Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3 ENDING


Naina tertidur pulas setelah dipindahkan ke ruang perawatan sedangkan Wira tak bisa tidur lagi karena terlalu bahagia. Pria itu terus menerus memandang wajah tampan putranya dari ponsel.


"London Pratama Wirayudha. Not bad." Wira tersenyum setelah mengucapkan nama yang akan disematkan pada anak keduanya.


"Mas, kenapa belum tidur?" Suara Naina memecah keheningan pagi. Wira tersentak, mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada wanita cantik yang tergolek tak berdaya di atas brankar.


"Aku sedang memandang wajah London sampai tidak bisa tidur," ucapnya, berjalan mendekat. "Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Wira.


Naina menggeleng. "Kenapa namanya London? Apa kamu tidak bisa mencari nama yang lebih bagus lagi? Kehabisan ide?" Naina bertanya. Suaranya terdengar lemah.


"Itu karena kamu memberi nama putri pertama kita begitu istimewa, sampai-sampai aku kesulitan mencari nama untuk anak-anak kita selanjutnya." Wira menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Naina.


Wajah pucat dan kelelahan itu mengernyit, Naina bingung dan tidak paham dengan ucapan Wira.


"Maksudnya, Mas?"


"Wina itu dari Wira dan Naina. Begitu maksudmu, kan?" tebak Wira.


Naina mengangguk.


"Aku sudah membolak-balikkan, mencocok-cocokkan nama kita berdua. Nara, Rana, Wiwir, Wirwi, tidak ada yang bagus. Kalau aku memberi nama lain, pasti adik-adiknya terluka karena nama mereka biasa sedangkan kakaknya begitu istimewa."


Naina menyimak. "Lalu?"


"Aku putar otak." Pria tampan yang tampak kusut itu tersenyum malu-malu. "Aku putuskan memberi nama anak kita kota-kota di dunia saja. Saat mereka besar nanti, mereka tidak merasa ada yang istimewa dengan nama Wina. Anggap saja itu diambil dari ibukota negara Austria."


Bola mata Naina membulat.


"Anggap saja itu hadiah perjalanan terakhir kita ke benua Eropa. Bisa saja Wina terbentuk saat kita sedang bulan madu di Austria. Ingat kan?"


Naina mengangguk, pikirannya pun menerawang ke beberapa tahun silam.


"London. Aku suka sekali nama itu." Wira mengulangnya kembali.


Naina benar-benar dibuat terperanjat oleh jalan pikiran Wira. Di saat para orang tua lain merangkai dan mencari nama untuk anak mereka begitu indah dengan penuh makna, Wira beda sendiri.


"Ada tiga calon nama. London, Sydney dan Orlando. Aku suka ketiganya, tetapi aku putuskan untuk memberi nama anak kedua kita London. London Pratama Wirayudha." Wira dengan bangganya memperkenalkan nama sang putra.


"Jadi aku harus memanggil apa?" Kantuk yang lenyap karena obrolan ringan mereka membuat Naina menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Wira.


"Don?" Naina menebak. "Itu mudah diucapkan lidah kita yang Indonesia."


"Oh, tidak seperti itu. London akan dipanggil Tama, dan si Orlando akan dipanggil Yudha."


"Hah?" Naina terbelalak. Bahkan Wira sudah memikirkan sampai sejauh itu.


"Aku ingin 4 anak. Yang pertama Wina Pelangie Wirayudha, kedua London Pratama Wirayudha, ketiga dan keempat, Orlando Pratama Wirayudha atau Sydney Pelangie Wirayudha."


Naina berdecak sembari menggeleng lemah.


"Cukup jadi tim bulu tangkis saja, 2 pasang ganda campuran. Kalau tim bola voli atau sepakbola, aku kasihan padamu harus melahirkan sebanyak itu." Wira tersenyum.


"Aku lebih kasihan padamu, Mas. Terbayang harus bolak-balik ke toilet selama proses kelahiran mereka nanti." Naina menyindir sembari menahan perutnya, membayangkan Wira yang mondar-mandir ke toilet.


"Sudah, yang terpenting untukku ... terima kasih untuk semuanya. Terima kasih, karena kamu masih setia menghadapi kelakuanku yang terkadang masih seperti anak kecil dan sering menyakitimu, Nai." Wira merapikan rambut Naina yang jatuh menutupi sebagian wajahnya.


"Ya, Mas." Naina tersenyum. Tangannya perlahan mengusap pipi sang suami. "Terima kasih masih menungguku selama ini. Bahkan setelah berpisah pun, kamu masih setia menungguku pulang. Masih berjuang untukku. Mungkin aku pernah tersesat, tetapi sekarang aku yakin, rumahku adalah bersamamu." Naina tiba-tiba menitikkan air mata.


"Aku kembali, Mas. Aku mencintaimu." Tangan Naina bergetar, menangkup pipi kiri suaminya yang dingin terkena semburan pendingin ruangan.


***


Dua hari dirawat di rumah sakit, pada hari ketiga Naina sudah diizinkan pulang ke rumah. Selama dua hari ini, hanya Ratih dan Papa Wira saja yang menjenguk ke rumah sakit. Kondisi Mama Wira yang harus duduk di kursi roda membuatnya memilih menunggu di rumah bersama Wina dan Rima.


