Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 28


Waktu begitu cepat berlalu, akhir pekan pun datang. Wira yang sudah mengantongi izin dari Naina, sudah bersiap untuk membawa Wina untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Meletakan IPhone 12 pro max-nya ke atas meja kerja, Wira baru saja menghubungi sang mama untuk mengabari kedatangannya.


Tatapan pria itu menerawang, pikirannya pun ikut mengurai simpulan kehidupan yang begitu rumit dan berbelit. Terlihat menarik laci teratas meja kerjanya, Wira mengeluarkan sebuah map hitam. Dengan hati-hati, dibuka dan dikeluarkannya selembar kertas. Tercetak dengan huruf kapital jelas dan besar di bagian atasnya. AKTA PERCERAIAN. Selembar surat yang mengukuhkan perceraiannya dan Naina selain berkas dari pengadilan negeri.


"Apa yang harus aku lakukan, Nai.” Wira berkata lirih, matanya mengembun.


“Kalau aku pria asing di dalam hidupmu, tentu saja aku akan datang dan berlutut dengan sekotak cincin. Melamarmu detik ini juga ....” Wira terdiam sejenak. Ibu jarinya mengusap pelan air mata yang tiba-tiba menetes tanpa sanggup dibendung.


“Kita memiliki masa lalu. Kita memiliki Wina, aku tidak bisa bertindak gegabah. Kesempatanku cuma sekali. Andai aku ditolak, aku bukan hanya kehilangan kesempatan, tetapi kehilangan Wina juga seumur hidup. Aku tidak bisa seperti pria lain yang nothing to lose. Berdiri berteriak menyatakan cinta. Tidak bisa seperti saat pertama melamarmu.” Wira bermonolog.


Wira menghela napas kasar sembari bersandar di kursi kerjanya. Raut wajah tampan itu terlihat penuh beban.


“Baiklah, kita mulai dengan masalah pertama. MAMA. Setidaknya aku harus menyingkirkan satu per satu masalah untuk bisa membawa Wina ke dalam hidupku. Dengan atau tanpa Naina. Aku tidak bisa memaksa perasaan Naina untuk tetap setia padaku, seperti aku yang selalu setia padanya.”


“Tiga tahun berlalu, pasti ada banyak pria yang singgah di dalam hidupnya. Naina memiliki kebebasan untuk mencintai siapa pun. Kami sudah resmi bercerai. Aku tidak berhak mengintervensi perasaannya walaupun aku sangat berharap aku masih jadi satu-satunya di dalam hidup Naina.”


***


Siang itu cuaca kota Jakarta panas terik. Semilir angin meniup dedaunan tidak sanggup meredam sinar matahari yang luar biasa menyengat. Wira terlihat menggendong Wina turun dari mobil sport hitam miliknya. Rima sang pengasuh tampak mengekor di belakang dengan menenteng tas berisi perlengkapan Wina seperti baju ganti dan susu. Ia tak mau Wina rewel dan membuat kacau semuanya. Apalagi Naina tidak ikut bersama mereka.


“Ma, aku datang.” Wira berjalan masuk ke dalam rumah yang pintu depannya memang tidak dikunci. Masih dengan menggendong Wina, putri kecilnya itu bersandar manja di pundaknya. Terselip di saku celananya sebuah amplop yang dilipat kecil.


“Wir, akhirnya kamu datang. Ada seseorang ingin me ....” Mama Wira tidak melanjutkan kata-katanya. Wanita paruh baya yang baru saja keluar dari arah dalam rumah terkejut melihat Wira datang dengan seorang anak kecil di gendongan.


“Apa-apaan ini, Wir?” tanya Mama Wira. Senyumnya hilang berganti kemarahan tertahan. Berdiri di belakangnya seorang gadis cantik, muda dengan postur tinggi dan tampilan mahal yang terlihat sederhana.


“Aku membawa putriku, Ma.” Wira menjawab santai. Melirik gadis di belakang mamanya yang berusaha tersenyum datar. Gadis itu terkejut dengan kedatangan Wira bersama seorang anak kecil.


