Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 10


"Mas ...." Naina menyerahkan ponselnya pada Wira tanpa banyak bicara.


Wira heran, menatap istrinya penuh tanya.


"Mas Dennis ingin bicara denganmu, Mas." Naina menjelaskan.


Ragu-ragu, tetapi pada akhirnya Wira menyambar ponselnya dan menyapa Dennis.


"Ya ...." Suara Wira terdengar datar.


"Apa yang terjadi pada Mama? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Dennis mencari tahu. Ia memilih bertanya pada Wira dibandingkan Naina. Bukankah seharusnya memang Wira yang menjelaskan semua.


"Mama sudah sadar dan ingin bertemu denganmu dan Nola." Tatapan Wira tertuju pada Naina. Mata teduh itu menusuk, membuat Naina menciut.


"Maaf, aku belum bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat," tolak Dennis, berkilah.


Wira tersenyum. Pandangannya masih belum beralih dari sang istri. "Pulanglah. Naina yang memintamu pulang. Kamu dengar sendiri, kan?" tekan Wira.


Deg--


Dennis tersentak. Ucapan Wira membuatnya makin yakin kalau ada sesuatu yang tidak berjalan di tempatnya.


"Apa terjadi sesuatu dengan pernikahan mereka?" Dennis membatin. Pikirannya menerawang jauh. Ia baru tersadar kembali saat suara Wira terdengar menyerukan namanya.


"Dennis ...."


"Dennis ...."


"Dennis, kamu masih di sana, kan?"


"Oh ... aku masih, Wir." Dennis tergagap.


"Pulanglah untuk Mama. Naina sudah memintamu kembali. Mama merindukanmu dan Nola. Bicara pada Mama saja." Wira menyudahi pembicaraan dan menyerahkan ponselnya pada wanita kurus yang sejak tadi menyimak dari pembaringannya.


***


"Wir, pulanglah sekarang. Ini sudah malam. Kasihan anak istrimu." Papa Wira tengah membantu istrinya menyeruput air putih dari gelas.


Ratih dan Nonik sejak sore sudah diantar sopir Wira pulang ke rumah. Rencananya, Papa Wira yang akan berjaga di rumah sakit.


"Papa sendirian?" Wira tengah memangku Wina yang sudah mengantuk. Sesekali terlihat kepala gadis kecil itu tertunduk ke depan.


"Ya. Tidak masalah. Kasihan putrimu sudah kelelahan." Pandangan Papa Wira tertuju pada cucunya, Wina. "Apalagi istrimu sedang hamil, pasti butuh istirahat," lanjutnya.


"Ya sudah kalau begitu. Besok pagi sebelum ke kantor ... aku akan mampir sebentar." Wira berdiri sambil menggendong putrinya untuk berpamitan.


Naina berjalan mengekor tanpa banyak bicara, ikut berpamitan pada Papa dan Mama Wira. Hubungannya dengan Wira belum sepenuhnya membaik. Kalau sekarang terlihat normal layaknya keluarga kecil bahagia karena mereka sedang bersandiwara di depan kedua orang tua Wira.


Bibir tipis itu menyunggingkan senyuman, mengingat perhatian kecil Wira yang dicurahkannya sepanjang hari ini. Bahkan Wira menggenggam tangannya untuk pertama kali setelah pertengkaran hebat mereka sehari setelah pernikahan.


Kereta besi yang dikemudikan Wira menembus pekatnya malam. Naina terlihat duduk di samping suaminya sambil mendekap Wina yang terlelap. Sedangkan Rima, sang pengasuh itu duduk manis di kursi belakang, tersenyum saat mendapati hubungan kedua majikannya membaik. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat pasangan suami istri tempatnya bekerja bersikap layaknya pasangan normal.


"Rim, tolong gendong Wina." Wira memerintah saat mobilnya berhenti di parkiran. Ia tidak bisa membiarkan Naina yang sedang hamil membawa Wina naik ke apartemen mereka.


"Nai, kita perlu bicara." Wira mencegah saat Naina hendak melangkah turun, mengikuti pergerakan pengasuh putrinya.


Naina terkejut dan berbalik menatap Wira. Pria itu tengah mencengkeram erat kemudi, memandang lurus ke depan.


"Ya, Mas. Ada apa?" Naina merapikan duduknya setelah menutup pintu mobil kembali. Ia ikut memandang ke depan, seperti yang dilakukan Wira.


"Orang yang kamu cintai mungkin akan kembali. Tapi, sayangnya sekarang kamu berstatus istriku. Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu di luar batasanmu, Nai." Nada suara Wira terdengar mengancam.


Terdengar helaan napas panjang dan dalam. Naina sebenarnya lelah menghadapi Wira yang seperti ini. "Mas, tidak perlu khawatir. Sewaktu memutuskan untuk kembali padamu, aku sudah mengubur dalam-dalam Mas Dennis dari dalam hatiku. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum itu aku telah mengenyahkan Mas Dennis dari hidupku." Naina bersuara pelan.


