Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 8


"Aku permisi, Mas."


Naina berbalik, memilih bungkam adalah cara terbaik untuk menghindari pertengkarannya dengan Wira. Apalagi saat ini, ia sedang berada di kantor Wira.


Tidak ada lagi kebiasaan mencium punggung tangan Wira seperti yang dilakukannya lima tahun silam. Ia bahkan sudah melupakan rasanya kecupan hangat di dahinya setiap berpamitan pada sang suami. Semua kebiasaan manis itu lenyap seiring berjalannya waktu. Ditambah, Wira kini berubah. Naina tidak memiliki keberanian untuk menuntut lebih.


"Mau ke mana?" Wira yang sejak tadi menarik urat setiap melontarkan kata-kata, mendadak melunak.


"Pulang, Mas." Naina menghentikan langkahnya sejenak.


"Minta William mengantarmu pulang. Jangan naik taksi." Wira meraih ponsel dan menghubungi asistennya untuk mengantar Naina pulang ke rumah. Ia tidak mau dilanda kecemasan, pulang dengan William setidaknya lebih aman dan nyaman untuk Naina yang tengah hamil.


***


Hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa kandungan Naina sudah bertambah bulan. Di tengah kesibukan mengurus toko pakaian dan perlengkapan bayi dan anak-anak, Naina bahkan hampir lupa dengan hubungan rumah tangganya yang tidak sehat.


Semua masih tetap sama, Wira masih sendingin biasanya. Tidak menyapa apa lagi bicara, pasangan suami istri itu masih berpisah tempat tidur. Wira lebih banyak menyibukan diri bersama Wina dan Naina memilih fokus pada usaha yang baru dirintisnya. Usaha baru yang masih belum bisa dibilang maju, ia masih merangkak, memulai semuanya dari nol.


Tanpa kompromi, Wira memasukan Wina ke sekolah. Sudah dua minggu gadis kecil itu masuk ke preschool, yang terletak tidak terlalu jauh dari kediaman mereka. Awalnya, Naina ingin berdebat. Namun, mengingat rumah tangga mereka masih dilanda perang dingin, Naina memilih mengalah. Tidak mau sampai terjadi pertengkaran. Kata-kata Wira di saat marah, terkadang menyakitkan. ia tidak mau sampai mengganggu pikirannya.


Pagi itu seperti biasa, Wira keluar dari kamarnya dengan wajah pucat. Sudah hampir sebulan ini, pria itu mengalami mual di pagi hari dan kehilangan nafsu makan. Bahkan Wira sudah jarang menikmati sarapan pagi, hanya menemani Wina sebelum gadis kecil itu berangkat ke sekolah ditemani Rima dan sopir pribadi yang disiapkan Wira.


"Mas, aku mau periksa kandungan ke dokter siang ini. Mas mau ikut?" Naina yang biasanya menyingkir dari Wira, tiba-tiba menghampiri pria yang sudah berpenampilan rapi dan siap berangkat ke kantor. Ia merasa harus menawari Wira, walaupun tanpa suaminya itu ia bisa pergi sendiri dengan sopir yang dipekerjakan Wira khusus untuk mengantarnya.


Wira diam. Pria itu tetap fokus pada Wina yang tengah menghabiskan roti tawar dengan cokelat dan parutan keju.


"Habiskan rotinya, Sayang. Ayah harus ke kantor secepatnya. Ada rapat penting pagi ini." Wira mengusap pelan rambut Wina dan mengabaikan Naina yang tengah berdiri menunggu jawaban.


Ia tahu Naina pasti kecewa dengan sikapnya, tetapi ia juga masih kecewa pada Naina. Memilih menghindar lebih baik, dibandingkan ia menyakit Naina dengan kata-kata pedas yang keluar dari bibirnya.


Hampir lima belas menit berdiri menunggu, Naina harus menelan kecewa. Wira tidak menganggap keberadaannya. Naina yakin, Wira mendengar jelas ucapannya. Namun, Wira memilih mengabaikannya.


Naina menelan saliva saat Wira menggendong Wina dan meminta gadis kecil itu berpamitan padanya. Ucapannya bagaikan angin lalu.


"Pamitan dengan Bunda. Wina mau berangkat ke sekolah, kan," ucap Wira sembari menggendong Wina mendekat.


"Bunda ... cekolah." Wina berpamitan dengan lucunya.


"Ya, Sayang." Naina mengecup kedua pipi gembul Wina diakhiri dengan ciuman di ubun-ubun putrinya.


Kecewa, tentu saja ia sangat kecewa dengan sikap Wira. Namun, ia juga tidak bisa memaksakan keinginannya. Masalah hati dan perasaan seseorang tidak bisa dipaksa. Wira bukan anak kecil lagi, suatu saat pasti akan menyadari kalau semua ini tidak benar.


Rumah tangga tidak bisa dipermainkan seperti ini. Hanya saja, Naina cukup bersyukur, setidaknya Wira masih menjaga sikapnya di depan putri mereka. Wira masih bertanggung jawab untuknya dan Wina. Mungkin saat ini yang bisa dilakukannya adalah bersabar dan mengalah. Wira sedang berusaha untuk menyembuhkan perasaan terlukanya.


