Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 16


"Wina, Bunda tidak pulang malam ini. Baik-baik di rumah dengan Mbak Rima." Naina tengah berbaring di ranjang pasien. Ia memilih dirawat di rumah sakit untuk memastikan kandungannya baik-baik saja.


Hati ibu hamil itu jadi tersentuh, Naina ingin menangis saat wajah Wina memenuhi ponselnya dan mengangguk seakan paham dengan situasi yang menimpanya.


"Ya, Bunda ...."


"Nanti ... kalau adeknya Wina sudah tidak sakit lagi, baru Bunda pulang, ya. Ini adek masih sakit, harus dirawat di rumah Bu Dokter." Naina menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami.


"Adek cakit, ya?" Wina memastikan, wajah anak kecil itu ikut meredup.


"Ya, Sayang." Naina menunjukan perut besarnya, dielus-elusnya pelan.


"Bunda, adek cakit apa?" tanya gadis kecil berusia tiga tahun itu.


Naina tersenyum setelah mengalihkan kamera ponsel dari perutnya. "Bunda sedang banyak pekerjaan. Jadi, adeknya marah di dalam perut Bunda. Adek minta Bunda istirahat di rumah Bu Dokter." Naina menjelaskan.


Hati Naina kian lemah, saat Wina mengangguk sekali lagi.


"Cembuh, Bunda. Cepak ... puyang, Bunda." Wina menirukan kalimat yang diajarkan Rima yang kini tengah memegang ponsel dan memangku Wina.


"Ya, Sayang. Jangan nakal, ya. Malam ini bobok sama Ayah, ya." Naina berpesan.


"Ya, Bunda." Wina kembali mengangguk.


"Muach." Naina mengerucutkan bibirnya dan mendekatkan ke ponsel. Rindu tiba-tiba menghujami hati, netra ibu hamil itu berkaca-kaca.


"Muach, Bunda." Wina juga melakukan hal yang sama sebelum memberi kesempatan pada Rima untuk bicara.


Tak lama, terdengar suara Naina menyapa Rima. Bagaimana pun, ia merasa harus berbagi kisah sedih ini pada pengasuh putrinya, sekalian menitipkan Wina. Ia tidak tahu harus dirawat berapa lama. Rima adalah satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara. Tidak mungkin mengubungi Wira di saat hubungan mereka masih retak dan jauh seperti saat ini.


"Rim, titip Wina, ya. Aku harus istirahat total. Tadi sore ... aku mengalami pendarahan. Tidak terlalu banyak, hanya sedikit flek. Tapi, aku memiliki riwayat keguguran sebelumnya, jadi disarankan bed rest." Naina menjelaskan.


"Ya, Bu. Mengenai Wina, jangan khawatir. Aku akan mengurusnya dengan baik."


"Terima kasih, Rim. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku tidak memilikimu." Naina berkata lirih.


"Sudah, Bu. Wina sudah bersamaku sejak belum mengerti apa-apa hingga sampai seperti sekarang. Aku juga menyayanginya." Rima berkata jujur. Ikatan yang terbentuk antaranya dan Wina, membuat gadis muda itu merasa sudah seperti merawat anak sendiri.


"Ya sudah, Rim. Aku harus istirahat dulu." Naina tersenyum hangat dan memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak mau terlalu berlama-lama bicara dengan Rima. Ia tidak sendirian di dalam kamar, berbagi dengan pasien lain yang juga bisa mendengar obrolannya.


Sengaja memilih kamar perawatan seperti ini, setidaknya Naina bisa sedikit lebih tenang. Kalau terjadi sesuatu padanya, ada pasien dan keluarga pasien sebelah yang bisa membantunya.


***


Wira kembali ke rumahnya dengan tubuh lelah. Seharian sibuk di kantor, penatnya hilang saat Wina menyambut dengan senyuman. Ayah mana yang tidak akan melemah dan tergugah saat melangkah masuk ke dalam rumah disambut hangat buah hati yang memeluk kedua lututnya.


"Ayah ...." Wina menengadah ke atas, mengulurkan tangan pada Wira.


"Ya, Sayang. Ayah masih kotor. Ayah mandi dulu baru gendong Wina, ya." Wira membungkuk dan membubuhi dahi Wina dengan kecupan singkat.


Pria dengan tampang lelah itu mengedarkan pandangan, menyapu semua sudut ruangan. Sepi, rasa itu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam dirinya. Wira mengernyit, mengolah rasa asing yang tiba-tiba memeluk tanpa ia ketahui alasannya.


"Ayah, mau bobok cama Ayah," Wina kembali berceloteh. Teringat akan pesan bundanya di telepon tadi sore.


"Ya, Sayang. Ayah mandi dulu, ya." Wira tersenyum sembari menepuk pucuk kepala putrinya.


