Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 58


“Aku melakukan tes DNA dengan jelas. Di lembaga yang memang sudah diakui. Disaksikan langsung oleh petugas, sampel darahku dan Nola pun diambil langsung oleh petugas resmi. Proses serah terimanya jelas. Bukan tes DNA diam-diam seperti yang kalian lakukan dengan mencuri beberapa helai rambut putriku!” lanjut Dennis lagi.


Tentu saja Wira tidak terima. Sudah berulang kali ia melakukan tes dan hasilnya tetap saja sama. Nola adalah putrinya.


“Bagaimana bisa? Kamu pasti mengada-ada! Aku tidak percaya denganmu!” tegas Wira, garis wajahnya begitu tegas. Dengan memeluk Nola yang menangis ketakutan di gendongannya. Melihat pertengkaran orang dewasa, gadis kecil itu menjerit.


“Ssttt, jangan menangis Sayang. Papi di sini,” bujuk Wira, mengusap lembut punggung gadis mungilnya.


“Ayo kita lakukan tes ulang?” tawar Dennis, tersenyum menatap Wira yang sedang menggendong putrinya.


“Aku tidak percaya padamu!” Wira bergegas masuk ke dalam rumah, membawa putrinya menjauh dari keributan.


“Lepaskan! Nola benar-benar putriku!” Dennis sedikit melembut.


“Kamu berbohong. Mama melakukan tes itu sendiri, membawa sampel ke rumah sakit, bagaimana bisa hasilnya salah?” Mama Wira membuka suara setelah sekian lama. Wanita paruh baya itu juga menolak percaya.


“Jangan mengatakan kata mama di sini. Aku muak mendengarnya!” potong Dennis.


Pria itu tersenyum menatap Dewi. “Ambil putriku, Dew. Bawa Nola ke mobil.” Terdengar tangis Nola yang tidak mau lepas dari gendongan Wira.


“Tolong bekerjasama. Nola benar-benar putriku. Kalian bisa cek hasil tes DNA antara aku dan Nola. Yang diambil dari sampel darahku dan usapan selaput lendir pipi Nola. Itu tidak mungkin menipu. Sampel itu diambil langsung pihak rumah sakit,” jelas Dennis sedikit melunak.


“Bagaimana dengan hasil tes di tanganku? Jangan katakan kamu memalsukannya?” tuding Wira. Berbalik badan siap menghajar Dennis.


“Tidak itu asli. Hasil di tanganmu itu asli, tidak ada manipulasi. Hanya saja kamu terlalu bodoh!” Dennis tertawa, menjatuhkan bokongnya di kursi,


“Kurang ajar! Apa maksudmu?” Wira tidak terima.


“Sampel yang kamu bawa ke rumah sakit itu bukan milikmu dan Nola, tetapi milikku dan Nola,” jelas Dennis, menjatuhkan tubuh di sofa dengan santainya.


“Mau menyalahkan siapa? Menyalahkan orang lain yang pintar atau kamu yang terlalu bodoh! Seharusnya kamu sedikit lebih dekat dengan Stevi dan Nola selama pernikahan siri kalian, hingga kamu bisa menangkap banyak hal yang selama ini sengaja ditutupi.”


“Dua tahun pernikahan, bahkan teritung dengan jari kamu mengunjungi istri dan anakmu. Itu pun tidak pernah lama. Wajar saja kalau kamu ketinggalan banyak hal. Kamu tidak tahu kebohongan apa yang sudah direncanakan untukmu.”


Wira berlari, menghajar Dennis, setelah menyerahkan Nola pada pengasuhnya. Pukulan bertubi-tubi mendarat di rahang pria blesteran itu, tetapi Dennis tidak melawan. Hanya menerima pukulan sambil menatap nanar pada Mama Wira yang terduduk di lantai. Dia tahu mamanya akan menghentikan semuanya. Mamanya tidak akan membiarkan dia habis di tangan Wira.


“WIRA! Sudah! Kakakmu bisa meninggal!” teriak Mama Wira.


Papa Wira yang sejak tadi diam-diam menyimpan rasa bersalahnya, ikut menahan Wira. Tidak mau terjadi pertumpahan darah di rumahnya.


“Aku didukung oleh orang-orang yang setia. Yang sudah kuanggap seperti keluargaku. Apa yang aku tidak tahu tentang kalian. Bahkan aku menitipkan keluargaku tinggal bersama kalian.” Dennis bangkit, mengusap sudut bibirnya yang terluka dan berdarah.


“Mbok Sumi ... dia sudah aku anggap seperti ibuku sendiri!” cerita Dennis.


“Dia mengasuhku sejak kecil, menjagaku seperti anaknya sendiri bersama suaminya,” lanjut Dennis.


Mama Wira melemas. Selama ini ia selalu meminta bantuan asisten rumah tangga itu untuk membantunya mengambil sampel rambut putranya. Selama ini, ia begitu dekat dengan Mbok Sumi, bahkan mempercayakan banyak hal pada Mbok Sumi. Termasuk mencari pengasuh untuk cucunya, Nola.


