
"Aku berencana menambah stok. Dan ada brand baru menawarkan toko kita menjual produk mereka dengan sistem titip." Naina menjelaskan.
"Jadi ... kita butuh tempat. Oh ya, minta karyawan di bawah untuk merapikan etalase di lantai satu. Kita akan mendapat kiriman etalase baru dari produk botol susu bayi," lanjut Naina.
Terjun ke dunia ini, membuat Naina banyak belajar. Tidak seperti menjual pakaian dan tas orang dewasa, Naina disibukan belanja barang-barang keluar negri. Di sini, Naina menjual merk-merk lokal dan berhubungan langsung dengan pabrik. Jumlah barang yang dibeli pun terbilang banyak. Naina harus menyediakan banyak tempat untuk stok barang-barangnya.
Apalagi toko pakaian bayi Naina terbilang melesat. Dalam hitungan bulan, beberapa brand sudah menawarkan kerja sama setelah melihat permintaan yang melebihi toko-toko lainnya. Rezeki ibu hamil, itu yang selalu diungkapkan Naina saat melihat perkembangan usahanya kini. Kelelahannya terbayar, saat melihat angka-angka yang masuk ke rekeningnya. Ia bahagia saat memandang barang di tokonya makin penuh terisi dan penambahan item-item baru yang sejak awal tidak direncanakannya.
"Baik, Bu."
"Ya sudah. Bersiap-siap, sebentar lagi kita pulang," ungkap Naina, bersusah payah bangkit dari duduknya. Hamil besar membuat ia tidak selincah lainnya. Beruntung kehamilan kali ini, bayinya tidak berulah seperti saat hamil Wina.
Berjalan tertatih-tatih menuju toilet, kesemutan yang menyerang sampai ke telapak kaki membuat Naina kesulitan. Bahkan sampai di dalam toilet, ia harus berpegangan pada dinding sembari menikmati rasa yang menjalar di kedua kakinya.
Menyelesaikan buang air kecil, Naina terkejut saat melihat noda darah di tisu. Tidak terlalu banyak, tetapi cukup membuat ibu hamil itu cemas. Ini bukan pengalaman pertamanya, ia paham apa yang terjadi.
"Ya Tuhan, apa beberapa hari ini aku terlalu banyak bergerak dan kelelahan. Jadi bayiku protes." Wajah Naina memucat. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada bayinya.
Seiring dengan penemuan bercak merah itu, Naina merasakan sesuatu yang berbeda di perutnya.
"Apa ini hanya perasaanku saja. Karena melihat noda merah, otakku mengirim perasaan aneh di perutku untuk menguatkan ketakutanku." Naina berusaha tenang. Menarik napas teratur berulang kali.
"Ini tidak apa-apa, Nai. Hanya perasaan dan ketakutanmu saja. Pasti baik-baik saja." Naina mengelus perutnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia menyembunyikan ketakutan dibalik keyakinan yang dipaksanya.
Pendarahan bukan hal baru untuk Naina. Sewaktu hamil Wina, ia sudah berteman dengan momok para ibu hamil ini. Ia berpengalaman, tetapi tidak berarti bisa tenang dan mengabaikannya begitu saja.
"Aku harus ke rumah sakit." Naina meminta bantuan karyawannya untuk membantunya menuruni tangga ruko. Ia harus cepat, tidak mau hal buruk terjadi pada kandungannya.
***
"Ibu harus bed rest beberapa hari." Dokter menjelaskan pada Naina setelah melakukan pemeriksaan.
Bagai disambar petir, kata itu hadir lagi di dalam hidupnya. Ia sudah bersyukur melewati enam bulan kehamilan tanpa kendala berarti.
"Harus dirawat di rumah sakit? Atau bisa bed rest di rumah saja, Dok? Bagaimana kondisi bayiku? Apa baik-baik saja?" Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan dari bibir Naina, butuh jawaban secepatnya.
"Kalau ibu nyaman di rumah, tidak masalah. Tapi harus sering dipantau dan segera ke rumah sakit lagi kalau merasakan sesuatu yang tidak biasa. Supaya cepat dilakukan tindakan." Dokter itu berusaha bersikap tenang, tidak mau membuat pasiennya panik.
"Bayinya baik-baik saja, Bu," lanjut sang dokter wanita yang memang menangani Naina.
"Ya sudah. Aku bed rest di rumah sakit saja," putus Naina. Setelah menimbang, pilihan menginap di rumah sakit lebih aman untuknya yang memiliki riwayat pendarahan.
-
-
-