
Dengan menggandeng tangan Wina, Naina masuk ke dalam ruko dua setengah lantai tidak jauh dari apartemen yang sekarang mereka tempati. Naina mengedarkan pandangannya, senyum puas terukir di bibir. Ruko ini mewakili apa yang diinginkannya. Berdiri di atas lokasi yang strategis dan dekat dengan pusat kota, harganya terjangkau dan fasilitasnya menunjang untuknya yang memiliki batita dan sedang hamil muda. Sebuah kamar tidur dan toilet di lantai satu memantapkan hatinya untuk memberi tanda jadi.
"Pak, aku berminat." Naina tersenyum. "Tapi aku belum bisa menyelesaikannya sekarang. Aku harus mengantarkan makan siang ke kantor suamiku dulu. Mungkin besok ... aku akan menghubungi Bapak lagi." Naina menunjukan kotak bekal yang ditentengnya.
"Aku permisi dulu, Pak. Takutnya tidak keburu." Naina berpamitan. Ia harus mencari taksi dan segera bertolak ke kantor Wira.
Sejak kembali bersama, ia memang tidak diizinkan Wira mengemudikan mobil sendiri. Dan Naina juga sudah tidak terbiasa. Tiga tahun tidak menggengam kemudi, nyali ibu muda itu terkikis seiring waktu
***
"Will, Mas Wira ke mana?" Naina mendudukan Wina di sofa kantor Wira. Ia mengernyit heran saat melihat ruangan pemilik perusahaan kosong.
"Pak Wira masih di ruang rapat." William menjawab sambil melirik ke arah tas bekal yang diletakan Naina di atas meja kerja Wira.
"Oh, aku membawakan makan siang. Nanti ... sampaikan pada Mas Wira kalau sudah selesai rapatnya." Naina menghempaskan tubuhnya di samping Wina. Sejak tadi mondar-mandir, turun naik tangga, ia mulai merasa kelelahan di kedua kakinya.
"Baik, Bu. Ada lagi?" tanya William.
"Tidak. aku menunggu di sini saja." Naina tersenyum.
Menunggu adalah hal yang paling melelahkan. Waktu seakan berjalan lama. Demikian juga yang dirasakan Naina, duduk menanti kedatangan Wira dengan ditemani celotehan Wina.
Satu jam berlalu, jam makan siang berakhir. Namun yang ditunggu tidak kunjung muncul. Soto ayam yang tersimpan di dalam kotak bekal pun mulai mendingin, tetapi tanda-tanda kemunculan Wira masih belum ada. Naina menatap ke arah putrinya. Gadis kecil itu hampir terlelap, tidak sanggup menahan kantuk dan lelah.
Ada sedih merayap di dalam benaknya. Tadinya, Wira tidak begini. Setiap ia berkunjung ke kantor, pria itu akan menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat. Namun, dua hari ini Wira berubah, bahkan suaminya tega mengabaikan Wina.
Teringat sepanjang perjalanan ke kantor, Wina berceloteh dan menanyakan tentang Wira. Namun, gadis kecil itu harus menelan kecewa, menunggu Wira sampai kelelahan.
"Maafkan Ayah, Sayang. Ayah sedang marah pada Bunda. Jadi ikut mengabaikanmu," bisik Naina, sembari mengusap pucuk kepala Wina yang berbaring di pangkuannya.
Sambil menunggu Wina tertidur, Naina memilih menghabiskan waktu dengan mencari supplier untuk produk-produk yang akan dijualnya di butik nanti. Ia sudah yakin dengan keputusan, walau belum mengantongi izin dari Wira. Namun, hanya ini yang bisa dilakukannya untuk mengalihkan pikiran dari permasalahan rumah tangganya dan Wira.
Andai keadaan ini terjadi tiga tahun lalu, mungkin ia lebih memilih angkat kaki dan meninggalkan Wira dibanding bertahan dan menerima semua caci maki suaminya itu. Keadaan sudah berbeda sekarang, Naina tidak bisa bertindak seperti itu lagi. Kalau dulu, ia masih memiliki Mbok Sumi dan Dennis yang menjaganya. Kini, ia sendirian. Apalagi, alasan kemarahan Wira padanya cukup masuk akal dan bisa dimengerti. Wajar saja kalau Wira membencinya.
Saat ini, memutuskan pergi sama saja bunuh diri, kecuali Wira yang mengusirnya. Ada Wina bersamanya, ia tak mungkin tega membuat putri kecil yang baru saja mengecap bahagia itu terluka. Ia tidak bisa keras kepala dan hanya memikirkan lukanya sendiri. Memilih pergi, hanya akan membuat Wina dan bayinya terluka.
Ia sedang hamil, otomatis tidak bisa bekerja. Siapa yang akan membiayai hidupnya dan Wina di saat ia tidak bisa bekerja. Saat melahirkan nanti, siapa yang akan merawatnya, merawat bayinya dan Wina. Kenyataannya, ia memang membutuhkan Wira. Dan sebagai seseorang yang pernah mengecap asam garam kehidupan, Naina memilih menggunakan logika dibanding mengikuti perasaannya. Faktanya, pergi dari Wira bukan pilihan terbaik untuknya dan anak-anak.
