Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 14


Wira melangkah masuk ke dalam sebuah restoran Italia di Jakarta Pusat. Sejak beberapa hari yang lalu, Bara selalu menghubunginya dan meminta untuk bertemu. Namun baru terealisasi sekarang, setelah mereka melakukan meeting di kantor RD Group. Pekerjaan membuat duda tampan itu mengesampingkan banyak hal termasuk kepentingan pribadinya. Ia memang menjadi seorang pekerja keras sejak ditinggal pergi mantan istrinya.


Berjalan dengan gagah, pria dengan setelan kerja yang menutup sebagian wajahnya dengan kacamata hitam itu menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung restoran. Tadinya acara makan siang ini juga akan dihadir oleh Pram, namun pria itu memilih mengundurkan diri karena putra kembarnya tidak mengizinkan pemilik RD Group itu untuk melangkah sedikit pun dari kantor.


Saat langkah membawanya semakin masuk ke dalam, Wira melihat Bara sudah duduk mengobrol dengan Stella. Sepupunya ternyata tidak sendirian.


“Maaf aku sedikit terlambat,” sapa Wira sebelum menjatuhkan bokongnya di kursi. Tatapannya beralih pada Stella.


“Kamu ikut, Ste?” tanya Wira heran. Setelah Pram mengabari kalau tidak bisa ikut, Wira mengira acara makan siangnya hanya berdua dengan Bara. Ia tidak menyangka kalau Bara akan membawa serta mantan adik iparnya.


“Ya, Pak. Mas Bara memintaku ikut,” sahut Stella. Buru-buru berdiri menyambut seperti biasa.


“Sudahlah tidak perlu terlalu formal. Kita sedang tidak di RD Group,” ucap Wira sambil membuka kacamata hitamnya dan meletakan di atas meja.


“Ya, Ste. Kamu bisa memanggilnya Mas Wira kalau di luar kantor.” Bara menambahi.


Sejak awal Bara sengaja menyeret Stella untuk ikut bersamanya. Tujuannya tak lain untuk mengenalkan lebih dekat mantan adik iparnya itu pada sang adik sepupu. Ia akan senang sekali kalau keduanya bisa berjodoh. Stella gadis baik-baik, berbeda dengan kakaknya.


Dan Wira, pria itu juga termasuk anak baik. Meskipun perjalanan rumah tangganya berliku. Namun semua bukan kesalahannya. Bara mengetahui jelas kisah rumah tangga sepupunya yang berstatus duren sawit. Duda keren sarang duit, incaran para wanita sosialita yang ingin memiliki gaya hidup mewah.


Kalau ingin menikmati kehidupan jet set, mungkin Wira adalah gambaran pria masa kini yang pantas dijadikan pasangan hidup. Beberapa tahun belakangan, nama Wira mencuat di kalangan pebisnis muda dengan pencapaian dan gaya hidupnya yang sanggup membuat semua mata terbelalak. Ia membawa perusahaannya meroket dengan keuntungan pertahunnya melonjak drastis. PW Group dan sang aktornya di baliknya, Pratama Wirayudha seketika dikenal banyak orang.


“Mau pesan apa Wir?” tanya Bara sembari membolak-balik buka menu di tangannya.


“Spaghetti vongole. Di sini menu itu enak sekali, kalian harus mencobanya.” Wira menjelaskan.


“Di sini pastanya dimasak al dente, rasa sausnya cocok sekali dengan teksturnya.” Wira merekomendasikan.


Ketiganya memesan menu yang sama seperti yang diceritakan Wira. Bara dan Stella masih melengkapi dengan segelas jus segar. Berbeda dengan Wira, pria itu memesan wine kesukaannya sebagai teman spaghetti


“Bagaimana, Bar?”


“Apanya yang bagaimana?” Bara menjawab santai.


“Sejak kemarin kamu sibuk mengajak bertemu dan sekarang kamu malah diam saja,” protes Wira.


“Aku hanya ingin mengenalkan Stella padamu,” sahut Bara, to the point. Ia bukan tipe yang suka berbasa-basi.


“Siapa tahu kalian cocok,” lanjut Bara setengah bercanda.


Wira terbahak. “Wanita bukan prioritasku saat ini,” ucapnya. Dengan ekor mata melirik ke arah Stella, sedetik kemudian pria itu membuang pandangannya ke arah pintu masuk restoran.


“Masih belum menemukan mantan istrimu?” tanya Bara penasaran. Papa Wira banyak bercerita padanya. Mengenai usaha Wira yang tidak kenal lelah mencari Naina, mantan istrinya.


“Masih ... tetapi sepertinya Naina betah sekali bersembunyi. Aku tidak mau terlalu memaksa, karena memang fokusku sekarang terbagi dengan pekerjaan. Aku hanya ingin memastikan Naina dan putriku baik-baik saja.” Ada raut kesedihan menyelimuti wajah tampan itu. Namun detik berikutnya ia sudah terlihat biasa. Sadar bahwa ini bukan sesuatu yang pantas menjadi konsumsi orang luar.


“Tidak mencoba dengan yang lain?” Bara melirik ke arah Stella. Gadis itu terlihat salah tingkah dan canggung. Sejak tadi hanya menunduk dan tidak banyak bicara.


Wira menggeleng. “Aku tidak memiliki waktu untuk mencoba. Prioritasku sekarang perusahaan dan putriku. Tidak ada lagi wanita.”


