
Wira memacu mobilnya menuju rumah Stevi. Pikirannya kalut bahkan kepalanya hampir pecah, menyesali semua hal yang sudah dilaluinya selama ini. Ada banyak kecewa terselip di dalam dada, terutama kecewa pada dirinya sendiri yang telah begitu bodoh sampai bisa dipermainkan Dennis.
Sejak keluar dari rumah, Wira berusaha menghubungi nomor ponsel Naina. Namun, tidak ada satu pun panggilannya tersambung. Mengirim pesan di whattApp pun sama, hanya menghasilkan centang satu.
Sedan hitam yang dikemudikan Wira akhirnya tiba di halaman rumah dua lantai bercat putih. Tentu saja, pria itu tidak menyiakan-nyiakan waktu. Berlari masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangan yang selalu tersimpan rapi di dalam dashboard mobil, Wira terperanjat saat mendapati pintu rumah yang tidak terkunci.
Netranya disambut dengan pemandangan perempuan yang menangis tersedu-sedu. Terduduk di lantai dengan wajah berantakan. Basah oleh air mata, raut putus asa begitu mendominasi.
“Wir, Nola ....” Stevi membuka suara setelah melihat kedatangan Wira. Dua kata itu saja yang dapat keluar dari bibirnya, Stevi kembali menangis.
Melangkah perlahan, Wira menarik lengan Stevi agar berdiri. Ia butuh penjelasan sebelum menendang sahabat sekaligus mantan istrinya keluar dari rumah yang dibelinya. Tidak ada kesempatan apalagi maaf. Rumah tangganya hancur, tidak ada lagi yang lebih menyedihkan selain itu.
“Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” Wira melepaskan tubuh lemah yang sudah tidak berdaya di hadapannya.
“Bagaimana kamu bisa menipuku, Stev?” tanya Wira lagi.
“Maafkan aku, Wir,” ucap Stevi pelan. Sejak pernikahan siri mereka selesai, Wira tidak mengizinkan lagi Stevi menyapanya seperti biasa.
“Keterlaluan kamu Stev. Bisa-bisanya kamu juga menipuku.” Wira menahan kesalnya, kalau saja Stevi bukan perempuan, sudah pasti ia akan memukulnya hingga babak belur. Menghajarnya sampai napas terpisah dari raga.
Tangis Stevi semakin kencang. Menutup wajahnya yang berlinang air mata dengan kedua tangannya. Melihat pundak yang berguncang, Wira tahu saat ini Stevi juga terpukul.
“Maafkan aku, Wir. Awalnya aku juga tidak tahu. Aku ... aku juga sama sepertimu. Terkejut saat terbangun berduaan di kamar hotel dalam keadaan ....” Stevi tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
Melemas, terduduk kembali di lantai. Hatinya kacau, mengingat Nola yang tiba-tiba menghilang dari matanya. Meskipun selama ini ia tidak menunjukan rasa sayang pada putrinya, tetapi di saat seperti ini ia terpukul. Apapun yang terjadi, ia adalah ibu kandung Nola. Yang mengandung dan bertarung nyawa untuk melahirkan gadis kecilnya.
“B’rengsek kamu, Stev! Apa yang kamu inginkan dengan menghancurkan rumah tanggaku?” umpat Wira, ikut terduduk di depan Stevi, meremas rambutnya. Menahan semua gejolak yang sejak tadi menyesak di dada.
“Maafkan aku. Aku tahu ... aku salah. Aku juga baru tahu Nola bukan putriku itu setelah pernikahan kita,” jelas Stevi, terisak.
“Dan kamu tetap menyembunyikan faktanya. Kelewatan kamu Stev!” Wira berdiri kembali. Menyeret lengan mantan istrinya.
“Aku mencintaimu, Wir.” Stevi tiba-tiba menyatakan perasaan setelah sekian tahun memendamnya. Sontak membuat Wira berhenti sejenak.
“CINTA?” Teriak Wira. Pria itu mengamuk begitu mendengar pernyataan cinta Stevi.
Luapan kemarahan atas semua yang terjadi. Mata Wira memerah dengan garis rahang mengeras. Tangannya sudah terkepal dengan urat-urat menonjol di pelipis. Napas naik turun, meneriakan di dalam hatinya kalau lawan di depannya adalah seorang perempuan. Dan dia tidak bisa memukul perempuan.
“Cinta tidak seperti ini Stev. Kamu menghancurkanku. Kamu menghancurkan rumah tanggaku dan Naina. Puas kamu sekarang?” teriak Wira.
“Keluar dari rumahku sekarang! Jangan pernah muncul di hadapanku!” Wira kembali menyeret Stevi keluar dari rumahnya.
“Wir, aku mohon jangan seperti ini. Aku mohon maafkan aku,” pinta Stevi memelas. Ia tersungkur di halaman rumah setelah dilempar Wira keluar dengan kasar.
Stevi baru saja akan berdiri setelah terjerembab, tetapi Wira sudah mengunci pintu rumah dan tidak mengizinkannya masuk. Bahkan semua barang-barangnya masih tertinggal di dalam.