Bertahan adalah pilihan terbaik untuk sembilan bulan ke depan, paling tidak sampai Wira muak padanya. Kalau ia bernasib baik, mungkin Wira akan melunak dan berbaik hati memaafkannya. Mereka bisa kembali berumah tangga layaknya pasangan lain, berjuang untuk anak-anak. Andai tidak pun, ia akan berjuang untuk dirinya sendiri dan anak-anak. Tidak mau terlalu larut dengan luka yang mungkin akan ditorehkan Wira setiap saat. Hidup harus terus berjalan. Wina dan bayinya membutuhkan sosok ayah dan ibu.
Bunyi pintu ruangan terbuka mengejutkan Naina yang tengah larut dalam lamunannya. Wira masuk dengan tab di tangan kanan. Waktu sudah menunjukan pukul 15.15 sore saat pria tampan dengan setelan kerja hitam itu melangkah masuk dengan wajah kaku dan tidak bersahabatnya.
"Mas ...." Naina menyapa dan mencoba bersikap biasa.
Wira tidak menjawab, masih bersikap dingin seperti sebelumnya.
"Aku bawakan makan siangmu, Mas. Mau makan sekarang?" tawar Naina.
Wira diam, menatap ke arah putrinya yang terusik dari lelap. Senyum pria itu tersungging saat Wina sadar akan keberadaannya.
"Ayah ...." Wina buru-buru bangun. Dengan tubuh sempoyongan, gadis kecil itu menghambur ke arah Wira.
Naina menatap pintu ruangan itu menutup perlahan. Menghela napas berat, ia berusaha menetralkan hatinya dan tidak mau terbawa perasaan.
"Ingat Nai, perbanyak kesabaranmu. Tuhan sedang mengujimu. Mas Wira hanya sedang marah dan kecewa, dia tidak benar-benar mengacuhkanmu." Naina menguatkan hatinya.
***
“Will, aku akan pulang sekarang.” Wira tengah memangku Wina saat menyelesaikan pekerjaannya di ruang rapat. Ia sengaja tidak mau kembali ke ruangannya demi untuk tidak bertatap muka dengan Naina.
“Sekarang, Pak?” tanya William. Asisten itu mulai membaca ada yang tidak beres dengan rumah tangga atasannya.
“Ya. Aku akan pulang dengan Wina. Ibu masih di ruanganku. Tolong kamu antar Ibu pulang nanti. Ini sudah sore,” titah Wira, melirik sekilas jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 16.50 sore. Sudah mendekati jam pulang kantor.
"Apa tidak sekalian aku panggilkan Ibu saja? Jadi Bos bisa pulang sama-sama," tawar William.
"Tidak. Aku akan pulang sekarang." Wira menatap putri kesayangannya. Dua jam ini, Wina begitu tenang bersamanya. Tidak rewel atau merengek. Gadis kecilnya memang sangat pengertian. Sejak tadi hanya sibuk mencoret di kertas putih dengan pena hitamnya.
***
Di ruangan berbeda, tampak Naina terlelap di sofa. Menunggu Wina yang tak kunjung kembali, membuat ibu hamil itu tertidur. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan William. Asisten Wira itu bolak-balik ke ruangan Wira hanya untuk memastikan Naina sudah terbangun atau belum. Ia tidak mau sampai lalai. Wira sudah berpesan padanya.
Membuka pintu ruangan untuk ke sekian kalinya, William tersenyum saat mendapati Naina yang sudah membuka mata. Buru-buru asisten itu memberitahu. “Bu, Bapak sudah pulang. Saya diminta untuk mengantar Ibu pulang.” William berkata.
“Hah?” Naina tersentak. “Wina? Di mana Wina?” tanya Naina, menegakan duduknya.
“Sudah pulang bersama Pak Bos, Bu. Em ... setengah jam yang lalu.” William melirik jam yang tergantung di dinding ruangan.
Kembali Naina terkejut, menatap ke arah tas bekal yang masih di tempatnya. Tidak berpindah sedikit pun sejak ia masuk ke dalam ruangan.
“Will, Bapak sudah makan siang?” tanya Naina penasaran. Sedih tiba-tiba menyusup masuk ke relung hatinya tanpa permisi. Membayangakan betapa muaknya Wira kepadanya saat ini, hingga tidak mau makan masakannya dan semobil bersama. Wira memilih pulang sendirian dan meminta William mengantarnya.
“Bapak pesan makanan di kantin kantor tadi siang, Bu.” William menjelaskan.
“Bapak makan siang dengan apa?”
“Dengan mi goreng, Bu.” William menjawab singkat.
Terdengar helaan napas berat Naina, keadaan ini benar-benar membuatnya bingung.
“Will, tolong dibuang saja. Atau kalau ada yang mau ... bisa dipanaskan kembali.” Naina berpesan sembari meraih tas tangannya. Ia sudah bersiap pulang.
“Baik, Bu.”William meraih tas bekal makan siang itu dan berencana membawanya ke pantry. Namun, baru berjalan beberapa langkah, ia berbalik lagi.
“Bu, tunggu saya di lobi. Ini sudah gelap, sebaiknya saya mengantar Ibu pulang.” William berpesan.
***
Tbc
.