Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 36


Dengan menyimpan tanya, Naina melangkah masuk ke dalam rumah. Tangan kanan menenteng bungkusan berisi kue untuk kedua mertuanya, Naina melempar senyum saat di ruang tamu berpapasan dengan Mama Wira.


“Sore Ma.” Naina membungkuk dan mencium tangan wanita yang sudah dianggap mama kandungnya sendiri.


“Nai, kamu datang? Dengan Wira?” tanyanya, menyembunyikan gugup setelah menyadari Nola dan pengasuhnya masih tertahan di kediaman mereka.


“Tidak Ma. Mas Wira masih di kantor. Kebetulan Nai lagi sempat, jadi sekalian mampir.” Naina melangkah ke dapur untuk menyiapkan kue yang dibelinya, bakal teman minum teh kedua mertuanya.


Dengan telaten, merapikan semua kue bawaannya. Memotong dan menatanya di atas piring keramik. Tak lupa menyiapkan dua cangkir teh hangat untuk kedua mertuanya, Naina keluar dengan senyuman manisnya.


“Ma, Nai bawakan kue kesukaan Mama dan Papa.” Naina meletakan nampan di atas meja kecil di teras rumah, menatanya sedemikian rupa.


Sang papa mertua tampak sibuk mengajak Nola bermain di halaman, ditemani pengasuhnya. Keakraban yang tercipta di antara kakek dan cucu itu terlihat jelas. Mau ditutupi seperti apa pun, kalau rasa sudah bicara, ikatan batin di antara keduanya akan nampak kentara.


“Ma, itu Nola putri Stevi, kan?” tanya Naina memastikan. Membuka pembicaraan untuk mencari tahu, menutupi dengan sikap biasanya.


“Ya ... Nai pernah bertemu Nola?” tanya Mama Wira heran. Tidak menyangka kalau Wira seberani itu menunjukan Nola di depan istrinya sendiri. Wanita paruh baya itu tampak duduk di kursi teras dengan wajah menampilkan gurat gelisah yang terlihat nyata.


“Pernah beberapa kali diajak Stevi ke kantor, tetapi sewaktu masih kecil. Belum selincah sekarang.” Naina menjawab dengan tenangnya.


Kelebihan Naina sebagai seorang wanita dan istri adalah pengendalian dirinya sangat bagus, punya insting yang sangat tajam. Hanya dengan melihat tatapan papa dan mama Wira pada Nola, Naina mampu membaca sesuatu yang tidak biasa di dalamnya.


“Mereka begitu menyayangi Nola, sorot mata itu tidak bisa berbohong,” batin Naina.


Senyum datar itu sedikit memudar. Ada secuil rasa yang sulit diungkapkan.


“Ma, Nola sering kemari?” tanya Naina, masih bersikap tenang. Netranya begitu lekat menatap ke arah Nola, seakan mencari jawaban dari keanehan yang terbaca olehnya.


Mama Wira menatap menantunya sekilas. Ada ragu dan khawatir kalau jawabannya akan menghancurkan segalanya. Merusak semua yang telah dijaga Wira selama ini.


“Tidak selalu. Kebetulan rumah Stevi tidak terlalu jauh dari sini. Terkadang kalau Nola rewel, suka diajak jalan-jalan keliling komplek. Tadi mama tidak sengaja bertemu dengannya di depan gerbang. Jadi mama menawarinya masuk.” Mama Wira menjawab dengan jujur.


Memang Nola jarang berkunjung ke tempat mereka. Baru-baru ini saja, sejak cucu mereka itu mulai bisa berjalan dan berlarian. Dulunya, lebih sering dia dan papa Wira yang berkunjung ke rumah Stevi.


Tertunduk dengan jari saling meremas di atas pangkuan. Sebisa mungkin, dia tidak ingin berbohong. Berusaha menjawab dengan jujur, seperti yang selama ini Wira lakukan. Dia cukup menjawab apa yang ditanyakan menantunya.


“Stevi masih sering ke sini, Ma?” tanya Naina lagi.


Mama Wira menggeleng. “Sejak menikah, Stevi tidak pernah menginjakan kakinya ke rumah ini,” sahut Mama Wira, kembali jujur.


“Ma, sebenarnya ada masalah apa dengan Mas Wira dan Stevi. Kenapa dua tahun terakhir hubungan mereka memburuk?” Naina mencoba memberanikan diri bertanya. Sejak lama dia ingin mencari tahu.


“Ada masalah pribadi antara Wira dan Stevi, hanya mereka berdua saja yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


Naina mengangguk. “Aku juga merasa begitu. Apa ini karena pernikahan Stevi dengan ....” Naina tidak melanjutkan kalimatnya, sebaliknya dia menatap mertuanya, menunggu respon yang mungkin saja akan menjawab semuanya.


“Ya, mungkin karena itu.”


“Selama dua tahun ini, aku tidak menemukan lagi pesan-pesan masuk dari Stevi di ponsel Mas Wira, bahkan chat-chat bercanda mereka juga menghilang. Hanya sesekali saja Stevi menghubungi Mas Wira, itu pun karena masalah kantor.” Naina bercerita. Sejak menikah sampai sekarang ponsel Wira ada di bawah kendali Naina. Wanita itu bebas menguliti isi gawai suaminya tanpa harus mengantongi izin si pemiliknya.


