Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 42


“Mas, ini Nai ....”


Kepala tertunduk itu terangkat perlahan. Wajah serius dan kaku itu menghangat, Wira menyambutnya dengan seulas senyum dan sorot teduh. Biasanya, setiap mendapati itu Naina akan menggila. Ya, gila akan cinta Wira yang tanpa batas.


Namun, beberapa menit yang lalu semua jadi berbeda. Wajah berukir senyum itu membuat dada Naina nyeri, sesak lagi. Terbayang sakitnya saat sang suami bukan hanya miliknya seorang, tetapi juga milik wanita lain. Ingin rasanya berteriak, mencaci, memaki, menelanjangi keduanya.


"Aku tahu semuanya! Aku sudah tahu semua! Hentikan senyuman penuh kepura-puraan ini, Mas!" Jerit Naina dalam hati.


Masih mematung di ambang pintu, Naina meremas ujung gaunnya. Menyimpan rasa yang tiba-tiba menyerang relung hatinya. Ah! Kalau tahu pertahanan diri begini lemah, mungkin Naina akan berkunjung di lain hari. Ingin menangis lagi rasanya, saat menatap binar cinta Wira tampak jelas di manik mata bening itu.


“Nai ... kamu datang, Sayang?” Wira membuka suara. Meninggalkan semua keruwetan pekerjaan, melangkah mendekati Naina.


“Nai ....” Sapaan kedua meluncur. Wira mengulang sembari mengayunkan tangan kirinya tepat di depan wajah datar istrinya.


Mendapati Naina masih mematung, Wira meraih tangan yang menggengam tas tangan dan menyentaknya perlahan.


“Nai, are you ok?” tanya Wira, raut keheranan itu mendominasi.


“Eh ... Mas.” Naina tersadar. Buru-buru mencium punggung tangan Wira seperti biasa.


“Nai ... dari mana?” Wira bersuara, sambil menarik masuk istrinya. Laki-laki itu mulai mencium gelagat aneh, setelah melihat reaksi Naina yang tidak biasa. Seperti bukan istrinya.


“Nai, kamu baik-baik saja?” Wira bertanya, setelah membawa duduk Naina ke sofa.


Ruangan ini terasa asing. Entah kenapa? Sejak Naina menangkap kebohongan Wira, ada rasa tak biasa. Dia merasa seperti orang lain, canggung dan ada yang berubah dari dirinya.


“Ya, Nai baik-baik saja, Mas. Hanya ... Nai merindukanmu,” sahut Naina, berusaha mengembalikan situasi agar canggung itu menguap pergi.


“Mas, juga.” Wira ikut menjatuhkan bokongnya, duduk di sisi Naina. Merentangkan tangan kanannya di sandaran sofa. Sesekali memainkan rambut panjang Naina dengan lembut, menggulung dengan ujung telunjuk. Aroma buah-buah bercampur mint itu menyeruak di hidung. Sensasi menyegarkan, menarik Wira mengecup perlahan pucuk kepala Naina.


“Mas, merindukanmu ... Nai.” Berbisik pelan.


Sore itu semua terasa berbeda. Kedatangan Naina yang mendadak, membawa aura kehangatan. Dari jendela besar ruangannya, Wira bisa menatap mega-mega bergelayutan di puncak cakrawala. Cerah! Tentu saja, sore itu menjadi sempurna saat senyum Naina muncul di hadapannya.


Lama keduanya terdiam, Naina memilih menyandarkan tubuhnya pada laki-laki tampan di sebelah. Mendengar degup jantung Wira, menghirup aroma maskulin itu dari jarak dekat. Tanpa malu-malu. Menautkan jemari lentiknya pada jari-jari panjang suaminya.


Masih berusaha membuat otaknya amnesia tiba-tiba, berharap melupakan semua pengkhianatan Wira. Wanita itu memaksa bermanja-manja seperti biasa. Seolah tidak ada yang diketahuinya.


“Mas, Nai ingin makan bakso malang, yang di depan kantor. Bisa minta tolong Stevi ke sini, membelikannya untuk Nai?” pinta Naina pelan.


“Nai serius? Mau makan bakso yang di depan kantor? Nai belum makan siang?” tanya Wira, mengerutkan dahi. Secercah khawatir, mendapati istrinya melewatkan makan siang.


Naina mengangguk.


“Mau Mas belikan?” tanya Wira panik. Dengan ujung telunjuk, memindahkan ujung dagu Naina, menarik wajah sang istri agar mau menatap padanya. Wira mencurigai sesuatu. Tidak biasa! Sejak tadi, Naina membuang pandangannya.


“Nai mau Stevi yang membelikannya, Mas.” Diikuti gelengan manja.


Tersenyum dan tanpa banyak bicara, Wira menghubungi Stevi. Meminta sekretarisnya itu masuk ke dalam ruangannya.


“Ya, Pak. Ada apa?” tanya Stevi, menatap Wira yang duduk di kursi kerjanya. Pandangannya beralih, saat bunyi ketukan sepatu Naina yang menggema teratur. Istri pemilik perusahaan itu berjalan mendekat.