***


Memutuskan ke dokter kandungan sendirian, Naina bersyukur kehamilannya baik-baik saja. Di tengah masalah rumah tangga yang menghantam, ia memiliki Wina dan calon bayi di rahim yang menguatkannya. Kesibukan di usaha barunya sedikit banyak membuatnya melupakan masalahnya dengan Wira.


Siang itu, setelah keluar dari ruang praktek dokter kandungan, Naina terus tersenyum sembari menatap foto hasil USG bayinya. Bahkan, sampai di perjalanan, ia masih saja terpaku pada selembar kertas kecil berwarna hitam putih. Gambaran kehidupan bayi mungil yang tengah meringkuk di rahimnya.


"Kamu harus tetap bertahan, Nak. Bunda juga berjuang untukmu." Naina berkata pelan sembari mengusap perutnya yang mulai muncul di usia kandungan memasuki 16 minggu.


Selain memastikan kondisi janinnya, Naina juga berkonsultasi perihal tes DNA yang sempat diucapkan Wira di awal pertengkaran mereka. Dan Naina sudah memantapkan hatinya untuk melakukan tes DNA, demi rumah tangganya dan Wira. Walau ia tahu, tes DNA di masa kehamilan itu beresiko. Ia juga ingin memiliki pernikahan yang sama seperti pasangan lainnya. Kalaupun hasilnya ternyata mengecewakan, ia sudah memantapkan hati untuk berpisah dari Wira. Setidaknya itu lebih baik dibandingkan apa yang sedang dijalaninya saat ini.


Pandangan Naina beralih pada sopirnya, pria paruh baya yang dipekerjakan Wira untuk menemani aktivitasnya.


"Pak, kita ke kantor Mas Wira," titah Naina sambil mengirim pesan pada karyawan toko. Rencananya ia tidak akan kembali ke toko hari ini.


"Baik, Bu." Sopir itu menurut, melajukan kereta besinya menuju PW Group.


"Bu, kita sudah sampai."


Naina tersentak, buru-buru turun dari mobil. Ia harus bicara serius dengan Wira. Dan itu tidak mungkin dilakukannya di rumah. Wira tidak akan mau memberi kesempatan untuknya.


***


"Mas, aku baru dari dokter kandungan." Naina membuka suara. Disodorkannya hasil USG ke hadapan Wira. Seperti biasa, pria itu hanya menatap sekilas dan kembali menenggelamkan diri pada pekerjaan, pada tumpukan berkas dan komputer di atas meja.


"Aku sudah berkonsultasi mengenai tes DNA. Dan ...."


"Aku sedang tidak ingin membahas masalah ini. Sebaiknya kamu pulang, Nai. Aku masih banyak pekerjaan," potong Wira.


"Mas Wira masih sama. Bahkan Mas Wira tidak bertanya bagaimana kehamilanku. Apa bayi kami baik-baik saja." Naina menghela napas lelah.


"Mas, bukankah sebaiknya kita menyelesaikannya sekarang. Kalau memang bukan bayimu, kita bisa berpisah baik-baik." Naina menjatuhkan tubuhnya di kursi, tepat di depan Wira.


"Jangan bermimpi. Lalu kamu akan kembali pada Dennis. Begitu, kan?" Wira mengangkat pandangannya.


"Wina putriku, hanya boleh memiliki satu ayah, yaitu Pratama Wirayudha!" tegas Wira.


"Mas ...."


"Jangan berdebat lagi, Nai. Pulang dan temani Wina. Putri kita sudah pulang dari sekolah. Sebaiknya kamu menemaninya, dibandingkan menghabiskan waktu mengoceh di depanku," ceorocos Wira.


"Mas ...." Kalimat Naina terhenti, ponsel di meja Wira berbunyi.


"Papa?" Wira bergumam pelan saat memastikan siapa yang menghubunginya.


"Ya, Pa. Ada apa?" Wira bersuara sesaat setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Wir, cepat ke rumah sakit. Mamamu sudah sadar. Dia mencarimu dan Dennis." Papa Wira memberi kabar dari seberang telepon.


Deg--


Jantung Wira berdegup kencang, memandang Naina yang juga tengah memandangnya. Tatapan keduanya beradu. "Aku akan ke rumah sakit sekarang, Pa."


"Ada apa, Mas?" tanya Naina heran, melihat Wira bangkit dan berjalan keluar ruangan buru-buru.


"Mama sadar." Wira menjawab dengan berlari menuju lift, meninggalkan Naina yang terpaku di tempatnya berdiri.


"Aku ikut, Mas." Naina berlari menyusul Wira yang sudah jauh di depannya.


"Mas ...."


"Mas ...."


"Mas ...."


Ibu hamil itu tersenyum saat Wira berhenti, berbalik dan berjalan ke arahnya.


"Jangan berlari, kamu sedang hamil, Nai." Wira tiba-tiba meraih pergelangan tangan Naina dan berjalan menuju lift bersama-sama.


***


Tbc