"Mas, bukankah ini bukan jalan pulang ke apartemen?" tanya Naina heran. Terlihat ia menggendong bayinya sembari menutup wajah baby Tama dari sengatan matahari. Seorang babysitter duduk nyaman di kursi belakang, sembari memangku tas berisi perlengkapan.


"Ya, aku memutuskan pindah ke sini setelah kamu melahirkan. Akan lebih nyaman untuk anak-anak tinggal di sini dibanding di apartemen." Wira masih fokus dengan jalan raya.


Naina menyimak kejutannya. Wira tidak pernah bercerita tentang ini sebelumnya, benar-benar kejutan untuknya.


"Sejak kita menikah lagi, sebenarnya aku ingin pindah. Hanya saja rumahnya belum siap dan masih butuh renovasi. Aku bersyukur, kontraktor yang aku pilih bisa menyelesaikannya beberapa hari sebelum kamu melahirkan. Jadi begitu keluar dari rumah sakit, baby Tama langsung masuk ke rumah baru." Wira tersenyum. Hati pria itu terasa teduh saat melihat Naina yang menggendong putra mereka, duduk di sampingnya.


Sepuluh menit masuk ke jalan kompleks, mobil Wira berbelok ke sebuah rumah tiga lantai dengan halaman yang sangat luas. Rumah bercat putih bergaya Mediterania itu tampak gagah. Tinggi menjulang dengan pilar-pilar tinggi membuat Naina terperangah.


Bibir ibu muda itu kian merekah saat menatap orang-orang yang berdiri di depan teras rumah menyambutnya. Ada Wina yang duduk di pangkuan mama mertuanya.


"Oh ya, aku lupa memberitahumu. Mama akan tinggal bersama kita mulai sekarang. Aku kasihan kalau Mama sendirian di rumah setiap Papa pulang ke rumah Ratih. Walau ada asisten yang menemani tetap saja rasanya berbeda. Aku harap, dengan tinggal bersama kita, Mama cepat pulih. Untuk alasan itu juga aku memutuskan meninggalkan apartemen yang sebelumnya kita tempati. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Wira tepat setelah menghentikan mobilnya di halaman rumah.


"Ya, Mas. Tidak apa-apa."


***


Naina menatap bayinya yang kini sedang dikuasai Mama Wira. Wina dan Nonik begitu antusias, berebutan ingin mencolek pipi baby Tama. Keduanya berdesakan, saling sikut untuk melihat dari dekat.


"Ibu, adik Tama lucu." Nonik bersuara, berbicara pada ibunya yang tengah menyajikan kopi pada Wira dan papanya.


"Itu keponakanmu, bukan adik." Wira bersuara sembari menyesap kopi yang disajikan Ratih.


Naina duduk bersandar di sofa tepat di samping Wira, memperhatikan Wina yang begitu bahagia menyambut adiknya.


"Pa, mulai sekarang ... tinggal di apartemenku saja. Itu lebih dekat dari sini dibandingkan tempat tinggal Ratih yang sekarang. Mulai sekarang, Mama akan tinggal bersamaku, jadi Papa tidak perlu khawatir dengan Mama lagi. Aku dan Naina yang akan merawatnya di sini," putus Wira.


Papa Wira terkejut.


"Papa bisa datang kapan saja, menginap juga tidak masalah. Aku pikir lebih baik Mama bersamaku dan Naina. Mama juga pasti lebih nyaman di sini, ada cucu yang menemaninya."


Papa Wira tersenyum. "Papa menurut padamu saja, Wir." Pria tua itu menepuk pundak Wira. "Selamat untuk kelahiran putramu," lanjutnya lagi.


Di tengah obrolan ringan sembari menunggu makan siang yang akan disiapkan Ratih dan dua asisten rumah, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Tampak security gerbang depan muncul di pintu sambil memeluk buket bunga raksasa.


"Ada kiriman bunga untuk Ibu Naina dan Pak Wira." Security menyodorkan rangkaian bunga ke hadapan Wira.


"Dari siapa?" Wira mengernyit.


"Itu ada kartu ucapannya, Pak. Di dalam amplop." Security menunjuk ke amplop biru yang menyelip di antara bunga lily putih.


Wira mengambil alih dan meletakkannya di atas meja.


"Wah, cantik sekali. Dari siapa, Mas?" tanya Naina, mengagumi buket bunga lily putih kesukaannya yang diletakkan sang suami di hadapannya.


Wira menggeleng. Tangannya sudah membuka kartu ucapan dan membacanya.


Selamat untuk kelahiran keponakan baruku, London Pratama Wirayudha. Semoga tumbuh jadi anak yang pintar dan hebat.


Dari,


Pamanmu yang tampan.


Dahi Wira berkerut, bingung dan menatap Naina. "Dari Dennis, bagaimana pria menyebalkan itu bisa mengetahui banyak hal." Wira menyodorkan kartu ucapan itu ke pangkuan Naina.


***


THE END


Kisah ini tamat. Yang masih merindukan Wira & Naina, bisa ikuti di judul Melukis Senja atau follow instagram casanova_wetyhartanto