"Kalau aku mau, aku bisa menikahi Mas Dennis sejak dulu. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku tahu itu akan menghancurkanmu, Mas," lanjut Naina


Wira bergeming.


"Aku pegang kata-katamu, Nai. Andai kamu berani melanggarnya ... aku pastikan hidupmu lebih mengerikan dari sekarang," ancam Wira. Genggaman tangannya pada kemudi makin erat, ia berusaha untuk menguatkan hatinya.


Mendapati kenyataan Naina yang kini sedang mengandung bayinya, tetapi melabuhkan cinta dan perasaan pada Dennis benar-benar memukul telak Wira. Sampai sekarang, ia masih merasakan kekecewaan itu. Bukan masalah Naina yang bertekad kembali padanya. Hanya saja, ia sadar masalah hati tidak semudah itu. Ia kecewa dan terluka saat mendapati wanita yang dicintainya tega menghempaskan dirinya dan menggantikan dengan sosok pria lain, musuhnya, kakaknya dan penjahat yang telah merusak rumah tangga mereka.


"Ya, Mas." Naina tertunduk. Keadaan ini berat untuknya dan ia tahu, Wira juga mengalami hal yang sama. Mereka sama-sama terluka dan menyembuhkannya dengan cara berbeda.


Hening --


Wira bungkam, mematung di tempat duduknya.


"Mas, aku harus menemui Wina sekarang. Aku takut Wina mencariku." Naina bersuara, memecahkan keheningan.


Jemari tangan Naina baru akan membuka pintu mobil saat Wira menarik lengan kanannya dengan sedikit memaksa. Naina tersentak, begitu berbalik ia mendapati kedua tangan Wira tengah mendekapnya dengan erat, mengurungnya agar tidak pergi menjauh.


Naina belum sempat menguasai diri, tiba-tiba Wira meraih tengkuknya dan mencium bibirnya. Ibu hamil itu tertegun dan tidak bereaksi. Setelah sekian lama, Wira menciumnya lagi. Naina terkesiap saat merasakan bibir Wira yang kini tengah menjajah bibirnya. Ciuman kasar dan sedikit memaksa, tetapi beberapa detik kemudian, Wira melunak. Ciuman itu melembut, dan hangat seperti biasanya.


Pada akhirnya perlakuan manis Wira membuat Naina terbuai dan terhanyut. Bayangan masa lalu yang dipendamnya perlahan keluar dari persembunyian. Tanpa sadar, tangan yang tadinya terkulai kini ikut melingkar di leher Wira dan mulai membalas ciuman. Saling berbicara lewat belitan lidah, keduanya mengungkapkan rasa yang mengumpul dan menyesak di dalam dada lewat pertautan bibir yang indah dan manis.


Di tengah ciuman yang menyesatkan keduanya, Wira menyadari sesuatu. Perlahan, tangan yang tadi menahan tengkuk Naina, bergerak turun dan berlabuh di perut yang mulai membulat kecil di usia kehamilan empat bulan.


"Maafkan Ayah. Kamu tahu, Nak ... hari-hari yang kita lewati, bukan hanya berat untukmu dan Bunda. Ayah juga merasakan hal yang sama. Ayah terlampau kecewa pada Bunda dan sedang mengobatinya sendiri. Ayah merindukan kalian, Ayah mencintai kalian." Wira berbicara dalam hati di sela ciuman. Ia melepas rindu yang diam-diam dipendamnya selama ini.


Sempat terseret dalam perasaan, tiba-tiba Wira menghempas tangan Naina yang kini memeluk lehernya dan menyudahi ciuman itu sepihak. Di tengah temaran lampu, ia bisa melihat napas Naina tersengal. Terhanyut dalam keintiman yang berlangsung begitu cepat.


"Aku ingin sendiri, Nai. Silakan keluar," usir Wira dengan suara lembut.


Jujur saja, Naina kaget. Perubahan sikap Wira begitu tiba-tiba. Terkadang kasar, tiba-tiba bisa menjadi manis dan dalam sekejap kembali dingin. Tanpa protes Naina keluar dari mobil dan membiarkan Wira yang menginginkan kesendirian.


"Maafkan aku, Nai. Aku belum bisa memaafkan pengkhianatanmu. Mungkin ini hukuman yang harus kutanggung karena pernah melukaimu di masa lalu. Aku sadar, walau Dennis dalang dari semuanya, faktanya aku yang melukaimu dengan menikahi Stevi. Aku dulu terlalu pengecut. Dan sekarang ... aku tahu seberapa sakit dan terluka hatimu saat itu." Wira menitikan air mata, memandang punggung Naina yang berjalan menjauh.


"Aku belum siap memaafkanmu. Aku ingin membenahi semua ini sendirian. Kamu tahu, Nai ... aku masih sama pengecutnya seperti dulu," ucap Wira menghapus gumpalan awan hitam di kelopak matanya dan bersiap turun.


***


Tbc