Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 28


Sepanjang hari berdiam diri di kamar perawatan, Wira mulai merasakan bosan. Pria yang biasanya disibukan dengan pekerjaan itu merasa bingung melewati waktu yang terasa melambat. Dunia seakan berhenti berputar dan jalan di tempat, ia tidak sanggup lagi diminta beristirahat di atas brankar, menunggu hasil tesnya keluar.


Harapannya, ia bisa diizinkan keluar dari rumah sakit dan melanjutkan aktivitas. Ia merasa baik-baik saja. Tenaga dan pikirannya terbuang percuma di saat perusahaan membutuhkan dirinya untuk proyek-proyek penting masa depan PW Group.


Sayang, William di mana?" tanya Wira, memandang ke arah Naina yang tengah menemani Wina tidur di sofa bed. Gadis kecil itu ikut menunggu di rumah sakit sejak pulang sekolah.


"Izin makan siang di lobi, Mas. Ada apa?"


"Aku mulai bosan. Aku mau bekerja saja, waktuku habis dan sia-sia di sini," keluh Wira.


"Istirahat saja dulu, Mas. Tunggu kabar dari dokter."


"Ya, tapi aku baik-baik saja. Minta William membawa laptop dan berkas-berkas pentingku. Aku akan mengerjakannya dari sini." Wira kembali merebahkan diri sembari mengusap kasar wajahnya.


"Sabar saja, Mas. Mau aku suapi makan siang?" tawar Naina setelah memastikan Wina terlelap. Putrinya masih berseragam sekolah.


Wira tersenyum. "Boleh," sahut Wira malu-malu.


Sakit membawa hikmah untuk Naina dan Wira. Keadaan ini membuat Wira bisa bermanja-manja pada Naina tanpa merasa sungkan dan Naina pun menjadi lebih perhatian dan peduli dibanding biasanya.


Wira menaikan posisi tempat tidurnya agar ia bisa duduk dengan nyaman. Pandangannya tak lepas dari ibu hamil yang bergerak pelan membawa perut besar yang tampak meresahkan.


"Nai, apa susah sekali membawa jagoanku?" tanya Wira sembari membelai perut kencang Naina.


"Kalau sudah hampir melahirkan seperti ini tambah tidak nyaman. Kakiku sudah bengkak semua." Naina menunduk, menatap sandal jepit yang tampak sesak karena jari-jari kaki Naina membengkak.


"Ya Tuhan, Nai." Wira ikut memperhatikan. Pria itu mendesah prihatin. "Sakit?" tanya Wira lagi.


"Tidak, cuma sering kesemutan. Tidak kuat kalau lama-lama berdiri, Mas."


"Kalau begitu ... naik ke atas tempat tidur bersamaku." Wira mengusulkan. Tampak ia bergeser dan memberi tempat untuk istrinya duduk.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku duduk di sini saja." Naina menunjuk ke arah kursi di dekatnya.


"Naik di atas saja. Aku sudah lama tidak menyapa jagoanku." Wira masih membujuk dengan wajah memelasnya.


"Mas ...." Naina mengingatkan dengan nada lembut.


"Hmm ...." Wira tersenyum, menepuk ranjang kosong dan membantu Naina naik.


Keduanya duduk berdekatan dan saling melempar pandangan sejenak sebelum Naina menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk ke dalam mulut Wira.


"Makan, Mas. Jangan banyak melamun," goda Naina.


"Sekarang sudah berani menggodaku, Nai" Wira memainkan kedua alisnya, menatap lekat hingga Naina merasa jengah.


"Kapan periksa kandungan lagi?" tanya Wira dengan mulut penuh.


"Dua minggu lagi, Mas." Naina menunduk, menatap perutnya yang bergelombang hingga tak berbentuk.


Wira terkesiap, pria itu terpana saat melihat tonjolan lancip di sisi kanan perut Naina. Baru kali ini ia bisa melihat langsung pergerakan bayinya.


"Dia menendang, Nai?" tanya Wira. Tangannya mengejar pergerakan bayinya di dalam perut Naina.


Diusapnya lembut sembari berbisik. "Jagoanku sudah tidak sabar untuk keluar dan melihat dunia. Ayah dan Bunda akan menjengukmu dua minggu lagi," bisik Wira, mendekatkan bibirnya di perut buncit Naina.


Ini adalah pengalaman pertama Wira. Ada banyak hal baru yang ditemukannya selama menemani Naina hamil anak kedua mereka. Tentu saja ia bahagia mendapat kesempatan ini. Meski sedikit terlambat, tetapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.


