Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 58


Langit jingga memerah di ufuk barat kala sang mentari bersiap pulang ke peraduannya. Berganti tugas dengan rembulan, yang menerangi di pekatnya malam. Senja itu, Wira masih setia menunggu di parkiran RD Group. Duduk di belakang kemudi sedan Mercedes Benz, mata pria itu tak lepas dari pintu utama perusahaan property milik Reynaldi Pratama. Mengawasi satu per satu karyawan keluar dari pintu, bersiap melangkah pulang ke rumah setelah melaksanakan tugasnya.


"Apa itu?" Wira berucap pelan saat pandangannya menangkap benda asing di bagian lantai mobil, tepat di kursi kosong sebelahnya.


Meraih deretan pil yang masih terbungkus rapi di dalam kemasan. Wira mengernyit heran.


"Ini pil KB?" Wira mengenali strip obat dengan beberapa tempat yang sudah dikosongkan. Tentu saja, dulu saat masih menjadi suami Naina, ia sering melihat mantan istrinya meminum obat ini pasca keguguran dan saat belum diizinkan hamil kembali.


Pria itu mencoba mengingat, pemilik obat kontrasepsi yang bersembunyi di mobil mewahnya. Jantung Wira berdegup kencang, mengingat mobil sedan ini terakhir dikemudikannya saat ia mengajak Naina dan Wina ke Bogor minggu lalu.


"Ini milik Naina?" Dahi Wira berkerut, kemudian mengantongi obat itu ke dalam saku celananya. Otaknya sedang merangkai semua kisah.


Bunyi ketukan di kaca mobil mengejutkan Wira. Termenung, hingga ia tidak menyadari kehadiran Naina yang sudah berdiri di samping mobil.


"Masuk, Nai." Wira membuka pintu mobil dari dalam dan mempersilakan.


"Maaf, aku sedikit terlambat, Mas."


"Tidak apa-apa. Aku sudah pernah menunggu lebih lama dari ini," ungkap Wira mengulum senyuman.


***


"Kamu yakin sudah semuanya, Nai?" Wira memastikan lagi sembari membuka pintu mobil untuk Naina.


Mereka baru saja berkeliling supermarket dan membeli semua kebutuhan rumah dan Wina. Wira juga membeli beberapa mainan untuk gadis kecilnya.


"Sudah, Mas. Sudah lengkap semua," sahut Naina, meletakan tas tangan di atas pangkuan. Tatapan Naina tertuju pada Wira, pria itu sedang berdiri dengan tangan menahan pintu mobil.


"Apa masih ada yang kamu inginkan, Nai?" tawar Wira. Sedikit membungkuk, membantu Naina memasangkan seatbelt.


Naina tampak berpikir. "Tidak ada." Naina menggeleng. Duduknya menjadi tegang, saat punggung tangan Wira tanpa sengaja menyentuh area pinggangnya saat akan mengunci sabuk pengaman.


"Aku akan membelikan Wina pizza tuna." Wira kembali menegakan tubuh dan menutup pintu mobil.


Sebelum menuju gerai pizza, Wira memasukan barang belanjaan mereka yang menggunung ke dalam bagasi mobil dan sebagian di kursi belakang.


Hampir dua puluh menit menunggu dalam kesendirian, di temani semburat cahaya lampu jalan, Naina tersenyum saat melihat Wira berjalan tergesa-gesa menuju mobil.


Sekotak pizza hangat diletakannya di kursi belakang, bergabung dengan barang-barang belanjaan. Dan segelas sari tebu disodorkannya pada Naina.


"Ini untukmu, Nai." Dirapikannya tutup mika yang sedikit terbuka.


"Terima kasih, Mas." Naina tersenyum. Ia segera menyeruput minuman manis itu hingga tersisa setengah gelas plastik.Terlalu haus, cairan dingin itu sanggup menyegarkan tenggorokannya yang kering.


Waktu sudah menunjukan pukul 19.30 malam saat Wira memacu mobilnya membelah jalanan ibu kota. Lalu lalang jalan raya pun sedikit tersendat di beberapa titik, terutama di perempatan lampu merah. Para pemakai jalan berebut untuk mendahului satu sama lain dan tidak mau mengalah, sehingga terkadang menimbulkan kemacetan.


"Nai, apa kamu sudah pikirkan tawaranku?" tanya Wira, melirik wanita di sampingnya sekilas kemudian fokus ke jalan raya. Kedua tangan menggenggam erat kemudi mobil.


"Ya, Mas. Bisakah memberiku waktu lebih. Sebulan lagi aku akan menjawabnya." Naina menggigit bibir bawah.


