Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 51


Naina sedang merapikan mainan Wina dan memasukannya ke dalam tas besar. Sebagian pakaian mereka juga sudah disusun rapi ke dalam koper. Rencananya dalam waktu dekat mereka akan pindah dari kediaman Wira. Sesuai dengan informasi yang disampaikan kepala tukang, proses renovasi akan selesai dalam minggu ini dan Naina berencana masuk ke rumah itu sebelum proses serah terima. Yang terpenting sudah bisa ditempati dan tidak mengganggu para pekerja.


Ia tidak mau menunda kepindahannya terlalu lama lagi. Bukan tidak mungkin, akan memicuh banyak masalah baru ke depannya. Beberapa hari ini, hubungannya dengan Mama Wira mulai membaik kembali. Mantan mertuanya mulai bersikap ramah dan tak pernah membahas Adelia lagi.


Di tengah kesibukannya, Naina dikejutkan dengan kedatangan William. Asisten Wira itu tidak sendiri, ada tiga orang mengekor di belakangnya. Dua orang wanita cantik dan seorang pria muda. Salah satu dari wanita cantik itu, wajahnya tidak asing. Naina ingat, beberapa kali melihatnya wara-wiri di layar televisi.


“Nyonya, Pak Bos di mana?” tanya William pada Naina yang sedang duduk di karpet lantai bersama dengan Wina dan Rima.


“Di ruang kerjanya, Pak,” jawab Naina sembari mencuri pandang pada ketiga tamu Wira. Seperti biasa, sejak Wina dan Naina tinggal sementara di kediaman Wira, pria itu lebih banyak menghabiskan akhir pekannya di rumah.


***


Ruang kerja Wira.


“Baiklah, aku usahakan untuk datang. Aku belum melihat undangannya ... mungkin masih di tempat William.” Wira terlihat berdiri di samping jendela ruang kerja. Menatap gedung-gedung pencakar langit berhias langit cerah.


“Baiklah, terima kasih,” sahut Pieter di ujung panggilan.


Belakangan, hubungan dua petinggi perusahaan itu semakin membaik. Selain membahas masalah perusahaan, tak jarang keduanya bertukar kisah tentang wanita cantik. Sang mantan casanova yang tidak pernah kekurangan sentuhan kaum feminim, tetapi sejak kecelakaan mengubah segalanya. Wanita seksi dan bersenang-senang sudah tidak ada di urutan pertama hidupnya. Ada tujuan lain yang harus digapai, di usia menuju setengah abadnya.


Dan satunya, si pria patah hati yang tidak pernah lepas dari para kaum hawa di sekelilingnya, tetapi memilih menutup hatinya rapat-rapat. Menyesap anggur merah di gelas kaca, Wira meletakan ponsel mahalnya di atas meja kerja. Bunyi ketukan pelan di pintu, menyadarkan Wira.


“Masuk, Will!” pinta Wira, menyesap sisa anggur merah di gelasnya. Ia langsung bisa mengenali suara asistennya meskipun hanya samar-samar dari balik pintu.


“Bos, ada temanmu datang berkunjung.” William memberi tahu sambil menyodorkan undangan dari RD Group di atas meja kerja.


“Siapa?”


“Temanmu di klub. Bos showroom, Artis FTV dan pedagang berlian. Oh ya, itu undangan dari RD Group,” jelas William.


“Ok!”


***


“Bro Hendrik!” sapa Wira tersenyum menyambut kedatangan sahabat baiknya, memeluk erat tubuh pria muda yang tak kalah tampan darinya.


“Ke mana saja, Babe?” sapa salah satu wanita dengan rambut panjang tergerai. Tampak ia memeluk Wira seperti biasa, beradu pipi kiri dan kanan. Disusul wanita cantik lainnya, melakukan hal yang sama, memeluk dan membagi kecupan di pipi kiri dan kanan tanpa merasa canggung.


“Baik. Aku sedang sibuk. Jadi tidak ke klub dulu,” sahut Wira setelah mengurai pelukannya dengan wanita kedua.


“Kenapa berdiri? Duduk saja.” Wira mempersilakan.


“Mau minum apa?” tawar Wira, menatap ketiga tamunya bergantian.


“Yang terbaik dari lemari pendinginmu!” seru Hendrik, mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Siapa?” tanya Hendrik pada Wira saat matanya terpaku pada wanita cantik dan seorang gadis kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.


“Akhirnya, kamu menemukannya, Bro. Yang satunya?” tanya Hendrik lagi penasaran.


“Mantan istriku. Beberapa hari ini, mereka menginap di sini. Kebetulan rumahnya sedang direnovasi,” jelas Wira, menatap ke arah yang sama dengan sahabatnya. Tampak Naina sedang menggoda Wina.