“Wir, jangan begini. Apa tidak kelewatan, kamu membuatku jadi gelandangan seperti ini. Barang-barangku masih di dalam.” Stevi memohon, merengkuh lengan Wira yang hendak kembali masuk ke mobil.
“Aku tidak peduli Stev. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa!” Wira mencekal lengan Stevi dan menghempaskannya.
“Aku tidak peduli sekalipun kamu membusuk di jalanan. Jangan pernah menampakan wajahmu di depanku. HIDUP ATAU MATI, JANGAN PERNAH MUNCUL DI DALAM KEHIDUPANKU LAGI!” ancam Wira, mendorong kasar Stevi.
Pria itu menahan amarahnya, berusaha untuk tidak memukul. Masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan dengan kencang. Tujuannya adalah rumahnya dan Naina. Rumah yang sudah hampir dua minggu tidak pernah didatanginya lagi, sejak bercerai dengan Naina.
“B’rengsek kamu, Stev! Kalau bukan perempuan pasti sudah mati di tanganku!” umpat Wira, memukul kemudi mobil, melampiaskan kemarahannya.
**
Pria itu menyunggingkan senyuman saat masuk ke pekarangan rumah. Kemarahan yang menguasainya, seketika lenyap. Terbayang bagaimana Naina akan meyambutnya dengan penuh cinta saat mengetahui kebenarannya. Impian dan cita-cita mereka berdua kasih bisa diselamatkan, tidak ada yang menghalangi.
Melangkah turun, angin senja menyambutnya dengan penuh kehangatan. Pintu rumah itu tertutup rapat. Wira sudah membayangkan Naina membukanya dan menghadiahkan sebuah pelukan kerinduan.
“Nai, Mas datang,” bisiknya, melangkah pasti.
Sempat tertegun saat membunyikan bel berulang kali, tidak ada jawaban dan respon dari dalam. Lima menit menunggu di depan pintu, Wira memutuskan mengambil kunci cadangan miliknya yang tersimpan di mobil.
Begitu pintu papan itu terbuka, kegelapan menyambutnya. Semua tirai jendela tertutup rapat. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Untuk pertama kalinya, pikiran buruk menyerangnya.
“Nai, kamu di mana? Mas pulang,” panggilnya, sembari berjalan masuk dan menyalakan lampu.
Ketika pijar lampu memutih terang menyapa ruangan, kesunyian pun ikut menegurnya dengan ramah. Meski pikiran buruk itu sudah menguasai sebagian otaknya, Wira masih menyalakan asa di dalam keyakinannya. Meskipun harapan itu hanya segaris tipis, pria itu mencoba untuk tidak berburuk sangka.
“Nai, kamu di mana?” Langkah kaki membawa Wira menuju ke kamar.
Kamar yang dulu ditempatinya bersama Naina. Berbagi rasa, saling membagi cinta. Berbagi suka, saling menerima duka. Tersenyum bersama, menangis berdua. Kamar yang menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka.
“Nai.” panggil Wira, mendorong pelan pintu papan. Kembali senyap yang menyapanya.
“Nai ....”
Menatap ranjang yang begitu rapi, dengan tumpukan bantal tersusun di atasnya. Pertahanan Wira hampir runtuh saat memastikan memang tidak ada siapa-siapa. Tidak Mbok Sumi, apalagi Naina. Harapannya hancur saat ekor matanya menatap secarik kertas yang tertimpa ponsel Naina di atas nakas.
Setengah berlari, Wira nyaris tumbang saat melihat sekilas goresan tangan Naina yang terukir dengan tinta hitam pena mahalnya.
Mas,
Nai tahu, suatu saat ... entah kapan itu, Mas akan menemukan surat ini. Nai tidak bisa menulis banyak. Menulis itu ternyata tidak mudah. Namun, saat ini Nai juga tidak sanggup kalau diminta berbicara langsung di depan Mas.
*Tadi siang, Nai sudah menepati janji. Sudah mengunjungi mama dan papa di rumah. Anggap itu adalah cara Nai berpamitan. *
Nai minta maaf, karena tidak menuruti permintaan Mas. Untuk tinggal di rumah ini berat, sungguh berat untuk Nai. Bayangan Mas selalu muncul di seluruh sudut, Nai bisa gila.
Maafkan Nai, sampai detik terakhir masih mengecewakanmu, Mas. Nai tidak bisa menerima semua pemberian Mas. Surat rumah, perhiasaan dan buku tabungan berikut kartunya, Nai simpan di laci nakas. Nai hanya meminta sepuluh juta, selebihnya Nai kembalikan pada Mas.
Mas ... terimakasih untuk lima tahun ini. Mas mengangkat Nai yang bukan siapa-siapa menjadi seperti sekarang. Mas sudah membawa Nai melihat sebagian dunia. Mas sudah memberi Nai cinta tanpa batas.
Ini bukan salah Mas, tetapi Nai yang tidak tahu diri.
Nai masih berharap bisa bertemu Mas suatu saat nanti, dan tentunya bahagia dengan kehidupan Mas yang baru ....
Dari yang mencintaimu hari ini dan nanti,
Naina Pelangie.
***
THE END