Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 20


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Naina memutuskan untuk menerima tawaran Pieter. Bukan tanpa alasan, Naina sudah tidak bisa terlalu lama menganggur. Tabungan yang didapatnya dari bekerja di luar negri mulai menipis. Secepatnya, ia harus mendapatkan pekerjaan supaya bisa tetap memenuhi kebutuhan rumah tangga dan Wina, termasuk membayar gaji Rima.


Sehari setelah menerima panggilan dari Pieter, Naina pun menemui mantan majikannya itu di RD Group. Ia disambut langsung oleh Pieter dan Pram, pemilik perusahaan yang sebelumnya sudah pernah ditemuinya saat sesi wawancara sebelum terbang ke Austria setahun lalu.


Hari ini, tepat seminggu sudah Naina bekerja di RD Group sebagai asisten Pieter. Ia sangat bersyukur bisa bergabung di perusahaan real estate dan property itu meskipun masih berstatus percobaan selama tiga bulan.


Selama bekerja, rutinintas Naina mulai berubah. Saat azan subuh berkumandang, ia sudah harus bangun dan menyiapkan semua keperluan Wina termasuk sarapan putri kecilnya itu. Sebelum berangkat ke kantor, ia juga harus mengurus buah hatinya itu seperti memandikan dan menyuapinya sarapan. Sebisa mungkin ia ingin terlibat dalam perkembangan Wina termasuk menghabiskan waktu lebih banyak lagi. Ia ingin putrinya tumbuh dengan sentuhan tangannya walaupun tidak sempurna seperti ibu-ibu lainnya, yang berkesempatan menghabiskan 24 jam waktu bersama putra -putri mereka.


Tepat pukul delapan pagi, Naina dengan setelan kerja sederhana tiba di kantor. Menenteng tas tangan coklat, ia menuju ke ruangan Pieter yang sekarang menjabat sebagai wakil direktur RD Group.


“Pagi Pak,” sapa Naina saat matanya beradu pandang dengan Pieter yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


“Angel, kamu terlambat hari ini?” tanya Pieter melirik rolex di pergelangan tangannya.


“Maaf Pak. Wina sedikit rewel, jadi aku harus menenangkannya sebelum berangkat,” jelas Naina, berjalan mendekat. Naina tertegun saat melihat dua kotak mika diletakan di atas meja kerja.


“Duduk, Angel,” pinta Pieter, membuka kotak mika berisi bubur ayam komplit dan menyodorkannya pada sang asisten.


“Maaf Pak, aku ....”


“Temani aku, Angel,” pinta Pieter sembari memamerkan senyumnya yang secerah matahari pagi bersiap menyambut hari.


“Pak ....”


“Duduk dan habiskan sarapanmu, Angel. Atau kamu mau aku suapi?” tawar Pieter mengedipkam sebelah matanya. Seperti biasa, menggoda Naina adalah agendanya setiap hari. Bekerja bersama wanita itu membuatnya memiliki banyak waktu mengenal Naina sebagai seorang laki-laki.


Selama setahun bersama di Austria, ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk itu. Kondisi fisik membuat Pieter tidak bisa bertindak lebih jauh.


“Ayo duduk, Angel,” pinta Pieter saat menangkap keraguan di mata Naina.


Pria yang sekarang sudah bisa berjalan sendiri dengan bantuan kruk sikut di tangan kanannya itu baru akan berdiri dan menarik Naina untuk menurut. Namun, diurungkannya niat itu setelah melihat asistennya menurut.


“Angel, makan yang banyak.” Pieter menyendokan sebagian bubur dan toping ayam miliknya. Dipindahkannya ke dalam kotak mika milik Naina.


“Jangan Pak, tidak perlu.” Naina merasa sungkan. Sebulan berpisah dengan Pieter, ada tembok pembatas yang dibangun Naina. Berbeda saat mereka tinggal bersama di Austria, Naina bisa berbagi banyak hal dengan pria yang sedang tersenyum menatapnya tak berkedip.


“Aku khusus membelinya untukmu, Angel.” Pieter menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Pria tampan yang masih setia hidup menyendiri itu mengamati Naina dengan sorot mata penuh arti. Tatapan penuh cinta sang casanova yang diyakini Pieter akan membuat semua wanita luluh lantah.


“Jangan melihatku seperti itu, Pak. Aku jadi tidak bisa menelan makanannya,” protes Naina sembari menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.


“Memang ada masalah dengan tatapanku. Setiap pria juga akan menatap seperti ini pada wanita cantik,” goda Pieter seperti biasa.


“Kamu tahu, Angel. Saat melihatmu sarapan seperti ini, aku merindukan saat-saat kita berbagi hari berdua di Austria. Aku rindu dipelukmu, Angel. Kalau aku bisa dipelukmu setiap hari seperti dulu, aku rela tidak bisa berjalan seumur hidup.” Pieter melancarkan kembali serangannya.