"Hah! Kenapa harus sebulan lagi?" tanya Wira bingung. Terlihat pria dengan lengan kemeja tergulung itu mengurangi kecepatan kendaraannya.


"Ya, Mas. Sebulan lagi ... aku masih perlu mempertimbangkan banyak hal lagi." Naina berdusta.


"Nai, kamu baik-baik saja?"


"Eh ... ya, Mas. Aku baik-baik saja." Naina menguap beberapa kali. Kepalanya mulai pusing lagi. Entah kenapa, sekarang ia sering mengantuk dan sakit kepala.


"Nai ... kamu baik- baik saja?" tanya Wira. Tanpa sengaja melihat mantan istrinya memijat pelipis.


"Ya, Mas." Naina bersandar di kursi mobil, memejamkan mata. Netranya tiba-tiba mengantuk. Ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara Wira, tetapi semakin lama suara itu semakin jauh dan menghilang. Dan akhirnya ia jatuh tertidur, dalam dan lelap.


***


Menurunkan satu per satu kantong belanjaan dibantu Rima, Wira tersenyum saat putri kecilnya berceloteh sembari menarik celana panjang yang dikenakannya.


"Masuk di dalam Win, kenapa ikut keluar. Ini sudah malam." Wira berusaha membujuk putrinya yang ikut turun di halaman rumah bersama Rima.


"Ayah ... endong ...." Wina menyodorkan tangan dan menengadah ke arah Wira. Ia memohon pada pria dewasa itu agar bersedia menggendongnya.


"Ikut Mbak Rima, ya. Ayah harus menggendong Bunda. Bundanya tertidur lagi." Wira membungkuk dan mengecup kedua pipi Wina.


"Ayo masuk ke dalam. Ayah harus membawa Bunda masuk ke dalam rumah." Wira menjelaskan sembari menutup bagasi mobil.


"Ayah ...." Terdengar rengekan Wina dengan suara memelasnya.


"Ikut Mbak Rima, Sayang. Ayah harus menggendong Bunda." Wira menjelaskan.


Tak lama, Rima muncul setelah membawa masuk kantong belanjaan terakhir ke dalam rumah.


"Rim, tolong bawa Wina masuk. Dia sudah makan?" tanya Wira.


"Sudah, Pak."


"Tolong bersihkan tubuhnya, ganti pakaian tidur. Sudah kotor dan berkeringat." Wira memberi perintah.


Rima menurut tanpa protes. Membawa Wina yang merengek ke gendongannya.


"Mau ... Ayah ... mau ... Ayah!" celotehnya dengan kedua tangan terulur.


"Ya, nanti Ayah menyusul. Ayah harus mengurus Bunda dulu," ujar Wira, menepuk pucuk kepala Wina.


Saat tertinggal berdua dengan Naina yang terlelap di kursi depan, Wira tersenyum menatap mata wanita itu tertutup rapat. Pandangan pria itu beralih ke tas tangan di atas pangkuan Naina. Ia teringat dengan pil KB yang ditemukannya. Ia yakin sekali, itu adalah milik Naina. Tidak ada wanita lain yang masuk ke dalam mobilnya selain Naina, Wira dan Rima. 100% pil-pil itu milik mantan istrinya.


Diraihnya tas tangan cokelat itu. Dengan cekatan, Wira mengobrak abrik isi tas. Ia sangat mengenal Naina dengan baik. Mantan istrinya itu sangat teliti dan penuh perhitungan. Bibir Wira tersenyum saat mendapati pil yang sama menghuni tas tangan Naina.


"Tidak akan aku biarkan kamu melakukannya, Nai. Hamil secepatnya dan Mama tidak akan mempersulit kita. Wina hanya boleh memiliki satu Ayah ... yaitu Pratama Wirayudha. Aku tidak mengizinkan Pieter mengambil alih tempatku."


"Apa yang sudah ditakdirkan untukku, harus menjadi milikku. Mungkin jalannya berliku, tetapi aku yakin takdir memihak padaku. Aku pastikan berakhir bersamaku." Wira berbisik pelan. Senyum licik tersungging dengan tangan mengusap perut rata Naina.


"Maafkan aku, Nai. Aku terpaksa. Kalau aku tidak melakukannya, Pieter yang akan melakukannya." Sorot mata itu meredup dan terlihat terluka. Perlahan mengukir garis wajah Naina dengan ujung telunjuk dan membungkuk. Dikecupnya pelan pipi Naina yang dingin karena semburan pendingin mobil.


***


Tbc