"Aku mencintai kalian, Nai," ucap Wira setelah menelan habis suapan terakhirnya.


***


Dua hari satu malam menginap di rumah sakit, Wira diizinkan pulang setelah dipastikan tidak ada masalah serius dengan kesehatan pria itu. Ia bisa bernapas lega dan tersenyum saat dokter memastikan tidak ada penyakit berbahaya di dalam tubuhnya.


"Will, apa saja jadwalku setelah makan siang?" Wira menyingkirkan piring berisi nasi goreng yang dipesannya di kantin kantor.


"Em ... ada rapat dengan vendor setelah makan siang."


"Em ... pukul 14.30," lanjut William.


"Lalu?" Memainkan pena hitamnya, jemari Wira dengan lincahnya memutar searah jarum jam di atas meja kerjanya.


"Bapak harus mendengarkan laporan dari kepala pengawas di lapangan terkait beberapa proyek yang deadline dalam bulan ini."


"Apa lagi?"


"Hanya itu saja, Pak. Untuk hari ini tidak ada." William mengusap layar tabletnya, mencari poin-poin penting yang mungkin saja belum sempat dilaporkannya.


"Kevin?" tanya Wira.


"Tadi pagi-pagi sekali ... sudah berangkat ke Kalimantan. Proyek di sana sudah rampung dan tinggal serah terima. Kevin sedang memastikan kalau tidak ada masalah dan semuanya sudah selesai sesuai dengan kontrak kerja kita."


"Ok. Kamu sudah mengurus Bank Garansi untuk proyek di Karawang?" tanya Wira.


Suara dentingan pesan masuk di ponsel mengalihkan perhatian Wira. Pria itu mengabaikan jawaban William.


"Sudah, Pak. Sudah beres semua" William tertegun saat melihat raut wajah Wira berubah. Asisten itu menangkap sesuatu yang tidak beres saat mendapati wajah atasannya menegang.


"B'rengsek!" Wira mengepalkan tangannya dan memukul kencang meja kerja. Garis wajahnya mengeras, mata pria itu memerah menahan kesal.


"Bos, ada apa?" tanya William, memberanikan diri.


"Keluar sekarang. Batalkan semua jadwalku. Aku masih ada urusan," titah Wira, mengusap layar ponselnya dengan kasar.


"Ta ... tapi, Pak ...."


"Keluar!"


"Bos ...."


"KELUAR!" teriak Wira penuh amarah.


William menurut. Asisten itu tidak berani protes setelah mendengar teriakan Wira yang begitu menyeramkan. Pria itu hanya bisa menduga-duga, pesan apa yang diterima sampai bisa membuat pemilik perusahaan murka.


Jemari Wira tengah berselancar, membaca berita dari link yang dikirimkan Bara padanya. Emosi pria muda itu tak terbendung saat matanya tertuju pada headline berita yang tidak benar dan menyeret namanya.


"Kurang ajar! Sheilla pasti terlibat dalam hal ini. Pasti! Ini bukan pertama kalinya dia melibatkanku untuk menaikan namanya." Wira mencengkeram keras pinggiran meja. Gigi-Giginya saling beradu, menahan gejolak emosi yang menguasai dirinya.


Saat membaca berita online, yang dipikirkan Wira adalah Naina. Ia khawatir istrinya akan termakan berita-berita sampah yang menjatuhkan namanya.


Mencari nomor kontak manajer Sheilla, Wira menyemprot sesaat pria gemulai itu menerima panggilannya.


"Apa maksud kalian menyeret namaku di dalam cerita murahan kalian. Turunkan berita itu dari semua media. Aku tidak mau tahu! Kamu tahu semuanya tidak benar. Aku tidak terlibat hubungan dengan Sheilla. Foto-foto itu sengaja dibuat seolah-olah hanya aku dan Sheilla. Aku tidak terima ini. Kalau mau cari sensasi, jangan bawa namaku lagi. Aku sudah menikah dan istriku sedang hamil sekarang. Cari orang lain saja!" sembur Wira.


"Ma-maaf, Babe." Asisten Sheilla terbata.


"Turunkan beritanya. Kalau tidak ... aku akan menuntut Sheilla dan agensinya. Ini pencemaran nama baik!" ancam Wira. "Aku pastikan akan mendapat bukti kalau berita itu dari kalian sendiri untuk mencari sensasi dan menaikkan nama Sheilla. BASI!"


-


-


-