William, sang asisten menyajikan minuman untuk tamu majikannya. Ia sudah mengenal baik wajah-wajah di depannya. Mereka bukanlah orang baru di dalam kehidupan Wira. Selama setahun belakangan, Wira aktif di beberapa klub mobil, ikut touring dan charity di tengah kesibukan pekerjaan.


“Kamu tidak shooting?” tanya Wira menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di sebelah gadis manis yang sedang menyesap minuman dari gelas kristal dan tersenyum menggoda Wira seperti biasa dengan kerlingan mata. Artis dan model yang terkenal dengan nama panggung Sheilla.


“Tidak. Aku sedang menunggumu investasi di PH tempatku bernaung. Supaya aku tidak selalu kebagian peran di FTV ikan terbang. Aku ingin mencoba di layar lebar. Sudah merayu Ditya Lim, si Honey tidak berminat. Ayolah, Babe ....” rayu Sheilla yang hari ini terlihat seksi dengan rok mininya. Kepalanya tumbang di pundak Wira tanpa permisi.


“Ditya Lim, si Crazy Rich saja tidak berminat. Apalagi aku,” ucap Wira tergelak, menekan kepala sang gadis menjauh darinya dengan ujung telunjuk. Ia tidak mau Naina salah paham. Di dalam pergaulannya memang hal biasa berpelukan dengan para gadis, tetapi bukan tidak mungkin Naina akan berpikiran lain.


“Coba tawarkan pada Hendrik. Cukup investasi tiga mobil mewah yang ada di showroomnya. Itu sudah lebih dari cukup,” lanjut Wira menyarankan.


“Aku ... BIG NO!” Hendrik buru-buru menjawab, menyilangkan kedua tangan di dada.


“By the way ... Ditya kecelakaan, Babe. Aku melihat beritanya. Aventador merah D 1 TYA miliknya menabrak pembatas jalan.” Gadis yang lain ikut bicara. Kalau Sheilla berprofesi sebagai model dan artis yang sering muncul di layar kaca, gadis yang bernama Helena ini adalah seorang pedagang berlian.


“Serius?” Wira tersentak. Ia terlalu sibuk belakangan ini, sampai tidak menyimak semua tentang Ditya. Pertemuan terakhirnya dengan Ditya sesaat sebelum berangkat di Hong Kong.


“Ya, aku dengar sekarang dia menetap di Eropa. Istrinya sedang hamil” jelas Helena.


“Ayolah, Babe. Kalau tidak pinjamkan mobilmu saja padaku.” Rayuan Sheilla masih belum usai. Kali ini dengan memeluk erat lengan Wira, merengek manja seperti biasa.


“Singkirkan tanganmu dulu,” pinta Wira.


“Sudah, Babe.” Sheilla buru-buru melepas. Terbayang sebentar lagi akan menaiki salah satu koleksi mobil mewah milik Wira.


“Mau yang mana? Seminggu. Setelah itu minta manajermu mengantarnya ke tempatku!”


“Serius, Babe.” Sebuah kecupan mendarat di pipi Wira. “Aku mau Ferrari-mu saja. Lamborghini-mu sudah pernah aku bawa ke lokasi shooting,” ungkap Sheilla.


“Sudah sana. Jangan terlalu mendekat. Kepalaku pusing meladenimu sejak dulu. Pantas saja, Ditya takut padamu. Setiap melihatmu seperti melihat ‘setan.” Wira mengibaskan tangannya, meminta Sheilla menjauh.


“Ah ... Babe. Honey Ditya ... memang begitu. Tidak perlu dimasukan ke dalam hati. Aku sudah sering menemaninya terbang ke Singapura. Bayarannya dibelanjakan barang-barang branded. Tidak sepertimu, terlalu perhitungan.”


Pandangan Wira beralih pada Naina. Mantan istrinya itu masih sibuk mengemas mainan Wina. Tidak sedikit pun terpengaruh dengan kehadiran teman-temannya. Antara lega dan kecewa. Lega, karena Naina tidak berburuk sangka. Dan kecewa, karena Naina seakan tidak peduli lagi padanya. Kalau dulu, Naina akan marah dan cemburu setiap ia berdekatan dengan wanita lain. Sekarang, ia tidak menemukan lagi kilatan cemburu di mata Naina.


Entah dengan cara apa lagi ia harus memperjuangkan Naina agar mau kembali di sisinya. Andai harus menempuh cara tersulit sekali pun, ia akan melakukannya. Setelah berhasil menyingkirkan sang Mama, Wira berharap dapat segera melunakan hati Naina.


***


Tbc