Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 29


"Angel, akhir pekan ini ikut bersamaku ke Bandung!" pinta Pieter berjalan ke luar ruang rapat. Mereka baru saja rapat dengan beberapa pimpinan proyek dan bagian keuangan.


Naina yang berjalan di samping Pieter menghentikan langkahnya. Permintaan Pieter yang mendadak tentu saja mengejutkan ibu dari seorang putri.


"Aku tidak bisa, Pak." Naina menolak. Weekend adalah saat-saat Naina menghabiskan waktu bersama Wina setelah lima hari bekerja. Sebisa mungkin ia tidak meninggalkan Wina. Dibayar berapa pun, ia tetap akan menolak.


"Aku mohon, Angel. Ini acara perusahaan. Family Gathering ... dan kamu juga bisa membawa putri dan pengasuhmu bersama kita ." Pieter menjelaskan. Pria itu sangat berharap Naina bisa ikut bersamanya.


"Aku tidak bisa." Naina kembali menolak.


"Kalau kamu tidak ikut, siapa yang akan membantuku. Aku hanya memilikimu, Angel." Pieter memelas.


"Aku juga sudah mengabari Pram, kalau kamu akan ikut dan membawa putrimu," rayu Pieter. Tatapannya penuh harap.


"Em ... aku belum bisa menjawab sekarang."


"Kailla juga ikut bersama putra kembarnya. Ayolah Nai. Tidak enak dengan Pram. Aku sudah mengatakan padanya kalau kamu juga akan ikut bersama putrimu." Pieter memaksa dengan cara halus.


Terlihat Naina menghela napas. Benar-benar keputusan yang berat untuk mengiyakan permintaan Pieter.


"Baiklah, tetapi aku belum bisa memastikan. Takutnya malah aku tidak jadi. Mudah-mudahan, Pak," putus Naina.


***


Waktu berlalu begitu cepat tanpa bisa dibendung. Setelah lima hari bekerja, akhir pekan pun tiba. Naina yang tidak bisa menolak lagi setelah berulang kali menolak Pieter akhirnya ikut ke Bandung setelah Kailla memintanya langsung. Nyonya Pratama itu bahkan khusus ke kantor untuk menemuinya.


Pagi itu Naina, Wina dan pengasuhnya sudah bersiap menunggu di depan kontrakan. Rencananya, Pieter dan sopir akan menjemput mereka.


Hampir setengah jam menunggu, tepat pukul 08.10 pagi, Pieter menghubungi ponsel Naina.


"Angel, aku sudah di depan. Sebentar, aku turun." Suara Pieter terdengar bersemangat.


"Ti-tidak perlu, Pak. Aku dan putriku akan menemui Bapak sebentar lagi," putus Naina sembari menuntun tangan gadis kecilnya.


Baru saja akan melangkah, Wira tiba-tiba muncul dari ujung gang. Pria tampan itu terlihat menenteng bungkusan berisi kotak makanan.


"Nai, mau ke mana?" tanya Wira heran. Pria klimis dengan tampilan casual itu tampak senyum sumringah. Kalau Naina menyukai akhir pekan, begitu juga Wira. Ia memiliki waktu lebih untuk Wina setelah seminggu disibukan dengan pekerjaan. Pria itu bahkan menolak keluar kota di akhir minggu sejak berhasil menemukan putri kecilnya yang terpisah selama ini.


"Mau ke Bandung, Mas. Ada acara perusahaan."


"Mendadak? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Wira menyimpan kecewa.


"Ya, Mas. Aku tadinya berencana tidak ikut, tetapi Ibu Kailla, istrinya Pak Pram memintaku ikut bersama Wina." Naina menjelaskan.


"Wina ikut?" Wira memastikan.


"Ya, Mas. Family Gathering perusahaan."


Terlihat Wira menghela napas kekecewaan. Pria itu berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan sang putri.


"Ayah sedih. Padahal Ayah mau mengajak Wina jalan-jalan lagi hari ini. Bersama Oma dan Opa," ungkap Wira sembari menepuk pelan pucuk kepala putrinya.


"Maaf, Mas. Ini juga mendadak. Besok baru kembali. Itu juga malam." Naina berkata. Rasa bersalah tercetak jelas di raut wajah ibu satu anak itu.


"Ya sudah. Masih bisa lain kali. Ngomong-ngomong, berangkat dengan siapa?" tanya Wira sudah berdiri kembali.


"Pak Pieter, Mas."


Wira tertegun. "Mobil putih di depan?" tanya Wira mengingat kembali dengan telunjuk mengarah ke jalanan. Saat ia menghentikan mobilnya tadi, ia sempat melihat mobil Range Rover putih.


"Ya sudah. Ayah pamitan dulu kalau begitu." Wira mengecup pipi putrinya kemudian menepuk pelan pucuk kepala Wina.


"Nai, ini kamu mau? Aku membelikan bubur ayam ...." tawar Wira, menunjukan bungkusan makanan di tangan kanannya.


Naina menggeleng. "Aku sudah tidak sempat lagi. Maaf, Mas."


"Ya sudah. Tidak apa-apa. Besok kalau kembali ke kontrakan, kabari aku, Nai. Atau mau dijemput di Bandung. Aku tidak masalah," tawar Wira.