Sebelum bekerja dengan Wira, Mbok Sumi sudah ikut dengannya selama dua tahun bersama suaminya yang juga seorang sopir di rumah mereka.


Teringat dengan suami Mbok Sumi yang sekarang masih menjadi sopir di keluarga mereka.


“Jangan katakan ... kalau pengasuh Nola dan sopir keluarga kami juga terlibat,” cicit Mama Wira pelan. Kepalanya hampir pecah, tidak sanggup menerima kenyataan kalau mereka sudah dimata-matai sejak lama.


“Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana bisa aku memastikan semua bisa berjalan sempurna. Semuanya terlibat.” Dennis tersenyum kecut.


“Dewi, putri Mbok Sumi ... sudah kuanggap seperti adikku. Dia yang mengambil peran paling penting. Setiap kali kalian ingin membuktikan tentang status Nola, dia adalah kunci utama. Yang melapor semua padaku. Bahkan rumah Stevi itu di dalam pengawasanku 24 jam. Apa yang aku tidak tahu. Bagaimana kalian diam-diam mencuri helai demi helai rambut putriku, aku melihat jelas!” Dennis terkekeh.


Wira melemas di dalam cekalan papanya. Tidak sanggup bicara lagi. Rumah tangganya hancur karena kebodohannya sendiri. Dia gagal mempertahankannya, ikut jatuh di dalam permainan Dennis, yang tak lain adalah kakaknya seibu beda ayah.


Dennis tampak berjalan menghampiri bodyguardnya. Mengambil satu amplop putih dan melemparnya pada Wira.


“Satu kali ... kamu pernah melakukan tes dengan mengambil sampel darahmu sendiri dan ini hasil tes milikmu yang sempat aku tukar dengan tes milikku. Yang ada di tanganmu adalah hasil tes milikku dan Nola. Itu hasil tes milikmu yang seharusnya, aku tidak pernah membukanya. Tidak tahu juga hasilanya. Semoga itu bisa membuktikan kalau Nola bukan putrimu!”


“Untuk satu kali ini aku benar-benar tidak berpeluang mengganti sampel, mau tidak mau aku juga harus melakukan tes, sehingga menukar hasilnya. Aku akui aku salah kali ini, melibatkan petugas rumah sakit untuk menukar hasil tes, tetapi aku tidak pernah memalsukan hasil tes.”


“Keterlaluan!” Wira terpancing emosi kembali.


“Kamu membuat rumah tanggaku hancur berantakan. Dan sekarang kamu puas dan bisa tertawa!” lanjut Wira.


“Kamu tidak bisa menuntutku. Hasil yang dikeluarkan rumah sakit itu asli, memang dari sampel yang kalian berikan.”


Dennis tersenyum bahagia. “Ayo kita pulang, Dew. Urusan kita dengan keluarga ini sudah selesai.”


“NOLA!” teriak Mama Wira.


“Kamu tidak bisa mengambil Nola begitu saja. Dia cucuku. Kamu tidak bisa memisahkan aku dengan Nola,” lanjut Mama Wira. Menangis tetapi tidak sanggup berbuat apa-apa.


“Mulai sekarang jangan menganggap Nola cucumu. Sebentar lagi, kamu akan menangis lebih kencang lagi!” ucap Dennis terbahak.


Sebelum meninggalkan kediaman Wirayudha, Dennis dengan wajah babak belurnya masih sempat menghampiri Wira yang terpukul. Duduk di lantai dengan kedua lutut bertekuk.


“Maafkan aku, Bro! Aku banyak berbuat salah padamu. Aku akan menebusnya dengan caraku sendiri. Suatu saat kalau kita bertemu lagi, aku akan mengakuimu sebagai adikku, meskipun aku tidak akan mau mengakui wanita itu mamaku,” ucap Dennis menatap lekat wajah Wira yang lemas.


Tanpa merasa berdosa sedikit pun, Dennis memeluk Wira, merangkul pundak yang melemas itu.


“Jadi laki-laki itu harus kuat. Ini kesalahanmu juga, terlalu lemah! Harusnya jangan terlalu polos. Jangan menganggap semua orang itu baik. Ada banyak musuh tidak terlihat di sekitarmu,” bisik Dennis di sela pelukannya pada Wira.


“Pulang ke rumahmu. Ada hadiah dari Mbok Sumi untukmu!” Dennis menepuk punggung Wira.


“Apa maksudmu?” Wira mengurai dekapannya.


“Dulu mendapatkannya tanpa perjuangan. Mungkin ini saatnya kamu berjuang. Andai tetap tidak bisa kembali seperti dulu, mungkin dia bukan jodohmu!” Dennis menepuk pelan pipi Wira, tersenyum. Senyuman yang sedikit berbeda dengan sebelumnya. Lebih tulus dan hangat.


***


TBC