“Ya, hubungan keduanya memburuk setelah Stevi menikah.”


“Bagaimana kamu bisa menemukannya lagi, Wira bahkan tidak mengizinkan Stevi menghubunginya sama sekali,” batin Mama Wira.


Selama ini, selalu Mama Wira yang mengurusi masalah Stevi dan Nola. Bahkan dengan terpaksa sekali, Stevi baru berani menghubungi Wira, itu pun tak jauh dari masalah kantor.


Naina kembali menatap papa mertuanya yang sedang menggendong Nola. Rasa sayang itu tampak nyata, sama seperti binar yang ditunjukan mama mertuanya, tetapi binar itu tidak dilihatnya di mata Wira.


***


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore saat Wira melangkahkan kaki keluar dari ruangannya. Tak tampak lagi Stevi di mejanya. Sekretaris itu sepertinya sudah pulang lebih awal dari biasa, tanpa memberi kabar lebih dulu.


Sejak pagi, hubungan keduanya memburuk. Tidak ada tegur sapa ataupun obrolon ringan seperti biasa. Keduanya saling mengunci rapat bibir masing-masing.


Saat akan masuk ke dalam mobilnya, sudut mata Wira menangkap sosok Stevi yang baru saja akan masuk ke dalam mobil pajero hitam. Sekelebatan bayangan laki-laki duduk di kursi kemudi, membuat penasaran Wira terpancing. Dengan tergesa-gesa, laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan ikut membuntuti ke mana arah keduanya pergi.


“Siapa laki-laki itu?” tanya Wira pelan, fokus pada setir kemudinya.


“Kalau dia berniat mendekati Stevi, aku harus memastikannya. Aku tidak mau putriku jatuh ke tangan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak peduli dengan Stevi, tetapi aku tidak bisa membiarkan Nola begitu saja.”


Sembari menyetir, Wira menghubungi Naina. Bagaimana pun, dia harus mengabari istrinya kalau sore ini pulang sedikit terlambat.


“Nai, kamu sudah pulang?” tanya Wira, begitu panggilannya tersambung. Fokus lelaki itu tetap pada pajero sport yang berjarak dua mobil di depannya.


“Ya, Mas. Baru saja Nai sampai di rumah. Mas sudah jalan pulang?” tanya Naina.


“Ini baru mau jalan pulang. Mas sedikit terlambat sepertinya, Nai. Ada sedikit urusan.” Wira menjelaskan. Mata elang itu tak lepas dari mobil hitam di depannya.


“Memang ada urusan apa?” tanya Naina, penasaran.


“Tidak, ada sedikit urusan kantor. Mas mau menemui seseorang.” Wira beralasan.


‘Mas pergi dengan Stevi?” tanya Naina, memulai kecurigaannya. Entah kenapa hari ini dia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Banyak kejadian sepanjang hari ini yang membuatnya tidak bisa berpikir lurus. Dari pelukan Stevi pada suaminya, kisah rumah tangga Stevi yang tidak biasa dan berakhir dengan kehadiran Nola di rumah mama mertuanya.


“Tidak, Mas pergi sendiri. Sebentar.” Wira mematikan panggilan teleponnya sepihak dan menghubungi Naina kembali melalui video call.


“Ini! Mas pergi sendiri, kan?” ucap Wira setelah sambungan videonya kembali tersambung dengan sang istri. Menunjukan kursi penumpang yang kosong melompong. Tidak ada siapa pun bersama dengannya.


“Ya, Nai percaya.”


“Kalau begitu, Mas matikan dulu. Mas usahakan pulang secepatnya.” Wira berkata sambil memamerkan senyumannya. Sebelum memutuskan, masih sempat mengirim kecupan dari jauh.


“Mas, hati-hati di jalan.” Naina berpesan.


“Ya, Nai. Love you.”


***


“Hati-hati! Naina sudah bertemu dengan Nola di rumah mertuamu! Wanita itu sudah mulai curiga, tetapi kalau kamu ingin semua terbongkar, aku rasa tidak masalah. Selagi bukan kamu yang membongkar semuanya!” Dennis berkata pada Stevi. Laki-laki itu sengaja menunggui Stevi di kantor untuk mengabarkan hal penting ini.


“Bagaimana bisa? Kamu mengetahui banyak hal yang bahkan aku tidak tahu,” tanya Stevi mengerutkan dahi. Keduanya sudah duduk di pajero sport hitam milik Dennis.


“Hahaha ....” Tawa Dennis terdengar menyebalkan. “Aku tahu semuanya, Stev. Karena aku tahu, kamu tidak bisa diandalkan.”


Stevi mengerutkan dahinya.


“Kamu pikir dramamu itu cukup baik. Kedua orang tua itu bisa percaya begitu saja kalau Nola cucu mereka hanya dengan semua bukti yang kamu sodorkan. Mereka bukan orang bodoh. Kalau bukan campur tanganku, sudah lama kamu dan Nola membusuk di jalanan.” Dennis mengucapkannya dengan bangga.


***


TBC