“Adel, Tante minta maaf. Tante perlu bicara dengan anak tante dulu. Bisakah pertemuan ini ditunda dulu. Maafkan Tante, sudah memintamu datang mendadak, tetapi ternyata mengecewakan. Tante tahu, kamu mengorbankan banyak hal untuk bisa datang. Lain kali kita atur jadwal ulang, Tante sabar menunggu jadwalmu kosong.” Mama Wira setengah mengusir tamunya pulang.


“Baik, Tante. Tidak apa-apa. Mungkin bulan depan. Aku masih ada fashion show di New York. Jadwalku padat sampai akhir bulan.” Adelia menjawab dengan ramah sembari memeluk Mama Wira. Gadis itu sempat menyapa Wira dan menggoda Wina yang malu-malu di dalam pelukan sang ayah.


“Apa-apa ini Wir?” tanya Mama Wira setelah memastikan mobil Adelia sudah beranjak pergi dari pekarangan rumah mereka. Tentu saja ia mengenali gadis kecil yang sedang digendong putranya.


“Wina, ini Oma. Salaman dengan Oma dulu, ya. Setelah itu ayah akan mengenalkanmu dengan Opa.” Wira berusaha mengarahkan putrinya yang setia bergelayut dan menutup wajahnya. Gadis kecil itu menolak.


“Ayah ....” bisiknya lirih sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wira. Tangan mungil itu mengencangkan belitan di leher sang ayah.


“Ya, kalau tidak mau ... tidak apa-apa, Sayang,” bujuk Wira. Berjalan masuk ke area ruang keluarga. Ia bermaksud mengenalkan putrinya pada papanya.


Mama Wira yang belum puas, masih saja mengikuti dan memberondong Wira dengan banyak pertanyaan.


“Sudahlah, Ma. Apa tidak capek. Sudah tua juga. Apa tidak lelah mengurusi hal yang tidak penting,” cerocos Wira sembari melempar amplop yang diambil dari kantong celananya kepada sang mama supaya berhenti mengoceh.


“Tuh! Jangan banyak bicara. Wina putriku. Aku melakukan tes di rumah sakit. Tidak ada sabotase.”


Wanita tua dengan terusan longgar berwarna hijau daun pisang itu tertegun membaca isi amplop.


“Dia benar putrimu, Wir. Benar-benar cucu kami,” ucap Mama Wira melunak. Ia menatap ke arah suaminya.


“Ya, Ma. Aku membawa Wina ke rumah sakit untuk melakukan tes.” Wira menjelaskan.


“Sudah pasti tidak dipalsukan, kan?” tegas Mama Wira lagi.


“Ya, Ma.” Wira memastikan.


“Ya Tuhan. Gadis kecil ini benar-benar cucu kita. Wajah Mama Wira tersenyum sumringah. Berjalan mendekat dan mengelus rambut Wina dengan penuh kelembutan.


“Ayo Oma gendong. Kasihan ....” Mama Wira berhenti sejenak.


“Dia memanggilmu apa?” tanya Mama Wira pada putranya.


“Ayah.”


Mama Wira tersenyum. “Ayo Oma gendong. Kasihan ayah capek, Sayang.” Mama Wira berusaha membujuk. Perasaannya benar-benar bahagia saat ini. Kepastian dari Wira dan hasil dari rumah sakit itu cukup membuatnya yakin.


“Aduh, jangan memaksa, Ma. Wina belum mau. Aku saja butuh waktu untuk bisa dekat dengannya.”


Pundak Mama Wira melemas. Awan mendung bergelayut setelah mendapati cucunya menolak dirinya. “Di mana perempuan itu? Dia tidak ikut, kan?” tanya Wira setelah menguasai keadaan.


“Ma, sudahlah. Semua sudah berlalu. Jangan begitu. Bagaimana pun, dia ibu dari cucumu,” ucap Wira.


“Ya, mama tidak mempermasalahkannya asal kamu tidak memintanya rujuk kembali. Mama menerima cucu mama, Wina. Mama juga menerimanya sebagai ibu dari cucu mama, tetapi tidak sebagai menantu mama. Tiga tahun ini Mama banyak berpikir setelah bertemu dengan banyak gadis di luar sana. Masih banyak perempuan yang lebih pantas untukmu, Wir. Gadis, masih muda, dari kelas sosial yang setara denganmu, pendidikannya juga sepadan. Kita bisa menerima Wina menjadi bagian dari keluarga kita, tetapi tidak untuk Naina,” tegas Mama Wira.