“Suatu saat mungkin kamu ingin mencoba,” ucap Bara, menyodorkan secarik kertas dengan nomor ponsel Stella. Ia sudah menyiapkannya sejak di kantor RD Group.


“Mas ....” Stella berbisik pelan pada Bara. Ia jadi malu sendiri saat Bara menawari dirinya dan ditolak langsung oleh Wira. Benar-benar memalukan. Kalau tahu ia dikenalkan dengan Wira dengan tujuan ini, ia akan menolak dengan tegas. Wajahnya memerah, jantungnya berdetak kencang. Ia tidak ingin berada di situasi ini.


“Terima kasih.” Wira menerima secarik kertas pemberian Bara dan menyimpannya ke dalam kantong celananya. Bagaimana pun, ia harus menjaga hati Stella. Tidak mungkin mempermalukan gadis itu lebih jauh lagi.


“Aku tidak bisa ikut makan siang. Tolong kamu antarkan Stella kembali ke kantor setelah makan siang,” pinta Bara. Pria itu benar-benar melancarkan aksinya untuk menjodohkan Wira dan Stella. Bara tampak berdiri dan bersiap meninggalkan meja.


“Aku tidak pernah bercanda.” Bara terkekeh.


“Ste, aku jalan dulu, ya. Nikmati saja makan siangmu dengan pria tampan ini. Kalau dia melamarmu, tolong langsung diterima.” Bara mengedipkan matanya sambil tertawa. Ia sangat berharap mantan adik iparnya itu bisa berjodoh dengan adik sepupunya.


Suasana canggung seketika menyelimuti keduanya. Tidak ada pembicaraan, sampa akhirnya Stella membuka suara.


“Pak, maafkan Mas Bara,” ucapnya ragu-ragu. “Aku tidak tahu apa ....”


“Ya, aku sudah tahu. Bara setengah gila. Sok-sokan menjodohkan orang lain, dia sendiri kaku dan tidak ada manis-manisnya,” potong Wira mencoba mencairkan suasana.


“Em ... Pak Wira ... “


“Santai saja, Ste.” Wira melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Sore ini ia harus terbang ke Hong kong untuk mengurusi perusahaan barunya di sana. Ia akan cukup lama berada di daerah otonomi yang terletak di tenggara Tiongkok itu. Perusahaannya baru berjalan dan masih membutuhkan perhatian.


***


Di tempat lain, Dennis masih mengejar Naina yang menolak diantar pulang. Wanita keras kepala itu memilih berjalan kaki, dibanding menumpang kendaraan Dennis. Bunyi klakson berulang kali, tanpa jeda. Dennis sengaja membuat keributan sambil mengekor langkah Naina dengan mobilnya.


Untuk jarak dari rumahnya dan rumah yang ditempati Naina tidak terlalu jauh. Setengah jam mengikuti langkah kaki Naina, mobilnya pun merayap masuk ke halaman rumah. Mbok Sumi masih duduk menangis di teras rumah.


“Nai, maafkan ibu,” Mbok Sumi berusaha meraih tangan Naina yang menyimpan amarah di dalam diamnya.


“Aku tahu selama ini pasti ibu terlibat juga!” Naina bersuara sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Ia mengabaikan Mbok Sumi.


“Nai! Nai! Nai!” teriak Dennis sambil berlari mengejar.


“Dengarkan penjelasanku. Aku mohon. Kamu butuh mendengarkan alasanku, Nai.” Dennis menahan tangan Naina yang berhasil disusulnya.


“Boleh memukulku, boleh membunuhku, tetapi jangan marah padaku seperti ini. Aku mohon maafkan aku,” pinta Dennis memelas. Seumur hidup, pertama kalinya Dennis mengemis pada seorang wanita.


“Lepaskan aku, Mas!” Naina menghempaskan tangan Dennis. Wanita itu berlari masuk ke kamar putrinya. Dengan kasar Naina membanting pintu kamar, bahkan ia tidak peduli dengan tangan Dennis yang menahan di kusen pintu.


Jerit kesakitan Dennis terdengar saat pergelangan tangannya terjepit daun pintu yang sengaja dibanting Naina.


“Aw! Ini sakit, Nai!” teriak Dennis melihat tangannya memerah.


“Keluar! Singkirkan tanganmu. Aku akan menjepitnya lagi kalau kamu tidak menyingkirkannya,” ancam Naina.


“Tidak! Kita harus bicara, Nai. Izinkan aku menjelaskannya padamu ....”


Brak!! Hantaman pintu yang kedua kalinya, lebih keras dari sebelumnya. Dennis merasa pergelangan tangannya hampir patah. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tangannya berdenyut, sebagian kulit mengelupas dan memerah.


“Den, tanganmu bisa patah.” Mbok Sumi panik, buru-buru obat yang bisa digunakannya untuk mengobati Dennis.


“Nai, aku mohon.” Dennis memaksa masuk ke dalam setelah Naina mengalah.


“Mbak, tolong bereskan semua pakaian Wina. Aku dan Wina tidak bisa tinggal di sini,” perintah Naina.


“Nai, aku mohon jangan seperti ini.” Dennis masih memohon. Pria itu mengabaikan tangannya yang terluka. Memilih berjuang untuk mendapatkan maaf Naina.


***


Al dente adalah tekstur pasta yang memiliki tingkat kematangan sempurna. Tidak terlalu matang atau kurang matang, benar-benar di titik pas.