
"Maaf, Bu."
William khawatir Naina salah dengar hingga mengucap syukur atas sakit yang kini diderita atasannya.
"Ya, Will. Ada apa?" tanya Naina heran.
"Bapak sakit, Bu. Sekarang sedang di rumah sakit. Diperiksa dokter." William menjelaskan seperti guru tengah menerangkan pada murid sekolah dasar.
"Ya, Will. Di rumah sakit mana?"
"Di rumah sakit Permata ...." William tidak melanjutkan ucapannya. Dokter tampak keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bu, maaf ... nanti aku akan menghubungi Ibu lagi. Ada yang mau disampaikan dokter padaku," putus William.
"Tunggu, Will. Jangan dimatikan, aku juga mau mendengar apa yang disampaikan dokter."
Asisten itu menurut. Dengan ponsel yang masih menyala, ia mendatangi dokter untuk mencari tahu apa yang terjadi pada atasannya.
"Bagaimana, Dok?" Wiliam bertanya.
Dokter tersenyum. "Sepertinya hanya kelelahan dan masalah dengan pencernaan. Tapi kami sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan ada penyebab lain."
"Apa harus dirawat, Dok?" tanya William.
"Untuk 24 jam ke depan, pasien akan tetap dipantau." Dokter kembali tersenyum ramah dan berpamitan.
"Baik, Dok. Terima kasih." William menghela napas lelah. Seharian ini ia belum istirahat sama sekali. Pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Puncak dan sampai sekarang masih belum bisa meluruskan kaki, tidur nyaman di ranjang empuknya.
***
Berjalan mengendap-endap, Naina berjalan masuk ke kamar Rima sambil menenteng tas yang berisi perlengkapan dan pakaian ganti milik suaminya. Waktu sudah menunjukan pukul 22.50 saat ibu hamil itu memutuskan untuk menemani Wira ke rumah sakit.
"Rim ...."
"Rim ...."
"Rim, bangun." Naina mengguncang pelan tubuh pengasuh putrinya.
"Ada apa, Bu?" tanya Rima. Mata mengantuk Rima mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka sempurna.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Mas Wira sedang di rawat."
"Hah!" Pengasuh itu tersentak. Buru-buru menyibak selimut dan menghempaskannya dengan kasar. "Apa yang terjadi, Bu?" tanyanya lagi.
Naina menggeleng. "Aku belum tahu jelas, Rim. Aku titip Wina. Anak itu tidur di kamar Mas Wira sekarang. Tolong jaga Wina, takutnya menangis saat terbangun dan tidak menemukan siapa-siapa di dekatnya," titah Naina.
"Ya, Bu."
Naina mengeluarkan dompet dari tas kecil yang menggantung di pundak dengan tali mungil membelah di dada dan perut besarnya. Ditariknya beberapa lembar uang merah dan diserahkan pada Rima.
"Ini untuk pegangan. Besok, tolong siapkan Wina dan temani ke sekolah. Untuk sarapan, kalau stok di kulkas sudah habis, bisa minta Mbak belanja ke pasar. Kalau memang Wina susah makan bisa pesankan makanan di luar." Naina berpesan.
"Ya, Bu. Pak Wira sakit apa, Bu?"
"Aku tidak tahu, Rim. Buat jaga-jaga saja. Mudah-mudahan tidak ada sakit yang serius." Wajah ibu hamil itu meredup. Perasaannya tidak tenang sejak pagi dan ternyata benar, suaminya harus dirawat di rumah sakit.
"Nanti aku akan mengabarimu lagi, Rim. Aku titip rumah dan Wina, ya," pamit Naina.
"Ya, Bu."
Rima mengekor Naina yang berjalan keluar. Gadis muda itu bergegas menuju kamar tidur majikannya dan memindahkan Wina agar tidur di kamar Cinderella-nya.
***
Di tempat tidur pasien, terlihat Wira berbaring menikmati istirahatnya setelah seharian kemarin kelelahan dan kepanasan. Pria tampan itu baru saja membuka mata dari tidur lelapnya semalam. Kepalanya sudah tidak sakit, mual dan muntah pun sudah berhenti setelah mengonsumsi beberapa butir obat dari rumah sakit.