“Stev, tolong belikan aku bakso malang di depan kantor, ya.” Naina meminta dengan lembut. Berjalan perlahan, berdiri tepat di belakang suaminya. Membungkuk dan merangkul suaminya. Sesekali memberi kecup di pipi Wira.


“Mas, mau?” tanya Naina, mengalun lembut di telinga Wira. Sengaja mempertontonkan kemesraannya di depan Stevi.


“Kurang ajar! Dia sengaja memamerkannya padaku!” Stevi membatin. Menyimpan tangan terkepalnya, menahan kesal di balik punggung.


“Tidak. Untuk Nai saja,” tolak Wira. Mengusap pelan belitan tangan Naina yang mengunci di lehernya.


“Tolong kamu yang pergi sendiri. Boleh, kan?” Nada suara mengalun manja itu lebih ditujukan untuk Wira.


“Tolong Stev. Kamu pergi sendiri,” pinta Wira, dengan tatapan memohon pada sang sekretaris. Wira yakin istri sirinya sedang menyimpan amarahnya.


“Jangan terlalu pedas, tetapi harus berasa pedas. Kecapnya jangan terlalu manis, tetapi aku mau ada rasa sedikit manis. Semuanya komplit, tanpa seledri, bawang goreng yang banyak. Pangsit goreng tidak boleh melempem em ... kuahnya harus panas sekali.” Naina menyebutkan sendiri apa yang dinginkannya. Dia yakin, Stevi tidak akan berani meminta OB membelinya setelah mendengar begitu banyak persyaratan yang disebutnya barusan.


Naina tersenyum, beralih menatap sang suami.


“Entah kenapa, aku seperti mengidam saja, Mas. Bahkan rela mendatangimu demi semangkok bakso. Apa jangan-jangan Nai hamil lagi,” ucap Naina dengan suara nyaring. Sengaja bersikap manja, memancing Stevi dengan sikap mesranya.


Wira langsung menoleh. “Serius?” tanya Wira. Wajah laki-laki itu berbinar-binar. Lupa dengan Stevi, sekretaris yang berdiri mematung dengan kesal menyesak di dada.


“Nai belum mengeceknya, Mas.” Naina menjawab lembut. Sudut matanya menangkap perubahan wajah Stevi yang begitu kentara.


“Tolong belikan sekarang, Stev!” perintah Wira dengan senyum bahagianya.


“Nai, kamu serius hamil?” tanya Wira. Laki-laki itu melupakan pekerjaannya, menarik istrinya berdiri di hadapan.


“Nai tidak tahu, Mas.” Naina menjawab setelah memastikan Stevi keluar dari ruangan.


“Jadwal haidku memang berantakan selama ini, Mas,” lanjut Naina lagi.


Wira mengangguk pertanda mengerti. “Bagaimana kalau kita periksa ke dokter kandungan lagi?” Begitu bersemangatnya Wira, padahal saat ini Naina hanya ingin melempar bola panas pada Stevi, dan melihat reaksi cemburu sang sekretaris. Tidak serius mengidam.


“Ya, nanti kita atur waktu, Mas.”


***


Naina memilih duduk di depan Wira, menatap suami yang kembali sibuk dengan pekerjaannya sambil menunggu bakso pesanannya datang. Mengamati gerak-gerik Wira, mencari jejak-jejak kebohongan dan dusta di raut wajah tanpa dosa itu.


“Mas, Nai memutuskan untuk menutup butik,” tukas Naina, tiba-tiba melontarkan kalimat yang sanggup membuat Wira menghentikan aktivitasnya.


“Maksudnya bagaimana, Nai?” tanya Wira. Pena yang tadi terselip di jarinya terlepas. Sorot mata keduanya beradu. Saling mencari jawaban untuk pertanyaan yang menari di otak masing-masing.


“Nai ... mau fokus untuk program kehamilan, Nai. Mau fokus untuk mengurus rumah tangga kita, Mas. Dua tahun ini, Nai disibukan dengan urusan butik, sampai-sampai tidak ada waktu lagi mengurus Mas.” Naina beralasan.


“Jadi, Nai maunya seperti apa? Kalau di rumah sepanjang hari, apa Nai tidak bosan?” tanya Wira.


Naina menggeleng. “Nai akan memasak, mengurus rumah. Setelah semua selesai, Nai akan mengantarkan makan siang Mas. Setiap hari, Nai akan membawakan makan siang ke kantor,” lanjut Naina.


Wira tersenyum. “Mas terserah padamu, Nai. Apapun itu, Nai yang memutuskan.”


“Mas mengizinkan?”


Wira mengangguk.


“Nai tidak perlu lagi berangkat keluar negri sendirian untuk berbelanja stok butik. Nai bisa menemani Mas setiap ada pekerjaan keluar kota. Kita bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak, Mas.” Naina menjelaskan.


Wira lagi-lagi mengangguk. “Apapun itu, Mas mendukung semua keputusan Nai.”


“Mulai besok, Nai akan setiap hari ke kantor. Kita akan bersama-sama sepanjang hari, Mas.”


“Aku mencintaimu, Nai,” potong Wira, menggenggam erat tangan Naina yang saling menaut di atas meja.


***


TBC