Entahlah, pria itu merasakan sesuatu yang berbeda tanpa tahu jelas itu apa. Bahkan, sesaat sebelum masuk ke dalam kamar tidur, Wira masih menoleh ke belakang, menatap tiap sudut apartemen yang kini tengah menyiratkan kesedihan tersembunyi.


Hampir satu jam berendam air hangat di kamar mandi ditemani musik kesukaannya, Wira terkejut saat keluar dan mendapati Wina sudah duduk di atas tempat tidur memeluk boneka. Gadis kecil itu bahkan sudah berganti pakaian.


"Sayang, kamu sudah di sini." Wira tersenyum. Tubuh kekar itu masih mengenakan jubah mandi putih. Air di helaian rambutnya masih menetes saat ia berjalan mendekat.


"Mau bobok, Ayah." Wina merebahkan tubuh mungil yang kini terbalut piyama tidur di atas ranjang empuk Wira.


"Ya, sebentar, ya. Wina bobok dulu. Ayah masih harus ganti baju dulu." Wira berjalan pelan menuju walk in closet.


Tak lama, ia kembali dengan pakaian santai dan siap meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kenapa malam ini mau bobok sama Ayah?" Wira menarik selimut tebal dan mulai membungkus tubuh putrinya.


"Bunda kenapa? Adek kenapa?" tanya Wira ikut menyelinap, berbagi selimut dengan Wina.


"Adek cakit ... cakit ... di peyut Bunda, Yah." Wina menjawab terbata-bata. Gadis kecil itu belum bisa menjawab dengan kalimat panjang.


"Sakit kenapa? Bunda di mana? Sudah izin dengan Bunda kalau malam ini Wina bobok sama Ayah?"


Wina mengangguk. "Adek cakit."


"Hmmm." Wira bergumam, masih belum paham.


"Ya ... Bunda. Bunda ... bobok lumah Doktel," adu Wina dengan kalimat khas anak-anak.


"Dokter?" Wira butuh waktu untuk mencerna cerita putrinya. Hampir lima menit berpikir dan merangkai kalimat Wina, Wira mulai paham dan menyibak kasar selimutnya. Berlari keluar kamar dan mencari keberadaan Naina ataupun Rima. Ia butuh penjelasan dari orang dewasa.


"Rim ...."


"Rima."


"Rima ...." Wira meneriaki nama pengasuh putrinya sembari memeriksa kamar-kamar di dalam apartemen.


Rim ...." Wira baru saja berbalik setelah memeriksa kamar tamu yang sering ditempati Naina, Rima tiba-tiba sudah muncul di depannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Rima dengan botol susu di tangan.


"Ibu di mana?" Wira mengatur napas.


"Ibu sakit, Pak. Dirawat di rumah sakit."


Deg--


Terjawab sudah, gelisah yang sejak tadi menyesak di dada Wira. Ternyata telah terjadi sesuatu tanpa ia ketahui.


"Mak ... maksudnya bagaimana, Rim?" tanya Wira masih mencari tahu.


"Ibu pendarahan dan harus dirawat di rumah sakit, Pak." Rima menjelaskan. Tatapannya tertuju pada Wira yang kini tengah meremas rambut.


"Ya Tuhan, kenapa tidak memberitahuku. Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Wira, tidak sabar. Panik seketika menyerangnya, takut terjadi sesuatu pada Naina dan bayi mereka.


Rima menggeleng.


"Dirawat di mana? Apa Ibu cerita?"


"Tidak, Pak."


Berlari ke kamar dan mengganti pakaiannya segera, Wira menyambar ponsel dan menghubungi sopir. Pria paruh baya yang digajinya untuk mengantar Naina beraktivitas setiap hari pasti tahu apa yang terjadi.


***


"Win, Ayah harus menjaga Bunda di rumah sakit. Wina bobok sama Mbak Rima, ya."


Wira yang telah berpakaian rapi meraih tubuh mungil putrinya yang setengah tertidur dan menggendong keluar.


"Mau bo ... bok ... cama Ayah." Wina bergumam dengan mata terpejam, merebahkan kepalanya di pundak Wira.


"Rim, titip Wina. Aku harus ke rumah sakit sekarang." Wira menyerahkan putrinya pada sang pengasuh.


"Bapak ...." Rima tidak menyelesaikan kalimatnya. Wira sudah memotong.


"Aku sudah tahu alamat rumah sakitnya dari sopir Ibu." Wira menjelaskan. Titip rumah dan hubungi aku segera kalau terjadi sesuatu pada Wina." Wira berpesan.


Rima mengangguk, menatap wajah tampan Wira yang berhias panik. Pria itu tampak tergesa-gesa. Berlari menuju ke pintu dan menghilang.


-


-


-