“Mereka tinggal di mana?” tanya Mama Wira. Berbeda dengan sang papa yang tidak banyak bicara, Mama Wira sejak tadi mengoceh.


“Di kontrakan kecil, di gang sempit. Aku berencana merenovasi rumah lamaku. Biarkan mereka tinggal di sana. Dan aku akan mengambil kembali mobil Naina. Itu semua miliknya. Mama tidak keberatan, kan?”


“Tidak. Kalau itu untuk kebaikan cucuku, Mama tidak masalah. Hanya saja berbaikan bukan berarti harus kembali bersama.”


“Sampaikan maaf Mama untuknya. Mama tahu, Mama kelewatan sudah meragukannya saat ia datang mengunjungi Mama beberapa waktu lalu.”


***


“Pram ....” Pieter tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Em ... ada apa? Senyummu itu cukup mewakili. Pasti ada sesuatu yang kamu inginkan dariku.” Pram tersenyum menatap layar laptopnya. Kantor RD Group memang tidak beroperasi setiap akhir pekan dan hari libur nasional, tetapi dua petinggi perusahaan itu masih mengadakan meeting berdua meskipun hanya melalui zoom.


“Minggu depan ... perusahaan akan mengadakan Family Gathering untuk para petinggi RD Group ....” Pieter berkata dengan ragu-ragu.


“Lalu ....” Pram tidak dapat menyelesaikan ucapannya, pintu ruang kerja terbuka. Muncul Kailla menggendong salah satu anak mereka.


“Tunggu sebentar, Pieter. Nyonya Pratama sedang membutuhkan suaminya.” Pram berkata sambil tertawa.


“Ada apa, Sayang?” tanya Pram, mengalihkan pandangan dari layar laptop.


“Sayang, kamu melihat Kent?” tanya Kailla sembari berjongkok. Mencari bayinya di kolong meja kerja Pram.


“Kailla ....” Pram menggeleng. Kejadian yang sama setiap hari. Putra kedua mereka memang menuruni sifat Kailla. Persis seperti Kailla sewaktu kecil. Menghilang setiap semua orang lengah.


“Aku sedang sibuk dengan Baby Bent, tiba-tiba anak itu menghilang, Sayang,” jelas Kailla sembari meletakan putra pertama mereka di atas pangkuan Pram tanpa kompromi terlebih dulu.


“Memang Bin dan Kin ke mana?” tanya Pram.


“Sedang salat di musala belakang,” sahut Kailla. Mereka memang berasal dari keluarga non muslim, tetapi karena banyak pekerja yang tinggal bersama mereka adalah muslim, akhirnya Pram memutuskan membuat musala kecil di belakang rumah supaya para pekerja mereka tidak kesulitan saat beribadah. Untuk pekerja pria sendiri memang lebih suka salat di masjid komplek.


“Aku titip, Sayang. Kalau bersamaku, bisa hilang keduanya,” ucap Kailla bergegas pergi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia harus mencari Kentley. Si bayi nakal yang baru bisa merangkak.


Pram kembali fokus dengan laptop dan baby Bent yang memainkan pena mahalnya. Ia terpaksa membuat anak itu sibuk supaya tidak mengganggu obrolannya dengan Pieter.


“Bagaimana, Pieter?”


“Seperti yang aku sampaikan tadi. Apa aku bisa membawa Naina dan putrinya di acara itu?” tanya Pieter ragu.


Pram terkekeh. “Kamu serius dengan perempuan itu?”


Pieter mengangguk.


“Kailla pasti senang sekali mendengar kabar ini. Sejak awal Naina masuk ke perusahaan, dia sudah mendukung hubungan kalian. Jujur saja, aku menerima Naina karena Kailla. Maaf, kalau dilihat dari pendidikannya jauh di bawah standar perusahaan.” Pram bercerita.


“Jadi? Bagaimana?” Pieter bertanya.


Pram tersenyum dan mengangguk. Itu cukup sebagai jawaban kalau ia mengizinkan Pieter membawa Naina ke acara Family Gathering yang akan diadakan di Bandung.


***


Tbc