Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 9


Mengantar Naina dengan segala rasa, Pieter memilih bungkam seribu bahasa. Memandang pergerakan wanita cantik yang terlihat begitu bahagia menyeret koper, Pieter bahkan tidak melihat setitik pun kesedihan di mata indah Naina. Setahun ini seolah tak meninggalkan kesan. Perpisahan ini membuat Naina begitu gembira bukan bersedih seperti dirinya.


Bersusah payah menguatkan hati supaya bisa ikut mengantar Naina ke bandara, ia tidak ingin melewatkan sedetik pun saat-saat terakhirnya bersama wanita yang satu tahun terakhir bukan hanya mewarnai hidupnya, melainkan juga mengisi kekosongan hatinya.


Sang casanova yang sebelumnya bermain dengan hati dan perasaan banyak wanita. Namun kecelakaan mengajarkannya banyak hal, menyadarkan akan waktunya yang terbuang sia-sia selama ini. Tujuan hidup yang tidak jelas dan tanpa arah, sampai cedera ini menampar dan merenggut banyak hal darinya.


Ia terpukul. Andai Tuhan menegurnya dengan cara ini, ia hanya bisa mengatakan satu hal pada Sang Pencipta. Yang maha tahu akan semua hal, kalau ia benar-benar menyadari kesalahan dan menyesalinya. Jika Tuhan berkenan memberinya kesempatan kedua, ia akan memanfaatkannya dengan membenah diri dan hati.


“Dave ....” pinta Pieter menyodorkan tangannya.


“Oh ya, sampai lupa.” Dave mengeluarkan kotak beludru merah dari saku celana, kemudian menyelipkannya langsung di saku celana Pieter.


“Good luck, Bro!” Dave menepuk pundak Pieter sebelum mendorong kursi roda. Mengekor Naina yang sudah berjalan di depan.


Perjalanan ke bandara, lebih banyak diisi dengan obrolan ringan antara Pieter dan David. Naina yang duduk bersisian dengan Pieter di kursi belakang lebih banyak mengunci rapat bibirnya


“Naina Pelangie, terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku selama setahun ini.” Pieter membuka mulut. Percakapan beralih padanya, David sudah fokus dengan ponsel di tangan.


Naina mengalihkan pandangan. Panggilan yang tidak biasa itu keluar dari bibir Pieter. Sejak awal perkenalan mereka di rumah sakit, Pieter selalu memanggilnya Angel bukan Naina. Terdengar aneh dan tidak biasa saat Pieter menyebut nama lengkapnya.


Tidak apa-apa, Pak. Semua itu bagian tugasku. Aku melakukannya karena ini memang pekerjaanku.” Naina tersenyum.


“Ini untukmu.” Pieter menyerahkan kotak beludru merah ke atas pangkuan Naina.


“Hah! Ini apa, Pak?” tanya Naina heran.


“Untukmu.”


“Untuk apa ini, Pak?” tanya Naina semakin bingung.


“Untukmu. Aku harap kamu mengingatku setiap melihat hadiah kecil ini.” Pieter mengambil kotak itu dari tangan Naina dan membukanya.


Sebuah kalung dengan liontin bertuliskan nama Wina dan sebuah gelang emas putih yang terlihat indah dan tidak terlalu berlebihan. Pieter khusus memesan perhiasan sederhana itu untuk Naina dan putrinya. Ia tahu, Naina tidak terlalu suka dengan perhiasan penuh gemerlap.


“Ini untukmu” ucap Pieter, meraih pergelangan tangan Naina dan membantu mengenakannya.


Naina terlalu terpukau dengan perlakuan manis Pieter yang tidak biasa. Bahkan, ia tidak terlalu memperhatikan dengan teliti gelang yang dihadiahkan Pieter padanya.


“Cantik,”bisik Pieter tersenyum.


“Ini untuk putrimu, Wina. Semoga kamu mengingatku setiap melihat Wina,” lanjut Pieter, menutup kembali kotak perhiasan itu dan mengembalikannya pada Naina.


“Apa ini tidak berlebih, Pak.” Naina masih tidak percaya. Menoleh ke samping, memandang Pieter dengan banyak tanya menari di otaknya.


“Yang kamu lakukan untukku selama ini jauh lebih besar dibandingkan hadiah kecil ini.”


Naina tertunduk menutupi rona merah muda di pipinya. Tersadar kalau obrolan mereka bisa didengar David dan sopir yang duduk di kursi depan.