Wira tersenyum, merentangkan tangannya sembari menghela napas panjang, memulai pagi dengan semangat baru. Namun, senyum di wajahnya berangsur hilang, lenyap dan berubah tegang saat netranya menangkap sosok wanita hamil yang tengah tidur meringkuk di sofa bed tak jauh dari tempatnya. Terlihat kedingingan, tanpa selimut dan terkena semburan pendingin ruangan.
"Nai ...." ucap Wira, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Tidak ada siapa-siapa. William yang semalam menemaninya, kini tak terlihat penampakan.
Menyibak kasar selimutnya, Wira meloncat turun dari tempat tidur. Ia mengabaikan dunia yang tiba-tiba berputar saat memaksa tubuhnya berdiri.
"Nai ...." Wira baru akan berjongkok di samping istrinya saat pintu kamar terbuka. Muncul William dengan kantong belanjaan di tangan kanannya. Asisten itu tersenyum menyapa.
"Pagi, Bos."
"Dari mana saja?" tanya pria.dengan pakaian pasien rumah sakit itu.
"Dari lobi, Bos. Ini ... aku bawakan sarapan pagi untuk Ibu." William meletakan kantong belanjaan berisi bubur ayam, roti dan beberapa botol air mineral di atas meja.
"Apa yang terjadi semalam? Aku ketiduran setelah minum obat. Tidak tahu kalau istriku datang?" Wira mengalihkan pandangannya, memandang istrinya yang masih terlelap.
"Ibu menghubungiku dan menanyakan kabarmu, Bos. Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Ibu muncul di pintu saat tengah malam." William bercerita.
Bola mata Wira membulat dan nyaris keluar saat mengetahui Naina menyusulnya tengah malam.
"Ibu ke rumah sakit dengan siapa?" tanya Wira.
"Katanya naik taksi. Ibu tidak enak menghubungi sopir, sudah di luar jam kerja." William menjelaskan.
"Ya Tuhan." Wira buru-buru mendekati Naina. Istrinya masih tertidur pulas. Diusapnya perut buncit yang sebentar lagi akan menyelesaikan tugasnya setelah bayi mereka lahir ke dunia.
"Maafkan Ayah, Nak. Sudah membuatmu dan Bunda kerepotan semalam," bisik Wira sembari mengecup perut Naina.
Pergerakan kecil di perut membuat tidur Naina terusik. Ibu hamil itu membuka mata dan tersenyum saat mendapati Wira yang duduk di sampingnya.
"Kamu sudah bangun? Kenapa menyusul ke sini?"
"Aku mengkhawatirkanmu, Mas." Naina menjawab dengan suara seraknya. Ia berusaha bangkit dan duduk.
"Jangan lakukan ini lagi, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan bayi kita. Wanita hamil besar berkeliaran tengah malam. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku harus bagaimana?" ungkap Wira sambil menepuk pipi gembul Naina.
"Aku baik-baik saja, Mas." Naina tersenyum, menikmati belaian lembut Wira di pipinya.
"Cuci muka, gosok gigi sekarang. William sudah membelikan sarapan untukmu," titah Wira, menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 WIB.
"Ya, Mas." Naina menurut tanpa protes. "Oh ya, apa sudah baik-baik saja, Mas? Tidak sakit kepala lagi?"
Wira menggeleng.
"Aku tidak akan mengizinkanmu ke luar kota lagi, Mas. Seharian ... aku memikirkanmu, perasaanku tidak tenang. Dan benar saja, ternyata kamu sakit." Naina menggerutu.
Reaksi berbeda ditunjukan Wira. Sikap posesif Naina membuat pria itu melambung ke udara. Walau Naina tidak terang-terangan menyatakan perasaannya, tetapi perhatian dan kekhawatiran Naina cukup menunjukan isi hati wanita hamil itu.
"Benar-benar mengkhawatirkanku?" tanya Wira menunggu jawaban.
Naina mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu ... peluk aku sekarang," pinta Wira dengan manjanya.
-
-
-