“Pak, kenapa ketika kakimu semakin membaik, berganti otakmu yang memburuk?” ungkap Naina.


“Benarkah? Ada masalah di otakku, Angel? Ah ... aku tahu. Otakku bermasalah karena terlalu lama memendam rindu padamu.” Pieter masih saja mengirim kata-kata manis merayu.


“Apa kamu tidak merindukanku, Nai?” tanya Pieter.


Belum sempat Naina menjawab, pintu ruangan itu terbuka. Muncul Pram dengan wajah frustasi, berjalan masuk tanpa permisi.


“Pieter ...” sapa Pram dengan suara tidak bersemangat.


“Hmmm,” gumam Pieter tanpa mengalihkan pandanganya dari Naina.


“Tolong gantikan aku setelah makan siang. Akan ada rapat dengan beberapa perusahaan rekanan kita,” pinta Pram berjalan mendekat.


“Biasa ....” sahut Pram singkat. Tidak mungkin membahas hal pribadinya di depan Naina.


“Hahahaha ... apa si kembar mengganggu kesenangan daddy-nya lagi semalam,” tebak Pieter.


"Bukan urusanmu," cerocos Pram dengan ketus dan tidak bersahabat sambil menatap punggung Naina.


"Stella akan membantumu menyiapkan berkasnya. Kamu dan Naina bisa mempelajarinya dulu. Bukankah ini rapat pertama kalian? Kamu bisa sekalian memperkenalkan dirimu, Pieter,” lanjut Pram.


"Aku tinggal dulu." Pram berpamitan keluar.


Perlahan pintu ruangan itu tertutup. Pieter baru bersuara lagi setelah memastikan pintu panel itu menutup sempurna.


"Maafkan si Pak Bos. Dia sedang uring-uringan. Pasti moodnya anjlok karena tidak sempat meninjau ke proyek semalam. Si kembar memang luar biasa." Pieter bersuara.


"Hah!" Naina terkejut, tidak paham maksud ucapan Pieter.


"Sudah nikmati saja sarapanmu. Tidak usah dipikirkan ucapannya. Sebentar lagi, Pram juga akan keluar kantor. Dia pasti sudah meminta Stella booking kamar hotel lagi." Pieter terkekeh.


“Bangkotan itu tidak akan pulang ke kantor sebelum puas dengan istrinya,” lanjut Pieter menggosipkan sahabatnya.


***


Salah satu burung besi milik maskapai Garuda Indonesia baru saja mendarat di bandara Soekarno Hatta setelah mengudara kurang lebih lima jam dari Hong Kong menuju Jakarta.


Tak lama, sudah terlihat rombongan penumpang turun di ruang kedatangan terminal tiga. Salah satu dari sekian banyak penumpang yang menyeret koper, tampak Wira dengan tampilan casualnya. Kacamata hitam setia menghias wajah tampan yang selalu berhias kabut duka.


Pria itu kembali lagi ke tanah air setelah hampir sebulan tinggal di Tsim Sha Tsui, Kowloon untuk mengurus bisnis barunya. Ia benar-benar menjadi pekerja keras setelah bercerai dan memilih menjadi single sejati. Hidup bergelimang harta, tanpa cinta dan kekasih.


Begitu melangkahkan kaki keluar dari bandara, pria dengan tampilan mahalnya itu sudah disambut dengan sengatan matahari yang menyilaukan. Tak lama, terdengar suara William yang berlari kecil menghampirinya. Asisten setia yang menangani perusahaan selama ia bertugas di luar negri.


"Mari, Bos." William mengambil alih koper hitam dari tangan Wira. Pria itu terlihat bersemangat menyambut tuannya.


"Ke tempat putriku sekarang, Will," perintah Wira, berjalan mengekor.


Baik, Bos,” sahut William tanpa protes.


“Bagaimana keadaannya? Apa Wina baik-baik saja?” tanya Wira lagi setelah duduk di dalam mobil.


“Baik, Bos. Mamanya juga sudah bekerja. Terlihat seminggu ini selalu pergi pagi pulangnya sore atau malam hari.” William bercerita tanpa diminta.


“Oh ....” Hanya reaksi biasa dan sederhana. Wira tidak banyak bertanya tentang Naina setelah menemukan dan memastikan keberadaan putrinya, Wina.


“Will, aku akan memastikan Wina putriku atau bukan. Walaupun aku sangat yakin, tetapi aku butuh bukti nyata. Aku tidak mau salah mengambil tindakan.”


“Baik, Bos.”


“Tes DNA?” tanya William menatap Wira yang duduk di kursi belakang dari spion mobil.


Wira mengangguk. “Aku tidak ingin diketahui. Lakukan tes diam-diam.”


***


Tbc