"Tidak perlu, Mas. Nanti aku akan mengabari Mas kalau sudah di kontrakan."


"Baiklah ...." Wira menyembunyikan kecewanya di balik senyuman. Memang kehidupan mereka sudah berbeda. Mereka sudah berpisah dan memiliki kehidupan masing-masing. Kalau cinta itu masih ada, butuh waktu untuk mencari kesempatan yang tepat. Ia tidak bisa gegabah. Ia baru bisa menawarkan hubungan setelah memastikan masih ada cinta di mata Naina untuknya.


Ibu muda itu menatap punggung Wira yang berjalan kembali menuju ke jalan raya. Ia sendiri menggandeng Naina berjalan di belakang. Hatinya juga teriris saat melihat netra bening mantan suaminya yang berkaca-kaca. Wajah tampan itu berhias awan mendung.


***


Pieter membuka pintu mobil setelah melihat Naina yang menuntun putrinya keluar dari dalam gang. Menyusul di belakang, gadis muda yang Pieter yakini adalah pengasuh putri Naina. Gadis itu berjalan sembari menenteng tas kain berukuran sedang dan sebuah tas bayi tergantung di pundak.


"Angel ...." sapa Pieter mempersembahkan senyuman manis di bibir. Tangannya terulur, mengusap pucuk kepala Wina.


"Hai cantik. Perkenalkan ini Om Pieter, boleh panggil papi kalau cantik susah memanggil om." Pieter melancarkan rayuan pertamanya pada Wina. Bukan hanya Naina, ia juga harus mengambil hati Wina untuk memuluskan rencananya.


Gadis kecil itu terlihat malu-malu bercampur ketakutan. Menyembunyikan wajahnya di balik bokong Naina. Dipeluknya erat kedua kaki Naina.


"Maaf Pak, Wina memang pemalu dan sedikit sulit didekati."


"Daddy ...." Wina bergumam pelan. Hampir setiap hari berkomunikasi dengan Dennis dan Mbok Sumi melalui ponsel Rima, di dalam otak kecil Wina sosok Dennis belum tergantikan. Wina selalu menyerukan nama daddy-nya di setiap kesempatan dan ketakutan. Bahkan, Wira belum sanggup menggeser posisi Dennis di dalam hati Wina sampai sejauh ini.


"Ya, ayo kita masuk." Naina menggendong putrinya dan membawa masuk ke dalam mobil setelah melihat Pieter tersenyum mempersilakan.


Pemandangan hangat bak keluarga bahagia itu tidak lepas dari pengamatan Wira. Pria itu memang sengaja menunggu di mobil barunya. Ingin memastikan apa yang terjadi di antara Naina, Wina dan Pieter. Sejak melihat Pieter mencium pipi Naina di parkiran kantor RD Group, Wira mencurigai kalau sudah terjadi sesuatu di antara keduanya. Hubungan atasan dan bawahan tidak akan seakrab itu. Apalagi ia melihat sendiri sorot mata Pieter saat melihat Naina dan Wina barusan. Semuanya seolah menguatkan kalau mantan istrinya sudah tidak sendiri lagi. Ia laki-laki, tentu bisa membaca bahasa tubuh pria yang menyimpan niat pada seorang perempuan.


"Cari tahu ada hubungan apa antara Naina dan Pieter, wakil direktur RD Group. Aku ingin informasi selengkap mungkin. Secepatnya!” Wira memerintah Jack melalui ponselnya. Tatapannya masih tertuju pada mobil putih yang bergerak pelan. Melaju semakin jauh dan menghilang di tengah keramaian jalanan.


***


Perjalanan Jakarta - Bandung pagi itu berjalan lancar. Mobil yang dikendarai sopir Pieter tidak menemui kendala meskipun sempat bertemu dengan beberapa titik kemacetan. Berkendara menuju ke luar Jakarta di akhir pekan memang selalu terkendala dengan hal yang satu ini. Banyak penduduk ibu kota memilih menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan, menikmati pemandangan di luar kota.


Wina tertidur di pangkuan Naina akibat kelelahan menikmati perjalanan. Setelah sebelumnya pernah menempuh perjalanan yang sama bersama Dennis dan Mbok Sumi saat pindah ke kota Jakarta.


Begitu tiba di hotel, Pram dan Kailla sudah menyambut mereka. Pemilik RD Group itu membawa lebih banyak personil. Kedua bayi kembar yang sedang aktif, ditambah dua orang babysitter dan dua asisten. Belum lagi asisten pasangan suami istri yang juga tidak pernah ketinggalan.


"Nai, akhirnya kamu datang juga." Kailla menyambut Naina yang berjalan dengan menggendong Wina. Putri kecilnya itu terlelap.


“Sayang, manis sekali!” seru Kailla menunjuk ke arah Wina.


“Nanti aku buatkan satu untukmu,” celetuk Pram memancing tawa semua orang.


"Pieter, kamu terlihat tampan dengan keluarga kecilmu," goda Kailla. "Kapan?" tanya Kailla lagi menaik turunkan alisnya. Memandang Pieter dan Naina bergantian.


"Soon." Pieter menjawab serius sembari meletakan tangannya di pundak Naina tanpa permisi. Mengejutkan ibu muda itu. Lagi-lagi, Pieter bertindak tanpa meminta izin dulu.


***


TBC