“Jangan panggil aku Pak lagi. Kamu sudah tidak bekerja denganku. Kalau suatu saat kita berjodoh untuk bertemu lagi, aku ingin kamu memberiku kesempatan yang sama seperti pria lainnya, bukan sebagai majikanmu," ucap Pieter melempar senyuman sekilas, kemudian membuang pandangan ke luar jendela.


Obrolan di mobil berhenti, saat kendaraan roda empat itu memasuki area bandara. Tampak sopir memperlambat laju mobilnya untuk mencari parkiran.


Ketika mobil itu sudah berhenti sempurna, David dan sang sopir buru-buru keluar. Pieter yang tertinggal berdua dengan Naina tidak menyia-nyiakan kesempatan.


"Ya, Pak."


"Hahaha ... aku sudah katakan jangan panggil Pak lagi." Pieter terbahak, sesaat setelah mengurai pelukannya. Dengan ragu mengeluarkan amplop putih dari saku celananya lagi.


"Ini dibaca saat di pesawat saja. Ada hal-hal yang tidak bisa aku ungkapkan secara langsung."


"Ya Pak."


"Hadiah kecil dariku jangan dijual kalau kamu kesulitan keuangan. Cukup menghubungiku, aku akan mengirim uang untukmu dan Wina." Pieter kembali berpesan.


Naina tersenyum kali ini. Berusaha menutupi kesedihannya saat harus berpisah dengan majikannya. Setahun bersama, pasti ada banyak hal yang tidak mudah dilupakannya begitu saja.


"Tawaranku masih berlaku. Kalau mengganti nomor ponsel, tolong kabari aku. Aku akan menghubungimu saat kembali ke Indonesia."


"Ya Pak."


"Masih saja, Pak," gerutu Pieter kesal.


"Kamu boleh pergi sekarang. Kabari aku saat sudah tiba di Indonesia. Aku pasti merindukanmu, Angel." Pieter kembali merengkuh tubuh Naina dan memeluknya erat. Sebuah kecupan dilabuhkannya di kening Naina.


"Take care, Pak. Semoga cepat sembuh dan bisa berjalan normal kembali." Naina keluar dari mobil dan berjalan menyeret kopernya. Wanita itu menyempatkan diri melambaikan tangan pada Pieter sambil tersenyum manis.


Sorot mata sedih Pieter mengikuti langkah Naina yang semakin berjalan menjauh dan menghilang bersama David. Ia memilih tidak turun dan mengantar sampai di pintu masuk. Ia tidak akan sanggup melihat Naina pergi meninggalkannya.


Setetes air mata pria itu turun tanpa bisa ditahan. Buru-buru Pieter mengusapnya. Tidak mau terlihat lemah karena seorang wanita.


***


Di perjalanan udara dari Austria menuju Jakarta, Naina menghabiskannya dengan tidur dan membaca. Ia sudah tidak sabar ingin memeluk putrinya, Wina. Entah bagaimana reaksi gadis kecil itu saat bertemu dengannya.


Perjalanan panjang lintas benua itu membuat Naina baru tiba di Indonesia keesokan harinya. Haru menyeruak setelah setahun meninggalkan tanah air. Begitu menginjakan kaki di bandara Soekarno Hatta, panas matahari menyengat sudah menyambutnya.


Di Austria baru masuk musim semi, ia masih terbawa dengan suhu dingin menembus tulang selama berbulan-bulan sebelumnya.


"Nai!" Suara maskulin terdengar meneriakan namanya saat ia baru saja keluar dari pintu bandara dengan menyeret kopernya.


Naina mengedarkan pandangan, mencari asal suara. Ia mengenali suara pria tampan yang menjadi dewa penyelamatnya pasca bercerai dengan Wira.


"Mas." Naina bergegas menghampiri Dennis. Pria itu berdiri gagah tidak terlalu jauh darinya. Dengan setelan hitam, melambaikan tangan dan tersenyum manis.


"Kamu sendirian, Mas?" Ada nada kecewa terkandung di dalam ucapannya saat langkah semakin dekat dan ia tidak melihat siapa pun selain Dennis.


Dennis terkekeh. "Wina tidur saat aku ke bandara. Aku tidak tega membangunkannya."


"Oh ya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Naina begitu bersemangat.


"Ya. Dia selalu baik-baik saja, apalagi saat bersama Daddy-nya." Dennis menjawab dengan bangganya.


***


TBC